
"Apa...!" Raditya yang menggelengkan kepalanya mendengarkan bisikan adiknya. Tak disangka adiknya bertaruhan dalam hal mesum seperti itu.
"Saya atas nama keluarga Wibowo, mohon maaf atas kelakuan dari anak pengasuh kami. Tapi saya harap, Tuan muda anda bersikap kesatria. Kalaupun kalah,ya terimalah kekalahan itu dengan lapang dada." kata Raditya yang berharap tidak akan ada perkelahian.
"Keluarga Wibowo! kalau begitu kami juga mohon maaf dan kami mohon undur diri!" seru salah seorang pengawal, dan kemudian kedua pengawal Dio itu kembali masuk ke ke sekolah melewati pintu gerbang sekolah.
"Kamu tigak apa-apa Ran?" tanya Raditya.
"Tidak apa-apa Kak. Tapi. Dito masih disana, apa mungkin dianiaya Dio?" Rani menjawab sekaligus bertanya
"Entahlah, apa perlu kita lihat?" tanya Raditya dan Rani menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berdua melangkahkan kaki, kembali masuk ke sekolah dengan melewati pintu gerbang yang sebelumnya telah Rani lewati.
Sementara itu keadaan Dio dan Dito yang berada di dalam halaman sekolah.
"Kurang ajar! beraninya kau. melindungi orang yang menghinaku. Dasar manusia tak berguna!" bentak Dio
"Plakk...!" dan telapak tangan sebelah kanan Dio melayang dan menampar ke pipi sebelah kiri Dito.
"Aarghhh....!" suara erangan kesakitan Dito, karena saat ini pipi sebelah kirinya terasa panas dan lebam kebiruan.
"A...apa aku salah punya teman, gadis itu temanku satu-satunya!" seru Dito sambil mengusap pipi sebelah kirinya itu, untuk menahan rasa sakit akibat tamparan Dio.
"Cihh...! kau tak pantas punya teman, sekalipun gadis cupu itu!" bentak Dio yang geram.
"Plakk...!"
Sekali lagi Dio menampar Dito, kali ini pipi kanan Dito yang kena sasaran.
"Arghh ....!" Dito kembali mengerang kesakitan.
"Tuan muda....! tuan muda..." panggil dua pengawal Dio yang datang dari arah pintu gerbang sekolah.
"Ada apa? Apa pekerjaan kamu sudah beres!" seru Dio yang menatap kedua pengawalnya dengan tajam.
"Tu...tuan muda, ter...ternyata gadis itu anak pengasuh keluarga Wibowo!" seru salah satu pengawal Dio yang kembali dari mengejar Rani tadi.
"Keluarga Wibowo?....ah sial! kenapa harus berurusan dengan keluarga itu!" gumam Dio yang sangat kecewa.
"Kalian...! bawa sepeda Dito. Biar dia jalan kaki sampai rumah ,itu hukuman yang pantas buat orang yang berkhianat...!" perintah Dio pada pengawalnya.
__ADS_1
"Ta...tapi, tu..tuan Dito kan....." ucap salah satu pengawal itu yang nampak kebingungan.
"Sudahlah, ikuti perintahku! Ayo lekas pergi, tinggalkan Dito dan bawa bawa sepedanya!" perintah Dio yang kemudian dia masuk ke mobilnya.
Mau tak mau pengawal itu menuruti perintah tuan Mudanya dengan meninggalkan Dito, dan membawa sepeda Dito.
Sementara itu Rani dan Radit masuk dalam mobil dan masuk ke sekolah melewati pintu gerbang sekolah. Rani melihat mobil Dio yang melaju berlawanan arah dengan mobil yang dia tumpangi.
Gadis itu juga melihat di belakang mobil Dio ada salah satu pengawal Dio yang menaiki sepeda kayuh Dito.
"Kak Radit! itu kan mobil Dio dan itu sepeda Dito! lalu Dito-nya ada dimana?" tanya Rani yang menebarkan pandangannya dengan rasa khawatir.
"Kayaknya itu...!" Seru Radit sambil menunjuk seseorang yang sedang memungut buku-bukunya.
"Ah iya kak..!" balas Rani yang mengiyakan setelah melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Raditya.
Raditya melajukan mobil yang ditumpanginya perlahan-lahan untuk mendekati pemuda berkaca mata tersebut. Terlihat sekali kalau pemuda tersebut banyak luka lebam di wajahnya.
