
Sebelum menutup pintu kamar mandi, Rani menyempatkan melihat kekasihnya sekali lagi yang terasa aneh baginya.
"Apa lagi? apa mau aku mandikan juga....!'' bentak Sersan Saga saat tahu Rani memperhatikannya dibalik pintu kamar mandi.
"Huft! Kenapa sih dia seperti marah begitu?" gumam Rani seraya menghela napasnya.
Rani segera menutup pintu kamar mandi. Rani menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan, lalu dengan segera .enuju ke bak mandi dan melakukan ritual mandinya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Rani segera keluar dari kamar mandi dan mulai berhias, karena penampilannya kali ini adalah sebagai Rana.
Rani sudah mahir memoles wajahnya, dia bukan lagi Rani si cupu. Tapi Rana si Cantik.
"Saya sudah siap kak!" kata Rani sambil mengambil tas kecilnya dan ponselnya.
"Kamu duluan!" seru Sersan Saga. Dan mereka pun keluar kamar dan menuruni tangga.
"Bibi! kami mau ke rumah sakit ya!" pamit Rani.
"Iya Non, hati-hati!" jawab si bibi asisiten rumah tangga keluarga Wibowo.
"Iya Bi,..!" balas Rani yang segera keluar rumah dan menuju dimana sepeda motor Sersan Saga terparkir.
Selama dalam perjalanan, Sersan Saga hanya diam saja. Hal ini membuat Rani gelisah.
"Kak berhenti di taman sebentar ya. Rani kepingin es krim." pinta Rani. Tapi tak mendapat jawaban dari Sersan Saga.
Rani pun menghela nafas panjang. Kemudian Rani menelpon seseorang, dipasangnya headsetnya.
"Hallo paman, ini Rani keponakan tercinta! he...he....!" kata Rani saat ponsel tersambung.
Tak sengaja Sersan Saga mendengarkan suara Rani.
"Paman! Rani sudah dapat kuncinya, sekarang tinggal mencari Baskoro. Rani kesulitan mencari Info tentang Baskoro, tapi kak Radit sekarang baru sakit Paman,Rani mau pulang paman. Kakek mana paman? Kakeeeek Rani ingin pulang, Rani kangen Kakeeeek...! Kakek apa punya murid namanya Saga?....pernah? apa orangnya jutek, suka marah-marah nggak jelas git...,"
Belum sempat selesai bicara, tiba-tiba Sersan Saga memberhentikan laju sepeda motornya secara mendadak.
Namun kali ini Rani sudah mengantisipasinya, agar tak memeluk polisi itu.
"Nanti disambung lagi ya Kek.!" seru Rani yang segera menutup telponnya.
Sersan Saga menghentikan motornya tepat di taman pinggir jalan yang biasa mereka ketemuan.
"Kebiasaan kalau berhenti mendadak....!" gerutu Rani.
"Turun...! Kata ya kepingin es krim? Jadi tunggu apa lagi? Lekas turun!" seru Sersan Saga.
__ADS_1
"Iya+iya-iya....!" gerutu Rani lagi, dan terlihat raut wajah kesalnya.
"Katanya mau Es krim, jadiduduk disana!" perintah Sersan Saga.
"Iya kak Saga yang jutek!" seru Rani yang terus melangkahkan kakinya menuju ke bangku yang dimana mereka pernah duduk.
Sementara itu Sersan Saga segera melangkahkan kakinya menuju ke tukang es Krim yang biasa mangkal di tempatnya.
Sersan saga sengaja membeli satu es krim dan kemudian melangkahkan kakinya .enuju ke arah dimana Rani duduk.
"Kok cuma beli satu kak?" tanya Rani saat melihat Sersan Saga hanya membeli es krim cuma satu.
"Yang mau es krim kan cuma kamu, aku baru nggak selera." kata Sersan Saga saat memberikan es krim pada Rani.
"Terima kasih." kata Rani yang menerima es krim itu dan segera membuka lalu memakannya.
Sersan Saga menatap Rani dengan pandangan serius.
Merasa di awasi Sersan Saga, Rani menuadi salah tingkah. Dia pun merubah posisi duduknya dengan membelakangi Sersan Saga.
Tiba-tiba Sersan Saga memeluk Rani dari belakang. Semakin erat membuat Rani tak bisa bernafas, Rani pun terbatuk-batuk jadinya.
