Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Di kawasan pemujaan


__ADS_3

Pukulan itu hanyalah suatu permainan, sebagai pernyataan saling bersetuju timbal balik. Dan kedua tamunya sudah mengerti maksudnya, karena sejak macan betina itu menjadi pimpinan berandal sudah selalu bertemu.


Keduanya sudah saling mengerti


kebiasaan masing-masing.


"Terima kasih tuanku puteri." Kata Uling Bangah dengan mengangguk, sedang macan betina itu mendekat lalu menggaplok.


"Ini hadiah."


Pemuda itu dapat meraba apa yang terjalin dalam permainan itu. Ia menarik napas panjang, untuk melonggarkan sesak napasnya.


Setelah dua macan betina itu menghilang, cepat-cepat pemuda berdada bidang itu mendekat dengan menghaturkan sembah, sambil berkata,


"Terima kasih atas pertolongan


tuan-tuan."


"Kau kena gaplok?"


Pemuda berdada bidang itu mengangguk.


"Hati-hati. Kau masih terlalu muda untuk mengenal berandal itu. Kau bisa dimakannya sampai ke tulangmu."


"Terima kasih atas nasehat tuan-tuan."


"Hem." Habis berkata demikian kedua tamu itu meninggalkan tempat itu. Cekatan luar biasa mereka tidak tampak lagi.


Sekarang pemuda berdada bidang yang benaknya masih diricuhi permainan mesum, segera mendekati ruang diinana pemuda perkasa ditutup. Cepat dibuka pintunya.


Ternyata ruangan itu gelap dan tertutup rapat. Pemuda perkasa itu tersandar pada dinding dan tubuhnya lemas. Waktu pintu dibuka, ia tampak menggeliat, tangannya berusaha mencari pegangan.


Pemuda berdada bidang itu mendukungnya, dibawa keluar.


"Tariklah napas panjang-panjang, dan hempaskan keluar." Pemuda perkasa itu menurutkan petunjuk, wajahnya yang pucat lambat laun berwarna merah.


"Tempat itu untuk menyiksa." Kata pemuda perkasa. Pemuda berdada bidang itu mengangguk.


"Telah dua kali kau menolong jiwaku"


"Sudahlah tak usah kau membicarakan hal itu."


Kau suka memaafkan kesalahanku kakang." Pemuda berdada bidang itu


mengangguk.


"Sebaiknya kita menghadap ki lurah." Kata pemuda berdada bidang.


Tetapi pemuda perkasa menggelengkan kepala. Ia lalu menceriterakan keadaan yang sebenarnya mengapa ia sampai menguntit dan menantangnya berkelahi.


"Syukurlah! Kita masih mendapat perlindungan." Mereka pergi meninggalkan


tempat itu


Waktu keduanya melewati ruang pemujaan, pemuda berdada bidang itu menanyakan sesuatu tentang ruangan itu.


"Kakang. Ruang pemujaan itu terdiri dari banyak peti, di dalamnya terdapat kerangka-kerangka orang perkasa yang sudah meninggal dunia yang dapat mereka curi.


Di atas peti kakang lihat ada kerangka yang kering. Kerangka tergantung itu adalah kerangka anak buahnya yang dianggap bersalah, dibunuhnya di atas peti itu dan darahnya bercucuran jatuh ke dalam peti. Saat demikian mereka lakukan setahun sekali.


Pemuda perkasa diam sejenak.


Pemuda berdada bidang itu menghela napas panjang. Bulu tengkuknya berdiri.


"Setahun sekali." Gumam pemuda berdada bidang.


"Ya kerangka itu yang mereka sembah. Dan setiap tahunnya mereka asung pasungsung agar pemujaan itu memberi kekuatan."


"Kapan saat pemberian pasungsung itu?"


"Lurah Singalangu yang menentukan."


"Hem."


"Nanti kita melewati ruang lain tempat di mana korban-korban disimpan. Mereka diberi makan enak, agar menjadi gemuk."


Demikian mereka melewati ruangan lain itu. mereka melihat dari sebuah lubang.


Dalam ruangan itu kelihatan beberapa orang sedang bergembira.


"Mereka tidak mengetahui?" Pemuda perkasa itu menggelengkan kepala.


"Mengapa?"


"Mereka malah menganggap anakmas yang berjasa."


"Kalau demikian sukar untuk diberi pertolongan?"


"Ya. Karena mereka tidak mengerti."


"Itulah sebabnya."


"Hai, pergi mengapa mengintip?" Suara dari dalam ruangan.


