Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Suasana Hati Rani


__ADS_3

Kemudian mereka turun dari sepeda motor dan setelah melepas helm, keduanya berjalan menuju ke gerobak penjual wedang ronde.


"Pak pesan sepuluh ya, dua di minum di sini" pesan Sersan Saga pada saat sampai disamping penjual Wedang Ronde itu.


"Baik tuan." jawab si penjual wedang ronde itu.


"Sepuluh? banyak amat kak?" tanya Rani yang merasa heran.


"Iya, buat yang di rumah. Om, Tante, kakak muda, satpam, Bibi dan mbak-mbak lainnya." jawab Sersan Saga.


"Sampai satpam, Bibi dan mbak-mbak juga?" tanya Rani sambil menerima semangkok wedang ronde yang sudah dibuatkan bapak penjual wedang ronde.


"Iya, sebagai tanda terima kasihku. Kemarin aku sempat merepotkan mereka. Mencucikan baju seragam aku, kan belum ada yang bersedia mencucikan bajuku." kata Sersan Saga yang melirik ke arah Rani sambil menerima semangkok wedang rondenya.


"Hukk...Hukk..!"


Rani terbatuk-batuk mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Hm! Nampaknya perlu tambahan pelajaran nih, cara menjadi istri seorang polisi." gumam Rani lirih, dan mendengar gumaman itu membuat Sersan Saga mengulas senyumnya.


"Kak Saga, benar-benar mau menunggu Rani ya? kan banyak gadis yang cukup umur untuk kakak?" lanjut tanya Rani lirih.


"Ngomong apa sih kamu itu, kita kan sudah janji cinta bersama." kata Sersan Saga sedikit kecewa.


"Kalau nunggu Rani kan kela...." belum selesai Rani bicara, Sersan Saga sudah menyuapi Rani dengan isi wedang rondenya.


"Cepat selesaikan minumnya, kita pulang!" seru Sersan Saga dengan ketus.


"Ihh...!''


Melihat suasana hati kekasihnya berubah, Rani bergegas menghabiskan wedang rondenya.


Setelah membayar wedang rondenya, Sersan Saga dan Rani bergegas naik motornya tanpa sepatah kata terucap diantara mereka.


Sersan Saga dan Rani melangkahkan kaki menuju ke sepeda motornya dan kemudian memakai helm masing-masing.


Setelah itu dengan kecepatan sedang, Sersan Saga melajukan sepeda motornya menyusuri jalan raya yang menuju ke rumah keluarga tuan Wibowo.


"Kak Saga jangan ngebut ya, Rani nggak bisa pegangan. Tangan Rani kan semua bawa makanan dan minuman!" pinta Rani, karena memang tangan kanannya membawa udang dan cumi crispy dari si ibu penjual online dan wedang ronde yang baru dibelinya,


Sersan Saga hanya diam, tapi dia kemudian mengurangi kecepatannya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kediaman tuan Wibowo, Rani bergegas turun dan menuju kursi teras rumah, setelah Sersan Saga menghentikan laju sepeda motornya.


Di letakkannya makanan dan minuman itu di kursi teras, Rani melepaskan helmnya. Kemudian dia melakukan peregangan otot pada kedua tangannya, karena kedua tangannya telah melakukan tugas yang berat beberapa menit yang lalu.


Sersan Saga mengambil makanan dan minuman yang diletakkan Rani di kursi teras, tanpa menoleh pada Rani.


"Kak Saga marah ya?" tanya Rani yang mengikuti langkah Sersan Saga.

__ADS_1


"Ya" jawaban singkat Sersan Saga yang hanya menoleh pada Rani sebentar, kemudian dia berjalan masuk ke rumah.


"Maafkan Rani ya? Rani janji nggak akan ngomong seperti itu lagi." kata Rani sambil memegang lengan Sersan Saga, pada saat langkahnya beriringan.


Gadis itu merasakan suasana canggung, dia memutuskan untuk tidak masuk ke rumah.


"Aku tidak bisa menemui semuanya jika perasaanku seperti ini. Lebih baik aku keluar sebentar. Lari mengelilingi komplek mungkin akan membuatku lebih baik." kata Rani dalam hati.


Rani pun melakukan keinginannya itu, setelah sebelum pergi dia bicara dengan dua satpam penjaga rumah.


