Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Penyelidikan di apartemen


__ADS_3

"Maksud saya," kata komisaris Saga dalam nada minta maaf,


"benda-benda tertentu selalu terletak di tempat yang sama dalam satu blok apartemen. Pintu, jendela, perapian terletak di tempat yang sama dalam ruangan yang saling bertumpuan."


"Wah, kok membicarakan hal-hal yang demikian?" tanya Mildred. Dipandangnya komisaris Saga dengan sedikit tidak setuju.


"Orang harus berbicara dengan teliti. Itulah sedikit - bagaimana menurut kalian keisengan saya." Terdengar langkah-langkah kaki di tangga dan tiga laki-laki masuk. Mereka adalah inspektur polisi, constable, dan ahli bedah divisi. Inspektur polisi itu mengenali dan menyapa komisaris Saga dengan penuh hormat. Lalu ia menoleh kepada yang lain-lain.


"Saya menginginkan pernyataan dari setiap orang," dia mulai membuka suara, "tapi, pertama-tama - " komisaris Saga menyela.


"Sedikit saran. Kita kembali ke apartemen di atas dulu karena Mademoiselle telah menyiapkan telur dadar untuk kita. Saya suka sekali telur dadar. Lalu M. l'Inspecteur, sesudah selesai menyelidiki di sini, Anda dapat menyusul kami dan mengajukan pertanyaan sesuka Anda." Kegiatan dilaksanakan sesuai saran komisaris Saga. Detektif itu naik bersama keempat pemuda-pemudi tadi.


"komisaris Saga," kata Pat, "Anda baik sekali. Anda akan mendapat telur dadar yang enak. Saya ahli membuat telur dadar."


"Bagus, Mademoiselle. Dulu saya pernah mencintai seorang gadis Inggris yang cantik, mirip sekali dengan Anda - tetapi, sialan! - dia tidak bisa memasak. Jadi, mungkin, lebih baik begini."


Samar-samar ada kesedihan dalam suaranya dan Jimmy Faulkener memandangnya dengan rasa ingin tahu. Bagaimanapun juga, begitu berada di apartemen, komisaris Saga berusaha sekuat tenaga untuk menghibur dan menyenangkan mereka.


Tragedi di apartemen bawah nyaris terlupakan. Telur dadar telah disantap dengan nikmat ketika langkah-langkah Inspektur Rice terdengar. Ia masuk ditemani dokter bedah, sedangkan constable tadi ditinggalkannya di bawah.


"Well, Monsieur komisaris Saga," katanya,


"kelihatannya kasus ini jelas sekali - tidak banyak berhubungan dengan Anda, meskipun mungkin kita sulit menangkap pelakunya. Saya ingin mendengar bagaimana jenazah itu ditemukan."


Bergantian Donovan dan Jimmy mengisahkan kejadian tadi. Inspektur menoleh kepada Pat dengan sikap menyalahkan.


"Tidak seharusnya Anda meninggalkan pintu dapur Anda dalam keadaan tidak terkunci."


"Tidak akan lagi," kata Pat gemetar.


"Mungkin saja ada orang masuk dan membunuh saya seperti perempuan malang di bawah itu."


"Ah, tapi pembunuh itu masuk dengan cara lain," kata Inspektur.


"Anda akan menceritakan hasil penyelidikan Anda kepada kami?" tanya komisaris Saga. "Saya tidak tahu apakah perlu - tapi mengingat Anda, M. komisaris Saga - "


"Betul," timpal komisaris Saga.


"Dan orang-orang muda ini - mereka akan tutup mulut."


"Bagaimanapun juga, surat kabar akan segera mendapat berita," Inspektur menjelaskan.


"Tidak ada rahasia dalam kasus ini. Perempuan yang meninggal itu adalah Nyonya Grant. Tadi saya minta portir ke atas untuk mengidentifikasi. Berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Dia tengah duduk di meja dan ditembak dengan pistol otomatis kaliber kecil, mungkin oleh seseorang yang duduk di hadapannya. Wanita itu jatuh ke depan. Inilah sebabnya ada noda darah di atas meja."


"Tidak adakah yang mendengar suara tembakan itu?" tanya Mildred.


"Pistol yang digunakan dilengkapi dengan alat peredam suara. Anda tidak akan mendengar apa-apa. Omong-omong, apakah Anda mendengar lengkingan pelayan perempuan itu waktu ia diberitahu bahwa majikannya meninggal" Tidak. Well, ini menunjukkan bahwa orang di luar tidak akan mendengar suara di dalam apartemen itu."

