
"Sobat! Dengan kumis itu" Seorang penjahat pasti bercukur bersih atau mempunyai kumis yang terpelihara. Alangkah baiknya kesempatan bagi Nona Penn yang cerdas wanita setengah umur yang mulai memudar dengan warna kulit merah jambu pucat, seperti yang kita lihat. Akan tetapi, seandainya ia berdiri tegak, memakai sepatu bot yang besar, mengubah wajahnya dengan sedikit jerawat dan - sebagai sentuhan akhir menambahkan kumis pada bibir atasnya. Lalu jadi apa" Seorang perempuan maskulin, menurut Wood, dan - 'seorang laki-laki yang menyamar', menurut kita."
"Dia benar-benar ke Charlock Bay kemarin?"
"Pasti. Kereta api, seperti yang kaukatakan kepadRani, berangkat dari sini pukul 11.00 dan tiba di Charlock Bay pukul 14.00. Kereta yang kembali, bahkan lebih cepat - seperti yang kita naiki. Dari Charlock pukul 16.05 dan sampai di sini pukul 18.15. Tentu saja miniatur-miniatur itu sama sekali tidak pernah ditaruh di kotak pengiriman. Kotak itu sudah dibongkar sebelum dipak. Mademoiselle Mary cuma harus mendapatkan dua orang yang gampang ditipu, yang bersimpati pada pesonanya yang bagaikan seorang ratu kecantikan yang sedang dalam kesulitan. Akan tetapi, salah seorang yang gampang ditipu itu tidaklah mudah dikelabui - dia Hercule komisaris saga!" Rani sangat tidak menyukai kesimpulan komisaris saga. Buru-buru Rani berkata,
"Kalau begitu, waktu engkau mengatakan akan menolong orang asing, engkau sengaja menipuku. Itulah persisnya yang engkau perbuat."
"Tidak pernah Rani menipumu, Hastings. Hanya saja, Rani memperbolehkan engkau menipu dirimu sendiri. Yang kumaksud adalah Baker Wood - orang asing di negeri ini." Wajahnya menjadi gelap. "Ah! Waktu Rani berpikir tentang kerugian itu, biaya darmawisata yang tak adil itu, ongkos perjalanan sekali jalan ke Charlock yang sama dengan ongkos pulang-pergi, darahku mendidih untuk melindungi pendatang itu! Memang, Baker Wood itu bukan orang yang menyenangkan. Tidak simpatik, seperti katamu. Tapi, ia seorang pendatang! Dan kami, para pendatang, Hastings, harus bersatu. Rani sepenuhnya memihak para pendatang!"
"BAGAIMANAPUN juga, tidak ada tempat seperti di desa, kan?" Inspektur Japp berkata seraya menarik napas berat melalui hidung dan mengembuskannya melalui mulut dengan sangat sopan.
Rani dan komisaris saga setuju. Gagasan inspektur Scotland Yard ini jugalah yang membuat kami bertiga berakhir pekan ke kota kecil yang bernama Market Basing. Sewaktu sedang tidak bertugas, Japp adalah ahli tumbuh-tumbuhan yang rajin, yang sanggup berbicara tentang bunga-bunga kecil dengan nama Latin yang luar biasa panjangnya (dan agak aneh kedengarannya) dengan antusiasme yang, bahkan, lebih besar daripada antusiasme yang ia tunjukkan pada kasus-kasus yang harus ditanganinya.
"Tak seorang pun mengenal kita, dan kita tidak mengenal siapa pun di sini," Japp menjelaskan.
"Ini idenya." Tapi, ide ini terbukti tidak seluruhnya benar. Pasalnya, constable setempat kebetulan dikirim dari desa yang jauhnya lima belas mil, tempat terjadinya kasus peracunan arsenikum yang membawanya berhubungan dengan inspektur Scotland Yard ini. Constable tadi mengenali orang penting itu, dan Japp sangat bangga. Minggu pagi kami sarapan di salon tamu penginapan itu. Matahari bersinar terang. Sulur bunga kamperfuli menjulur melalui jendela. Kami bertiga penuh semangat. Bacon dan telurnya luar biasa lezatnya. Kopinya tidak terlalu enak, namun boleh juga dan dihidangkan panas-panas.
"Inilah hidup," ujar Japp.
"Kalau pensiun nanti, saya akan membeli rumah di luar kota. Jauh dari kejahatan. Seperti ini!"
