
Ternyata merupakan sobekan resep, berisi digitalin. Dimasukkannya kertas itu ke sakunya, dengan maksud mengembalikannya kepada Nyonya Clapperton nanti.
"Memang," lanjut laki-laki tua itu,
"perempuan beracun. Saya ingat seorang wanita seperti dia di Poona. Waktu itu tahun '87."
"Ada yang mengapaknya?" Komisaris Saga bertanya.
Laki-laki tua itu menggeleng sedih.
"Perempuan seperti itu membunuh suaminya secara perlahan-lahan. Clapperton sebenarnya harus mempertahankan haknya. Ia terlalu menuruti kemauan istrinya."
"Wanita itu yang memegang kendali keuangan," ujar Komisaris Saga serius.
"Ha... ha... ha!" laki-laki tua itu terbahak-bahak.
"Anda mengungkapkan masalah ini dalam kata-kata yang paling singkat. Memegang kendali keuangan. Ha... ha... ha...!" Dua orang gadis masuk ke ruang merokok. Yang satu berwajah bulat dan berbintik-bintik.
Rambutnya yang gelap terjulur keluar tidak karuan karena embusan angin. Yang lain wajahnya berbintik-bintik dan rambut ikalnya berwarna coklat kemerahan.
"Penyelamatan - penyelamatan!" seru Kitty Mooney.
"Saya dan Pam akan menyelamatkan Kolonel Clapperton."
"Dari cengkeraman istrinya," Pamela Cregan menyambung sambil terengah-engah.
"Kami berpendapat dia itu binatang peliharaan..."
"Dan perempuan itu mengerikan - ia tidak akan membiarkan suaminya berbuat apaapa," seru kedua gadis itu.
"Kalau sedang tidak bersama istrinya biasanya ia direbut oleh perempuan Henderson itu..."
"Yang betul-betul menyenangkan, tapi tua sekali..." Keduanya berlari ke luar, terengah-engah di antara gelak tawa mereka. "Penyelamatan - Penyelamatan..."
***
Bahwa usaha menyelamatkan Kolonel Clapperton bukan kelakar belaka melainkan rencana yang pasti, terbukti sore itu ketika Pam Cregan yang berumur delapan belas tahun itu menghampiri Komisaris Saga dan berbisik,
"Lihatlah kami, M. Komisaris Saga. Kolonel Clapperton akan kami tarik di depan hidung istrinya dan kami ajak jalanjalan di geladak kapal di bawah cahaya bulan."
Tepat pada waktu itu terdengar Kolonel Clapperton berkata,
"Rolls-Royce memang mahal, tapi mobil itu praktis bisa dipakai seumur hidup. Sekarang mobilku - "
__ADS_1
"Mobilku, John," suara Nyonya Clapperton terdengar nyaring dan tajam. Clapperton tidak menunjukkan rasa jengkel atas ketidaksopanan istrinya. Bisa jadi ia sudah terbiasa dengan sikap begitu atau ada alasan lain
"Atau ada alasan lain?" Komisaris Saga berpikir dan mulai menebak-nebak.
"Tentu saja, Sayangku, mobilmu," Clapperton membungkukkan badan ke arah istrinya dan menyelesaikan kalimatnya dengan ketenangan yang sempurna.
"Voil? ce qu'on appelle le pukka sahib," pikir Komisaris Saga.
"Tapi, Jenderal Forbes mengatakan Clapperton sama sekali bukan gentleman. Rani jadi bertanya-tanya sekarang."
Seseorang mengusulkan bermain bridge. Nyonya Clapperton, Jenderal Forbes, dan sepasang insan bermata tajam duduk untuk bermain. Nona Henderson sudah minta diri dan keluar menuju geladak.
"Bagaimana dengan suami Anda?" tanya Jenderal Forbes yang ragu-ragu.
"John tidak mau bermain bridge," Nyonya Clapperton menyahut.
"Menyebalkan sekali." Keempat pemain bridge itu mulai mengocok kartu. Pam dan Kitty maju menghampiri Kolonel Clapperton. Masing-masing menggamit satu lengan.
"Anda ikut kami," kata Pam,
"Ke geladak. Di sana kita bisa melihat bulan purnama."
"Jangan tolol, John," Nyonya Clapperton menegur.
"Tidak bila bersama kami," sahut Kitty.
"Kami hangat!" Kolonel itu berlalu bersama mereka sambil tertawa.
Komisaris Saga melihat bahwa Nyonya Clapperton mengatakan 'Tidak ada tawaran' sewaktu pertama kali mendapat kesempatan menawar. Komisaris Saga keluar, ke tempat berjalan-jalan di geladak.
