
Setelah menguasai dirinya, Dio pun masuk ke kelas untuk menyusul Rani dan Bella.
Sementara itu Dito yang sedari tadi melihat adegan drama Dio dan Rani, semakin memerah wajahnya. Pada saat ini hatinya seperti terbakar api yang berkobar.
Pada akhirnya Dito juga masuk ke dalam kelas, walaupun hatinya masih terasa panas.
Selama dalam kelas, Rani terus mengumpat dalam hatinya
"Sial! kenapa sih harus terjadi hal memalukan lagi? kenapa harus seperti ini?"
Sementara itu Dio yang masih merasakan debaran jantungnya berkata dalam hatinya.
"Apakah perasaan Dito seperti ini ya sama sepertiku dengan Rani saat kejadian di rumah tempo hari? aku tak akan melupakan hal ini seumur hidup ku." kata Dio dalam hati yang kini berbunga-bunga.
Ibu guru Mariana masuk ke kelas dan memberi pelajaran dan juga tigas-tugasnya.
Proses belajar dan mengajar itu berjalan selama beberapa jam dan beberapa saat kemudian terdengar bel bunyi pulang sekolah.
"Teeett....teeett.....teeeettt....!"
Semua siswa pun dengan cepat memasukkan buku dan peralatan sekolah mereka ke dalam tas masing-masing dan kemudian mereka berebut untuk keluar kelas, karena ingin segera pulang sekolah.
Rani segera meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Dio dan Dito secara bersamaan memandang Rani.
"Kamu tidak bawa sepeda Ran?" tanya Dito. Rani pun menggelengkan kepalanya.
"Mau aku antar pulang?" kata Dio yang menawarkan diri.
"Mohon maaf semuanya, aku sudah ada yang jemput. Permisi." jawab Rani sambil berjalan melewati Dio dan Dito.
Kedua pemuda itu saling pandang, dan mereka menghela napas masing-masing. Sementara itu Bella tersenyum dengan sinis melihat hal itu.
Rani terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkir dan mendapati Sersan Saga yang ternyata telah menunggunya.
Dito dan Dio yang berjalan dibelakang Rani memperhatikan hal itu dengan hati yang tidak senang.
"Dito, kita lupa saingan yang satu ini, yaitu si Sersan Saga!" seru Dio dengan geram.
"A..apa maksud kamu? kamu juga ada perasaan pada Rani? Bukankah selera kamu sekelas Bella?" tanya Dito yang penasaran.
"Hatiku tak bisa dibohongi, akubada rasa pada Rani." jawab Dio gusar, karena dia akan bersaing selain dengan saudara kembarnya juga saudara sepupu dari ibundanya.
__ADS_1
"A...apa!":seru Dito yang sangat terkejut.
"Bagaimana kalau kita bersaing untuk merebut hati Rani?" tanya Dio yang menatap Dito dengan mengulas senyumnya.
"Hm, boleh juga! Tapi aku punya rencana untuk singkirkan Saga. Setelah itu, tinggal kita berdua yang bersaing untuk mendapatkan hati Rani." saran dari Dito.
"Apa maksud kamu?" tanya Dio.
"Hari ini kak Sania pulang. Kita minta bantuan saja sama kak Sania." kata Dito bersemangat.
"Oiya, Kak Sania kan dapat undangan ulang tahun putri Walikota. Karena putri walikota itu adalah sahabat sekaligus pelanggan setia desain bajunya kak Sania. Iya, kak Sania mungkin bisa membantu kita!" seru Dio dengan semangat.
"Benar! Kalau begitu sebaiknya kita pulan dan atur strategi!' seru Dito dan Dio menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka meninggalkan sekolah dengan cara masing-masing. Dan kali ini Dio tak menyangka, akan bersaing dengan saudara kembarnya, Dito dan demikian pula dengan Dito yang tak menyangka satu perasaan sama Dio pada gadis cupu yang bernama Rani.
Mereka berdua segera pulang, pergi meninggalkan sekolah.Dio dan dua pengawalnya pakai mobil dan Dito dengan sepeda kayuhnya.
