
"Maaf kakek, Rani mau mandi. Rani sedang gerah!" seru Rani yang kemudian berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
"Iya!" jawab kakek Darma secara singkat.
"Rani, kamu berubah! sekarang bukan Rani yang penurut, apa pergaulan kamu di kota apa karena Saga? atau ada hal lain?" pertanyaan demi pertanyaan yang ada di pikiran Kakek Darma.
"Rani dimana, Guru?" tanya Sersan Saga yang nampak segar dan wangi, karena habis mandi dan baru saja berganti pakaian lalu keluar dari kamarnya.
"Mandi katanya." jawab Kakek Darma yang memandang Sersan Saga.
"Saga apa kamu merasakan sesuatu yang aneh pada Rani?" tanya Kakek Darma yang masih penasaran dengan sikap cucu perempuannya itu.
"Apa maksud guru?" kata Sersan Saga yang balik bertanya.
"Ah sudahlah, Jika kamu mau aku merestui hubunganmu dengan Rani, belajarlah jadi cucu mantu yang baik. Sekarang temani Yuki memetik bunga. Perguruan Anggrek putih salah satu pelanggan bunga mawar kita. Cepat layani dengan baik!" perintah kakek Darma.
"Ja...jadi guru mau merestui kami?" tanya Sersan Saga dengan penuh gembira.
"Iya, tapi ingat! jadi cucu mantu yang baik!" seru Kakek Darma dengan sedikit mengernyitkan alisnya.
"Ba....baik guru!' sahut Sersan Saga, yang penuh semangat dan kemudian bergegas melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menemui Yuki.
"Yuki....!" panggil Sersan Saga pada saat melihat Yuki yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke halaman perguruan.
"Eh, kau Saga!" panggil Yuki balik pada saat menoleh ke arah Sersan Saga.
"Apakah kamu mau meman3n bunga mawar?" tanya Sersan Saga yang basa-basi. Karena sebelumnya dia sudah tahu dari kakek Darma.
"Iya, apakah kamu mau membantuku?" tanya Yuki yang penasaran.
"Benar, aku mau membantu kamu!" jawab Sersan Saga seraya mengulas senyumnya yang khas, dan hal itu membangkitkan kenangan Yuki pada masa silam saat bersama Sersan Saga.
"Nanti ada yang marah tidak? jika kamu bersama aku di kebun bunga?" tanya Yuki seraya melirik ke arah pintu rumah kakek Darma.
"Oh, dia sedang mandi! Sebaiknya kita lekas jalan sebelum dia selesai mandi." jawab Sersan Saga dengan sedikit mengulas senyum, padahal dalam hatinya dia sedikit khawatir jika Rani mengetahui jika dia bersama Yuki.
"Huft....! Pasti akan terjadi perang dunia kalau sampai Rani tahu!" gumam dalam hati Sersan Saga.
__ADS_1
Yuki dan Sersan Saga melangkahkan kaki mereka menuju ke kebun bunga mawar dengan membawa beberapa keranjang sebagai wadah dari bunga yang akan mereka ambil nantinya.
Sementara itu Rani yang telah selesai mandi dan berganti pakaian, keluar dari kamarnya dan sedang mencari kakek dan juga kekasihnya. Setelah beberapa lama mencari, yang di cari tak juga ketemu.
"Eh, kemana mereka berdua?" gumam Rani yang menghela napasnya.
Kemudian gadis itu melangkahkan kakinya menuju keluar rumah, Rani bertemu dengan Bima yang menggendong Desi.
"Hai Bima....!" panggil Rani.
"Oh, kamu kak Ran!" seru Bima yang menoleh ke arah Rani.
"Kamu mau kemana?" tanya Rani yang penasaran.
"Oh Desi ngompol kak! tolong gantiin celana Desi sebentar ya kak! aku kebelet nih!" pinta Bima yang wajahnya nampak sangat pucat sekali.
"Iya...!" jawab Rani seraya menatih Desi dan diikuti oleh Bima.
