Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Reaksi Jarum Beracun


__ADS_3

Rani pun berusaha bangkit, namun kemudian ditarik oleh Sersan Saga dan kedua bibir sejoli itu beradu. Mereka pun merasakan kelembutan dan kehangatan saat bibir mereka beradu.


"Lepas kak!" seru Rani yang berusaha untuk melepaskan dirinya dari ciuman itu, dan kemudian bangkit lalu berlari menuju ke arah rumah.


Sedangkan Sersan Saga masih terdiam di tempat dalam posisi duduk diatas rumput yang ada di halaman.


Rani terus berlari masuk ke dalam rumah. Entah apa yang saat ini dia rasakan, harus sedih kah atau bahagia kah? tak dapat dia untuk bisa tentukan.


"Nona, apa kakak nona sudah diberi pil langit?" tanya Kity dari dalam liontin bambu pada kalung pusaka.


"Astaga belum, kenapa denganku ini!"ucap Rani mengumpat pada dirinya sendiri, yang kemudian melangkahkan kaki masuk ke kamar dimana Raditya terbaring.


."Radiiiiit...!" suara jeritan nyonya Lani dari dalam kamar dimana Raditya terbaring.


Raditya saat ini tubuhnya membiru efek dari jarum beracun Annet saat dalam Turnamen Bela diri tadi siang.


Walaupun sempat diberi hawa murni oleh nenek Lasmi, namun karena selain raga tubuh Raditya yang lemah karena sehabis kena tembak, juga karena Raditya tidak punya tenaga dalam. Oleh Karena itulah pada setiap perkelahian dia hanya mengandalkan tenaga fisik saja.


Rani pun mempercepat langkahnya dan diikuti Sersan Saga dan yang lainnya.


"Mama...! apa yang terjadi sama kak Raditya?" tanya Rani pada saat baru masuk ke kamar Raditya.


"Kakakmu tubuhnya membiru!" jawab Mama Lani yang tak bisa membendung air matanya.


"Nona....! pil langitnya tinggal dua, Minumkan semua nona!" seru si Kity.


Mendengar seruan si kucing langit itu, Rani segera mengambil pil dari dalam liontin bambu pada kalung pusaka yang menggantung dileher Rani. Dan benar kata si Kity, pil langitnya hanya tinggal dua butir.


Dengan segera Rani meminumkannya pada Raditya.


"Kak Radit cepat sembuh, siapa lagi yang akan memarahi Rani nanti kalau kak Saga tugas ke kota Sebrang?" racau Rani dan berbarengan sengan Isak Rani pada saat selesai meminumkan pil langit pada Raditya.


"Radit cucuku..!" seru kakek Darma saat masuk ke kamar dimana Raditya terbaring.


Nenek Lasmi, Paman Sidiq, Arya dan Sersan Saga pun ikut masuk dan melangkahkan kaki mereka dibelakang kakek Darma.


"Kakak muda...!" seru Sersan Saga pada saat melihat tubuh kakaknya Rani yang membiru.


"Tuan Saga! suruh semuanya keluar, racunnya sudah menyebar. Dua pil langit tak bisa menolongnya, akan aku berikan sedikit hawa langitku pada kakaknya nona!" seru Kity.

__ADS_1


Sersan Saga pun mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kity, lantas diapun segera meminta semuanya keluar.


"Mohon ma'af untuk semuanya, sebaiknya kalian keluar sebentar!" seru Sersan Saga dengan sopan.


"Tapi, bagaimana dengan Raditya?" tanya nyonya Lani yang sangat khawatir.


"Tante jangan khawatir! karena itulah ada yang akan mengobati Raditya pada saat ini. Mengingat racun yang ada dalam tubuh Raditya sudah menyebar ke seluruh tubuh Raditya." jelas Sersan Saga.


"Oh, parah sekali ya!" keluh Nyonya Lani.


"Iya, ayo sebaiknya kita semua keluar! supaya Raditya cepat tertolong!" seru kakek Darma dan semuanya keluar dari kamar Raditya.


"Termasuk anda juga Nona!" seru si Kity.


"Tidak mau! bukannya tadi kan kak Raditya minum pil langit, seharusnya ada hasilnya!" seru Rani yang terus menangis disamping Raditya.


