Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kasus Penculikan Putra tuan Waverly


__ADS_3

"Dia sangat berarti bagi saya sebagai rekan sekretaris dan pengurus rumah yang amat efisien." Sambung tuan Waverly.


"Lalu, si pramusiwi?" tanya Rani.


"Baru enam bulan. Dia datang dengan surat rekomendasi yang sangat memuaskan. Meskipun demikian, saya tidak pernah benar-benar menyukainya walaupun Johnnie sangat dekat dengannya." balas tuan Waverly.


"Tapi, saya kira dia sudah pergi ketika bencana itu terjadi. Monsieur Waverly, maukah Anda melanjutkan kisah ini?" tanya Rani yang penasaran.


Kemudian Tuan Waverly melanjutkan ceritanya.


"Inspektur Neill tiba sekitar pukul 10.30. Pada waktu itu semua pelayan sudah pergi. Inspektur menyatakan rasa puasnya dengan pengaturan di dalam rumah. Beberapa polisi ditempatkannya di taman luar, menjaga semua jalan masuk ke rumah. Dan Inspektur meyakinkan saya jika surat kaleng itu bukan sekadar bercanda, kami pasti akan menangkap pengirim surat misterius itu."


"Johnnie bersama saya. Bertiga dengan Inspektur Neil kami masuk ke ruangan yang kami namakan ruang dewan. Inspektur mengunci pintu. Di ruang itu ada jam berdiri yang besar. Pada waktu jarum jam mendekati angka 12, saya terus terang mengakui bahwa saya sangat tegang. Terdengar suara sesuatu menderu, dan jam mulai berdentang. Johnnie saya rengkuh dengan perasaan was-was bahwa mungkin saja seseorang jatuh dari langit. Dentangan terakhir terdengar. Bersamaan dengan itu, terjadi keributan di luar - tembakan dan suara orang berlarian. Tergesa-gesa Inspektur membuka jendela, dan seorang penjaga berlari mendekat dan memberi laporan, kalau sudah menangkap pelaku yang sebelumnya diam-diam menyelinap ke atas melalui semak-semak. Dia membawa perlengkapan bius yang lengkap.' lanjut cerita tuan Waverly.


"Terus bagaimana kelanjutannya?" tanya Rani yang penasaran.


"Bergegas kami menuju teras. Di sana, dua orang polisi tengah memegang seorang pemuda yang kelihatannya jahat dan berpakaian jembel. Sia-sia saja pemuda itu meronta untuk melepaskan diri. Salah seorang polisi mengeluarkan gulungan yang sudah dibuka. Isinya satu gulungan kapas dan sebotol kloroform. Mendidih darah saya melihat barang-barang itu. Ada juga pesan yang dialamatkan kepada saya. Isinya seperti berikut, 'Seharusnya Anda menyerahkan uang untuk menebus putra Anda. Sekarang Anda harus mengeluarkan lima puluh ribu pound. Meskipun segala tindakan pencegahan telah Anda ambil, anak Anda diculik tanggal 29 ini, seperti yang telah saya katakan."  


Terdengar deru motor dan teriakan. Saya menoleh. Sebuah mobil abu-abu yang rendah dan panjang melintas dengan kecepatan tinggi, menuruni jalan mobil menuju pondok sebelah selatan. Pengemudi mobil itulah yang berteriak. Tapi, bukan itu yang membuat saya terperanjat ketakutan, melainkan karena melihat rambut ikal Johnnie yang berwarna jerami. Johnnie ada di dalam mobil, di sebelah pengemudi.


"'Anak itu ada di sini semenit yang lalu,' teriak Inspektur Neil menyumpah-nyumpah.


Pandangan matanya menyapu kami. Kami semua ada di situ: saya sendiri, Tredwell, Nona Collins. 'Kapan Anda terakhir kali melihat anak itu, Tuan Waverly"'

__ADS_1


"Saya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Ketika polisi di luar memanggil kami, saya dan Inspektur berlari ke luar, melupakan Johnnie sama sekali.


"Lalu terdengarlah suara yang mengagetkan kami. Dentang jam gereja dari desa. Sambil berseru Inspektur mengeluarkan arlojinya. Pukul 12.00 tepat! Serentak kami berlari masuk ke ruang dewan; jam di sana menunjukkan angka 12.10. Pasti seseorang sengaja mengacaukan jam itu karena setahu saya jam itu belum pernah tidak tepat sampai saat itu." cerita Tuan Waverly yang berhenti sejenak.


Komisaris Saga tersenyum kepada dirinya sendiri lalu meluruskan alas kaki kecil yang terdorong kaki ayah yang cemas itu.