Cepat-cepat keduanya pergi dari tempat itu. Kalau mereka sampai ketahuan dianggap melanggar peraturan.


"Kau mengetahui semuanya adikku?"


"Aku telah lama di sini kakang. Sejak kecil."


"Berbahagialah kau yang dapat menyesuaikan diri."


Berbahagia? Tidak kakang. Sekarang terbuka mataku bahwa di sini tiada yang sebenarnya dinamakan hidup. Di sini hanya terdiri mesin-mesin yang bernyawa, yang satu sama lain saling ingin menguasai dan berkuasa. Kemudian menggunakan kekuasaan itu secara mutlak dalam tangannya."


"Tetapi kau sudah sejak kecil di sini." Pemuda perkasa itu memandang jauh.


"Mereka yang memberi aku makan dan memelihara." Pemuda berdada bidang itu tidak melanjutkan kata-katanya

__ADS_1


Ia tidak mau menyinggung orang lain yang saat itu perasaannya ingin berkembang menuntut kebebasan berfikir dan berbuat.


"Bukankah semua orang di kolong langit ini tidak mau ditekan kakang?" tanya pemuda perkasa itu.


"Demikianlah. Tetapi bukan pula kebebasan yang tidak teratur. Bukan pula kebebaan yang tidak mau mematuhi angger-angger yang sudah saling disetujui adikku."


Mereka telah sampai di halaman gua, dan di sana tampak berkumpul, Singalangu dengan si macan betina, Simo Barung Muda, Wadas Lumut, Banyaksanggar, Uling Bangah dan Welut Kuning yang berdiri bersandar dinding gua. Mereka itu minum dan


tertawa, mereka sudah saling menemukan persetujuan.


"Untuk tercapainya cita-cita." Kata Simo Barung Muda.


Semuanya lalu minum tuak dengan lahapnya. Sedang Singalangu memandang Luh Sari macan betina yang agak tergegap ketika melihat pemuda berdada bidang jalan


bersama-sama dengan pemuda perkasa.


Tetapi cepat macan betina itu menghilangkan kebiasan, wajahnya dipalingkan memandang arah lain.


"Kau tidak senang melihat pemuda itu?" Bisik Singalangu.


Macan betina hanya memandang tajam.


"Mana yang tidak kau sukai?" Macan itu belum juga menjawab.


"Menyingkirkan mereka dimana susahnya"


"Bukan semuanya berhati buruk."


"Pemuda perkasa itu aku yang menyuruhnya mengawasi."


"Hem. Rupa-rupanya kau cemburu!" Singalangu menggelengkan kepala.


Terasa dalam dada kedua pemuda itu apa yang sedang dibicarakan oleh kedua


macan yang sedang memegang kekuasaan. Lebih-lebih pemuda berdada bidang itu, dengan menajamkan pancaindranya ia dapat menangkap segala pembicaraan. Ia harus berhati-hati dan segera pergi dari daerah watu gong, dimana tersembunyi sebuah


pemujaan sesat yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat pula.


Untuk menghilangkan kecurigaan, kedua pemuda itu lalu mengambil jerami, dan dibawanya pergi ke belakang.


Malam tiba, kedua pemuda bersama beberapa orang temannya sudah memasang obor untuk menerangi daerah-daerah yang dianggap berbahaya. Malam itu mendung


tebal, agaknya hujan akan turun dengan lebatnya.


Para tamu sudah tidak lagi dapat pulang, mereka menginap di tempat itu. Dan penjagain diperkuat. Bagi mereka tamu itu adalah orang-orang yang menghidupinja


Jalan-jalan sudah sepi beberapa penjaga tampak mulai menyandar di dinding batu padas.


"Kakang, andaikata kita lari malam ini bagaimana?"


Pemuda berdada bidang itu tidak menyahut. Dipandangnya pemuda perkasa itu.


Tentu saja sangat ber-hati-hati menghadapi seseorang yang telah lama bergaul dengan berandal. Pemuda berdada bidang itu dapat merasakan penderitaan temannya pada masamasa belakangan ini. Tetapi mempercayainya, belumlah dipandang perlu untuk melepaskan sesuatu yang diketahuinya.


"Mengapa kau mengkhianati adikku?" Tanya pemuda itu.


"Bukankah kehidupan di sini juga banyak orangnya."


"Hem. Adakah hati kakang juga berkata demikian."


"Aku baru saja diantara mereka, mungkin aku belum dapat benar-benar menyesuaikan diri."


Pemuda itu menghela napas panjang.