"Dito, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rani pada saat mobil berhenti dan gadis itu segera turun dari mobil kemudian menghampiri Dito.
"Ra...Rani...!" panggil Dito yang jelas saja dia terkejut akan munculnya gadis cupu yang sebangku dengannya itu, keluar dari mobil sport mewah.
"Dito ayo masuk, kami antar pulang!" seru Raditya yang masih berada di dalam mobil. Dito menatap ke arah Rani.
Dito merasakan agak canggung, tapi mau tak mau dia harus ikut, karena nggak mungkin dia bisa pulang dalam keadaan seperti itu, ditambah harus jalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Secara dia tak pernah membawa uang saku, karena memang tak pernah diberi uang oleh orang tuanya.
Dito masuk ke mobil Raditya dibantu oleh Rani.
"Rani, ambil es batu dalam minuman ini dan masukan ke dalam sapu tangan ini. Lalu kompreskan ke wajah Dito!" perintah Radit sambil menyerahkan sapu tangan ke Rani.
"I..iya." balas Rani yang kemudian melakukan perintah kakaknya, diambilnya es batu dalam minuman Raditya lalu dimasukan dalam sapu tangan. Setelah itu di kompreskan ke wajah Dito.
Dito diam termenung, entah apa yang bergejolak di dadanya. Luka yang kena kompres seharusnya terasa perih, tapi tak dirasakannya saat melihat secara dekat wajah Rani.
Sedangkan Rani biasa saja. Dia mengobati Dito sebagai teman yang pernah menolongnya. Dan sekarang dia berkewajiban untuk menolongnya.
"Yakin kamu nggak apa-apa?" tanya Rani yang masih khawatir. Dito menganggukkan kepalanya.
"Kalian pasti lapar ya?" tanya Raditya yang sedang melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Iya kak!" jawab Rani dan Dito yang bersamaan.
"Kita jalan sekalian cari makan yang Dito nggak usah keluar mobil." kata Raditya seraya menebarkan pandangannya.
"Oya, Dito tunjukan arah rumahmu? Jadi sekalian cari makannya searah ke rumah kamu!" tanya Raditya yang sesekali menoleh ke arah Dito.
"Jalan ini lurus saja, kita melewati dua lampu lalu lintas baru belok kanan." jawab Dito seraya menahan rasa sakitnya.
"Oh, baiklah!'' ucap Raditya yang setelah mendapat petunjuk dari Dito. Raditya bergegas melajukan mobilnya menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Raditya.
Sementara itu Rani telah selesai mengompres luka Dito.
"Rani makasih ya." kata Dito.
"Ah biasa aja, kamu begini juga gara-gara menolong aku." kata Rani sambil tersenyum.
Rani dan Dito membenarkan kacamatanya, tiba-tiba keduanya merasa canggung.
Tak selang berapa lama, Raditya melihat gerobak mie ayam di pinggir jalan.
"Itu ada gerobak mie ayam. Kita makan mie ayam saja ya!" seru Raditya sambil menepikan mobilnya.
"Iya kak!" jawab Rani dan Dito secara bersamaan.
"Kalian disini, biar aku yang pesan mie nya." kata Rani yang kemudian keluar dari mobil, pada saat Raditya sudah menghentikan mobilnya di tepi jalan dan bergegas Rani melangkahkan kaki menghampiri pedagang mi ayam itu lalu memesan mie ayam untuk mereka bertiga.
"Dito saat kamu di tampar Dio, kenapa kamu nggak melawannya sama sekali? paling tidak ada perlawanan sedikitlah, soalnya kita bicara antar lelaki" tanya Raditya yang penasaran.
"Selain saya nggak punya kemampuan bela diri, saya juga berpikir. Seandainya saya lawan, pastinya nanti akan ada kelanjutannya. Seperti halnya Rani tadi yang mengalahkan Dio, ujung-ujungnya waktu pulang tadi masih dikejar. Yang saya pikirkan Rani, karena Dio kalau menghajar orang tak perduli lawannya wanita atau orang lemah, tetap dia akan menghajarnya."jelas Dito yang panjang.
"Kayaknya kamu kenal sifat dan kelakuan Dio ya?" tanya Radit sedikit curiga.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...