Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Akhir Kisah


__ADS_3

Malam semakin merangkak. Tidak banyak yang dibicarakan kedua pemuda itu.


Tetapi hati masing-masing diri kepada Yang Maha Kuasa. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan liar, saling


Tetapi hati masing-masing telah penuh dengan ceritera hidup dan masa datang.


"Adikku siapa yang menganiayamu menurut perkiraanmu."


Malangyuda menggelengkan kepala.


"Adakah mereka dari Watu Gong."


"Masa mereka mengetahui kita ada di sini."


"Setiap nama padepokan ada pada tangan mereka."


"Kalau demikian, aku menyusahkan bapak." Danang Seta tidak menjawab.


"Tidakkah sebaiknya aku menyingkir dari sini kakang?" Danang Seta


menggelengkan kepala. Baginya tidak ada artinya.


Ki Pudak Kuning, Karang Seta dan kedua gadisnya mengawasi apa yang sedang dilakukan Danang Seta terhadap Malangyuda. Mereka terharu.


"Adikku marilah." Ajak Danang Seta. Seperti seorang anak kecil, Malangyuda berdiri dan menuruti Danang Seta pergi. Kedua pemuda itu menuju persamadian.


"Ia telah kembali dari kesesatan." Kata Ki Pudak Kuning. Guru itu memejamkan matanya, ia bersyukur. Waktu matanya membuka kembali, katanya,


"Hanya pada Yang Maha Kuasa satu-satunyalah sembah kita sampaikan."


Kokok ayam jantan mulai terdengar. Obor-obor di halaman padepokan semakin menyala terang, sedang embun sudah terasa membasahi daun talas. Kapok randu mulai


pecah kelopak pembungkusnya. Masa dingin amat sangat, lebih-lebih di daerah pegunungan.


Waktu fajar menyingsing, kedua pemuda itu baru keluar dari tempat samadi. Cepat-cepat mereka pergi ke sungai membersihkan badan. Keadaan sepi, keduanya menyangka tidak seorang yang mengetahui apa yang mereka lakukan semalam panjang itu.


Bersamaan dengan kicau burung menyambut munculnya matahari pagi, mereka pulang menuju padepokan. Di pendapa telah tersedia wedang jahe dengan ketela. Di sana duduk Ki Pudak Kuning dan Karang Seta menunggu kedatangan mereka.


"Rupa-rupanya semalam suntuk kalian menikmati alam luas." Kata Ki Pudak


Kuning, setelah melihat kedua pemuda itu memasuki pendapa.


"Tidak bapak, pagi ini kami dari kali."


"Cukup istirahat kalian? Sudah pulih kepenatan kalian." Kedua pemuda itu tersenyum. Malangyuda tersenyum dengan berkata, "Sudah lebih dari pada cukup bapak."


Setelah mereka duduk, semangkuk wedang jahe dan beberapa potong ketela telah masuk ke perut, barulah mereka mulai membicarakan sesuatu.


"Adakah kalian mendapatkan tanda-tanda tamu kita malam tadi?"


Semuanya tunduk.


"Mereka telah memulai dengan membuntuti perjalanan kalian. Atau barangkali


mereka sedang menyebar anak buahnya untuk menyelidiki kemana pergi kalian. Di samping itu mereka pasti mendakwa, bahwa Singalangu dalam luka parah karena tangan


Beberapa orang saja. Pendapat ini wajar, sebab untuk menandingi Singalangu memang hanya beberapa orang. Tidak lebih dari selusin." Kata Ki Pudak Kuning memulai pembicaraannya.


"Kau merasakan tangan Welut Kuning, atau Wadas Lumut?" Malangyuda tertegun.


"Di Watu Gong, hanya tinggal Singalangu dalam luka parah. Simo Barung Muda dan barangkali Banyaksangar. Sebenarnya mereka belum dapat dikatakan menyatukan


diri kalau tidak ada kepentingan masing-masing. Simo Barung itu meminta pertolongan


Singalangu untuk mengacaukan keadaan. Sebaliknya kalau Singalangu dapat dihancurkan, ia akan kehilangan seorang lawan-lawannya dalam menguasai


keberandalannya berkurang seorang lagi."


"Apa yang harus kita lakukan bapak?" Tanya Malangyuda.


"Kepercayaan yang sesat itu harus dihancurkan."


"Aku bersedia menjadi bantennya bapak." Sambung Malangyuda.


