Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Suasana di Hotel


__ADS_3

"Kurang ajar kau Sersan!" umpat Anton di sela-sel dirinya mengerang kesakitan.


Merasa temannya dalam bahaya dan pihaknya tersudut, Roy yang menyerang polisi dan pengawal kini dia semakin membabi buta.


"Dorr..!"


Tiba-tiba satu peluru bersarang di dada Roy,


"Aghh...!"


Suara erangan kesakitan Roy, laki-laki itu terkapar di lantai. Roy pun bersimbah darah.


Semua mata mencari tahu, siapa yang menembak tangan kanan Baskoro itu, Ternyata yang menembak si Roy itu laki-laki paruh baya yang di panggil pak tua oleh Rani yang tak lain adalah Walikota.


Semua dibuat kaget karenanya, karena semula Walikota itu memusuhi Rani dan yang lainnya, dan sekarang berpihak pada mereka.dua tangan kanan Baskoro terkapar di tangan dua petinggi kepolisian.


Sebagian anak buah geng Kobra yang selamat, melarikan diri dan yang lainnya masih terkapar ditempat.


Sania yang menyadari lengan kekasihnya menjerit histeris dan berlari memeluk Raditya.


Dio dan Lilian terduduk gemetar seluruh tubuhnya melihat begitu banyak darah dihadapan mereka.


Setelah melihat situasi yang terjadi, Sersan Saga segera menghampiri gadis bertopeng yang masih terduduk lemas di samping Sania yang memeluk Raditya.


Sersan Saga segera menarik lengan gadis bertopeng untuk menjauh dari tempat kejadian.


"A...apa yang kau lakukan, lepaskan!" teriak gadis bertopeng itu sambil meronta-ronta.


Kemudian Sersan Saga membisikan sesuatu di telinga gadis bertopeng.


"Cepat ganti samaran kamu, agar aku bisa memelukmu!" bisik Sersan Saga sambil tersenyum.


Setelah mendengar bisikan Sersan Saga, gadis bertopeng itu segera meraba wajahnya. Dia mendapati masih ada topeng di wajahnya.


Setelah sadar apa yang terjadi, Gadis bertopeng itu segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku ke toilet dulu, kak!" bisik Rani yang melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.


Sersan Saga menganggukkan kepalanya, kemudian segera menelpon ambulan dan juga rekan kerjanya.


"Sersan Alex cepat kamu ke hotel tempat ulang tahun putri Walikota, bawa serta beberapa anggota tim kamu. Sekarang juga!" Sersan Saga ternyata menghubungi temannya, Sersan Alex.


Setelah mendapat jawaban dari rekan kerjanya, Sersan Saga berjalan menghampiri Walikota guna mengetahui apa hubungan Walikota dengan geng Kobra.


Tapi belum sempat Sersan Saga menghampiri Walikota, petugas Ambulan telah sampai.


"Sania! kamu jaga Raditya. Aku akan cari dimana keberadaan Rana!" seru Sersan Saga, pada saat Raditya dibawa petugas Ambulan.


"Iya. Tapi tolong Dio diantarkan pulang. Besok dia ada ulangan!" pinta Sania.

__ADS_1


"Baiklah, jangan khawatir nanti biar diantar beberapa polisi." jawab Sersan Saga.


Sania pun segera masuk ke dalam Ambulan untuk menemani Raditya.


"Sersan Saga!" panggil seseorang yang baru masuk ke ruangan tempat kejadian.


"Hai Sersan Alex!" balas Sersan Saga sambil menjabat tangan Sersan Alex.


"Apa yang terjadi?" tanya Sersan Alex.


"Ceritanya panjang, yang jelas sekarang ini bagian anda, Anda urus dua orang tangan kanan Baskoro. Itu disana!" kata Sersan Saga sambil menunjuk pada Roy dan Anton yang terkapar, pingsan.


"Siap!" seru Sersan Alex yang kemudian melangkahkan kaki menghampiri kedua orang kepercayaan Baskoro itu.


"Kak Saga! dimana Kak Radit?" tanya seorang gadis yang baru saja masuk.


Sersan Saga yang mengenal pemilik suara, langsung mencari keberadaan sumber suara.


"Rana!" panggil Sersan Saga, setelah menemukan pemilik suara, Sersan Saga bergegas memeluk gadis itu.