Sementara itu Rani dan Sersan Saga terus melaju menyusuri jalan raya.
"Kak Saga, kita ke Gym Wibowo dulu ya!" pinta Rani saat mereka berdua sudah berada di lampu merah persimpangan jalan raya.
"Kita makan di kantin Gym saja, enak-enak kok makanannya." jawab Rani yang semangat jika mengingat makanan.
"Betulkah? okey kalau begitu. Aku mau mengebut, jadi berpeganglah!" seru Sersan Saga.
Rani menuruti apa yang dikatakan oleh Sersan Saga, jadi dia berpegangan dengan erat, di pinggang Sersan Saga. Lagi-lagi debaran jantungnya tak karuan tidak seperti dengan perasannya pada dua saudara kembar, Dio dan Dito.
Walaupun dengan dua anak kembar itu, pernah mengalami insiden yang sangat memalukan bagi Rani.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di Gym Wibowo, dimana gym ini milik keluarga Wibowo dan kini dikelola oleh Raditya.
Raditya memang telah berpesan pada Rani setelah pulang sekolah untuk melihat situasi di Gym. Karena sudah beberapa hari Raditya dan Rani tidak mengunjunginya.
Karena Raditya yang saat ini berada di luar kota, dan juga Raditya sedang mendalami bisnis online alat-alat olah raga, jadi agar tidak terbengkalai, Radit menyuruh Rani untuk mengawasi karyawan dan pengunjung Gym.
Setelah turun dari sepeda motor, Rani dan Sersan Saga bergegas masuk ke Gym. Mereka melangkahkan kaki seraya melihat-lihat suasana dan kondisi tiap ruangan.
Setelah itu Rani mengajak Sersan ke ruangan kantor Raditya. Diatas meja kerja Raditya terdapat tumpukan dokumen yang harus ditanda tangani oleh Raditya.
Rani pun sibuk menghubungi kakaknya dan Sersan Saga melihat sekeliling ruang kantor Raditya.
__ADS_1
"Benar kata bibi pembantu Tuan Wibowo. Raditya jarang pulang, karena disini sudah ada kamar tidur dan kamar mandinya.Baju-baju Radit pun banyak disini ." kata dalam hati Sersan Saga.
"Sersan, sebelum pulang kita makan dulu ya. Soto Ayam kampung di kantin yang ada di bawah, enak lho!" seru Rani.
"Ohya? boleh juga." balas Sersan Saga.
Setelah memasukkan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani Raditya ke dalam tas sekolah Rani, mereka bergegas melangkah keluar ruang kerja Raditya itu dan menuju ke kantin Gym Wibowo.
Mereka berdua segera memesan Soto ayam kampung dan lemon tea.
"Bu, soto ayam dua mangkok dan es lemon tea-nya dua gelas ya!' seru Rani yang memesan pada ibu kantin.
"Iya, silahkan duduk dulu! Pesanan anda akan saya buatkan dengan segera." kata ibu kantin dengan ramah.
"Baik Bu." balas Rani yang bersama Sersan Saga melangkahkan kaki menuju ke bangku yang kosong untuk mereka duduk.
Setelah menempati bangku yang kosong itu, mereka berbincang-bincang ringan seraya menunggu pesanan mereka dibuatkan oleh ibu kantin.
Tak berapa lama pesanan mereka telah dihidangkan oleh ibu kantin, dan keduanya menyantap dengan lahapnya sampai tak tersisa.
"Benar nih seger sotonya, pas buat cuaca hari ini." kata Sersan Saga.
"Nah benarkah!'' seru Rani seraya mengulas senyumnya, dia sangat senang karena Sersan Saga menyukai seleranya.
Selesai makan siang dengan soto ayam kampung itu, Sersan Saga segera membayarnya. Kemudian mereka bergegas melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana sepeda motor Sersan Saga terparkir.
Tapi sebelumnya Rani berpesan pada pak Jarwo, satpam Gym Wibowo.
"Pak Jarwo, kak Radit belum bisa datang kesini karena ada kepentingan. Tolong jaga Gym selama kak Radit belum kesini." kata Rani yang berpesan pada satpam penjaga Gym Wibowo.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1