Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
RANCANGAN KAPAL SELAM


__ADS_3

"Kotak permen coklat itu! Apakah engkau tidak melihatnya? Apakah orang yang penglihatannya normal akan membuat kesalahan seperti itu" Aku tahu Madame D?roulard menderita katarak - obat tes atropin itu yang menjadikan aku tahu. Hanya satu orang dalam rumah itu yang penglihatannya sedemikian jeleknya sehingga tidak dapat melihat tutup kotak mana yang seharusnya dipasangkan. Kotak permen coklat itu yang membawaku ke awal jejak. Tapi, sampai pada akhirnya aku malah tidak merasakan kepentingannya!"


"Selain itu, psikologiku meleset. Kalau M. de Saint Alard pembunuhnya, ia tidak akan menyimpan botol yang akan memberatkannya. Waktu menemukan botol itu ada padanya malah membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Dari Mademoiselle Virginie aku tahu bahwa ia pelupa sekali. Begitulah peristiwa menyedihkan yang telah kuceritakan kepadamu ini. Hanya kepadamu kuceritakan kisah ini. Engkau mengerti, dalam kasus ini aku bukan tokoh yang baik. Seorang perempuan tua melakukan pembunuhan secara amat sederhana dan cerdik, sehingga aku, Hercule Komisaris saga saga, tertipu mentah-mentah! Sapristi! Tak tahan aku memikirkannya! Lupakan saja. Atau, tidak - ingatkanlah kapan saja menurutmu aku mulai sombong - kelihatannya tidak, tapi mungkin saja itu terjadi." Kusembunyikan senyumku.


"Nah, Sobat, engkau harus mengatakan 'kotak permen coklat'. Setuju?"


"Setuju."


"Bagaimanapun juga," kata Komisaris saga saga sambil merenung,


"ini pengalaman! Aku, yang tidak diragukan lagi berotak paling cemerlang di Eropa saat ini, boleh menjadi rendah hati!" "Kotak permen coklat," bisikku lembut.


"Apa, Sobat?" tanya Rani yang memandang wajah Komisaris saga yang lugu pada waktu ia mencondongkan badannya ke depan untuk mengetahui apa yang kukatakan.

__ADS_1


Hati Rani tersentak. Berulang kali sudah aku menderita karena dia. Dan aku, biarpun tidak mempunyai otak terbaik di Eropa, bisa lebih rendah hati!


"Tidak apa-apa," kataku berbohong. Kunyalakan pipa lagi sambil tersenyum kepada diriku sendiri. Sepucuk surat diantar oleh utusan khusus. Kegembiraan dan rasa tertarik terbayang di kedua mata Komisaris saga sewaktu ia membaca surat itu. Dengan singkat, disuruhnya utusan itu pergi lalu dibalikkannya kepalanya kepadaku. "Cepat siapkan satu tas, Sobat. Kita akan ke Sharples." Aku beranjak begitu mendengar nama tempat terkenal di luar kota milik Lord Alloway, Ketua Kementerian Pertahanan yang baru saja dibentuk itu. Lord Alloway adalah anggota kabinet yang terkenal. Sebagai Sir Ralph Curtis, pimpinan sebuah perusahaan rekayasa, beliau meninggalkan nama baik sebagai anggota Majelis Tingkat Rendah dan kini tengah ramai dibicarakan sebagai tokoh masa depan yang paling mungkin diminta untuk menjadi Perdana Menteri jika isu-isu yang beredar sehubungan dengan kesehatan David MacAdam terbukti benar. Di bawah sebuah Rolls-Royce besar menunggu. Sementara mobil meluncur dalam kegelapan, aku menghujani Komisaris saga dengan pertanyaan-pertanyaan. "Apa gerangan yang mereka inginkan dari kita malam-malam begini?" tanyaku menuntut jawab. Waktu itu sudah pukul 23.00 lewat. Komisaris saga menggeleng.


"Sesuatu yang mendesak mestinya." "Aku ingat," kata Ranilagi,


"beberapa tahun yang lalu terjadi skandal yang kurang menyenangkan tentang Ralph Curtis - dulu ia masih memakai nama itu - karena ia dituduh memanipulasi saham. Akhirnya terbukti ia sama sekali tidak bersalah. Mungkinkah kasus seperti itu terulang lagi?"


