Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
SARANG LEBAH II


__ADS_3

Beberapa jam lagi mereka akan dihancurkan dan mereka tidak mengetahuinya. Tak ada yang memperingatkan mereka. Kelihatannya mereka tidak punya seorang Hercule Poirot. Saya beritahu, Monsieur Harrison. Saya berada di sini untuk urusan bisnis. Dan pembunuhan adalah bisnis saya.


Kejahatan ini adalah urusan saya, sebelum terjadi maupun sesudahnya. Pukul berapa Monsieur Langton akan mengambil sarang lebah itu?"


"Langton tidak akan pernah..."


"Pukul berapa?"


"Pukul 21.00. Sekali lagi saya katakan. Anda sama sekali keliru. Langton tidak akan pernah..."


"Orang-orang Inggris ini!" seru Komisaris Sagapenuh emosi. Diambilnya topi serta tongkatnya, lalu ia turun ke jalan setapak, berhenti sebentar untuk mengatakan,


"Saya tidak mau berdebat dengan Anda. Itu akan membuat saya marah. Tapi Anda tahu, saya akan kembali pukul 21.00 nanti." Harrison membuka mulut untuk berbicara, tapi Komisaris Sagatidak memberinya kesempatan.


"Saya tahu apa yang akan Anda katakan, 'Langton tidak akan pernah', dan seterusnya. Ah. Langton tidak akan pernah! Biarpun begitu, saya akan kembali pukul 21.00. Mengasyikkan sekali - katakanlah begitu - saya akan asyik menonton pengambilan sarang lebah itu. Olahraga khas Inggris yang lain!" Komisaris Sagatidak menunggu jawaban, tetapi bergegas melewati jalan setapak dan keluar melalui pintu yang berkeriat-keriut. Begitu sampai di jalan, langkahnya melambat, semangatnya merosot, dan wajahnya menjadi muram serta penuh masalah. Dikeluarkannya arlojinya dari saku. Jarum arloji menunjukkan pukul 20.10.


"Masih lebih dari tiga perempat jam," gumamnya. "Apakah seharusnya aku tadi tetap menunggu di sana?" Langkah kakinya melambat lagi.


Hampir-hampir ia kembali. Samar-samar bermacam firasat menyerang dirinya. Dengan tegas dihilangkannya pikiran itu dan terus berjalan ke arah desa. Akan tetapi wajahnya masih dipenuhi masalah.


Sesekali ia menggeleng seperti belum sungguh-sungguh puas. Pukul 21.00 masih kurang beberapa menit. Sekali lagi Komisaris Sagamendekati pintu kebun. Malam terang dan tenang, hampir tidak ada angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dedaunan. Rasanya, ada suasana yang agak menyeramkan dalam keheningan itu, seperti suasana tenang sebelum badai datang.


Langkah Komisaris Sagabertambah cepat dengan begitu ringannya. Mendadak ia gelisah - dan ragu-ragu tanpa tahu sebabnya. Pada saat itu pintu kebun terbuka. Claude Langton bergegas menuju jalan. Melihat Komisaris Sagaia terkejut.


"Oh - eh - selamat malam."


"Selamat malam,


. Saya sama sekali tidak tahu Anda ada di sini." "Saya ada urusan di sini."


"Oh! Well, Anda akan menemukan Harrison di teras. Maaf, saya harus pergi." Langton bergegas pergi.


Komisaris Sagamengawasinya. Pemuda yang tegang, tampan, dengan bibir yang tipis!

__ADS_1


"Jadi aku akan menemui Harrison di teras," Komisaris Saga bergumam.


"Aku jadi bertanyatanya sendiri." Komisaris Saga masuk melalui pintu kebun dan berjalan melewati jalan setapak. Harrison duduk di kursi di dekat meja. Ia duduk dengan tenang, bahkan tidak menoleh ketika Komisaris Sagamenghampirinya.


"Ah, Sobat," sapa Poirot,


"Anda baik-baik saja?" Hening untuk beberapa saat. Lalu Harrison berkata dengan suara yang aneh dan linglung,


"Apa yang Anda katakan tadi?"


"Anda baik-baik saja?"


"Baik-baik saja" Tentu saja. Mengapa tidak?"


"Anda tidak merasa sakit" Bagus."


"Merasa sakit" Kenapa?"


"Sodium karbonat." Serta-merta Harrison berdiri.


"Anda memasukkan sejumlah sodium


karbonat ke saku saya" Untuk apa?" Harrison menatap Poirot.


Yang dipandang berbicara dengan tenang, tanpa menunjuk pada seseorang, bagaikan dosen yang sedang berbicara kepada anak kecil.


"Anda tahu salah satu keuntungan, atau kerugian, menjadi detektif adalah bahwa profesi ini membuat Anda berhubungan dengan kalangan penjahat. Dan mereka ini bisa mengajarkan beberapa hal yang amat menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu Anda. Pernah ada pencopet - saya tertarik kepadanya karena waktu itu ia ternyata tidak melakukan apa yang dituduhkan orang kepadanya - maka saya bebaskan ia. Untuk menyatakan terima kasihnya, ia membayar saya dengan satu-satunya cara yang dapat ia pikirkan - yaitu menunjukkan seluk-beluk pekerjaannya. Oleh karena itu saya bisa mencopet kalau saya menghendaki tanpa korban mencurigai perbuatan itu. Saya letakkan satu tangan di bahunya, saya pura-pura resah, dan ia tidak merasakan apa-apa. Sementara itu, saya telah berhasil memindahkan benda yang ada di dalam sakunya ke saku saya dan meninggalkan sodium karbonat di dalam sakunya.