"Le crime, il est partout, kejahatan ada di mana-mana," komisaris saga menanggapi seraya mengambil roti persegi yang dipotong rapi dan mengerutkan dahi ke arah burung pipit yang secara tidak sopan bertengger di jendela. Dengan ringan Rani mengutip syair: Kelinci itu sungguh sedap dipandang Tapi kehidupan pribadinya memalukan Rani benar-benar tidak dapat mengatakan kepadamu Perbuatan-perbuatan jahat yang dilRanikan si kelinci
"Ya, ampun," kata Japp sambil menggeliat ke belakang.
"Saya yakin, saya bisa makan telur lagi, dan mungkin satu atau dua potong bacon. Bagaimana dengan Anda, Kapten?"
"Sama dengan Anda," jawabku sungguh-sungguh.
"Engkau, komisaris saga?" komisaris saga menggeleng.
"Perut tidak seharusnya diisi terlalu banyak sampai-sampai otak tidak berfungsi," komisaris saga menegur.
"Saya mengambil risiko dengan mengisi perut sedikit lagi," sambung Japp tertawa. "Perut saya besar. Omong-omong, Anda sendiri tambah gemuk, komisaris saga. Nona, dua telur dan bacon."
__ADS_1
Pada saat itu sesosok tubuh yang menarik perhatian berdiri di pintu. Dialah Constable Pollard.
"Maafkan saya karena mengganggu Inspektur, Tuan-tuan. Saya mengharapkan nasihat Inspektur."
"Saya kan sedang berlibur," buru-buru Japp menjelaskan.
"Tidak ada pekerjaan untuk saya. Apa kasusnya?"
"Laki-laki di kamar atas Leigh House - menembak dirinya sendiri - menembus kepala."
"Well, mereka biasa melRanikannya," komentar Japp jemu.
"Masalah hutang atau perempuan saya kira. Maaf, saya tidak dapat membantumu, Pollard."
"Masalahnya," kata constable itu lagi,
"ia jelas tidak bunuh diri. Paling tidak, begitu kata Giles." Japp meletakkan cangkir kopinya.
"Tidak mungkin bunuh diri" Apa maksudmu?"
"Itu kata Dokter Giles," Pollard mengulangi.
Keterangan ini membawa efek. Bacon dan telur tambahan dikesampingkan. Beberapa menit kemudian kami berjalan secepat mungkin ke arah Leigh House. Dengan penuh semangat Japp menanyai constable itu. Almarhum bernama Walter Protheroe; laki-laki setengah baya dan hidup seperti pertapa. Delapan tahun yang lampau ia datang ke Market Basing dan menyewa Leigh House, rumah besar yang bobrok serta hampir ambruk.
Ia menempati sudut rumah. Segala keperluannya disediakan oleh seorang perempuan pengurus rumah tangga yang dibawanya dari tempat asalnya. Nama wanita itu Nona Clegg, seorang wanita yang sangat baik dan dihormati di desa itu. Baru-baru ini Protheroe mendapat tamu yang menginap di rumahnya, Tuan dan Nyonya Parker dari London.
Pagi tadi Nona Clegg menelepon polisi dan dokter karena tuannya tidak menjawab panggilannya serta pintu kamar dalam keadaan terkunci. Constable Pollard dan Dokter Giles tiba berbarengan. Mereka berdua berhasil mendobrak pintu kayu ek kamar tidur almarhum.
Protheroe terbaring di lantai, ditembak menembus kepala. Sedangkan sebuah pistol tergenggam di tangan kanannya. Sepintas, jelas kasus bunuh diri. Tapi, sesudah memeriksa tubuh korban, Dokter Giles betul-betul bingung.
Akhirnya ia menarik constable itu ke samping untuk menjelaskan kebingungannya. Pollard segera berpikir tentang Japp. Ia meninggalkan dokter itu untuk menjaga jenazah dan bergegas menuju ke penginapan. Bersamaan dengan selesainya cerita Pollard, kami tiba di Leigh House.
Sebuah rumah besar yang terpencil, dikelilingi kebun yang tidak terpelihara serta penuh rumput liar. Pintu depan terbuka. Kami segera melewatinya untuk masuk ke ruangan besar, lalu menuju ruang duduk yang kecil. Dari tempat ini mulai terdengar suara.
Ada empat orang di dalamnya: seorang laki-laki yang berpakaian agak mencolok, wajahnya tidak menyenangkan dan penuh tipu daya - orang yang langsung tidak kusukai; seorang perempuan yang tipenya hampir sama dengan laki-laki tadi, walaupun sebetulnya cukup cantik; seorang perempuan lain berpakaian hitam rapi, berdiri terpisah dari yang lain dan kukira dialah pengurus rumah tangga almarhum; serta seorang laki-laki bertubuh tinggi, dalam pakaian olahraga dari bahan wol, wajahnya cerdas lagi cakap, dan jelas-jelas menguasai situasi.