"Kan tidak perlu ia memanggilku tengah malam begini, Sobat." Terpaksa aku menyetujui kata-katanya. Sisa perjalanan berlalu tanpa pembicaraan apa pun. Begitu keluar dari London, mobil yang kuat itu melesat sehingga kami tiba di Sharples dalam waktu kurang dari satu jam. Dengan sikap angkuh dan berkuasa seorang pelayan laki-laki langsung mengantar kami ke kamar kerja kecil, tempat Lord Alloway menunggu kami. Ia muncul memberi salam - seorang laki-laki bertubuh kurus dan tinggi, yang kelihatannya benar-benar memancarkan kekuasaan dan vitalitas.


"Paling tepat dikatakan demikian. Sir Harry dan saya - oh, biarlah saya memperkenalkan kalian - Laksamana Sir Harry Weardale, perwira utama angkatan laut kita - M. Komisaris saga dan satunya - saya ingat-ingat sebentar, Saudari "


"Rani " Rani menimpali.

__ADS_1


"Sudah sering saya mendengar tentang Anda, M. Komisaris saga," kata Sir Harry sambil berjabat tangan.


"Kasus kami ini masih gelap sekali. Kalau Anda dapat memecahkannya, kami akan sangat berterima kasih kepada Anda." Segera aku menyukai laksamana itu. Pelaut yang kasar tetapi jujur lagi ramah, benar-benar tipe konvensional. Komisaris saga memandang keduanya dengan pandangan minta penjelasan dan Alloway menceritakan permasalahannya.


"Tentunya Anda tahu bahwa semua ini sangat rahasia, Poirot. Kami baru saja kehilangan sesuatu yang amat penting. Rancangan kapal selam tipe Z yang baru telah dicuri."


"Kapan itu terjadi?"


"Malam ini - belum lewat tiga jam yang lalu. Mungkin Anda bisa memahami keseriusan bencana ini. Kejadian ini tidak boleh disebarluaskan. Ini prinsip. Saya jelaskan faktanya sesingkat mungkin. Tamu saya akhir pekan ini adalah Laksamana - orangnya ada di sini - istrinya, putranya, dan Nyonya Conrad, yang dikenal luas di kalangan masyarakat London. Yang wanita pergi tidur sore-sore - kira-kira pukul 22.00; begitu juga Leonard Weardale. Sir Harry berada di sini antara lain untuk mendiskusikan konstruksi kapal selam tipe baru ini dengan saya. Oleh karena itu, saya minta Fitzroy, sekretaris saya, untuk mengeluarkan rancangan-rancangan kapal selam dari lemari besi di sudut sana untuk dipersiapkan. Begitu pula dokumen-dokumen yang berhubungan dengan rancangan kapal selam ini. Sementara Fitzroy melaksanakan tugasnya, saya dan Laksamana berjalan-jalan di teras; mengisap cerutu sambil menikmati udara bulan Juni yang hangat. Selesai mengisap cerutu dan mengobrol, kami memutuskan untuk mulai bekerja. Tepat pada waktu kami membelok di ujung teras sebelah sana, rasanya saya melihat sesosok bayangan keluar dari jendela Prancis di sini, melewati teras dan menghilang. Bagaimanapun juga, saya tidak terlalu memperhatikan. Saya tahu Fitzroy ada di ruangan ini dan tidak terpikirkan kalau mungkin telah terjadi ketidakberesan. Di sinilah salah saya. Well, kami melangkah sepanjang teras lalu masuk dari jendela persis pada waktu Fitzroy masuk dari gang. "'Sudah kaukeluarkan semua yang mungkin kami perlukan, Fitzroy"' tanya Rani.


"'Saya kira sudah, Lord Alloway. Semua berkas ada di atas meja tulis Tuan,' jawabnya.


"Kemudian ia mengucapkan selamat malam kepada kami. "

__ADS_1


'Tunggu sebentar,' kata saya sambil berjalan menuju meja tulis.


'Mungkin ada yang masih saya perlukan yang belum saya sebutkan.'


__ADS_2