Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
KERETA API PLYMOUTH EXPRESS ALEC SIMPSON, RN


__ADS_3

 "Dengan demikian, Lester berada di tangan Pearson. Lalu, apakah Pearson puas" Tidak - sikap Rani yang membuatnya gelisah dan diputuskannya untuk menuntaskan kasus ini dengan memberatkan Lester. Maka, diaturnya penyamaran itu. Rani, Rani hendak ditipunya mentah-mentah. Bukankah tadi kukatakan bahwa penyamarannya kekanakkanakan" Eh, bien,


Rani pun memainkan peranku. Ia pulang dengan sukacita. Tapi, keesokan paginya Inspektur Miller muncul di pintu rumahnya.


Dokumen-dokumen itu ditemukan di sana. Permainan selesai sudah. Dia sangat menyesal karena telah membiarkan dirinya mel Ranikan penyamaran bersama Komisaris Saga! Sebetulnya, hanya ada satu kesulitan dalam perkara ini."


"Apa itu?" tanya Rani penuh rasa ingin tahu.


"Meyakinkan Inspektur Miller! Bukan main makhluk itu! Keras kepala dan pandir. Dan akhirnya dia yang menerima segala pujian!"


"Tragis," komentar Rani.


"Ah, Rani toh mendapat gantinya. Direksi Burma Mines Ltd. lainnya menghadiahiku saham senilai empat belas ribu pound sebagai sedikit imbalan jasa atas pelayananku. Tidak sedikit, eh! Tapi, kalau engkau menanamkan uang, kuminta tetaplah berpegang teguh pada orang-orang konservatif, Hastings. Berita yang kaubaca di koran itu mungkin tidak benar. Para direktur Procupine mungkin saja terdiri atas orang-orang macam Pearson!", keluar dari peron dan masuk ke ruang kelas satu kereta api Plymouth Express.


Seorang kuli barang mengikutinya, mengangkat kopornya yang berat. Kuli itu siap mengayunkan kopornya ke atas rak, tapi pelaut muda itu mencegahnya.


"Tidak usah - letakkan saja di kursi. Nanti saya naikkan sendiri. Ini ongkosnya."


"Terima kasih, Sir." Kuli barang itu pergi sambil mengantongi uang persen yang besar. Pintu-pintu dibanting; lalu suara yang keras dan nyaring meneriakkan,


"Khusus Plymouth. Pergantian di Torquay. Lalu Plymouth." Peluit ditiup dan perlahanlahan kereta bergerak meninggalkan stasiun. Letnan Simpson menempati ruangnya seorang diri. Udara Desember terasa dingin menusuk. Dinaikkannya daun jendela. Samar-samar dia mencium bau sesuatu dan dikerutkannya dahinya.


Bukan main bau ini! Mengingatkannya pada saat-saat ia terbaring di rumah sakit karena operasi kaki. Ya, khloroform. Benar! Ditutupnya lagi jendela, lalu ia pindah ke kursi yang sandarannya membelakangi mesin.

__ADS_1


Dikeluarkannya pipa dari s Raninya dan disulutnya. Sejenak ia duduk tidak bergerak sambil menatap ke luar, menembus kegelapan malam, dan mengisap pipanya. Akhirnya ia bangkit, membuka kopornya untuk mengambil beberapa koran dan majalah, menutup kopor itu lagi, dan berusaha mendorong kopornya ke bawah tempat duduk - tapi sia-sia. Ada sesuatu yang menahan dorongan tangannya. Dicobanya lagi dengan dorongan yang lebih kuat dan rasa tidak sabar. Masih juga benda itu tertahan, hanya setengahnya saja yang bisa masuk. "Kurang ajar, kenapa kopor ini tidak bisa masuk?" ia menggerutu.


Ditariknya kopor itu lalu ia membungkuk dan melongok ke bawah tempat duduk.... Tak lama kemudian terdengar pekikan memecah malam. Kereta berhenti dengan enggan, karena sentakan rem tanda bahaya.


***


"Sobat," kata Komisaris Saga,


" Rani yakin engkau sangat tertarik pada misteri Plymouth Express. Bacalah ini."


Kuambil surat yang ia jentikkan melintasi meja kepad Rani. Isinya singkat dan langsung pada pokok permasalahan. Dengan hormat, Saya sangat berterima kasih apabila Anda dapat menemui saya secepat mungkin. Hormat saya, Ebenezer Halliday Rani tidak begitu mengerti apa hubungan surat itu dengan Plymouth Express. Kutatap Komisaris Saga dengan pandangan bertanya-tanya.


Sebagai jawaban Komisaris Saga mengambil surat kabar kemudian membacanya keras-keras, "Satu penemuan sensasional terjadi semalam. Seorang perwira muda angkatan laut yang sedang dalam perjalanan pulang ke Plymouth menemukan jenazah seorang wanita di bawah tempat duduk ruang keretanya. Ditikam menembus jantung. Segera perwira ini menarik rem tanda bahaya dan kereta berhenti. Korban, yang berumur sekitar tiga puluh tahun dan berpakaian mewah, belum dikenali."