Tiba-tiba saja sesosok bayangan berkelebat. Pemuda berdada bidang itu menggamit temannya, dengan menunjuk arah bayangan itu.


"Ki Lurah." Katanya pelahan.


"Benar aku." Terdengar suara berkumandang memenuhi ruang.


"Mengapa Ki Lurah, adakah memerlukan aku."


"Tidak, kau berdua bukan?"


"Benar Ki Lurah."


"Adakah aman di sini?." Kedua pemuda itu tidak menjawab.


"Aku kuatir kalau-kalau ada yang melarikan diri." Kata Singalangu dengan suara serak menahan gelora hatinya sesak.


Yang terperanjat bukan saja pemuda perkasa itu, tetapi pemuda yang berdada bidang seperti disambar petir dUiang bolong. Jantungnya berdetak keras memukul dada.


Napasnya Singalangu tidak mendekati mereka, tetapi berjalan cepat ke ruangan belakang.


Langkahnya menyibakkan dan membawa kesiur angin.


"Adakah ia mendengar pembicaraan kita?" Pemuda perkasa itu menundukkan kepala. Wajahnya tampak menyesali ucapannya. Matanya sayu dan menghempaskan


napasnya.


"Apapun yang terjadi, aku merelakannya."


"Kau telah bertekat bulat begitu?"


"Tidak ada jalan lain. Kalau benar-benar Ki Lurah Singalangu mendengar, aku melarikan diri atau tinggal di sini sama saja akibatnya. Tidak ada ampun."


"Kau harus bisa menentukan pilihan. Jangan ragu-ragu."


Aku telah memilih yang pertama. Kalau aku bisa selamat masih pula dapat melihat terbitnya matahari."


"Kau mengenal jalan liku-liku di belakang bukan?"


Pemuda itu mengangguk.


"Adakah kakang juga akan melarikan diri?"


Sebentar pemuda berdada bidang itu berfikir. Ingin ia berterus terang, tetapi masih belum juga hatinya mau berkata demikian. Pemuda perkasa yang bertubuh besar itu

__ADS_1


memandangnya dengan mata berlinang.


"Kakang telah menolong aku dua kali. Kalau kali ini kakang akan mengadukan diriku kepada Ki Lurah Singalangu, rasanya aku lebih rela daripada Lurah itu mengetahui sendiri."


"Apapula perlunya aku berbuat demikian adikku." Kembali pemuda perkasa itu memandang dengan penuh harapan.


Malam semakin merangkak. Belum juga Ki Lurah Singalangu kembali. Kedua pemuda itu menaruh curiga. Mereka menuju ke halaman belakang pula mengikuti jejak


lurahnya


Betapa terkejutnya mereka itu, sampai di halaman belalang, mereka melihat lurahnya jatuh tertiarap dengan melontakkan darah segar tak sadarkan diri.


"Cepat kakang, mari kita tinggalkan tempat ini." Pemuda berdada bidang itu sebentar mengamati tubuh lurah Singalangu. Tiada luka yang terdapat pada tubuhnya.


Tetapi dalamnya luka parah. Pemuda itu tersenyum, ia menduga lawan Singalangu bukanlah sembarangan.


"Di sana kandang kuda."


Keduanya pergi ke kandang kuda. Penjaganya mengantuk kena hajar


punggungnya. Seketika itu jatuh tersungkur. Pingsan. Cepat kedua itu dengan mengendarai kudanya melewati liku-liku jalan menuju ke sebuah hutan tidak berapa jauh


di bawah pegunungan batu yang mengerikan. Bagi kedua pemuda itu mengendarai kuda


Adalah permainannya masa kanak-kanak.


"Kemana kita pergi kakang?"


"Kerumahku."


"GILA, benar-benar gila." Pikir Singalangu. Ia mulai mengingat-ingat kejadian


sepasar yang lalu ............


Mula-mula penglihatannya yang tajam menangkap sesosok bayangan memasuki ruangan belakang, pada saat ia mengintip perbuatan pemuda perkasa dan pemuda berdada bidang. Ia penasaran terhadap bayangan yang berani menghinanya itu.


Segera Singalangu meloncat dan mengejar bayangan itu. Tetapi ia menjadi melongoh, bayangan


itu seperti lari tanpa menginjak tanah. Dan setelah sampai di bagian belakang guanya, bayangan yang dikejarnya malah menantinya dengan berdiri tegak dan tangan di


pinggang.


"Singalangu bukan kau laki-laki seorang diri di jagat ini."


"Bangsat! Siapa berani menghinaku. Adakah kulitmu sudah setebal dinding guaku ini."


