Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mempelajari motif kasus


__ADS_3

"Siapa Radnor itu?" tanya Rani dan hal itu membuat sebagian rasa malu Nyonya Pengelley muncul kembali


"Eh, dia...dia hanya kawan. Pemuda yang sangat menyenangkan." jawab nyonya Pengelley.


"Apakah ada sesuatu antara dia dan keponakan Anda?" tanya Rani yang penasaran.


"Sama sekali tidak," sahut Nyonya Pengelley dengan tegas.


Kemudian Komisaris Saga mengubah posisi duduknya.


"Apakah anda dan suami Anda, pada saat ini berhubungan baik?" tanya komisaris Saga.


"Ya, hubungan kami baik." jawab nyonya Pangelley.


"Bagaimana dengan harta, milik Anda atau suami Anda?" tanya komisaris Saga penuh selidik.


"Oh, semua milik Edward. Saya tidak mempunyai kekayaan apa-apa." jawab wanita itu.


"Madame! Untuk praktisnya, kita harus bersikap brutal. Kita harus mencari motifnya. Suami Anda tidak akan meracuni Anda hanya karena kemiskinan anda, pastinya ada motif lain yang terkandung karena dia berkeinginan untuk menyingkirkan Anda!" seru Komisaris Saga.


"Mingkin saja, dan ada gadis nakal berambut kuning yang membantu dia bekerja," kata Nyonya Pengelley yang menjelaskan dengan kilatan kemarahan dalam suaranya.


"Suami saya dokter gigi, Komisaris, jadi mau tidak mau dia harus mempekerjakan seorang gadis yang cerdas sebagai asistennya. Saya mendengar bahwa terjadi skandal antara Meraka berdua. Tentu saja, suami saya selalu menyangkal adanya kabar itu." sambung nyonya Pangelley yang menceritakan apa yang dia alami.


"Obat pembasmi serangga itu, Madame, siapa yang memesannya?" tanya Rani yang menyimak.


"Suami saya. Kira-kira setahun yang lalu." jawab nyonya Pangelley.


"Sekarang tentang keponakan Anda.


Apakah ia mempunyai uang sendiri?" tanya Komisaris Saga.


"Sekitar lima puluh juta setahun. Dengan senang hati dia akan kembali dan mengurus rumah untuk Edward seandainya saya meninggalkan laki-laki itu." kata wanita itu.


"Jadi, Anda sudah berpikir untuk meninggalkannya?" tanya Rani seraya mengernyitkan kedua alisnya.


"Saya tidak ingin membiarkannya selalu bertindak seenaknya sendiri. Wanita bukanlah budak tertindas!' seru nyonya Pangelley.


"Saya bangga akan semangat kemandirian Anda, Madame; tetapi marilah kita bersikap praktis. Anda mau kembali ke Polgarwith hari ini?" tanya komisaris Saga yang menatap nyonya Pangelley.

__ADS_1


"Ya, saya datang ke sini hanya sebentar. Kereta api berangkat pukul 06.00 dan kembali pukul 17.00." jawab nyonya Pangelley.


"Nah! Tidak ada urusan penting yang harus saya kerjakan sekarang. " kata komisaris Saga.


"Sementara ini, makanlah hanya hidangan yang Anda siapkan sendiri, atau yang disiapkan di bawah pengawasan Anda. Ada pelayan yang Anda percayai?" tanya Rani.


"Jessie! Dia perempuan baik, saya percaya dia." jawab nyonya Pangelley.


"Kalau begitu, sampai besok, Madame. Berbesar hatilah!" ucap Komisaris Saga dan nyonya Pargelley menganggukkan kepalanya dan kemudian dia membalikkan badan.


Wanita itu melangkahkan kaki meninggalkan Komisaris Saga dan juga Rani.


Setelah nyonya Pargelley hilang dari pandangan mata mereka, kemudian komisaris Saga kembali ke kursinya dengan wajah serius. Tetapi dalam keseriusannya, dia sempat melihat dua helai bulu yang tercabut dari selendang wanita tadi tanpa sengaja.


Dengan hati-hati memungutnya dan membuangnya ke keranjang sampah.


"Apa pendapatmu tentang kasus ini, istriku?" tanya komisaris Saga pada Rani..


"Kasus yang tidak menyenangkan." jawab Rani yang seperti suasana hatinya pada saat ini.


"Ya, seandainya kecurigaan wanita itu benar. Tapi, betulkah itu" Celakalah para suami yang memesan obat pembasmi serangga sekarang ini. Kalau istrinya menderita radang perut dan berwatak histeris, dia benar-benar dalam kesulitan." kata Komisaris Saga.