 "Masalah kecil yang menyenangkan, tidak jelas dan menarik," gumam komisaris Saga.


"Dengan senang hati saya akan menyelidikinya. Sungguh, penculikan itu direncanakan ?" tanya Nyonya Waverly memandang komisaris Saga dengan tatapan memelas.


"Tapi, anak saya," ratapnya.


Tergesa-gesa Poirot mengubah wajahnya dan memperlihatkan pandangan simpati yang tulus lagi.


"Putra Nyonya selamat. Dia tidak berada dalam bahaya. Yakinlah bahwa orang-orang licik itu akan menjaganya sebaik mungkin. Bukankah bagi mereka anak itu serupa kalkun - bukan angsa - yang menghasilkan telur emas?" "M. Poirot, saya yakin hanya ada satu hal yang harus dilakukan - memenuhi tuntutan penculik. Mula-mula saya tidak setuju - tapi sekarang! Perasaan seorang ibu - "


"Tentu saja Inspektur McNeil segera menelepon ke pusat. Gambaran tentang mobil dan orang itu disebarluaskan. Mula-mula kelihatannya semua akan beres. Sebuah mobil yang sesuai dengan gambaran itu, dengan seorang laki-laki dan anak kecil di dalamnya melintasi beberapa desa. Rupanya akan menuju London Di suatu tempat mereka berhenti dan terlihat bahwa anak itu menangis serta jelas-jelas takut kepada teman semobilnya. Inspektur McNeil memberitahu bahwa mobil itu sudah dihentikan dan penumpangnya ditahan. Saya sangat lega mendengarnya. Anda tahu selanjutnya. Anak laki-laki itu bukan Johnnie dan pria itu adalah seorang yang gemar mengemudi yang sangat menyukai anak-anak. Ia mengajak seorang anak kecil yang sedang bermain-main di jalan di Edenswell, desa yang terletak kira-kira lima belas mil dari tempat tinggal kami, dan dengan ramah memberi anak itu tumpangan. Gara-gara kesalahan besar polisi yang terlalu yakin, semua jejak hilang. Andaikata polisi tidak terus-menerus membuntuti mobil yang salah, mungkin sekarang Johnnie sudah ditemukan." "Tenanglah, Monsieur. Polisi merupakan kesatuan yang berani dan pandai. Kesalahan yang mereka perbuat wajar sekali. Lagi pula, penculikan itu direncanakan dengan luar biasa cerdiknya. Akan halnya laki-laki yang ditangkap di halaman itu, saya mengerti bahwa dia akan terus menerus menyangkal untuk membela diri. Dia mengatakan bahwa surat dan bungkusan itu diberikan kepadanya untuk disampaikan ke Waverly Court. Orang yang menyerahkan barang memberinya upah sepuluh shilling dan menjanjikan sepuluh shilling tambahan kalau benda itu disampaikan tepat pukul 11.50. Untuk melakukannya dia harus mendekati rumah melalui halaman dan mengetuk pintu samping."


"Saya sama sekali tidak percaya," kata Nyonya Waverly berapi-api.


"Kisah itu cuma isapan jempol."


 "En verit?, peristiwa ini jarang terjadi," ujar Poirot merenung. "Sebegitu jauh polisi belum mengutak-atik. Saya tahu pemuda itu melemparkan tuduhan?" Poirot menoleh seraya menanyai Tuan Waverly, yang wajahnya menjadi agak merah lagi.

__ADS_1


"Pemuda itu kurang ajar dengan berpura-pura mengenali Tredwell sebagai orang yang memberinya bungkusan. 'Hanya saja orang itu sekarang sudah mencukur kumisnya,' katanya.


 Tredwell yang dilahirkan di sini!" Poirot tersenyum simpul melihat kedongkolan hati laki-laki itu.


"Bukankah Anda sendiri mencurigai salah seorang penghuni rumah menjadi kaki tangan komplotan penculik?"


 "Memang, tapi bukan Tredwell." "Bagaimana dengan Anda, Madame?" Poirot bertanya tiba-tiba seraya menoleh kepada Nyonya Waverly.


"Tidak mungkin Tredwell memberi pemuda gembel itu surat dan bungkusan - kalau memang ada yang melakukannya, saya tidak percaya. Barang itu diserahkan kepadanya pada pukul 10.00, begitu pengakuannya. Padahal pada waktu itu Tredwell bersama suami saya berada di ruang merokok."


 "Anda dapat melihat wajah orang di dalam mobil itu, Monsieur" Apakah ia mirip Tredwell?"


"Terlalu jauh bagi saya untuk melihat wajahnya."


"Tahukah Anda kalau-kalau Tredwell mempunyai saudara laki-laki?"


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2