Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Rani, Jangan Tidur!


__ADS_3

Nyonya Lani dan tuan Wibowo saling pandang sehabis melirik tingkah anak laki-lakinya itu.


Sementara itu si bibi Asisten Rumah tangga mereka sudah tertidur pulas disebelah Raditya.


Rani tetap dengan usahanya berusaha membuat kekasihnya kembali dengan suasana hati seperti biasanya.


"Ah..! sebel kalau begini, tidak ada yang ngajak bicara. Aku tidur sajalah!" seru Rani yang sengaja suaranya lebih dinyaringkan.


Kemudian Rani menempelkan kepalanya di punggung Sersan Saga.


Sersan Saga yang tahu jika menjadi pembonceng di atas sepeda motor tidak bisa sembarangan. Ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan saat berboncengan di atas motor.


Peran pembonceng penting apalagi jika berboncengan naik motor menempuh jarak yang jauh.


Yang utama adalah pembonceng harus menjadi partner berkendara yang aman dan memberikan kenyamanan bagi pengemudi.


Selain itu mengurangi ngobrol di atas motor. Interaksi memng perlu tapi kurangi bercanda saat berboncengan apalagi berkendara jauh, karena dapat menurunkan konsentrasi.


Berkendara jarak jauh membutuhkan konsentrasi tinggi karena menguras energi dan memiliki tantangan situasi jalan yang beragam.


Jika melakukan perjalanan jauh dengan berboncengan, hindari percakapan ringan ataupun bersenda gurau saat berkendara karena dapat menurunkan konsentrasi pengendara.


Jika menjadi pembonceng usahakan jangan sampai tertidur. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan dalam berkendara dikarenakan tubuh yang tidak dapat dikendalikan.


Saat berboncengan, baiknya pembonceng dapat memeluk pengendara atau dapat memegang jaket pengendara untuk menambah keseimbangan saat berkendara.


Selain itu, pembonceng perlu mengikuti arah pergerakan pengemudi di depannya.


Sersan Saga yang tahu bahaya bila sampai Rani tertidur, karena dia bisa sewaktu-waktu terjatuh.


Di pegangnya tangan kiri Rani yang berpegangan pada paha kirinya.


"Ran...! Rani, jangan tidur!" panggil Sersan Saga yang berusaha membangunkan Rani.


"Ran, aku mau minum!" seru Sersan Saga yang sekali lagi menarik-narik tangan Rani berusaha agar gadis itu terbangun dari tidurnya.


"Huahem...! ada apa kak?" tanya Rani yang sambil pura-pura menguap, untuk melancarkan aktingnya.


"Aku mau minum, suapin!" seru Sersan Saga dengan nada suara tinggi.


"Ohw haus ya!" seru Rani yang tersenyum dibalik punggung Sersan Saga dengan lengannya di tarik ke bawah.


"Yes...! berhasil...berhasil.... horeee...!" sorak dalam hati Rani girang, karena usahanya telah membuahkan hasil.


"Hei mana minumnya!" seru Sersan Saga.

__ADS_1


"I..iya sebentar!" balas Rani sambil membuka tutup botol air mineral yang dibawanya, lalu Rani memasukan satu sedotan kedalam botol tersebut.


Setelah itu diberikannya air mineral itu pada kekasihnya.


Setelah dirasa cukup Sersan Saga minum, botol air mineral botol itu di berikan kepada Rani.


"Kak Saga sudah tidak marah lagi ya?" tanya Rani, saat dilihatnya suasana hati Sersan Saga yang mulai tenang.


"Iya, lain kali kendalikan emosimu!" seru Sersan Saga.


"Padahal yang sering jutekkan dia, kenapa aku yang harus mengendalikan emosi? dia jutek dan marah bukannya juga emosi? Ah, dasar laki-laki menyebalkan....!' gerutu Rani dalam hati.


"Iya kak Saga yang baik lagi budiman! mau permen?" tanya Rani sambil mengupas bungkus permen.


"Iya, asal kamu suapin ya!" jawab Sersan Saga yang masih tetap dalam pandangannya ke depan, ke arah jalan raya.


"Hm, maunya! mana mulutnya?" tanya Rani sedikit menoleh ke wajah Sersan Saga untuk mencari mulut Sersan Saga tersebut.