Sementara itu Sersan Saga segera masuk ke rumah dan mendapati semua keluarga berkumpul di ruang keluarga, nonton televisi bersama.


"Lho Nak Saga sendirian? Rani mana?" tanya Nyonya Lani saat mengetahui kedatangan Sersan Saga yang datang sendirian.


"Masih di depan Tante." jawab Sersan Saga sambil memberikan wedang ronde kepada si bibi agar membagi-bagikan pada seluruh anggota keluarga yang ada.


"Apa kalian marahan?" tanya Nyonya Lani menyelidik.


"Tidak Tante, hanya beda pendapat sedikit tadi." kata Sersan Saga.


"Itu namanya bertengkar adik tua...! cepat susul dia, sebelum dia pergi. Emosinya masih labil!" seru Raditya.


Mengerti apa yang dimaksud Raditya, Sersan Saga bergegas kembali ke teras mencari keberadaan Rani.


Benar saja, Rani tidak ada di tempat. Dia pun mencari Rani ke sekitar rumah, tapi gadis yang dicarinya tak kunjung ditemuinya.


Akhirnya Sersan Saga bertanya pada salah satu satpam penjaga.


"Katanya Non Rani tadi mau cari angin sebentar tuan." kata salah satu penjaga itu.


"Kenapa kalian membiarkannya keluar malam-malam begini..!" seru Sersan Saga yang penuh rasa cemas.


Kedua satpam saling pandang dan merasa bersalah.


"Perginya ke arah mana dia tadi?" tanya Sersan Saga.


"Ke selatan tuan," jawab kedua satpam secara bersamaan.


Sersan Saga segera berlari menuju arah yang ditunjukan kedua satpam tadi.


Sementara itu, Rani yang berlari-lari kecil guna menenangkan hatinya, tiba -tiba dihadang empat pria yang sedang mabuk. Mereka punya niat menggoda Rani.


"Hai manis, mau kemana?" tanya pria pemabuk satu yang masih memegang botol minuman kerasnya.


Rani hanya diam dan terus berlari tanpa menoleh sedikitpun ke arah mereka.


"Kami temani ya?" pemabuk yang kedua yang ikut berlari walau dengan sempoyongan.


"Ayo cantik temani kami ke bulan..." pemabuk yang ketiga. Sementara itu pemabuk ke empat berusaha memeluk Rani.

__ADS_1


Mengetahui hal yang tidak menyenangkan, Rani memegang kedua pundak pemabuk ke empat dan menendang bagian vital pemabuk yang ke empat itu dengan dengkulnya.


"Dugh...!"


"Auhh..." erangan pemabuk yang ke empat.


"Hiattt....!"


"Bagh... Bugh... Bagh... Bugh...!"


"Bugh....bugh....bugh....bugh...!"


Dengan pukulan dan tendangan, Rani menghajar ke tiga pemabuk lainnya.


"Ahh.....!"


"Auh.....!"


Hanya hitungan menit, keempat pemabuk itu pun sudah terkapar tak sadarkan diri.


Rani menepuk-nepukan kedua telapak tangannya, seperti membersikan diri dari debu dan kotoran setelah menghajar ke empat pemabuk itu. Dan ke empat pria yang mabuk itu pun terkapar tak sadarkan diri.


"Jangan main-main denganku ya...!" seru Rani, yang saat ini sedang mengatur pernapasannya.


Kemudian Rani melanjutkan perjalanannya. Tibalah dia di sebuah lapangan yang dalam keadaan sunyi dan gelap.


Hanya ada sinar lampu dari merkuri pinggir jalan dan lampu rumah-rumah warga yang menyinari pinggir lapangan. Cahaya bulan pun nampak seperti sedang malu-malu dibalik awan.


Untuk mengusir hawa dingin malam, Rani melatih kembali jurus-jurus yang dia pelajari di lereng gunung.


"Hopp hiaaat....!"


"Bugh....bugh....bugh....bugh...!"


Sementara itu Sersan Saga yang membuntuti Rani, sudah berada di tempat dimana ke empat pemabuk yang terkapar tak sadarkan diri karena baru saja habis dihajar Rani.


"Pasti ini ulah Rani!" seru Sersan Saga seraya melihat ke sekitarnya.


"Rani, kamu kenapa?" kata dalam hati Sersan Saga, setelah memeriksa keadaan ke empat orang pemabuk yang terkapar itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2