Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Menjenguk Dio di Markas Geng Kobra


__ADS_3

Alangkah bahagianya hati Rani, desiran jantungnya pun berpacu bak derap langkah kuda.


"Selamat siang!" sapa Sersan Saga pada saat sampai di depan pintu, dengan dua penjaga pintu yang menghadang mereka.


"Selamat siang juga!" jawab salah satu penjaga pintu itu yang menatap kedua tamu mereka dengan rasa penasaran.


"Siapa kalian, dan ada perlu apa anda berdua datang kemari?" tanya penjaga pintu yang kedua yang memperhatikan sersan Saga yang masih memakai seragam polisi.


"Saya sersan Saga, saudara sepupu Dio!" jawab Sersan Saga yang apa adanya.


"Beri kami jalan, kami mau menjenguk Dio. Dia teman sekelas Dio." lanjut jawab Sersan Saga saat penjaga Rumah Dio itu masih menghalangi langkahnya dan Rani.


"Tunggu sebentar, kami harus melapor terlebih dahulu!" seru salah seorang dari kedua penjaga itu, yang kemudian dia masuk ke dalam rumah.


Sementara itu penjaga yang satunya masih menghalangi sersan Saga dan Rani untuk masuk, yang memandang dengan rasa penasaran.


Akhirnya penjaga yang sebelumnya masuk ke rumah itu keluar, dan dia memperbolehkan Sersan Saga dan Rani untuk masuk ke rumah.


"Anda berdua dipersilahkan untuk masuk." kata pengawal itu.


Sersan Saga mengulas senyumnya dan langsung mengajak Rani masuk dan melangkahkan kaki menuju ke kamar Dio.


Tak butuh lama mereka telah sampai di depan kamar Dio, dan Sersan Saga mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tokk....tokk...tokk...!"


"Masuk saja!" seru suara anak laki-laki yang mempersilahkan tamunya untuk masuk ke kamarnya.


"Klek...!" Sersan Saga membuka pintu dan memandang Rani.


"Saya diluar saja Sersan!" bisik Rani sembari mengulas senyumnya dan Sersan Saga mengerti akan maksud gadis itu.


"Dio apa kabarnya!" sapa Sersan Saga pada saat melangkahkan kaki menghampiri Dio dan mengulurkan tangannya pada pemuda yang sedang berada diatas tempat tidur itu..


 "Jauh lebih baik Saudaraku Saga." jawab Dio sambil menyambut jabatan tangan dari Sersan Saga.


 "Rani masuk saja!" seru Sersan Saga pada Rani yang masih di luar pintu kamar Dio.


"Eh bersama Rani?" tanya Dio yang sangat terkejut.


"Iya, sebenarnya Rani yang mengajak untuk menjenguk kamu, jadi aku antarkan dia sekalian aku menjenguk kamu. Oiya, sekalian aku mau ketemu pengawal setia ayahmu. He....he....he....!" jawab Sersan Saga.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Dio yang penasaran.


"Siapa lagi kalau bukan Anton dan Roy." jawab Sersan Saga.


"Ohw...!" ucap Dio yang tak menggubris jawaban Sersan Saga. Pandangan kedua matanya tertuju pada sesosok gadis berkacamata yang ada dihadapannya.


"Ok berbincang-bincanglah sebentar, saya akan menemui Anton dan Roy sebentar, ingat jangan berbuat macam-macam ok!" seru Sersan Saga yang mengingatkan dan kemudian Sersan Saga itu keluar dari kamar.


"Ok!" jawab Dio dan Rani yang serempak.


"Rani, sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu kemarin." Kata Dio yang terus memandang Rani.


"Ah, tidak apa-apa. Malah aku yang minta maaf, aku tidak bawa apa-apa." kata Rani.


"Oya apa kamu sendirian di rumah? maksud aku Papa dan Mama kamu?" lanjut tanya Rani yang penuh selidik.


