Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Anggota Geng Kobra di Kantor Polisi


__ADS_3

"Iya, kita langsung ke tempat sepeda motor!" seru Rani dan keduanya bergegas menuju ke tempat dimana sepeda motor mereka terparkir.


Mobil mewah milik tuan Wibowo yang dikemudikan paman Sidiq itu melaju meninggalkan stadion arena Turnamen Bela diri.


Beberapa saat kemudian disusul oleh Sersan Saga dan Rani yang tetap dengan sepeda motor Sersan Saga. Mereka meninggalkan Stadion Turnamen Bela diri yang Ricuh karena Baskoro dan geng Kobra, yang masih dalam keadaan kacau balau.


Sepeda motor dan mobil itu pun melaju menjauh dari Arena Turnamen Bela diri.


Tapi beberapa menit kemudian, Sersan Saga berhenti di depan kantor kepolisian yang berada di tepi jalan raya.


"Kak Saga, kenapa berhenti disini? apa kakak mau melaporkan Rani ke kantor polisi karena telah membunuh orang?" tanya Rani yang merasa heran dan takut bila dugaannya itu benar.


"Ngomong apa sih kamu sayang? aku kan juga seorang polisi dan aku menyaksikan kejadiannya, tentu saja aku ada dipihak kamu sayang. Jadi kamu jangan khawatir!" jawab Sersan Saga yang mencoba untuk menenangkan tunangannya itu.


"Lantas kenapa kita berhenti di sini?" tanya Rani sambil melihat ke kantor polisi, yang ternyata sudah dipenuhi oleh anggota geng Kobra.


"Apakah kamu tidak curiga, kenapa di Arena Turnamen bela diri tadi, tak ada satu pun polisi yang menjaga kelangsungan acara Turnamen Beladiri tadi?" tanya Sersan Saga yang menatap tunangannya.


"Iya, benar juga! lantas kenapa di kantor polisi itu banyak anggota geng Kobra?" tanya Rani yang menjadi penasaran.


"Sebaiknya kita masuk saja, kita lihat apa yang akan terjadi di dalam sana." kata Inspsektur Saga yang kemudian turun dari sepeda motor yang sebelumnya Rani sudah turun terlebih dahulu.


Kemudian mereka berdua berjalan menerobos beberapa anggota geng Kobra yang berada untuk berjaga-jaga di kantor polisi tersebut.


Pada saat masuk ke kantor kepolisian, Sersan Saga dan Rani disuguhi pemandangan yang tak wajar.


Banyak anggota kepolisian yang tidak bertugas, mereka hanya duduk-duduk, main kartu dan sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Selamat siang, saya mau tanya siapa yang bertanggung jawab atas semua yang ada di sini?" tanya Sersan Saga yang melihat ke sekelilingnya.


Namun tak ada jawab yang diharapkan dari orang-orang di sekitarnya. Suaranya dianggap seperti angin lalu oleh mereka.


"Gubrakk...!"


Tiba-tiba Sersan Saga membalikkan meja yang dipakai main kartu dan ada dihadapannya.


Tak ayal hal itu menjadi pusat perhatian semua orang di yang berada di kantor polisi tersebut.


"A...apa-apaan ini!" seru beberapa orang yang terkejut akan tingkah Sersan Saga.


Tak terkecuali Rani, gadis itu sampai mundur satu langkah saat Sersan Saga yang sedang beraksi.

__ADS_1


"Aih...! seperti inikah tunanganku kalau sedang bertugas?" umpat Rani dalam hati.


"Hai...! siapa kau, berani mengacau di sini!" seru seseorang yang berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapan Sersan Saga.


"Apa kau yang bertanggung jawab di kantor ini?" tanya Sersan Saga yang menatap laki-laki dihadapannya dengan tajam.


"Iya itu saya, memangnya kenapa? dan apa urusan kamu!" jawab laki-laki yang berseragam polisi itu dengan membalas tatapan Sersan Saga dengan tajam.


"Memangnya kenapa, apa urusanmu...? Hei...! kalian tahu tidak di Arena Turnamen Bela diri sedang terjadi kericuhan!" bentak Sersan Saga dengan geram.