"Ah, aku tidak tahu, Sayang. Yang pasti kasus ini menarik bagiku, menarik sekali. Kau tahu, jelas tidak ada yang baru dalam kasus ini. Oleh karena itu, teori histeria tepat. Tapi menurutku, Nyonya Pengelley bukanlah wanita yang histeris. Kalau aku tidak salah, kita menghadapi drama manusia yang pedih. Ranj, apa pendapatmu tentang perasaan Nyonya Pengelley terhadap suaminya?" tanya Komisaris Saga yang bertanya pada Rani sebagai partner kerja bukan sebagai seorang istri.


"Rasa setia bergumul dengan ketakutan," jawab Rani.


"Meskipun begitu, biasanya seorang wanita akan menuduh siapa saja - kecuali suaminya. Dia akan tetap mempercayai suaminya baik pada masa-masa senang maupun susah." sambung Rani.


"Wanita lain itu merumitkan persoalan." kata komisaris Saga seraya berpikir.


"Benar. Kasih sayang dapat berubah menjadi benci di bawah rangsangan rasa cemburu. Namun, kebencian akan membawa Nyonya Pengelley datang pada mereka.


"Kenapa ia datang kepada kita? Apa supaya kecurigaannya terbukti tidak benar? Atau supaya rasa curiganya terbukti benar? Ah, ada faktor yang belum kita pahami. Apakah dia aktris yang hebat, Nyonya Pengelley ini?" gumam komisaris Saga.


"Tidak, dia jujur. Aku berani bersumpah dia seorang yang lugu dan karena itulah aku tertarik pada kasus ini." jawab Rani.


"Tolong carikan kereta api yang menuju Polgarwith, kak Saga." sambung Rani.


"Baiklah!" ucap Komisaris Saga yang kemudian menelepon petugas stasiun kereta api.

__ADS_1


***


Kereta api paling nyaman hari itu adalah kereta api pukul 13.50 dari Paddington, yang tiba di Polgarwith.


Pukul 19.00. Perjalanan itu biasa saja, dan Rani harus bangun dari tidur siang yang nyenyak karena cahaya yang menyorot peron stasiun kecil yang suram. Rani dan komisari Saga mengangkut koper-koper mereka harus ke Hotel Duchy.


Setelah bersantap sedikit, Poirot mengusulkan agar setelah makan malam kami mengunjungi orang yang mereka cari.


Rumah keluarga Pengelley terletak sedikit menjorok dari jalan, dengan kebun model kuno di depan rumah. Bau tanaman stock (tanaman yang digunakan untuk okulasi) dan mignonetta (tanaman berbunga kecil-kecil, harum, dan berwarna putih kehijauan) wangi diembus sepoi angin malam.


Kelihatannya mustahil ada kekejaman di dalam 'Dunia Kuno' yang indah ini. Poirot membunyikan bel dan mengetuk pintu. Karena tidak ada jawaban, ditekannya lagi bel pintu. Kali ini, setelah sunyi sejenak, pintu dibuka oleh pelayan yang penampilannya sama sekali tidak rapi. Kedua matanya merah dan dia bersin terus-menerus.


"Kami ingin bertemu dengan Nyonya Pengelley," kata komisaris Saga yang menjelaskan pada saat pintu utama itu terbuka.


"Boleh kami masuk?" tanya Rani.


Pelayan itu terbelalak. Dengan terus terang ia menjawab, "Kalau begitu, apakah Anda belum mendengar, Nyonya Pengelley sudah meninggal. Petang ini, kira-kira setengah jam yang lalu." jawab pelayan itu.


Komisaris Saga dan Rani berdiri memandang pelayan itu dengan terpaku.


"Apa yang menyebabkan kematiannya?" tanya Rani membuka suara.


"Ada beberapa hal yang ingin saya dikatakan," kata pelayan itu pelayan itu memandang komisaris saga secara sekilas.


"Kalau saja ada seseorang di rumah ini yang menemani Nyonya, saya akan segera mengepak koper saya dan pergi malam ini juga. Tetapi, saya tidak akan meninggalkan Nyonya dalam keadaan tidak bernyawa, tanpa seorang pun di sisinya. Tidak pada tempatnya saya mengatakan sesuatu dan saya tidak akan mengatakan apa-apa." kata pelayan itu yang menjelaskan.


"Namun, semua orang tahu. Kabar ini telah tersiar ke seluruh kota. Seandainya Radnor tidak melapor ke Sekretaris Urusan Rumah Tangga, orang lain akan melakukannya. Dokter boleh mengatakan apa yang disukainya." sambung pelayan itu.


Komisaris Saga dan Rani saling pandang, dan kemudian pelayan itu melanjutkan kembali ceritanya, dan kembali keduanya menyimak cerita pelayan itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2