
Tak berapa lama gadis itu bergerak dan perlahan membuka matanya.
"A..aapa yang terjadi..??" tanya Rani yang masih mengingat-ingat apa yang terjadi padanya.
"Meoowww....!!"
Kity yang berusaha bersuara, namun di telinga Rani terdengar Meongannya saja.
" Suara Kucing..!" kata Rani yang mendengar suara Kity.
"Kucing putih..Kity...!!" seru Rani yang kemudian memeluk Kity dengan eratnya.
"Meooww.."
Kity mengeong dengan mengarah ke arah komisaris Saga, seolah dia ingin memberitahukan keadaan komisaris Saga yang terjepit melawan Simon.
"Astaga..! kak Sagaaa...!!" teriak Rani yang kemudian menurunkan Kity dari pelukannya.
Rani segera berdiri dan memasang kuda-kuda untuk menyerang Simon.
"Kak Saga..!! kau tak apa-apa..??" tanya Rani yang melihat komisaris Saga sudah berdiri dan bersiap menyerang kembali.
"Rani...! oh syukurlah kau telah sadar kembali..!" jawab Komisaris Saga yang wajahnya yang tadinya tegang kini berseri saat Rani menyebut namanya.
"A..apa kau kembali jadi kucing liar..!!" gerutu Simon yang kesal.
"Seenaknya saja kau sebut aku kucing liar..!! rasakan seranganku Ini..!!" seru Rani yang kemudian menyerang Simon dengan tangan kosong.
"Hupp...hiaaat...!!"
"Baghh....!!"
"Bughh....!!"
"Baghh...!!"
"Bughh...!!"
Setiap jurus Rani dengan mudah di tangkis oleh Simon, akhirnya Rani mundur beberapa langkah untuk mengatur strategi.
"Ha...ha..kalian berdua tidak bisa mengalahkanmu..!!" seru Simon dengan songongnya.
"Kak, kita harus bagaimana..?" tanya Rani yang minta pendapat, dengan sesekali melirik komisaris Saga yang berada disampingnya.
"Coba kita serang bersamaan..!!" usul Komisaris Saga yang di jawab anggukan oleh Rani.
Mereka berdua menyerang Simon dari dua sisi, sebelah kanan Rani dan sebelah kiri komisaris Saga.
"Jadi kalian berdua betul mau menyerang ku bersamaan ya..! baiklah terima ini..!!" Simon pun melancarkan serangan anginnya ke arah komisaris Saga, dan membuat Komisaris terjungkal ke belakang.
"Wussss.....!!"
"Aaauuh....!!"
Rani tak menyia-nyiakan waktunya, dengan jurus tendangan berputarnya, Rani menendang secara berputar dan menendang kepala Simon.
"Dughh...!!"
"Aaaarghh...!!"
"Kurang ajar..!!" umpat Simon yang kemudian dia berdiri kembali dengan tenangnya seolah tak terjadi apa-apa.
"Hah...! apa..! padahal ini jurus andalanku.! seolah angin lalu baginya..!!" seru Rani yang sedikit cemas.
"Keluarkan semua jurusmu..! kalau kau masih kalah..! kau harus jadi milikku...!!" ucap Simon yang yakin dirinya akan mendapatkan Rani seutuhnya.
"Mengapa aku lupa kalau dia itu dewa..!! harus pakai tak-tik kalau menyerang dia...!! akan aku cari titik kelemahannya..!!" kata dalam hati Rani yang kembali bersemangat.
Komisaris Saga sedang memulihkan tenaga dalamnya yang hampir terkuras dengan mengatur pernafasannya..
Dan kini Rani menyerang Simon kembali tetap dengan tangan kosong.
"Bagh....!!"
"Bugh...!!"
"Baaghh...!!"
"Bughh....!!"
"Aaaagh...!!"
Rani mengerang kesakitan saat Simon berhasil mengunci gerakan tangan Rani.
"Sialan..! aarghh....!!"
Umpat Rani yang kemudian dia membebaskan dirinya dengan menendang milik Simon di antara paha Simon dengan lututnya.
"Bughh...!!"
__ADS_1
"Aaaghh....!!"
"Gadis sialaaaann...!"
Simon pun mengumpat dengan sekeras-kerasnya.
Rani tak menyia-nyiakannya dan terus menyerang Simon.
"Bagh....!!"
"Bugh...!!"
"Baaghh...!!"
"Bughh....!!"
"Aaaagh...!!"
Dan kini Simon pun kewalahan dan mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar..! tak ada kata dewa dikalahkan manusia biasa seperti kalian..!!" gerutu Simon, yang kemudian dia mengeluarkan senjatanya
"Tongkat angin..!!"
Tongkat berwarna ke emasan itu muncul sendiri dari telapak tangan Simon.
Dan Simon menggerakanya secara berputar-putar.
"Rani..! kita lawan dia dengan pedang sepasang..!!" usul Komisaris yang sudah pulih keadaannya.
"Benar kak..!!" ucap Rani yang kemudian mengeluarkan pedang Azuya-nya.