"Disana sudah ada geng Kobra yang akan menjamin kelancaran dan kenyamanan acara Turnamen! Jadi kami ada urusan yang lainnya!" seru polisi itu santai.


"Urusan lainnya! urusan main kartu! Begitu kah...!" seru Sersan Saga dengan raut wajah menunjukkan raut wajah marah, ditariknya kerah baju polisi itu.


Hal itu membuat polisi-polisi lainnya dan anggota geng Kobra yang ada di situ, berdiri dengan posisi bersiap.


"Apa yang kau bilang? geng Kobra lah penyebab kericuhan acara Turnamen itu? dan kalian disini enak-enakan main kartu dan ponsel bersama para anggota geng kobra berengsek itu!" seru Sersan Saga yang menatap satu persatu anggota geng kobra yang berada di kantor polisi itu, yang juga menatapnya dengan tajam dan penasaran.


"Tahu tidak berapa banyak peserta turnamen Bela diri yang di culik oleh mereka!" seru Sersan Saga yang melepaskan pegangannya pada kerah baju polisi itu dengan sedikit dorongan.


"Agh...! Siapa kau! berani-beraninya melawan polisi!" seru polisi yang tadi kerah bajunya ditarik Sersan Saga.


Tunagan Rani itu segera mengambil dompetnya dengan tangan kirinya, kemudian diperlihatkannya kartu identitas kepolisian miliknya.


Polisi itu takut karena jabatannya lebih rendah dari orang di hadapannya, dan posisinya kini di pertaruhkan.


"Sekarang selesaikan pekerjaan kalian yang terbelengkalai." seru Sersan Saga dengan geram.


"Baik Sersan...!" jawab polisi itu dengan sikap berbanding terbalik dari awal bertemu.


"Kirim sebagian bawahanmu ke Arena Turnamen bela diri sekarang juga!" perintah Sersan Saga.


"Baik Sersan..!" balas polisi itu lagi.


"Dan jangan lupa, panggil ambulan, karena banyak korban yang terluka disana!" seru Rani yang menambahi.


"Am..ambulan?" tanya polisi itu yang penasaran.


"Iya, itu benar! banyak orang yang terluka disana!" seru Sersan Saga yang menambahi.


"Baik Sersan!" seru polisi itu dengan sikap hormat, dimana telapak tangan sebelah kanannya diletakkan di dahinya secara miring.

__ADS_1


"Kami permisi!" ucap pamit sersan Saga yang kemudian bersama Rani, melangkahkan kaki keluar dari kantor polisi tersebut.


Namun tiba-tiba, para anggota geng Kobra menghalangi mereka.


"Berhenti!" seru salah satu dari anggota geng kobra itu dengan geram.


"Mau apa kalian!" seru Rani yang menatap para anggota geng kobra itu dengan tajam.


"Apakah kau pendekar bertopeng? biang keladi perusak rencana kami? Tak kan kubiarkan kalian lolos!" seru salah seorang dari anggota geng kobra yang ternyata mengenal Rani.


"Kalian sudah bosan hidup rupanya!" seru Rani yang kemudian maju ke tengah-tengah mereka.


Kemudian gadis itu melepaskan kalungnya dan berseru.


"Cambuk...!"


Maka berubahlah kalung itu menjadi sebuah cambuk pusaka. Dan segera Rani menghempaskan cambuknya beberapa kali.


"Aaargh....!"


Setengah dari anggota geng Kobra yang belum sempat menyerang Rani itu pun terkapar tak berdaya.


"Ada yang mau merasakannya lagi!" tantang Rani dengan tatapan tajam.


Mengetahui kawannya banyak yang tumbang, mereka lari dengan tunggang-langgang.


"Dasar pengecut! Baru segitu saja sudah lari!" seru Rani dengan geram.


"Sudahlah! Ayo sebaiknya kita lekas kembali ke perguruan!" bisik Sersan Saga. Dan Rani menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai urusan dengan geng kobra, Sersan Saga dan Rani bergegas melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke Perguruan Darma putih.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2