"Anda tahu," Komisaris Saga melanjutkan sambil menerawang, "kalau orang perlu racun secepatnya untuk dimasukkan ke dalam gelas secara diam-diam - dia pasti menyimpan racun itu di saku kanan mantelnya. Tidak ada tempat lain. Saya yakin pasti di sana." Komisaris Saga memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan sejumlah kristal kasar berwarna putih.


"Sangat berbahaya," bisiknya, "membawanya sembarangan begitu." Dengan tenang tanpa terburu-buru Komisaris Sagamengeluarkan botol bermulut lebar dari sakunya yang lain. Ia memasukkan kristal-kristal itu, mendekati meja, dan mengisi penuh botol itu dengan air. Sesudah menyumbat botol dengan cermat, ia mengocok hingga semua kristal larut. Harrison mengawasi Poirot, seolah-olah terpesona. Setelah puas dengan larutannya, Komisaris Sagaberjalan menuju sarang lebah. Dibukanya sumbat botol, dimiringkannya kepalanya, lalu dituangnya larutan itu dalam sarang lebah. Kemudian ia mundur satu-dua langkah untuk mengawasi. Beberapa ekor lebah yang pulang dengan riang bergetar sedikit lalu terbaring tak bergerak. Lebah-lebah lain yang merangkak keluar dari lubang juga menemui ajalnya. Komisaris Sagamengawasi sebentar, mengangguk, dan kembali ke beranda.


"Kematian yang cepat," katanya.

__ADS_1


"Kematian yang begitu cepat." Harrison menemukan kembali suaranya. "Berapa banyak yang Anda tahu?" Komisaris Saga memandang lurus ke depan.


"Seperti yang saya katakan kepada Anda, saya membaca nama Claude Langton di buku. Yang tidak saya ceritakan adalah bahwa sesudah itu saya kebetulan bertemu dengan dia. Ia bercerita baru saja membeli kalium sianida atas permintaan Anda - untuk mengambil sarang lebah. Ceritanya itu menarik perhatian saya karena agak janggal. Masalahnya, saya ingat pada jamuan makan malam itu Anda berkata tentang kegunaan bensin yang luar biasa dan mencela pembelian sianida sebagai bahan yang berbahaya dan tidak perlu."


"Teruskan."


"Saya tahu hal lain lagi. Saya melihat Claude Langton bersama Molly Deane. Saat itu keduanya pasti merasa tidak seorang pun melihat mereka. Entah pertengkaran apa yang semula memisahkan mereka dan membawa gadis itu ke pelukan Anda. Tapi saya menyadari kesalahpahaman antara keduanya sudah berlalu dan Nona Deane kembali kepada kekasihnya."


"Lanjutkan."


"Saya juga tahu, Kawan. Belum lama ini saya berada di Harley Street dan saya lihat Anda keluar dari rumah seorang dokter. Saya tahu dokter itu dan untuk penyakit apa orang berkonsultasi dengannya. Lagi pula saya membaca ekspresi di wajah Anda. Seumur hidup hanya sekali atau dua kali saya melihat ekspresi wajah seperti itu. Tapi, tidak salah lagi. Itulah wajah seseorang yang dijatuhi hukuman mati. Saya benar, kan?"


"Benar sekali. Dokter memberi tahu bahwa waktu saya hanya tinggal dua bulan."


"Anda tidak melihat saya, Sobat, karena ada hal-hal lain yang Anda pikirkan. Saya melihat sesuatu yang lain di wajah Anda, sesuatu - seperti yang saya katakan siang tadi - berusaha disembunyikan orang. Kebencian. Anda tidak merasa perlu menyembunyikannya karena Anda merasa tidak ada yang memperhatikan."


"Teruskan," kata Harrison.


"Tidak banyak lagi yang harus saya katakan. Saya datang ke daerah ini, secara kebetulan membaca nama Claude Langton di buku daftar zat beracun yang dibeli, bertemu dengannya, lalu kemari untuk menemui Anda. Saya memasang perangkap untuk Anda. Anda menyangkal telah menyuruh Langton membeli sianida. Atau, lebih tepat Anda menunjukkan rasa terkejut karena ia berbuat begitu. Mula-mula Anda kaget melihat saya. Namun, Anda kemudian melihat betapa menguntungkannya situasi itu dan sengaja memperkuat kecurigaan saya. Dari Langton saya tahu ia akan datang pukul 20.30. Anda mengatakan pukul 21.00 karena berpikir kalau saya datang, semuanya sudah terjadi. Dengan demikian saya tahu semuanya."


"Mengapa Anda datang?" Harrison menjerit.


"Kalau saja Anda tidak datang tadi!" Komisaris Saga berdiri.


"Sudah saya katakan pembunuhan adalah urusan saya."


"Pembunuhan" Maksud Anda bunuh diri?"


"Tidak!" suara Komisaris Sagameledak dengan tajam dan jelas.


"Pembunuhan. Kematian Anda akan berlangsung secara cepat dan gampang, tapi kematian yang Anda rencanakan untuk Langton adalah kematian yang paling menyedihkan yang mungkin dialami seseorang. Ia yang membeli racun, lalu datang menemui Anda di sini, dan dia cuma berdua dengan Anda. Lalu Anda mati mendadak. Dalam gelas Anda ditemukan sianida. Lalu Claude Langton digantung. Inilah rencana Anda." Lagi-lagi Harrison mengerang.


"Mengapa Anda datang" Mengapa Anda datang?"

__ADS_1


"Sudah saya katakan. Tapi ada alasan lain. Saya menyukai Anda. Dengarkanlah,


__ADS_2