"Pedang Azuya..!!"
muncullah dari dalam dada Rani sebuah pedang berkilau biru yang kini ada di genggaman pemiliknya.
"Pedang langit..!!"
Seru Komisaris Saga yang membuat liontin bambu itu berubah menjadi pedang yang berkilau putih yang sudah siap di genggaman Komisaris Saga.
Kini Rani dan Komisaris Saga sudah bersiap denga pedang Azuya dan Pedang Langit.
Keduanya bertekad melawan Simon yang mengandalkan tongkat anginnya dengan Jurus Pedang sepasang.
Deru angin dan suara ledakan dari efek jurus pedang sepasang, membuat gua itu runtuh.
Ketiga orang dan satu ekor kucing dengan membawa guci yang mengurung leony itu keluar dari gua yang akan runtuh itu.
"Hiaaat...!!"
"Traaang...!!"
"Traaaangg...!"
"Traaaangg...!!"
Suara ketiga senjata kelas atas itu beradu silih berganti.
Sesekali mereka berhenti untuk memulihkan pernafasan mereka.
"Traaaang...!!"
"Traaang...!!"
"Traaaangg...!"
"Traaaangg...!!"
Dan kembali saling serang, sampai beberapa jam kemudian.
Pada saat Simon berkonsentrasi menyerang Komisaris Saga, Rani melompat ke atas dengan bantuan punggung komisaris Saga.
Gadis itu menyerang dari atas dan memisahkan kepala Simon dari badannya.
Dan pada saat kesempatan yang sama, komisaris Saga bisa melepaskan tongkat angin dari pemiliknya. Dan..
"Jlebb...!"
Pedang langit bersarang tepat di dada Simon si Dewa Angin itu.
"Argghh..!!"
"Brugh..!!"
Kata terakhir dari Simon sebelum kepalanya terlepas dari badannya, karena pedang langit telah bersarang di dadanya.
Tubuh Simon pun jatuh bersimbah darah dan kepalanya pun menggelinding di samping tubuhnya.
"Akhirnya beres juga..!!" ucap Komisaris Saga yang penuh kelegaan dan mengembalikan pedang langit ke wujud semula.
__ADS_1
"Iya..! Akhirnya..!" sahut Rani yang juga dengan kelegaan, memasukkan kembali ke dalam tubuhnya.
Dengan berlari, Rani menghampiri komisaris Saga .
"Kak Sagaa..! aku merindukanmu...! aku mencintaimu..!!" seru rani sambi memeluk erat tunangannya itu.
"Nah, ini baru calon istriku..! Rani, aku juga mencintaimu..!!" balas Komisaris Saga sambil menciumi kening dan pipi kekasih hatinya itu,
"Kak Saga..!!"
"Rani...!"
Kedua sejoli itu saling berpelukan dan terpancar kebahagiaannya.
"Hei, pelukannya di lanjut nanti saja ya..! sekarang cepat pergi dari sini..!! dan tolong bawa guci ini..!" seru Kity yang nampak kelelahan membawa guci yang berisi roh Leony.
"Oh, baik..!" kata komisaris saga yang sebelumnya saling tatap dan senyum bersama Rani.
Rani segera menggendong Kity dan membawa guci itu di tangannya.
Sedangkan Komisaris membuka portal dimensi menuju Kota J dengan cincin bermustika biru di jari manis tangan kanannya.
Muncullah sinar merah kehitaman yang membentuk lubang yang cukup besar.
Rani dan Komisaris Saga kemudian masuk ke lubang itu, dan kemufian menghilang.
Sedangkan tubuh Simon kini menghilang tertutup pasir gurun itu yang tertiup angin badai.
Komisaris Saga dan Rani muncul kembali di pinggir danau belakang Gym Raditya.
"Fyuh...! akhirnya sampai juga di rumah..!" ucap Rani penuh kelegaan.
Dan dia kemudian menurunkan Kity dan guci yang berisi Roh Leony itu.
"Sudah aku bilang dari dulu, seharusnya kalung liontin jam ini di musnahkan saja..!! karena selalu membawa petaka..!!" seru Komisaris Saga yang kemudian melepas cincin pusaka langit berwarna merah dari jari tangannya.
"Benar..! memang harus di musnahkan..!!" Rani menambahi.
...~¥~...
...22 Desember 2021...
...💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗...
...IBU...
...Hanya tiga huruf I-B-U...
...Yang mempunyai makna mendalam di kalbu...
...Tanpa Ibu, aku tidak bisa lahir.....
...Tanpa Ibu, aku tidak bisa melihat dunia ini...
...Dan tanpa Ibu, aku tidak bisa sebesar dan sekuat ini...
...Ibu......
...Kau adalah malaikatku...
...Kau adalah pahlawanku...
...dan kau adalah matahariku...
...Ibu......
...Aku tak bisa berucap dan berbuat apa...
...Untuk mengganti Air susu dan keringatmu...
...Pantaslah Surga di telapak kakimu...
...Aku sangat sayang padamu ibu...
...Doa dan cinta tulusku untukmu ibu...
...by. Yuli Kiranawati...
...💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗...
...Terima kasih untuk para semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel GADIS TIGA KARAKTER ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...