"Huk..Hukk...! lepaskan...!" kata Rani.
"Maaf aku tak dapat menahan rasa rinduku..!" kata Sersan Saga saat melepaskan pelukannya.
Tiba-tiba Sersan Saga memakan semua es krim yang dibawa Rani.
"Katanya nggak mau?" tanya Rani sedikit mengerutkan kedua alisnya.
"Sayang kan kalau meleleh!" seru Sersan Saga seraya menatap Rani, dan gadis itu tak dapat pungkiri pesona tatapan laki-laki tampan dihadapannya itu.
Keduanya bergantian makan es krim dan dengan cepat es krim itu habis,
"Dah habis, cuci tangan yuk!" ajak Sersan Saga.
Rani pun mengikuti dari belakang ke tempat air mancur mini di sekitar taman, dimana tempat kemarin dia mencuci tangannya.
Setelah mencuci tangan dan mukanya, Sersan Saga mencoba mengutarakan isi hatinya.
"Rani sayang, ma'af jika kak Saga marah sama kamu. Tadi kak Saga dapat surat dari pusat." kata Sersan Saga sambil memberikan Rani sebuah surat.
Rani segera membuka dan membacanya, sambil berjalan perlahan menuju kursi yang di dudukinya tadi.
"Apa? kak Saga dipromosikan menjadi Inspektur? Untuk menggantikan Inspektur lama yang akan pensiun tiga tahun nanti? hebat dong kak!" seru Rani yang mengulas senyumnya menatap Sersan Saga.
__ADS_1
"Iya, tapi kakak harus meninggalkanmu selama tiga tahun. Kakak harus menumpas peredaran Narkoba di kota Sebrang, seperti yang Walikota memberi ancaman kepadaku semalam." kata Sersan Saga.
Semalam Walikota mengancam Sersan Saga, karena sebelumnya walikota sudah mengetahui hal kebaikan pangkat Sersan Saga dari saudaranya yang bertugas di kepolisian pusat.
"Tiga tahun? tanpa kak Saga, apa aku sanggup?" kata Rani dalam hati.
"Sedangkan kakak sendiri sehari tak mengantar dan menjemputmu sekolah, rasanya tak menentu. Kak Saga ingin selalu tahu kabar kamu tiap harinya!" gumam Sersan Saga.
"Rani juga merasa begitu kak." balas Rani yang juga bergumam.
"Ini kesempatan kakak tapi apa kakak sanggup berpisah dengan dari kamu selama tiga tahun." kata Sersan Saga dengan lirih, dia saat ini menghadapi perasaan dilema.
"Kak Saga, Rani juga nggak sanggup berpisah dengan kakak. Tapi Rani juga nggak mau menjadi penghalang kak Saga dalam promosi ini. Ini adalah kesempatan kakak untuk melanjutkan karier kakak." kata Rani yang berusaha mencari solusi walaupun hatinya yang juga dilema.
Sersan Saga menghela napasnya dan menatap Rani secara dalam-dalam.
"Kakak kan janji menikahi Rani tiga tahun lagi, anggap saja ujian cinta kita. Iya kan kak?" lanjut Rani yang berusaha untuk tersenyum.
Sersan Saga memegang tangan Rani, dan terus menatapnya.
"Ujian cinta kita, janji jaga cinta kita dan saling menguatkan cinta kita!' kata Sersan Saga.
"Rani janji akan menjaga dan menguatkan cinta kita. Rani akan menunggu kakak, Rani ingin jadi istri kakak." janji Rani;yang membalas tatapan Sersan Saga.
"Kakak juga akan menjaga dan menguatkan cinta kita, kakak juga ingin menjadi suami kamu, sayang" janji Sersan Saga yang keduanya saling tatap secara intens.
Sersan Saga mencium kening Rani, dan Rani pun mencium kening Sersan Saga.
"Kapan kakak berangkatnya?" tanya Rani.
"Minggu depan kakak berangkat." jawab Sersan Saga.
"Sebelum berangkat, bisakah kita berkunjung ke lereng gunung bersama-sama? kebetulan sekolah Rani libur seminggu." pinta Rani.
"Boleh, kakak juga rindu kakek Darma. Sekalian kakak mau minta restu beliau." kata Sersan Saga. Dan mereka pun saling tersenyum.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...