"Kulitku hanya setipis kulit bawang merah. Tetapi kalau hanya melayanimu, cukuplah dengan sebilah tangan."


Mana bisa Singalangu menerirra penghinaan demikian. Matanya membara, giginya gemertak, ia meloncat menyerang menghantam tengkuk. Bayangan itu meloncat


dengan cepat, tubuhnya sangat ringan, kepada Singalangu ia membungkuk hormat setelah


menjejakkan kakinya kembali pada sebuah tempat duduk.


Singalangu marah. Direntangkan tangannya dan dikibarkannya dengan lontaran tenaga dalam. Terjadilah gumpalan-gumapal angin tajam menyerang bayangan itu.


Bayangan itu seperti sudah mengenal watak Singalangu. Dengan cepat bergulingan


tubuhnya rapat di atas tanah, sehingga angin tajam itu lalu hanya beberapa jari di atas kepala.


Singalangu yang mengandalkan pukulannya, bahwa setiap orang yang terlanda pastilah terlontar dan runyam menumbuk dinding padas. Tetapi kali ini ia melihat


lawannya tiarap. Setelah angin tajam itu menumbuk padas terdengarlah suara gemuruh.


Dinding itu terbelah. Bayangan yang tiarap itu segera melenting, dan membalas menyerang.


Singalangu yang masih termangu-mangu memandang lawannya kurang mengamati serangan lawan. Tiada dapat menghindar lagi, dadanya seperti terlanda batu sebesar kerbau. Singalangu sempoyongan kehilangan keseimbangan, dadanya terasa berat. Belum lagi ia dapat menguasai diri, lawannya memutar tubuh dan melontarkan


pukulan punggung. Serangan ini dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan.


Macan gua Watu Gong itu pandangannya berkunang-kunang, dan jatuh mencium tanah.


Selamat tinggal laki-laki sejati." Lamat-lamat Singalangu masih mendengar ucapan lawannya.


Dengan tenaga yang ada ia mencoba duduk, tetapi kemudian melontakkan darah segar. Pandangannya semakin gelap, ia mencoba mengendapkan segala kemarahannya, pandangannya menjadi berkunang-kunang Samar-samar ia melihat sesosok tubuh sebaya dirinya berdiri dengan siaga menantikan balasan lawan


"Bunuhlah aku ........." Pinta Singalangu hampir tak terdengar.


"Apa perlunya aku membunuh orang yang sedang sekarat." Jawab bayangan itu dengan memukul punggung Singalangu dengan seperempat kekuatan. Singalangu yang dalam keadaan luka parah itu kembali terhentak ke tanah dan darah segar menyembur


dari mulutnya.


"Ketahuilah, di kolong langit bukan kau seorang yang perkasa."Habis ber kata demikian bayangan itu meloncat meninggalkan lawannya dalam keadaan tak sadarkan diri.


Sebenarnya Singalangu bukanlah lawan yang ringan, ia mempunyai kekuatan penghancur yang dahsyat. Kalau saja dinding padas dapat dihancurkannya, masakan manusia yang hanya terdiri dari susunan tubuh daging dan tulang belulang tidak akan *****. Sebaliknya lawannya mengetahui kelemahan pukulan lawannya.


Sesaat Singalangu masih termangu dan menyangka lawannya sudah hancur, ia masih melihat lawannya bertiup merapatkan diri pada tanah dan tidak terlontar. Saat itu adalah saat Singalangu dalam keadaan tidak' siaga.


Dirinya kosong tanpa kesiagaan dan saat demikianlah yang dinantikan oleh lawannya. Kesempatan itu dipergunakan sebaikbaiknya. Singalangu yang tengah termangu tidak dapat menghindari. Untunglah ia bukan pula orang sembarangan, seorang berandal yang cukup makan pahit getirnya dalam perlombaan hidup.


Ia terperanjat, berusaha menghindar tetapi terlambat badannya seperti terlanda batu sebesar kerbau.


Demikian kejadian yang dialami Singalangu sepasar yang lalu. Dan


selanjutnya........


Pada hari yang ketujuh Singalangu sudah dapat duduk walaupun belum benarbenar sembuh ia mengingat-ingat siapa lawannya, siapa deretan nama yang termasuk


pendekar-pendekar sebayanya.


"Gila, benar-benar gila." Gumam Singalangu sendirian.


"Apanya yang gila kakang." tanya Luh Sari yang mendampingi.


"Siapa kira-kira lawanku itu Nyai?"


"Tidak lebih dari sepuluh orang kakang

__ADS_1


__ADS_2