Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Tambang


__ADS_3

"Tambang itu terletak di pedalaman Birma, kira-kira dua ratus mil dari Rangoon ke arah pedalaman. Ditemukan abad kelima belas oleh orang-orang Cina dan digali sampai masa pemberontakan orang-orang Islam.


Akhirnya, tambang itu ditinggalkan tahun 1868. Orang-orang Cina mengambil bijih perak timah yang banyak terdapat di bagian atas badan bijih itu, lalu meleburnya untuk mengambil peraknya, sehingga meninggalkan ampas bijih yang mengandung timah.


Kemudian tambang ini ditemukan oleh pekerja-pekerja Birma. Tapi, galian-galian itu sudah dipenuhi air dan batubatu urukan. Akibatnya, usaha untuk menemukan sumber bijih itu sia-sia belaka.


Banyak regu yang dikirim oleh sindikat-sindikat dan mereka sudah menggali secara luas, tapi timah yang menggiurkan ini belum ada yang mendapatkannya


 . Kemudian, salah seorang wakil sindikat mencium jejak keluarga Cina yang diperkirakan masih menyimpan catatan situasi tambang. Waktu itu yang menjadi kepala keluarga adalah Wu Ling."


"Cerita roman komersial yang menarik sekali," komentarku. "Ya, kan" Rani, kisah roman dapat tercipta tanpa gadis-gadis pirang yang cantik jelita - maaf aku salah; rambut merahlah yang selalu membuatmu begitu bergairah. Engkau ingat - "

__ADS_1


"Teruslah bercerita," sergahku buru-buru. "Nah, Sobat, mereka mendekati Wu Ling. Dia saudagar yang patut dihargai dan sangat dihormati di propinsi tempat tinggalnya. Segera dia mengaku mempunyai dokumen-dokumen yang ditanyakan itu dan siap mengadakan transaksi penjualan surat berharga itu. Tapi Wu Ling hanya mau berurusan dengan para pimpinan perusahaan. Akhirnya diputuskan Wu Ling harus ke Inggris untuk menemui direksi sebuah perusahaan penting.


"Wu Ling berangkat dengan kapal uap Assunta, yang berlabuh di dermaga Southampton pada pagi bulan November yang dingin dan berkabut. Salah seorang direktur, Tuan Pearson, menjemputnya. Pada waktu Pearson tiba, Wu Ling sudah tiba sebelumnya dan berangkat ke London sendiri naik kereta khusus. Pearson kembali dengan agak mendongkol karena ia tidak tahu sama sekali di mana orang Cina itu menginap. Siangnya kantor perusahaan dihubungi Wu Ling, yang menginap di Hotel Russel Square. Setelah pelayaran itu ia sedikit tidak enak badan, tapi pasti dapat menghadiri pertemuan dewan yang diadakan keesokan harinya. "Pertemuan akan dimulai pukul 11.00. Pukul 11.30 Wu Ling belum muncul juga. Karena itu, sekretaris dewan menghubungi Hotel Russell Square dan diberitahu bahwa Wu Ling keluar bersama seorang kawannya pada pukul 10.30. Kelihatannya orang Cina itu pergi untuk menghadiri rapat. Pagi berlalu tanpa kehadiran Wu Ling. Mungkin saja dia tersesat karena ia buta mengenai kota London. Namun, hingga larut malam ia tidak kembali ke hotel. Sekarang, karena khawatir sekali, Pearson menyerahkan persoalan ini ke tangan polisi. Hari berikutnya masih belum ada jejak orang yang hilang ini. Menjelang malam hari berikutnya, sesosok mayat ditemukan terapung di Sungai Thames, dan dikenali sebagai mayat Wu Ling yang malang itu. Baik di jenazah korban maupun di kamar hotel, tidak diketemukan berkas-berkas yang berkaitan dengan tambang timah itu.


"Ketika itulah aku dilibatkan dalam perkara itu. Pearson menghubungiku. Sementara ia masih sangat terguncang dengan kematian Wu Ling, ia ingin sekali mendapatkan dokumen-dokumen yang menjadi tujuan kunjungan almarhum ke Inggris. Keinginan utama polisi, tentu saja, adalah melacak jejak pembunuh - dokumen menjadi pertimbangan kedua. Pearson menginginkan aku bekerja sama dengan polisi sambil bertindak untuk kepentingan perusahaan.


"Tanpa banyak bertanya aku setuju. Ada dua bidang yang harus kuselidiki. Aku dapat memeriksa karyawan perusahaan yang mengetahui kedatangan orang Cina ini dan penumpang kapal yang mungkin mengetahui misi Wu Ling. Aku mulai dengan yang terakhir, sebagai ruang lingkup penyelidikan yang lebih sempit. Aku bertemu dengan Inspektur Miller yang bertugas menangani pembunuhan ini - orangnya lain sama sekali dengan kawan kita Japp; angkuh, sikapnya tidak terpuji, dan tak tertahankan. Bersama-sama kami mewawancarai awak kapal. Hanya sedikit yang dapat mereka sampaikan.


