Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Cincin Penangkal


__ADS_3

Setelah selesai urusan dengan geng kobra, Sersan Saga dan Rani bergegas melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke Perguruan Darma putih.


Matahari sudah berangkat ke peraduan dengan membiaskan sinar jingganya, dan burung-burung kembali ke sarang mereka masing-masing. Sementara kelelawar buah mulai beraksi.


Sersan Saga dan Rani dengan naik sepeda motor sport milik Sersan Saga,terus melaju menyusuri jalan raya, yang pada akhirnya sampai di perguruan Darma putih.


Sesampainya di perguruan Darma putih, mereka melihat mobil yang sebelumnya dikendarai oleh Paman Sidiq dan yang lainnya pun sudah terparkir di halaman Perguruan Darma Putih.


Kedua sejoli itu turun dari sepeda motor, dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke teras rumah Kakek Darma.


"Kakek....!" panggil Rani pada saat sudah sampai di teras Rumah dan bergegas masuk ke rumah, melihat semua orang sedang berada di ruang tamu.


"Rani...!" panggil Kakek Darma ketika mendengar suara Rani yangnenanggilnya dan Rani serta Sersan Saga yang melangkahkan kaki dari teras rumah menuju ke dalam rumah.


Gadis itu disambut dengan pelukan dan ciuman hangat di kening kepala oleh kakek Darma.


"Cucuku kamu tak apa-apa kan?" tanya Kakek Darma penuh kasih sayangnya..


"Rani baik-baik saja kek!" jawab Rani yang menatap wajah Kakek sekaligus gurunya itu.


"Cepat bersihkan dirimu dan temui mama kamu yang sedari tadi siang menangis. Kakek bingung jadinya melihat kalau melihat mama kamu yang menangis itu!" seru Kakek Darma.


"Dan kamu juga Saga, cepat bersihkan diri. Ada yang ingin kita bahas malam ini!" lanjut seru Kakek Darma yang menatap ke arah Sersan Saga.


"Baik Guru!" jawab Sersan Saga yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Demikian pula dengan Rani,yang melangkahkan kaki yaa menuju ke kamarnya untuk mengambil baju gantinya dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai dengan urusannya, Rani melangkahkan kaki menuju ke kamar Raditya.


Rani mendapati kakaknya tengah terbaring di tempat tidurnya dan gadis itu melihat mamanya Lani yang duduk disamping tempat tidur Raditya dan tertidur karena nyonya Lani kecapekan menangis.


Rani melangkahkan kakinya menghampiri mamanya Lani dan kakaknya Raditya, kemudian dia mengecup kening kakak laki-laki satu-satunya itu,


"Kakak cepat sembuh ya, nanti kita cari papa sama-sama!" bisik Rani.


Kemudian Rani mengusap dan mencium kening nyonya Lani. Tiba-tiba saja nyonya Lani terbangun dan bergumam seraya menatap putri angkatnya itu.

__ADS_1


"Papa...papa dimana Rani? papa dimana?" ucap nyonya Lani yang langsung memeluk putri angkatnya itu.


"Nanti kita cari sama-sama ya Ma,. Bukan hanya papa yang hilang, Bima, Yuda, Nando dan Yuki juga hilang Ma!" kata Rani dengan lirih yang mencoba menenangkan mamanya.


"A...apa! Mereka juga hilang?" tanya Nyonya Lani yang terkejut sekali dan seolah tak percaya.


"Iya ma! Kejadiannya saat di stadion arena turnamen bela diri tadi siang!" jawab Rani seraya menganggukkan kepalanya.


"Trus kita mulai mencari mereka dari mana, Rani?" tanya Nyonya Lani yang sangat cemas dan k3bingungan.


"Mama, sebaiknya kita keluar dan bergabung dengan yang lainnya, semoga kita dapat petunjuk untuk mencari korban yang hilang." jawab Rani yang mengajak.


Nyonya Lani menganggukkan kepala dan mereka berdua segera melangkahkan kaki keluar dari kamar Raditya.