Nona Henderson berdiri di dekat pagar besi, memandang sekelilingnya dengan penuh harap. Pada waktu mendekat untuk menjajarinya, Komisaris Saga melihat ekspresi kekecewaan di wajah perempuan itu. Mereka mengobrol sebentar. Ketika akhirnya Komisaris Saga berdiam diri, Nona Henderson bertanya,
"Apa yang Anda pikirkan?" "Saya mempertanyakan pengetahuan bahasa Inggris saya. Nyonya Clapperton mengatakan, 'John tidak mau bermain bridge.' Bukankah 'tidak bisa bermain' adalah istilah yang biasa dipakai?"
"Dia merasa terhina karena suaminya tidak bisa main, kukira," ujar Nona Henderson kering.
"Laki-laki tolol, mau menikah dengan perempuan seperti itu." Dalam kegelapan Komisaris Saga tersenyum. "Anda tidak berpikir mungkin saja perkawinan itu bahagia?" tanyanya malu-malu.
"Dengan perempuan seperti itu?" Komisaris Saga mengangkat bahu.
"Banyak perempuan menjengkelkan mempunyai suami yang setia. Ini salah satu teka-teki alam. Anda pasti mengakui bahwa tak satu pun yang dikatakan atau diperbuat istrinya kelihatannya menyakitkan hatinya."
Nona Henderson sedang memikirkan jawabnya ketika sayup-sayup terdengar suara Nyonya Clapperton dari jendela ruang merokok.
__ADS_1
"Tidak - saya tidak mau bermain satu kali lagi. Sesak sekali rasanya. Saya mau naik dan menghirup udara di geladak."
"Selamat malam," kata Nona Henderson
"Saya mau tidur."
Tergesa-gesa ia menghilang. Komisaris Saga masuk ke ruang duduk - yang hanya dipakai oleh Kolonel dan kedua gadis tadi. Sang Kolonel sedang memamerkan tipuan dengan kartu-kartu kepada kedua kawannya. Melihat keterampilan Kolonel itu mengocok dan memegang kartu-kartu, Komisaris Saga teringat akan cerita Jenderal Forbes tentang karier Kolonel di panggung gedung kesenian.
"Saya lihat Anda menyukai kartu meskipun Anda tidak bermain bridge," Komisaris Saga membuka suara.
"Saya punya alasan untuk tidak bermain bridge," sahut Clapperton sambil memamerkan senyumnya yang menawan.
"Akan saya tunjukkan kepada Anda. Kita akan bermain satu ronde." Cepat sekali dibaginya kartu-kartu itu. "Ambillah kartu-kartu Anda. Bagaimana?"
Ia menertawakan kebingungan yang terpancar di wajah Kitty. Diletakkannya kartunya. Yang lain berbuat demikian pula. Kitty memegang seluruh klaver. M. Komisaris Saga kartu bergambar hati, Pam wajik, dan Kolonel Clapperton sendiri sekop. "Anda lihat?" katanya.
"Seorang laki-laki yang bisa membagi kartu mana saja kepada pasangan dan musuh-musuhnya sebaiknya tidak ikut main. Kalau terusmenerus menang, hal-hal yang tidak menyenangkan mungkin bisa terjadi."
"Oh!" seru Kitty terengah-engah.
"Bagaimana Anda bisa melakukan ini" Segala sesuatunya kelihatannya biasa-biasa saja."
"Kecepatan tangan menipu mata," kata Komisaris Saga dengan penuh arti - dan ia menangkap perubahan ekspresi wajah Kolonel itu yang tiba-tiba. Seakan-akan Kolonel menyadari untuk sejenak ia telah lepas kontrol. Komisaris Saga tersenyum. Selama ini tukang sulap itu tampil dengan topeng pukka sahib.
***
Fajar keesokan harinya kapal sampai di Alexandria. Sewaktu Komisaris Saga selesai sarapan, dilihatnya kedua gadis itu siap turun ke pantai. Mereka berbicara kepada Kolonel Clapperton.
"Kita harus berangkat sekarang," Kitty mendesak.
"Orang-orang yang memeriksa paspor akan segera meninggalkan kapal. Anda turun bersama kami, kan" Anda tidak akan membiarkan kami ke pantai berdua saja" Mungkin saja ada kejadian buruk yang menimpa kami."
"Tentu saja saya tidak sependapat kalau kalian pergi sendiri," ujar Clapperton seraya tersenyum.
"Tapi istri saya belum tentu mau ikut."
"Sayang sekali," kata Pam.
"Tapi bukankah bisa istirahat panjang yang menyenangkan?" Kolonel Clapperton nampak agak bimbang - jelas keinginannya untuk pergi berjalanjalan sangat kuat. Ia melihat Komisaris Saga.
"Halo, Komisaris Saga - Anda mau turun ke pantai?"
"Tidak," jawab Komisaris Saga.
__ADS_1