__ADS_1


"Apakah pelayan itu punya sesuatu yang dapat diceritakan?"


"Malam ini malam ia bebas keluar. Ia membawa kunci sendiri. Dia masuk apartemen kirakira pukul 22.00. Tenang sekali. Pikirnya, majikannya sudah tidur."


"Kalau begitu, ia tidak melongok ke ruang duduk?"


"Ya. Ditaruhnya surat-surat di ruangan itu, yang datang lewat pos malam, tapi tidak dilihatnya keanehan - seperti juga Faulkener dan Bailey. Anda tahu, pembunuh sudah menyembunyikan jenazah dengan rapi di belakang tirai."


"Bukankah ini membangkitkan rasa ingin tahu?" Suara komisaris Saga lembut sekali namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat Inspektur cepat-cepat mendongak.


"Pembunuh tidak ingin kejahatannya diketahui sampai ia punya cukup waktu untuk meloloskan diri."


"Mungkin, mungkin - teruskanlah cerita Anda."


"Si pelayan keluar pukul 17.00. Dokter menentukan waktu kematian - secara kasar sekitar empat atau lima jam yang lalu. Benar kan, Dokter?"


Dokter yang sedikit bicara itu cukup menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Sekarang pukul 23.45. Saya kira waktu kematian yang sebenarnya bisa lebih dipastikan." Inspektur mengeluarkan selembar kertas yang kusut.


"Kami menemukan kertas ini di saku baju korban. Anda tidak perlu takut memegangnya. Tidak ada sidik jari di sini." komisaris Saga meratakan kertas kusut itu. Di atasnya tertulis beberapa kata dalam huruf-huruf balok yang kecil dan rapi. SAYA AKAN MENGUNJUNGIMU PETANG INI PUKUL 19.30 J.F.


"Dokumen yang mencurigakan kok ditinggal begitu saja," komentar komisaris Saga sewaktu ia mengembalikan kertas itu kepada Inspektur.


"Well, pembunuh tidak tahu korban menyimpannya di sakunya," kata Inspektur. "Mungkin ia mengira perempuan itu telah merobek suratnya. Meskipun demikian, kami punya bukti bahwa pembunuh adalah seorang yang berhati-hati. Pistol yang dipakai untuk menembak ditemukan di bawah jenazah - lagi-lagi tanpa ada sidik jari. Sidik jari dihapus secara hati-hati dengan saputangan sutera."


"Kami menemukan saputangan itu," jawab Inspektur penuh kemenangan.


"Waktu menarik tirai, mungkin ia tidak sengaja menjatuhkannya." Inspektur mengulurkan saputangan sutera putih yang besar - saputangan yang halus kualitasnya. Jari Inspektur tidak diperlukan untuk menarik perhatian komisaris Saga pada inisial di tengah-tengah saputangan. Dicap rapi dan jelas terbaca. komisaris Saga membaca nama itu keras-keras. "John Fraser."


"Ini dia," kata Inspektur. "John Fraser - JF dalam surat. Kita tahu nama orang yang kita cari. Dan saya berani bertaruh kalau kita telah mendapatkan informasi tentang almarhumah serta hubungan-hubungannya terungkap, jejak si pembunuh akan kita dapatkan."


"Saya ragu-ragu," komisaris Saga menanggapi.


"Tidak, mon cher. Bagaimanapun juga, saya tidak berpendapat pembunuh, John Fraser itu, akan mudah diketemukan. Orangnya aneh - amat berhati-hati, karena ia menandai saputangannya dan menyeka pistol yang dipakainya untuk melakukan kejahatan - tapi kok bisa ceroboh dengan menjatuhkan saputangannya serta tidak mencari surat yang mungkin memberatkannya."


"Bingung. Seperti itulah dia," ujar Inspektur.


"Mungkin," kata komisaris Saga lagi.


"Ya, mungkin. Dia tidak terlihat memasuki bangunan ini?"


"Banyak orang masuk dan keluar waktu itu. Bangunan ini luas. Saya kira tidak seorang pun dari kalian - " Inspektur menyapa keempat muda-mudi itu bersamaan "melihat seseorang yang keluar dari apartemen itu?" Pat menggeleng.


"Kami keluar agak sore - sekitar pukul 19.00."


"Saya mengerti," kata Inspektur seraya berdiri. komisaris Saga menemaninya menuju pintu.

__ADS_1


"Satu permintaan kecil, bolehkah saya memeriksa apartemen di bawah?"