"Hm, kok rasanya lain ya? permennya lebih enak dari biasanya. Kamu tambahi rasa apa?" goda Sersan Saga seraya mengulas senyumnya.


"Rasa apa sih kak? bukannya sama saja?" tanya Rani yang belum sadar akan perkataan Sersan Saga.


"Tidak, ini lain lho!" seru Sersan Saga yang masih saja mengulas senyumnya.


"Oh, iya tasa cinta! Rani cinta sama kak Saga!" seru Rani sambil memeluk punggung kekasihnya itu, dan dia mencium aroma wangi pakaian Sersan Saga.


"Kak Saga juga cinta Rani." balas Sersan Saga. Mereka pun saling tersenyum, dan Rani memeluk Sersan Saga dari belakang.


"Cih! apaan itu, habis marahan cepat banget baikannya? pamer-pamer kemesraan di depan umum lagi!" gerutu Raditya dari dalam mobil.


Nyonya Lani dan tuan Wibowo menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah anak-anak angkatnya itu.


"Radit sayang, kamu kenapa?" tanya Nyonya Lani yang ingin tahu perasaan anak laki-lakinya itu.


"Melihat kemesraan mereka, Radit jadi iri ma. Radit nggak bisa seperti mereka, Kalau ketemuan dengan


Sania saja hanya beberapa menit, itupun dalam keadaan diantara banyak orang. Bagaimana bisa melepas rindu!" jawab Raditya yang memelas.


"Bagaimana kalau kalian cepat nikah saja? Pasti kalian tiap hari bisa ketemu?" usul nyonya Lani.


"Itu sih sudah Radit pikirkan ma, Raditkan belum sesukses Papa." kata Raditya.


"Sukses seseorang itu bisa sebelum bisa juga sesudah menikah. Jika kamu merasa belum sukses, bisa jadi setelah kamu menikah kamu bisa sukses. Semua kita pasrahkan pada Tuhan. Menikah itu Ibadah lho!" nasehat tuan Wibowo.


"Makasih pa, setelah liburan nanti Radit coba bicara kembali pada Sania" kata Raditya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nah begitu dong anak papa!" seru tuan Wibowo.


"Eh anak mama juga Pa!" seru nyonya Lani tak mau ketinggalan.


Mereka pun tertawa riang bersama,dan Raditya seolah sudah lupa akan kekesalannya pada Rani tadi.


Mobil mewah dan Sepeda motor sport itu pun terus melaju di bawah teriknya matahari.


Matahari sudah di atas kepala, panasnya pun sangat menyengat untuk orang yang berada di luar rumah.


"Pa, waktunya makan siang nih!" seru nyonya Lani.


"Oiya-ya! Kita cari tempat untuk makan siang ya!" seru tuan Wibowo.


"Sebaiknya rumah makan ya yang nyaman pa untuk kita semuanya!" seru Raditya yang ikut ambil bagian.


"Iya, papa tahu itu!" balas Tuan Wibowo yang mulai menebarkan pandangannya ke tepi jalan, demikian pula dengan nyonya Lani dan Raditya, untuk mencari tempat makan yang sesuai dengan mereka berenam.


Mobil mewah Tuan Wibowo menepi di sebuah rumah makan yang lumayan terkenal di kota itu.


"Kita makan dan istirahat sebentar di sini." Kata Tuan Wibowo sambil memarkirkan mobil mewahnya.


"Iya pa." jawab Nyonya Lanibdan Raditya yang bersamaan.


"Radit, coba kamu bangunkan bibi!" seru Nyonya Lani seraya menoleh pada Raditya.


"Iya ma!" jawab Raditya yang kemudian membangunkan wanita setengah baya yang ada disampingnya.


Kemudian nyonya Lani membuka sabuk pengamannya dan diikuti oleh yang lainnya.


Sementara itu Sersan Saga dan Rani juga mencari tempat parkir khusus untuk sepeda motor yang lebih teduh.


"Akhirnya kita akan makan siang, perutku dari tadi konser dari tadi!" celoteh Rani saat turun dari sepeda motor sambil melepaskan helmnya, demikian pula dengan Sersan Saga yang juga melepaskan helmnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2