Waktu itu keyakinan bahwa andaikan salah seorang terlibat, pasti Dyer orangnya.


Didapat informasi dia menjadi anggota kelompok penjahat Cina, sehingga dia paling pantas dicurigai.

__ADS_1


"Langkah kami berikutnya adalah mengunjungi Hotel Russell Square. Mereka segera mengenali Wu Ling dari potretnya. Kemudian kami perlihatkan foto Dyer, tapi kami kecewa karena penjaga pintu tegas-tegas menyatakan bukan dia orang yang datang ke hotel pada pagi naas itu. Setelah berpikir-pikir, kukeluarkan foto Lester. Betapa terperanjatnya aku karena penjaga pintu segera mengenalinya.


"'Benar, sir,' katanya meyakinkan, 'dialah laki-laki yang masuk pada pukul 10.30 itu dan menanyakan Tuan Wu Ling. Setelah itu mereka keluar bersama.'


"Sudah mulai ada titik terang. Kemudian kami mewawancarai Charles Lester. Ia menemui kami dengan sikap yang amat terbuka. Ia sedih mendengar kematian Wu Ling yang begitu cepat dan siap membantu kami sebisanya. Ceritanya sebagai berikut: Dengan perjanjian, ia datang ke hotel pukul 10.30 untuk menjemput Wu Ling. Tapi, Wu Ling sendiri tidak menampakkan diri. Sebaliknya, pelayannyalah yang keluar dan menjelaskan bahwa majikannya terpaksa pergi tadi serta menawarkan diri untuk mengantar Lester ke tempat majikannya berada. Karena sama sekali tidak curiga, Lester setuju. Lalu, pelayan Cina itu keluar mencari taksi. Mereka naik taksi untuk beberapa lama, menuju dermaga. Mendadak, Lester berubah pikiran menjadi tidak percaya. Dihentikannya taksi dan ia turun tanpa menghiraukan protes si pelayan. Menurutnya, hanya itulah yang ia ketahui. "Dengan sikap seolah-olah puas, kami mengucapkan terima kasih dan minta diri. Segera terbukti bahwa pengakuan Lester tidak benar. Pertama, Wu Ling tidak mempunyai pelayan, baik di kapal maupun di hotel. Kedua, sopir taksi yang mengantarkan mereka memberikan keterangan bahwa Lester tidak meninggalkan taksi dalam perjalanan itu. Sebaliknya, ia bersama pria berkebangsaan Cina itu pergi ke tempat yang kurang terpuji di Limehouse, persis di jantung Chinatown. Tempat yang dituju itu kurang lebih dikenal sebagai sarang opium kelas kambing. Keduanya masuk - dan kira-kira satu jam kemudian laki-laki Inggris ini - yang diidentifikasi dari fotonya - keluar seorang diri dan meminta sopir membawanya ke stasiun bawah tanah yang terdekat. "Reputasi Charles Lester diselidiki. Diketahui bahwa ia terjerat hutang yang besar dan diam-diam gemar berjudi, meskipun karakternya tidak tercela. Tentu saja Dyer tidak luput dari pengamatan. Ada kemungkinan kecil dia menyamar sebagai orang satunya, tapi pikiran ini terbukti sama sekali tidak beralasan. Alibinya selama hari naas itu cukup kuat. Sedangkan pemilik sarang opium tentu saja menyangkal semua tuduhan dengan ketenangan khas Asia Timur. Katanya ia belum pernah melihat Charles Lester. Tidak ada dua pria yang mengunjungi tempatnya pagi itu. Pokoknya, polisi keliru karena tempat itu tidak pernah dipakai untuk mengisap opium.


"Penyangkalan pemilik sarang opium itu, walaupun niatnya baik, tidak banyak menolong Lester. Ia ditahan dengan tuduhan membunuh Wu Ling. Harta miliknya diperiksa, tapi tidak ditemukan satu surat pun yang berhubungan dengan tambang itu. Pemilik sarang opium juga dijebloskan ke dalam penjara. Tapi, penggeledahan terhadap tempat tinggalnya tidak menghasilkan apa-apa. Tidak sebatang opium pun ditemukan oleh polisi. "


Sementara itu, Pearson gelisah sekali. Dia mondar-mandir di kamarku sambil berkeluh-kesah. "


'Anda harus menemukan ide, Komisaris Saga!' ia terus mendesakku. 'Anda pasti menemukan ide, kan"'

__ADS_1


"'Tentu saja,' jawabku hati-hati. 'Justru itulah masalahnya - karena mempunyai terlalu banyak gagasan, malah tidak terpusat ke satu arah.' "'Misalnya"' desaknya.


__ADS_2