
"Baju Dinas?" tanya Raditya yang penasaran.
"Iya baju ganti, jaga-jaga kalau ketemu orang jahat. Masak melawan penjahat pakai baju cantik begini? he..he..!" jawab Rani yang tertawa terkekeh.
"Ha...ha...! Kamu ini bisa aja." kata Raditya sambil tersenyum.
"Kak Radit, memangnya hubungan keluarga Wibowo dengan Walikota karena apa? kelihatan dekat sekali?" tanya Rani yang penasaran.
"Ya karena alat-alat olah raga lah. Dari dulu Walikota sering pesan alat-alat olah raga dari Papa. Kado yang diberikan oleh Papa, adalah alat olah raga. Karena Putri Walikota suka olah raga Bulu tangkis. Sebuah raket bertanda tangan atlet legenda Bulu tangkis" jelas Raditya sambil mengemudi.
"Wah, kelihatannya sederhana tapi mewah. Jarang yang bisa minta tanda tangan seorang atlet, apalagi atlet legenda!" seru Rani yang mengulas senyumnya.
"Betul sekali...!" balas Raditya yang juga ikut tersenyum.
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di hotel bintang lima tempat acara ulang tahun putri Walikota.
Rani memang sengaja tidak memberitahukan kedatangannya pada Sersan Saga. Karena dia ingin memberi kejutan padanya.
Setelah turun dari mobil, Rani dan Raditya melangkahkan kaki dan bergegas masuk ke hotel. Tapi sebelum masuk ke acara Ulang tahun, mereka menunjukan kartu undangan yang menjadi syarat masuk dalam acara tersebut.
Saat Rani dan Raditya melangkahkan kaki masuk ke acara, semua mata memandang mereka. Dan mereka saling berbisik.
"Siapa sih? kalian kenal?"
"Serasi banget, cantik dan tampan"
"Pasangan kekasih atau apa ya?"
Begitulah suara-suara yang terdengar.
Raditya dan Rani tak menghiraukan suara-suara itu, mereka berdua terus berjalan menghampiri Walikota yang ternyata sedang bersama Sersan Saga.
Sersan Saga tak bisa mengalihkan pandangannya pada Rani, pada saat gadis itu bersama kakaknya menghampiri dia dan Walikota.
Gadis yang polos dan tomboy seperti adiknya yang telah meninggal itu sekarang berubah menjadi gadis yang sangat cantik nan elegan.
"Aku melihat penampilan Rani yang berdandan sudah dua kali ini, waktu di pemancingan Jordy dan di sini.Tapi yang kali ini sungguh Luar biasa!" gumam Sersan Saga dalam hati.
"Selamat malam Walikota dan Sersan, kami mewakili Papa dan Mama kami, Tuan dan nyonya Wibowo. Yang mana tidak bisa hadir karena masih dalam suasana berduka di luar kota." Sapa Raditya seraya mengulurkan tangan dan disambut walikota.
'Oya..tolong nanti sampaikan pada tuan Wibowo. Saya juga turut berduka cita" balas Walikota pada Raditya dengan mengulas senyumnya.
"Walikota, perkenalkan lah ini adik saya, Rana." kata Raditya yang memperkenalkan Rani.
Rani mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama samarannya.
__ADS_1
"Rana." kata Rani.
"Wah, cantik sekali. Kamu kurang lebih seumuran dengan anak saya!" seru Walikota itu seraya menerima uluran tangan Rani.
Sersan Saga yang sejak awal terpesona dengan Rani. Tanpa sengaja Sersan Saga dan Rani saling menatap, ada gejolak rasa di dada mereka.
Walikota yang melihat Sersan Saga dan Rani saling menatap aneh, Walikota merasa tidak senang.
"Sersan Saga bisa panggilkan
Putriku?" perintah Walikota pada Sersan Saga.
"Baik akan saya panggilkan." jawab Sersan Saga pun berlalu sambil pandangannya masih menatap Rani seolah tak mau lepas.
"Jadi kalian anak angkat Tuan Wibowo ya, soalnya setahuku mereka tidak punya anak. Mereka mengangkat kalian dari panti asuhan apa nemu di sampah sih?" tanya Walikota dengan tersenyum sinis.