"Nampaknya lawan kita tidak main-main, kita harus lebih waspada...!" kata kakek Darma.


"Lima puluh persen jumlah murid dan lima orang keluarga kita yang hilang, apakah hal ini juga menimpa pada perguruan yang lainnya?" tanya Paman Sidiq yang penasaran.


"Aku juga belum tahu apa yang terjadi pada perguruan Anggrek putih saat ini. Aku seperti tak sanggup kehilangan dua cucu dan satu murid kesayanganku sekaligus...!" kata Nenek Lasmi yang tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk matanya.


"Tapi saya tadi tak mengira, Rani akan membunuh Annet begitu sadisnya!" seru Arya yang tahu sifat Rani sejak kecil.


"Habis menusuk lalu memenggal kepala. Weist..! aku yang seorang polisi saja tak berani sesadis itu!" jawab Sersan Saga sambil melirik tunangannya.


"Kak Saga...! itu bukan Rani yang melakukannya, ta..tapi roh penunggu kalung pusaka." kata Rani yang tak ingin Sersan Saga menganggapnya gadis yang sadis.


"Ngomong-ngomong tentang pusaka, Nenek pernah janji padamu Rani waktu di restoran tempat Yuki bekerja. Akan memberikan kamu hadiah bila dalam pertandingan di turnamen Bela diri, kalian menggunakan jurus Pedang sepasang. Maka nenek akan memberikanmu sebuah cincin. Cincin ini dulu aku menemukannya bersama dengan cincin yang di kenakan oleh Baskoro." kata Nenek Lasmi panjang dan kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya yang ada dibalik bajunya.


"Kemudian nenek Lasmi itu menyerahkannya pada Rani, gadis itu menerima dan memandangi cincin itu dengan seksama.


"Terima nona! terimalah....! itu cincin penangkal...!' seru si Kity dengan girang.


"Cincin penangkal...?" gumam Rani yang penasaran.


"Maukah kau menerimanya?" tanya nenek Lasmi yang menatap Rani yang penasaran dengan cincin yang


mirip dengan cincin kepunyaan Baskoro.

__ADS_1


"I..iya nek, Rani terima. Terima kasih ya nek...!" jawab Rani sedikit gugup, karena fungsi dari cincin yang dikatakan oleh Kity.


"Nona ajaklah tunanganmu ke goa belakang air terjun sekarang, akan aku kasih tahu khasiat dan cara memberi nyawa pada cincin penangkal itu!" seru Kity si kucing langit.


"Masak aku langsung pergi gitu aja, basa-basi dulu dong...!" balas Rani pada si Kity dalam hati.


"Hadeuh...! Terserah nona saja!" seru Si Kity yang gemas dengan majikan barunya itu.


"Mama...mama, apakah keadaan mama sudah jauh mendingan?" tanya Rani yang tiba-tiba pada Mama angkatnya.


"Iya nak, Mama sudah lebih baik!" jawab Mama Lani sembari mengulas senyumnya.


"Kalau begitu, Rani mau minta ijin sebentar, mau ajak kak Saga jalan-jalan sebentar. Ada yang ingin Rani katakan pada kak Saga, apalagi sebentar lagi kak Saga mau pergi. boleh ya kek!" pinta Rani.


"Hei, tumben dia yang minta ijin biasanya kan aku yang selalu minta ijin!" kata dalam hati Sersan Saga


"Ya....ya....ya...! janji jangan lama-lama. Situasi kita masih genting!" jawab Kakek Darma yang sekaligus berpesan.


"Baik kek!" jawab Rani dengan sumringah.


"Ayo kak Saga...!" ajak Rani sambil menarik tangan Sersan Saga dengan mengulas senyumnya.


"Cie....cie...cie...!" goda Arya seraya tertawa kecil.


"Hm....hmm....hmm...!" goda paman Sidiq yang tak mau kalah.


"Apa sih....!" muka Rani memerah tersipu malu dan sersan Saga mengulas senyumnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2