"Papa Mama sedang di luar negeri, aku tinggal sama orang kepercayaan Papa. Aku punya Papa tapi seperti tak punya Papa." kata Dio dengan lirih. Rani pun tersentuh hatinya.


 "Walaupun Rani tak punya orang tua. Tapi Rani orang-yang selalu menyayanginya selalu ada. Kakek, Paman Sidiq, Kak Radit, Mama Leni dan papa Wibowo." kata dalam hati Rani.


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan di luar kamar Dio.


"Nona Bella, anda tidak boleh masuk. Tuan Dio baru Istirahat!" teriak penjaga diluar kamar.


"Cepat kamu keluar lewat jendela sana dan kamu cari Saga! Karena Bella biasanya bisa menerobos para pengawal!" seru Dio.


"Baiklah!" balas Rani yang menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan Dio, gadis berkacamata itu keluar dari kamar melewat jendela kamar tersebut.


Rani mempercepat langkahnya dan dia melompati jendela itu secara hati-hati.


Benar saja, baru saja Rani melompati jendela, Bella sudah masuk ke dalam kamar Dio dan segera menghampiri Dio.


Sementara itu Rani dengan mengendap-endap mencari jalan keluar yang bisa menjauhkannya dari Bella, kekasih Dio itu.


"Apa! anak cupu itu datang kesini?" terdengar suara Bella yang berteriak. Rupanya dia tahu akan kedatangan Rani di rumah Dio.


"Cari sampai ketemu!" seru seorang laki-laki dan Rani mendengar suara keributan di ruangan lainnya.


Rani melihat ada sebuah kamar, dan gadis itu tanpa pikir panjang masuk ke sebuah kamar yang lebih kecil dari kamar Dio, yang kebetulan saja kalau pintu kamar itu tidak dikunci.


Jadi dengan leluasa Rani masuk dan menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu.

__ADS_1


"Ada suara gemericik air, nampaknya yang punya kamar sedang mandi." kata dalam hati Rani yang mendengar suara kran dan guyuran gayung pada tubuh seseorang.


Tiba-tiba gagang pintu kamar mandi bergerak, Rani bergegas mencari tempat sembunyi.


"Aku harus sembunyi!" gumam dalam hati Rani yang terus menebarkan pandangannya untuk mencari tempat sembunyi dengan secepatnya.


"Ah, di lemari!" seru Rani dan dia segera bersembunyi di dalam lemari


Di lemari tempat Rani sembunyi, lumayan besar dan muat untuk sembunyi. Di dinding lemari, terdapat lubang seperti lubang bekas paku, dan Rani bisa mengintip keadaan luar lemari.


Benar saja, Rani melihat sesosok laki-laki yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut selembar handuk.


"Hm....! Dia tampan juga, seperti Dio..eh bukan..it..itu Dito!" seru Rani dalam hati yang sangat terkejut.


Tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju pada kalung yang melingkar di leher pemuda itu.


"Hah apa itu? Bukan kah itu kalung berliontin kunci yang aku cari s3lama ini? Ah, Aku harus dapatkan kalung itu! tapi bagaimana caranya?" pikir Rani dalam hati.


Sementara itu terdengar suara langkah kaki diluar kamar yang semakin dekat. Rani menduga kalau orang yang ada diluar kamar adalah orang-orang yang tadi mencarinya.


"Apa? Mereka mau kesini? Bagaimana nih!" gerutu Rani sedikit gugup.


"Tokk...tokk...tokk...!"


Suara ketukan di luar pintu kamar Dito. Walau agak kesal, Dio melangkahkan kaki ke pintu dan membuka pintu kamarnya itu.


"Klek...!"


"Ada apa?" tanya Dito.


"Kami mencari seorang gadis yang berkacamata! Apakah kau melihatnya?" tanya suara laki-laki yang ada diluar kamar.


"Tidak! Aku tidak melihatnya! Lihat saja aku baru saja selesai mandi!"jawab Dito sedikit keras, karena dia kesal, privasinya jadi terganggu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2