"Pak tua jaga mulut anda!" seru Rani yang menggerutu dan ditahan Raditya dengan kode di kedua matanya..
"Dari manapun kami kami berasal, tapi karena kebaikan hati Papa dan Mama, kami masih bisa berhadapan dengan Tuan." jawab Raditya dengan ramah agar suasana tidak memanas.
"Pintar juga kau memainkan kata anak muda. Ha... ha....ha,..!" seru walikota itu sambil tertawa.
Tak berapa lama datanglah seorang gadis cantik bergaun pink pendek yang diikuti Sersan Saga berjalan menghampiri mereka.
"Mohon maaf, saya Lilian putri Walikota." sapa gadis cantik itu sambil tersenyum.
"Terima kasih,boleh saya buka? saya penasaran, apakan Paman mengabulkan impian saya? he..he." tanya Lilian sambil tersenyum terkekeh
"Ini sudah menjadi hak anda nona." jawab Raditya sambil tersenyum.
Lilian segera membuka bungkusan kado dari Raditya, dan betapa terkejutnya dia.
"Paman Wibowo makasih! Lilian suka sekali...!" seru Lilian sambil memeluk raket kado dari Tuan Wibowo, Radit dan Rani ikut tersenyum.
Rani mendekati Sersan Saga. Dia ingin mengetahui pendapat Sersan Saga atas penampilannya saat ini.
"Kak,boleh bicara sebentar?" tanya Rani secara berbisik.
"Kita kesana ya." jawab Sersan Saga sambil menunjukkan ke arah yang dia maksudkan.
Sersan Saga senang, seperti ada kesempatan berdua dengan Rani.
"Kak Saga." panggil Rani.
"Iya, ada apa Ran?" tanya Sersan Saga yang menatap Rani dengan mesra.
__ADS_1
"Hm, bagaimana penampilanku?" tanya Rani yang sedikit ragu.
"Biasa saja" jawab Sersan Saga bohong, karena ingin menggoda Rani.
"Masak sih? padahal ini gaun terbaik diantara gaun yang dibelikan Mama Lani?" tanya Rani yang tak percaya.
Sersan Saga tersenyum melihat gadis 6ang dihadapannya itu bingung.
"Cantik kamu bukan dari pakaian, tapi dari dalam hati kamu." kata Sersan Saga dengan pelan.
"Apa yang anda bilang? kurang jelas!" seru Rani yang sebenarnya dia mendengarnya dengan jelas.
"Lupakan saja," kata Sersan Saga sambil tersenyum yang sebenarnya malas mengulanginya lagi, Rani pun membalas dengan senyum kecutnya.
Tiba-tiba ada yang mendorong Rani dari belakang, secara otomatis Rani jatuh ke pelukan Sersan Saga. Dan tanpa sengaja mencium pipi kanan Sersan tampan itu. Dan mereka jadi pusat perhatian.
"Eh,Maaf Kak! tidak sengaja!" seru Rani dengan mukanya yang memerah karena malu.
Sersan Saga hanya tersenyum dalam menanggapinya.
"Sengaja juga nggak apa-apa. Coba saja pas aku dalam keadaan siap! He.....he.....he....!" kata dalam hati Sersan Saga yang senang.
"Oh dasar cowok playboy, sudah berapa gadis yang kena bujukanmu. Disekolah si cupu dan di sini...siapa dia? oh..seleramu meningkat juga rupanya, hai, Sersan Saga!" seru seorang laki-liaki yang tak lain adalah Dio, yang sambil memegang ponselnya, seperti sengaja merekam kejadian tadi.
"Apa maksud kamu?" tanya Sersan Saga yang memperhatikan tingkah Dio.
"Hah! akan aku kirimkan ke Rani. Biar gadis itu tak tertipu olehmu!" seru Dio sambil mengotak-atik ponselnya dan mengirim hasil jepretannya pada Rani.
"Aku kan baru jadi Rana kak! untunglah ponsel aku silent." bisik Rani pada Sersan Saga.
"Kita lanjutkan saja sandiwara ini" bisik Sersan Saga sambil tersenyum.
"Iya." balas Rani seraya menganggukkan kepalanya.
Kemudian Sersan Saga melingkarkan tangannya ke perut Rani, memeluk Rani dari belakang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...