"Kak Saga, Kak Radit baik-baik saja kan?" tanya Rani saat melepaskan pelukan Sersan Saga.


"Tenang saja, Radit sudah dibawa ke rumah sakit. Ada Sania yang menemaninya." kata Sersan Saga sambil mengusap air mata gadis pujaan hatinya itu.


Sekuat apapun fisik dan jurus silat Rani, tapi dia masih anak gadis yang labil. Gadis yang baru menginjak kelas satu Sekolah menengah Atas, yang belum bisa mengendalikan emosinya.


Hanya dengan menangislah dia meluapkan emosi dan kesedihannya saat ini. Pelukan Sersan Sagalah yang mampu mengobati perasaan hatinya saat ini.


"Kalian dua orang, tolong antarkan Dio pulang. Anak itu besok sekolah!" perintah Sersan Saga pada bawahannya, sambil memegang tangan Rani seolah tak mau lepas.


"Baik Sersan!" jawab dua orang polisi, yang kemudian menghampiri Dio yang masih shock.


"Paman Roy...paman Anton...! Kenapa semua ini terjadi pada kalian?" seru Dio yang meracau.


Dio menangis, kedua orang yang disebutnya itu adalah orang yang mengasuhnya sejak kecil.


Rani dan Sersan Saga saling berpandangan.


"Dio, yang tabah ya. Maaf aku tak bisa membantumu, kakakku juga terluka. Kamu yang kuat ya, jangan ada dendam. Karena dendam tak akan mengurangi masalah." kata Rani yang mencoba menghibur Dio dengan gaya Rana.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Dio pada Rani. Gadis pun itu terkejut.


"Hm..! apa mau aku beri tanda di pipimu ini!" seru Sersan Saga sambil menepuk pipi sebelah kiri Dio.


"Bercanda piss...!" seru Dio sambil menunjukan dua jarinya. Sersan Saga kemudian menurunkan tangannya.


Melihat kejadian itu, Rani pun tersenyum.


"Dasar Dio, dalam keadaan sedih pun masih sempat bercanda" batin Rani.

__ADS_1


"Cepat pulang sana!" perintah Sersan Saga pada Dio.


"Iya...iya.. dasar perjaka tua..!" jawab Dio sambil berlari menjauh.


"Apa kau bilang!" seru Sersan Saga, hendak mengejar Dio namun ditahan Rani.


Gadis itu menggelengkan kepalanya saat Sersan Saga menatap gadis pujaannya dan dia mengurungkan niatnya. Polisi itu menghela napasnya.


"Apa kamu sudah hubungi Tuan Wibowo?" tanya Sersan Saga pada Rani.


"Ya Tuhan belum Kak!" jawab Rani sambil mengambil ponsel dalam tasnya.


"Kalau begitu, segera hubungi mereka! Aku mau intrograsi Walikota." kata Sersan Saga yang menatap Rani.


"I...iya kak!" jawab Rani yang juga menatap polisi dihadapannya.


Kemudian Sersan Saga menghampiri Walikota yang sedang menenangkan putrinya. Bagi Lilian, ini ulang tahun terburuk yang dia alami.


Sementara itu Rani mengambil ponselnya dan mengotak-atik ponselnya, gadis itu segera menghubungi papa angkatnya.


"Sepuluh kali panggilan tak terjawab dari mama dan lima kali panggilan tak terjawab dari bibi? sepertinya ada yang tidak beres?" gumam Rani yang kebingungan.


Kemudian Rani mencoba untuk menelpon nyonyag Lani.


"Halo ma ini Rani...ada apa Ma? iya..iya baik Rana juga mau pulang....ya..tapi aku sendirian Ma...kak Radit kena tembak Ma...ma...mama!"


"Tuuutt...tuuutt.....turut....!"


Sambungan pun tiba-tiba terputus.


Batapa kesalnya hati Rani, yang sejak tadi mengumpat tak karuan.


Nun jauh di sana, nyonya Lani pingsan setelah mendengar kabar dari Rani.


Kemudian gadis itu menghampiri Sersan Saga yang masih memeriksa keadaan Walikota.


"Ada apa?" tanya Sersan Saga yang menoleh ke arah Rani.


"Belum tahu, tiba-tiba tidak terdengar suara mama." jawab Rani dengan wajah sendu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


.


__ADS_2