"Dan ketahuilah. Kubur pamanmu Wukirpati terbongkar."


Semua yang ada di tempat itu seperti disambar petir di siang bolong. Tak seorangpun yang mengetahui gurunya sedang menyimpan suatu rahasia.


"Kapan hal itu terjadi guru?" Tanya Danang Seta.


"Dua pasar yang lalu."


"Gila. Penghinaan." Gumam Danang Seta.


Sebaliknya Malangyuda menggigil. Keringat dingin membasahi tubuhnya.


Mulutnya komat kamit, tetapi tidak sepatah katapun terucapkan. Tangannya menyapu muka.


"Bapak pastilah lurah Singilangu yang membongkarnya"


"Kau mengetahuinya anakku?"


Dua pasar yang lalu, sebuah kerangka dibawanya naik ke gua Watu Gong menjelang dini hari. Kebetulan aku terbangun dari tidur dan melihat hal itu aku berpurapura tidur pulas. Sebab kalau mereka mengetahui aku melihatnya, aku dibunuhnya dengan siksa."


"Dilakukan seorang diri?"


"Tidak. Ki Singalangu, Banyaksangar dan macan betina."


"Luh Sari maksudmu?" Malangyuda mengangguk.


"Baiklah. Malam nanti kita mengambilnya kembali."


"Penjagaan mereka diperkuat bapak."

__ADS_1


"Kita pergi dengan bantuan beberapa pendekar aliran putih."


Matahari sudah sepenggalah, mereka menyelesaikan pekerjaan sendiri-sendiri.


Yang mencangkul pergilah mereka ke ladang. Yang menangkap ikan untuk dijual pergilah mereka ke tambak. Sedang beberapa orang gadis pergi menjemur padi. Danang Seta dan Malangyuda pergi memanjat kapok randu yang pecah pecah.


Demikian pada sore hari mereka mempersiapkan diri untuk perjalanan yang agak jauh itu. Kuda-kuda tunggangan dan perbekalan. Perjalanan itu dipimpin oleh Ki Pudak


Kuning sendiri. Dan dibagi dalam dua rombongan yang sudah saling bersetuju.


Hari berganti malam. Dan pada menjelang matahari menyembunyikan diri mereka telah sampai di telatah Watu Gong.


Mereka dengan cara-cara yang telah ditentukan, ada yang menjadi seorang pedagang, ada yang mencari pekerjaan, ada pula yang menjadi seorang kuli angkutan


memenuhi kesibukan pasar di telatah Watu Gong.


Baru saja mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tiba-tiba 


Masing-masing, tiba-tiba beberapa orang berkuda melanda tengah pasar. Cepat orang-orang menyibakkan diri. Bahkan ada


beberapa yang meninggalkan dagangannya menghindari tendangan kaki kuda.


"Hai, adakah hari ini pasaran?" Tanya penunggang kuda.


"Benar tuan. Bukankah hari ini wage."


"Hem. Kalau begitu aku salah hitung." Berkata demikian dengan meloncat turun, Yang lainnya mengikuti pula.


Mereka kemudian menariki sebagian barang dagangan yang ada di tempat itu.


Seorang yang mengangkat barang secara tidak sengaja menumbuk penarik barang-barang itu. Ia telah berusaha menghindari, bahkan pemikul itu telah diam berhenti.


Tetapi penarik barang itu kalap karena melihat banyak barang-barang memenuhi pasarnya dan keserakahan telah menguasai diri, sehingga ia tidak melihat bahwa di depannya berhenti seorang yang memikul barang.


"Bangsat! Dimana matamu?" Bentak penarik barang-barang itu.


"Ampun tuan, aku telah berhenti."


"Kau tidak bisa menyingkir?"


"Ampun. Yang kupikul terlampau berat tuan."


"Aku tidak perduli. Pasar ini kekuasaanku, bangsat!" Habis berkata demikian, segera ia menarik cambuknya dan menghajar orang itu.


Malang yuda yang sudah berubah muka karena dihitamkan akan segera menghajar penarik barang-barang itu. Tetapi dengan cepat Danang Seta menggamit melarangnya.


Malang yuda terperanjat. Cepat Danang Seta membisiki, "Tak usah kau membantunya."


"Tubuhnya babak belur kakang."


"Kau lihat saja."


Orang yang dicambuk semakin maju mendekati pencambuk itu, demikian


Pencambuk itu menjerit lalu jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Beberapa pengendara kuda lainnya akan lari meninggalkan tempat itu. Dengan cepat seorang demi seorang


dirangsang dan dirobohkan.