"Tentu saja,. komisaris Saga. Saya tahu bagaimana pendapat mereka di markas besar tentang Anda. Saya tinggalkan sebuah kunci untuk Anda. Saya dapat dua tadi. apartemen itu kosong. Pelayan korban mengungsi ke rumah saudaranya. Terlalu takut untuk tinggal sendirian di sana."


"Terima kasih," ujar komisaris Saga lalu masuk kembali ke apartemen dengan wajah serius.


"Anda tidak puas, komisaris Saga?" Jimmy bertanya.


"Saya memang tidak puas," sahut yang ditanya. Donovan memandangnya dengan mata ingin tahu.


"Itukah - Well - yang membuat Anda merasa was-was?" komisaris Saga tidak menjawab. Ia tetap berdiam diri selama semenit atau dua menit, mengerutkan dahi seakan-akan tengah berpikir keras. Kemudian, tiba-tiba ia menggerakkan bahunya tanda tidak sabar.


"Selamat malam, Mademoiselle. Anda pasti lelah. Banyak pekerjaan memasak yang harus Anda lakukan, eh?" Pat tertawa.


"Cuma telur dadar. Saya tidak memasak untuk makan malam. Donovan dan Jimmy datang menjemput kami. Kami keluar, ke sebuah tempat di Soho."


"Lalu, Anda pergi ke teater?"


"Ya. The Brown Eyes of Caroline."


"Ah!" seru komisaris Saga.


"Seharusnya sepasang mata biru - mata biru Mademoiselle." komisaris Saga melakukan gerakan dengan penuh perasaan. Kemudian sekali lagi mengucapkan selamat malam kepada Pat. Juga kepada Mildred yang bermalam atas permintaan Pat seperti diakui terus terang oleh Pat, ia ngeri bila ditinggal sendirian malam itu. Kedua pemuda itu menemani komisaris Saga. Ketika pintu apartemen ditutup dan keduanya bersiap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada komisaris Saga di tangga, komisaris Saga menahan mereka.


"Anak-anak muda, kalian mendengar saya tadi mengatakan masih kurang puas" Nah, itu benar - saya tidak puas. Sekarang saya akan menyelidiki sendiri. Kalian mau menemani saya - ya?"


Persetujuan yang penuh semangat menyambut usul komisaris Saga. komisaris Saga memimpin mereka menuju apartemen di bawah dan memasukkan kunci yang diberikan Inspektur kepadanya. Begitu masuk apartemen, ia tidak menuju ruang duduk seperti yang diharapkan kedua pemuda ini. Sebaliknya, komisaris Saga langsung menuju dapur.


Dalam ceruk kecil yang berfungsi sebagai dapur tambahan, ada tempat penyimpanan perkakas. komisaris Saga membuka tutupnya. Sambil meringkuk ia mulai menggali dalamnya dengan cepat dan kuat. Baik Jimmy maupun Donovan menatapnya takjub. Mendadak komisaris Saga berteriak penuh kemenangan. Dipegangnya tinggi-tinggi sebuah botol bersumbat.


"Voil?!" serunya.


"Saya menemukan apa yang saya cari." Dengan lembut dibauinya botol itu.


"Sialan, saya enrhum? - kepala saya pusing." Donovan mengambil botol itu dari tangan komisaris Saga lalu menciumnya, tapi ia tidak membaui apa-apa.


Diambilnya sumbat botol dan didekatkannya botol itu ke hidung sebelum teriakan komisaris Saga menghentikannya. Segera saja Donovan rubuh seperti balok. Dengan melompat maju komisaris Saga agak menahan jatuhnya tubuh Donovan.


"Tolol!" teriak komisaris Saga.


"Membuka sumbat secara membabi buta seperti itu. Tidakkah ia melihat betapa dengan hati-hati saya mencium botol ini" Monsieur Faulkener - ya, kan" Maukah Anda mengambilkan sedikit brendi" Saya lihat ada botol di ruang duduk."


Bergegas Jimmy ke kamar duduk. Tapi, waktu ia kembali Donovan sedang duduk tegak dan menyatakan ia sudah tidak apa-apa. Terpaksa Donovan mendengarkan ceramah singkat komisaris Sagaris Saga tentang perlunya berhati-hati dalam membaui sesuatu yang mungkin bahan beracun.


"Saya kira, saya akan pulang saja," kata Donovan yang gemetar sekali sampai ke kaki-kakinya.


"Dalam arti kalau saya tidak diperlukan lagi. Rasanya saya masih agak lemah."

__ADS_1


__ADS_2