Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Penyelidikan


__ADS_3

"Tahukah Anda kalau-kalau Tredwell mempunyai saudara laki-laki?"


"Dia punya beberapa saudara laki-laki, tapi semua sudah meninggal. Yang terakhir terbunuh dalam perang."


"Saya belum jelas tentang keadaan halaman Waverly Court. Mobil itu mengarah ke pos pintu selatan. Ada jalan masuk lainnya?"


"Ada, yang kami namakan pos pintu timur. Pos itu dapat dilihat dari sisi rumah yang satunya."


"Anehnya, tidak seorang pun mendengar mobil itu memasuki halaman."


 "Ada jalan langsung melintasi halaman dan menuju kapel kecil. Banyak sekali mobil yang melewati jalan itu. Pasti laki-laki itu menghentikan mobilnya di tempat yang menguntungkan dan mengemudikannya ke rumah bersamaan dengan tanda bahaya berbunyi, sehingga perhatian terpusat ke hal lain."


"Kalau tidak dia sudah bersembunyi di dalam rumah," kata Poirot sambil merenung. "Ada tempat yang dapat dipakai untuk bersembunyi?"


 "Well, kami memang tidak memeriksa rumah secara menyeluruh sebelumnya. Kelihatannya tidak perlu. Saya kira dia mungkin bersembunyi dulu. Tetapi, siapa yang memperbolehkannya masuk?"


 "Kita akan membicarakan masalah ini kemudian. Satu per satu - mari kita mengikuti metode. Tidak ada tempat persembunyian di dalam rumah" Waverly Court adalah bangunan kuno dan kadang-kadang ada tempat yang dinamakan 'lubang perlindungan' atau priests' holes. "Ya Tuhan! Memang ada satu lubang yang dibuka dari salah satu lantai papan di aula."


"Dekat ruang dewan?"


"Persis di depan pintu."

__ADS_1


 "Voil?."


"Tapi tidak ada yang tahu mengenai lubang itu kecuali saya dan istri saya."


"Tredwell?"


 "Mungkin dia pernah mendengarnya."


"Nona Collins?"


"Saya belum pernah memberitahunya." Patriot merenung sebentar.


 "Well, Monsieur, langkah berikutnya adalah saya harus pergi ke Waverly Court. Kalau saya datang ke sana siang ini, apakah Anda keberatan?"


"Bacalah surat ini sekali lagi." Nyonya Waverly meletakkan surat penculik yang diterima keluarga Waverly pagi itu yang menyebabkan mereka datang kepada Poirot. Isinya penjelasan yang cerdik dan terang-terangan tentang cara menyerahkan uang dan diakhiri dengan ancaman bahwa pengkhianatan dalam bentuk apa pun akan dibayar dengan nyawa anak itu. Jelas bahwa rasa cinta akan uang berperang melawan kasih seorang ibu, dan yang terakhir inilah yang menang. Poirot menahan wanita itu di belakang suaminya sebentar. "Madame, jika Anda tidak keberatan, katakanlah yang sebenarnya. Apakah Anda juga mempercayai kepala pelayan, Tredwell, seperti suami Anda?"


 "Saya tidak mempunyai alasan apa pun untuk menentang dia, Monsieur Poirot. Saya tidak melihat alasan mengapa dia dapat terlibat dalam penculikan ini, tapi - hmm, saya tidak pernah menyukai dia - tidak pernah!"


 "Satu lagi, Madame. Dapatkah Anda memberikan alamat pengasuh Johnnie?" "Netherall Road 149, Hammersmith. Anda tidak membayangkan - "


"Saya tidak pernah membayangkan. Hanya saja saya menggunakan otak saya. Dan kadang-kadang saja, muncul sedikit ide." Ketika pintu ditutup, Poirot menghampiriku. "Jadi Madame tidak pernah menyukai kepala pelayan itu. Menarik bukan, eh, Hastings?" Aku menolak untuk berkomentar. Sudah berulang kali Poirot memperdayaku sehingga aku sekarang bosan. Selalu saja ada kejutan. Setelah selesai berdandan, kami berangkat ke Netherall Road. Beruntung kami menjumpai Jessica Withers di rumahnya. Ia perempuan yang berwajah menyenangkan, berumur tiga puluh lima tahun, cakap, dan baik. Aku tidak akan percaya kalau dia terlibat dalam penculikan Johnnie. Jessica sangat menyesalkan karena dirinya diberhentikan, tapi mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia mau menikah dengan seorang pelukis sekaligus dekorator yang kebetulan bertempat tinggal di daerah itu. Ketika itu dia keluar untuk menemui tunangannya. Kelihatannya tindakannya ini wajar saja. Yang tidak sungguh-sungguh kumengerti adalah Poirot. Bagiku, semua pertanyaan yang diajukannya tidak sesuai sama sekali. Hanya berkisar pada kehidupan rutin Jessica di Waverly Court. Terus terang aku bosan, dan gembira ketika Poirot mengajakku meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Menculik itu gampang, Kawan," katanya seraya memanggil taksi di Hammersmith Road dan meminta pengemudi menuju Waterloo. "Anak itu dapat diculik dengan gampangnya kapan saja selama tiga hari terakhir ia berada di rumah."


 "Aku tidak melihat informasi ini menguntungkan kita," kataku dingin. "Sebaliknya, keterangan ini sangat membantu kita. Sangat membantu! Hastings, kalau engkau mengenakan jepit dasi, sebaiknyalah jepit itu berada tepat di tengah-tengah dasimu. Sekarang ini jepit itu terlalu ke kanan satu inci."


Waverly Court adalah bangunan kuno yang menyenangkan dan baru saja diperbaiki dengan selera yang tinggi. Tuan Waverly menunjukkan ruang dewan, teras, dan berbagai tempat lainnya yang berkaitan dengan penculikan anaknya kepada kami. Akhirnya, atas permintaan Poirot, tuan rumah menekan per di dinding, lalu sebilah papan meluncur ke samping, dan sebuah jalan pendek membawa kami ke lubang perlindungan. "Anda lihat," kata Tuan Waverly,


 "tidak ada apa-apa di sini." Ruangan kecil itu cukup bersih, bahkan tidak nampak tanda-tanda adanya jejak kaki di lantai. Kuhampiri Poirot yang tengah membungkuk, mengawasi jejak di sudut dengan penuh perhatian. "Apa pendapatmu tentang jejak ini, Sobat?" Terlihat jejak empat kaki yang saling berdekatan. "Jejak anjing," seruku.


 "Anjing yang kecil sekali, Hastings. Anjing Pom. Lebih kecil dari Pom."


 "Anjing griffon?" aku mengemukakan pendapatku dengan ragu-ragu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2