"Kau ini! Mau kakak kamu mati ya!" gerutu Sersan Saga yang gemas dan tanpa banyak kata, Sersan Saga membopong Rani keluar kamar Raditya.


"Lepaskan...! aku mau sama kak Radit! Lepaskan....! dasar kak Saga Nyebelin!" umpatan dan pukulan di arahkan Rani pada tunangannya.


"Diam dan duduk yang manis di sini!" seru Sersan Saga yang mendudukan Rani di Sofa dekat nyonya Lani.


Ketika Sersan Saga hendak melangkahkan kakinya untuk mencari tempat duduk, tiba-tiba Rani menendang kaki Sersan Saga.


Sersan Saga pun ambruk, dan semua mata memandang mereka.


"Rani...!" seru Sersan Saga yang geram dan menatap Rani dengan tajam.


"Jangaaan berisiiiiiiik....! aku tak bisa konsentrasi...!' teriak si Kity yang sedang melakukan tugasnya didalam kamar Raditya.


Mendengar teriakan itu, Sersan Saga pun menarik lengan Rani dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


"Lepaskaaan Sersan...!" seru Rani dengan kesal.


Sersan Saga tak menggubrisnya, mereka terus melangkahkan kaki kembali menuju ke halaman rumah.


"Dasar kalian anak yang lagi kasmaran! sebentar-bentar menangis, tertawa dan marahaan! coba besok saat kalian berjauhan, kalian akan tersiksa karena rindu dan cemburu!" gumam nyonya Lani pada saat melihat Sersan Saga yang menarik Rani keluar dari rumah.


Nenek Lasmi yang mendengar gumaman nyonya Lani pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh nyonya Lani.

__ADS_1


Sementara itu Sersan Saga dan Rani yang berada di halaman perguruan Darma putih, laki-laki itu menatap Rani dengan tajam.


"Kenapa sih kamu! apa tidak dengar kalau Kity mau menyembuhkan kakak muda? kamu jangan mempersulit, Nyawa kakakmu diujung tanduk! Kalau mau marah, ayo pukul kakak....! pukul sekarang...!" seru Sesan Saga sambil memegang bahu dan menatap gadis pujaannya itu.


Rani tak menjawab, dia terus menangis.


"Hiks....hiks......!"


"Kalau kakak salah, kakak minta maaf. Kakak terlalu mencintaimu, sebentar lagi kita nggak akan ketemu. Kak Saga akan selalu merindukanmu sayang!" kata Sersan Saga seraya menghela napasnya.


"Rani sudah maafkan kak Saga!" jawab Rani pelan dan terduduk bersimpuh dengan kedua telapak tangan menutupi mukanya yang menunduk.


"Lantas kenapa kamu masih saja menangis Sayang?" tanya Sersan Saga penuh tanda tanya dan ikut duduk memposisikan sejajar dengan Rani.


"Kenapa tak sedari tadi pil langitnya aku berikan pada kak Radit? adik macam apa aku ini?" jawaban Rani yang merasa sangat bersalah.


"Sudahlah jangan terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting kita berdoa untuk kesembuhan kakak muda. Semoga Kity bisa menyembuhkan kakak muda." kata Sersan Saga yang berusaha menenangkan tunangannya itu.


"Iya kak!" jawab Rani.


"Sekarang aku hapus air mata kamu, besok kalau kak Saga tak ada, kakak mohon kamu jangan suka menangis lagi, karena kak Saga tak bisa menghapus air mata kamu lagi." kata Sersan Saga dengan lirih, seraya menyeka air mata Rani dengan ibu jarinya.


"Kak Saga!" panggil Rani lirih dan berusaha untuk tersenyum, Sersan Saga juga demikian. Keduanya pun saling berpelukan, Rani menikmati hangatnya tubuh tunangannya dan Sersan Saga menikmati wangi tubuh gadis pujaannya itu.


Beberapa saat kemudian, Sersan Saga melepaskan pelukan mereka dan mengajak Rani untuk kembali masuk ke rumah.


...~¥~...


"Jangan membuat keputusan, jika hatimu sedang kacau atau ada amarah.


Karena hasilnya jauh lebih parah, dari yang kau alami sekarang"


by; Rani- Gadis Tiga Karakter


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2