Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mengobati Sang Kekasih


__ADS_3

"Kak Radit, Paman Sidiq bantu Rani!" rengek Rani yang terus memeluk tangan kakeknya.


Namun Raditya dan paman sidiq tak bisa berbuat apa-apa, karena bisa-bisa mereka kena amarah kakek Darma.


Walaupun tangannya di pegang Rani, kakek Darma tetap menghajar Sersan Saga dengan tendangan-tendangan.


"Aghh..!" erangan Sersan Saga saat tendangan kakek Darma mendarat di perut Sersan Saga.


"Murid janji akan menikahinya tiga tahun lagi guru. Biar Rani lulus sekolah dan murid naik pangkat guru. Aghh....!" ucap Sersan Saga yang terus mengerang kesakitan.


"Kau ini seharusnya sebagai kakak! Bukan mau menikahinya!" seru Kakek Darma yang dengan geram.


"Rupanya Guru tidak main-main, guru menggunakan tenaga dalamnya! Badanku Aghh...! Bagaimana mungkin besok aku bisa ikut turnamen? Kalau aku terluka seperti ini!" kata dalam hati Sersan Saga yang merasakan lukanya semakin parah..


"Nak Saga, Rani....!apa yang terjadi?" tanya tuan Wibowo yang baru saja keluar dari kamarnya, dan mendengar ada keributan di ruang tamu.


"Kakek menghajar adik tua Pa, Radit takut membantu bila kakek semarah itu!" jelas Raditya yang menghampiri papa angkatnya.


"Pa, kasihan nak Saga! dia terluka, apa mungkin dia bisa ikut turnamen besok!' seru Nyonya Lani yang ada disamping suaminya.


"Tapi gimana lagi ma, kita tak bisa berbuat apa-apa!" seru Tuan Wibowo yang juga khawatir akan keadaan Sersan Saga.


"Semarah-marahnya ayah, pasti luluh karena Rani. Tapi kali ini saya tidak tahu!" Paman Sidiq yang menimpali. Dan semuanya hanya bisa diam dan melihat apa yang dilakukan kakek Darma.


"Tiga tahun lagi ya? kau sudah tua, mungkin saja kau sudah beristri di kota sebrang. Atau bisa juga kau sudah mati! aku tak ingin cucuku menderita karena janjimu!" seru kakek Darma di sertai pukulan dengan tangan kirinya yang membuat Sersan saga terpelanting ke belakang.


"Aaaarghh....!" suara erangan Sersan Saga.


"Kak Saga...!" jerit Rani.


"Cepat peluk kekasihmu, pegang liontin kalung pusaka dan ucapkan dalam hati goa belakang air terjun!" bisik si Kity yang berada di dalam liontin kalung pusaka Rani.


Setelah mengerti apa yang dimaksudkan oleh si kucing Langit itu, Ra melakukan apa yang dikatakan kucing langit itu.


Rani melepaskan pegangannya pada tangan kakeknya. Lantas dia menghampiri Sersan saga yang terduduk bersimpuh dengan darah di bibir dan hidungnya.


Di peluknya kekasihnya itu, dan di peganganya liontin kalung pusaka itu.


"Goa belakang air terjun....!"


"Cling.....!"

__ADS_1


Dan dalam sekejap, Rani dan Sersan Saga menghilang. Hal itu membuat semuanya terkejut dan apa lagi kakek Darma.


"Rani...Saga..! kemana mereka!" seru kakek Darma yang sudah berada diposisi dimana Sersan Saga dan Rani sebelumnya.


Mereka saling pandang dan penasaran dengan keberadaan Rani dan Sersan Saga pada saat ini.


Sementara itu Rani dan Sersan Saga seperti menghilang dan berpindah arah.


"Cling..."


Rani dan Sersan Saga yang sedang pingsan sudah berada di goa belakang air terjun.


"Payah! kalau tahu begini tadi tidak usah kembali ke perguruan! Kalau ujung-ujungnya tidur di atas batu lagi.....!" gerutu si Kity yang keluar dari liontin kalung pusaka.