"Oiya Bim, tahu ke mana kak Saga pergi?" tanya Rani sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan Desi dan mereka telah sampai di depan kamar mandi.
"A...apa? ke kebun bunga sama si Yuka-yuki itu? sebel..! Kenapa tidak ijin dulu sama aku!" gerutu Rani dalam hati.
Selesai membersihkan badan ke Desi, Rani segera mengambil celana Desi di kamar bibi Dewi.
Sementara itu Bima juga sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi, dia segera menghampiri Rani dan kembali mengajak Desi untuk bermain.
"Bim, aku mau ke kebun bunga, kamu jaga rumah ya!" seru Rani yang menatap Bima.
"Oh, iya!" jawab Bima singkat yang sibuk memperhatikan adiknya yang masih balita itu.
Kemudian Rani mempercepat langkahnya menuju ke kebun bunga mawar dengan perasaan campur aduk.
Sesampainya di kebun bunga itu, memang benar Rani melihat kekasihnya Sersan Saga dan Yuki di sana sedang memetik bunga mawar.
Mereka nampak bersendau-gurau, Yuki berhasil memancing suara dan senyum Sersan Saga dengan kenangan masa lalu mereka.
"Kurang ajar!" umpat Rani yang bersembunyi dibalik pepohonan.
__ADS_1
Sementara itu Yuki berusaha bersikap manis dihadapan Sersan Saga, yang jelas untuk menarik hati laki-laki yang dulu jadi teman sepermainannya.
"Kak Saga bisa kau selipkan mawar yang baru mekar itu ke telingaku? jadi kangen waktu dulu kak Saga sering menyelipkan bunga ke telingaku.!" pinta Yuki seraya mengulas senyumnya.
"Oh baiklah!" kata Sersan Saga yang tak menyadari kalau dia saat ini sedang diawasi oleh Rani.
Kemudian Sersan Saga menyelipkan satu bunga mawar ke telinga kiri Yuki, dan gadis yang bernama Yuki itu terus menyunggingkan senyum bahagia, apa lagi dia sempat melihat Rani mengawasi mereka.
"Saga, Indahnya bunga sering kali membuat kita terpana. Selain warnanya yang menawan, ada banyak jenis bunga yang memiliki aroma harum semerbak. Bukan saja indah dipandang, melainkan ada sejumlah filosofi bunga yang mempunyai makna mendalam." kata Yuki seraya kembali memetik bunga mawar dan diikuti oleh Sersan Saga.
"Yang aku tahu sih seperti itu." kata Sersan Saga yang sesekali memperhatikan gadis cantik yang berambut lurus dan terurai.
"Beberapa jenis bunga juga sering dijadikan sebagai simbol atau lambang tentang sesuatu, misalnya saja simbol cinta, kasih sayang, ketulusan, persahabatan, atau kesedihan. Ya, banyak jenis bunga memiliki arti tersendiri seperti mawar, melati, lili, tulip, dan seterusnya." kata Yuki dengan tangannya yang masih sibuk memetik bunga mawar.
Sersan Saga hanya mendengarkannya dengan seksama.
"Selain melambangkan sesuatu, ada beragam referensi kata-kata tentang bunga yang menggambarkan betapa keindahannya menyimpan pesan bermakna." lanjut kata Yuki.
"Huh....! Dasar laki-laki mesum, tadi minta-minta cium! eh sekarang menggoda perempuan lain!" gerutu Rani.
"Yuki...! kamu juga jadi cewek kok genit-genit amat! sama dengan neneknya, memang dasar keluarga genit...!!" kembali Rani menggerutu dengan memaki-maki sekenanya sambil memukul-mukul batang pohon dimana dia sembunyi.
Yuki yang tahu pohon tempat di mana Rani sembunyi bergetar, gadis itu tersenyum puas..
"Rasakan! makan tuh cemburu....! Ha....ha.....ha...!" kata dalam hati Yuki yang saat ini perasaannya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1