"Dan ia memintamu datang" Hebat!" " Rani pernah menangani sebuah kasus kecil untuk dia - perkara pemegang surat-surat obligasi. Lalu, waktu Rani di Paris untuk kunjungan kerajaan, Mademoiselle Flossie diperkenalkan kepad Rani. Gadis yang menawan! Ramah lagi! Ini yang mendatangkan persoalan. Hampir saja ia membuat skandal yang memalukan."


"Bagaimana itu?"


"Count de la Rochefour. Un bien mauvais sujet! Bukan orang baik-baik, begitu istilahmu. Petualang sejati yang tahu bagaimana memikat seorang gadis romantis. Untung ayahnya mendengar hubungan ini pada waktunya. Buru-buru dibawanya putrinya kembali ke Amerika. Beberapa tahun kemudian, kudengar dia menikah, tapi Rani sama sekali tidak tahu tentang suaminya."


"Hmm," Rani membuka suara.


"Yang Mulia Rupert Carrington juga tidak lebih baik. Uangnya dihabiskan untuk taruhan pacuan kuda. Kubayangkan dolar Halliday tua itu mengalir tepat pada waktunya. Ku Ranii ia bajingan muda yang ganteng, dengan tingkah l Rani yang dibuat-buat meyakinkan, padahal sama sekali tidak bermoral. Tidak gampang menjadi pasangannya!"

__ADS_1


"Ah, perempuan yang malang! Elle n'est pas bien tomb?e! Dia jatuh ke tangan yang salah."


"Kukira jelas sekali, bahwa uangnya dan bukan gadis itu yang menarik hatinya. Rani yakin tak lama sesudah pernikahan, hubungan mereka sudah renggang. Akhirakhir ini kudengar desas-desus akan adanya perpisahan resmi."


"Si tua Halliday bukan orang tolol. Dia cukup ketat menjaga uang anaknya."


"Menurutku juga begitu. Rani tahu Yang Mulia Rupert Carrington katanya sedang kekurangan uang." "Aha! Rani jadi bertanya-tanya sendiri - "


"Engkau menduga apa?"


"Sobatku yang baik, jangan menyel Rani seperti itu. Rani tahu, engkau tertarik dengan perkara ini. Bagaimana kalau kautemani Rani menemui Tuan Halliday" Ada pangkalan taksi di sudut sana."


***


Waktu beberapa menit cukup untuk membawa kami ke rumah yang luar biasa indahnya di Park Lane, yang disewa tokoh terkemuka Amerika ini. Kami diantar ke perpustakaan dan segera dihampiri oleh seorang pria berbadan besar dan kuat, dengan pandangannya yang tajam serta dagu yang runcing.


" Komisaris Saga?" sapa Halliday.


"Saya kira saya tidak perlu mengatakan untuk apa saya memanggil Anda. Anda sudah membaca surat kabar dan saya orang yang tidak pernah membuang waktu. Kebetulan saya dengar Anda berada di London dan saya ingat akan pekerjaan Anda yang memuaskan dalam perkara surat obligasi dulu. Saya tak pernah melupakan nama orang. Saya sudah mendapat orang-orang terbaik Scotland Yard, tapi akan saya kerahkan orang saya sendiri juga. Uang bukan masalah. Justru saya cari uang untuk anak perempuan saya - dan sekarang dia sudah tiada. Akan saya berikan uang saya sampai sen terakhir untuk menangkap bajingan terkutuk itu! Anda paham! Jadi, terserah kepada Anda untuk menangani perkara ini." Komisaris Saga membungkukkan badannya.


"Saya menerima tugas ini, Monsieur. Bahkan sangat bersedia setelah beberapa kali saya melihat putri Anda di Paris. Nah, saya mohon Anda menjelaskan perjalanannya ke Plymouth dan rincian lainnya yang berhubungan dengan kasus ini."


"Well," Halliday menanggapi permintaan Komisaris Saga,

__ADS_1


"pertama, bukan Plymouth yang ditujunya. Dia pergi untuk menghadiri pesta di Avonmead Court, rumah Duchess of Swansea. Dia berangkat dari London dengan kereta api pukul 12.14 dari Paddington dan sampai di Bristol (di sini Flossie harus berganti kereta) pukul 14.50. Kereta api Plymouth Express yang utama melalui Westbury, sama sekali tidak lewat Bristol. Kereta pukul 12.14 itu langsung menuju Bristol, kemudian berhenti di Weston, Taunton, Exeter, dan Newton Abbot. Flossie sendirian saja di ruang kompartemennya sampai Bristol; sedangkan pelayannya di ruang kelas tiga gerbong berikutnya." Komisaris Saga mengangguk dan Halliday melanjutkan ceritanya.


__ADS_2