"Sabar Kity!" seru Rani.


"Iya sudah sabar sih!" gumam Kity.


"Nyala....!" pinta Rani pada liontin kalung agar memberi penerangan di goa dimana saat ini mereka berada. Dan liontin itu benar menyala dan mampu menerangi ruangan goa itu.


Kemudian Rani membawa kalung pusaka yang sedang menyala itu digantungkan di dinding goa.


Sementara itu Kity berjalan menuju ke batu yang biasa buat tempat tidur, dan direbahkan tubuhnya di batu tersebut.


Mulailah Rani membersihkan darah yang berada di sekitar mulut dan hidung Sersam Saga.


"Kalau sudah selesai, minumkanlah pil langit padanya. Agar besok dia bisa ikut turnamen!" seru si Kity yang tak beranjak dari posisinya yg jg


"Iya, kalau kamu ngantuk tidurlah. Aku akan menjaga kalian" kata Rani.


"Kamu juga harus istirahat, kamu sudah kelihatan capek. Dan satu lagi, jangan terlalu tergantung pada pil langit. Gunakanlah jika darurat saja!" seru si Kity yang berpesan.


"Baik si Kity yang manis!" balas Rani sambil tersenyum.


"Hiahaheeem....!"


Setelah menguap, Si Kity pun terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu Rani telah selesai membersihkan darah di mulut dan hidung Sersan Saga, Kemudian Rani bergegas mencuci sapu tangan dan menjemurnya di batu sekitar tempatnya duduk. Gadis itu menebarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengambil air.


"Tak ada botol, gelas maupun tempurung kelapa, lali apa ya yang bisa buat mengambil air?" pikir Rani.

__ADS_1


"Ahh, daun itu saja!" seru Rani pada saat melihat daun talas yang mana umbi-umbian itu hidup di dinding goa.


Rani segera memotong daun dari batangnya dengan belati liontin kalung pusaka. Dan kemudian melipatnya berbentuk cekungan agar bisa menampung air. Lalu Rani mengambil air dari mata air yang mengalir.


"Cobain dulu ah! hm..segar sekali!" seru Rani pada saat selesai minum air dari mata air itu.


Setelah itu Rani mengambil kembali air itu dan dia bawa kembali ke Sersan Saga.


"Aghh! a..ku di..mana?" tanya Sesan Saga yang sudah siuman dengan terbata-bata dan berusaha mengingat apa yang telah terjadi.


"Eh sudah siuman kak? minum dulu ya!" kata Rani sambil meminumkan air yang telah dibawanya.


"Kita sedang berada dimana ini, Ran?" tanya Sersan Saga sekali lagi.


"Tenang saja, kakak sekarang ada di tempat yang aman" jawab Rani sambil tersenyum.


"Telan pil ini ya kak!" lanjut Rani sambil mengambil pil langit dari liontin kalung pusakanya.


"Apa ini?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Permen pelega tenggorokan." jawan Rani sambil tersenyum.


"Bisa saja kamu bercanda saat kekasihmu terluka! Hukk....hukk..hukk..!" kata Inspektur Saga yang terbatuk-batuk karena dadanya terasa sesak.


"Cepat ditelan ya sayang." rayu Rani yang terus mengulas senyumnya.


Sersan Saga pun tersenyum dan kemudian menelan pil yang di berikan oleh Rani.


"Tidur ya kak, biar cepat pulih. Biar Rani yang jaga!" kata Rani sambil membaringkan kembali Sersan Saga pada posisinya semula.


Sersan Saga yang terlena dalam buaian lembut tangan Rani, hanya diam dan perlahan-lahan tertidur dengan pulasnya.


"Kakek, walaupun kak Saga lebih tua dari kak Radit. Dia pengertian dan rela berkorban buat Rani. Dan satu lagi, dia tampan sekali." kata Rani dalam hati saat memandang dalam jarak dekat wajah kekasihnya itu tak henti-hentinya dia tersenyum.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2