__ADS_1
"Dokter Giles," Pollard memperkenalkan, "inilah Inspektur Detektif Japp dari Scotland Yard beserta dua kawannya." Dokter Giles mengucapkan salam kepada kami, kemudian memperkenalkan kami kepada Tuan dan Nyonya Parker.
Sesudah itu kami mengikutinya naik. Pollard mematuhi isyarat Japp untuk tetap tinggal di bawah, mengawasi rumah itu. Dokter membawa kami ke lantai atas dan melewati gang. Di ujung gang sebuah pintu terbuka, lepas dari engsel-engselnya. Daun pintu jatuh ke sebelah dalam kamar. Kami masuk. Jenazah masih terbaring di lantai.
Protheroe berumur setengah baya, berjenggot, beruban di kedua pelipisnya. Japp berlutut di dekat tubuh korban.
"Mengapa Anda tidak membiarkannya tetap seperti pada waktu Anda menemukannya?" Japp menggerutu. Dokter Giles mengangkat bahu.
"Kami mengira ini kasus bunuh diri." "Hhmmm!" gumam Japp. "Peluru masuk di belakang telinga kiri."
"Persis!" Dokter mengiyakan.
"Jadi tidak mungkin ia menembakkan pistol itu sendiri. Ia harus memutar tangan kanannya mengelilingi kepala dulu. Padahal ini tidak mungkin."
"Anda menemukan pistol ini tergenggam di tangan kanannya" Di mana sekarang pistol itu?" Dokter Giles mengangguk ke arah meja.
"Tapi pistol itu tidak tergenggam di dalam tangannya," jelas Dokter.
"Pistol memang ada di tangan, namun jari-jari korban tidak menggenggamnya."
"Diletakkan di situ sesudahnya," kata Japp.
"Cukup jelas." Japp memeriksa senjata api itu.
"Satu peluru saja yang ditembakkan. Kita akan memeriksa senjata ini untuk mencari sidik jari, tapi saya ragu-ragu apakah kita akan menemukannya, kecuali sidik jari Anda, Dokter Giles. Berapa lama ia sudah meninggal?"
"Tadi malam. Saya tidak dapat memastikan jamnya, seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter yang hebat dalam cerita detektif. Secara kasar ia sudah meninggal sekitar dua belas jam."
Sejauh ini komisaris saga belum berbuat apa-apa. Ia tetap berdiri di sampingku, mengawasi Japp yang tengah bekerja sambil mendengarkan pertanyaan-pertanyaan inspektur itu. Hanya saja berulang kali komisaris saga membaui udara dengan gerakan yang sangat lembut dan nampak bingung.
Rani ikut-ikutan membaui udara kamar itu, tapi tidak mencium apa-apa yang menarik perhatianku. Udara benar-benar segar dan sama sekali tidak berbau. Meskipun demikian, berkali-kali komisaris saga membaui dengan sikap ragu-ragu, seolah-olah hidungnya yang lebih tajam mencium sesuatu yang tidak tercium olehku.
Karena Japp telah meninggalkan korban, komisaris saga berlutut di dekat almarhum. Luka tembakan sama sekali tidak menarik perhatiannya. Mula-mula Rani berpikir komisaris saga tengah memeriksa jari-jari tangan yang memegang pistol itu, tapi segera kulihat ternyata saputangan yang ada di lengan mantel almarhum itulah yang menarik perhatian komisaris saga. Protheroe memakai setelan rumah berwarna abu-abu gelap.
Akhirnya komisaris saga berdiri, namun kedua matanya masih terpancang pada saputangan itu, seakan-akan ia bingung. Japp meminta komisaris saga membantu mengangkat pintu. Rani mempergunakan kesempatan ini untuk berlutut, mengambil saputangan itu dari mantel almarhum, dan memeriksanya dengan cermat.
__ADS_1
Sapu tangan yang sederhana dari kain katun putih yang halus sekali. Tidak ada tanda maupun noda pada saputangan itu. Rani mengembalikan benda itu ke tempatnya, menggelengkan kepala, lalu mengRanii bahwa Rani bingung. Yang lain telah berhasil mengangkat pintu. Rani sadar mereka mencari kunci, namun sia-sia.
"Ini memberi penjelasan," kata Japp.