Tinggal lagi dua orang. Waktu akan menghentakkan kekang kudanya, sebuah tali direntangkan.. Keduanya jatuh tersungkur sedang kudanya


meringkik ringkik.


Semuanya yang berjumlah delapan orang itu diikat. Sedang kuda-kudanya disembunyikan pada suatu tempat.


"Gila, siapa kalian sebenarnya?" Tanya salah seorang.


"Apa perlumu bertanya?"


Semuanya menjadi terpaku. Mereka jadi mengerti bahwa pasar yang tiba-tiba saja menjadi ramai pada sore hari itu adalah jebakan untuk mereka.


"Kalian akan dihancurkan oleh ki Lurah Singalangu."


"Lurahmu hampir mampus."


Betapa marahnya delapan orang


Betapa marahnya delapan orang itu. Tetapi mereka sudah tidak dapat berbuat lain,


kecuali menuruti perintah yang mengikatnya menjadi satu. Bahkan bergerakpun mereka merasa sakit.


Menjelang tengah malam, dua rombongan penyerang itu segera menjalankan tugasnya.


Sesampainya di dataran yang luas dan harus menyeberanginya, mereka mencari jalan sambil melekatkan tubuhnya pada dinding padas, sebab di dekat pintu gerbang ada


beberapa orang yang menjaga. Pintu itu dapat mereka lalui dengan selamat.


Waktu itu rombongan yang dipimpin oleh Danang Seta telah sampai di halaman belakang, sedang yang dipimpin oleh Ki Pudak Kuning sudah melintasi dataran luas.


Demikian mereka sampai di halaman gua segera membakar pintu gua itu dengan mempergunakan jeramijerami yang banyak bertumpuk di situ.


Api telah menjilat keudara. Yang dipimpin oleh Danang Seta segera masuk ke ruang pemujaan, dan mengambil peti yang baru dua pasar masuk di tempat itu. Bahkan di atas peti masih kelihatan bekas darah makin mengering. Peti itu dibawa keluar pada saat di depan sedang hiruk pikuk karena terbakar.


Simo Barung Muda bersama Wadas Lumut meloncat melalui pintu belakang dan sampai pada halaman.


"Cepat. Apa perlunya membantu mereka. Kita pulang."


"Bagaimana perjanjian kita angger?"


"Hmm. Tak usah diricuhkan. Masih banyak orang seperti Singalangu. Kita menanti mereka diluar kejadian ini."


Habis berkata demikian mereka meloncat lari dan menghilang.


Danang Seta dan Malangyuda tak mengejarnya. Peti tempat kerangka pamannya harus disembunyikan terlebih dahulu. Mereka telah mengetahui kelicikan yang tersembunyi di balik wajah yang ganteng itu.

__ADS_1


Cepat Danang Seta meloncat menuju halaman gua sebelah depan. Malangyuda mengikuti di belakangnya. Ternyata terjadi pertarungan beberapa lingkaran. Malangyuda segera masuk gelanggang. Hatinya sedang terbakar pada saat ia menemukan dirinya.


"Pudak Kuning, apa urusanmu dengan aku." Kata Singalangu.


"Aku mengambil kembali hakku yang kau curi."


"Ini!" Habis berkata demikian Singalangu menyerang.


"Pedangmu tidak setajam mulutmu yang usilan itu." Singalangu menyerang dengan menggunakan pedang yang berukuran besar. Di pinggangnya masih terselip belati


panjang berhulu singa yang menganga dengan kedua taringnya. Itulah tanda kebesaran


yang diandalkannya.


"Hai, Pudak Kuning kau berani mendaki gua Watu Gong, adakah mempunyai nyawa rangkap?"


"Rangkap atau tidak bukan urusanmu."


"Akupun bukan manusia yang mengenakan kemben."


"Tetapi watak dan tabiatmu tidak berbeda." Kata Pudak Kuning.


Mana mungkin Singalangu menerima hinaan demikian. Cepat ia hinaan demikian. Cepat ia melontarkan, pedangnya mengarah kepala. Pudak Kuning cepat meloncat, kemudian bersiaga serta


menyerang lambung.


"Kau ternyata bukan laki-laki Singalangu. Kepada macan betinamu kau berada di


telapak kakinya."


"Bangsat!"


Berkata demikian dengan menusukkan pedangnya. Cepat pula Ki


Pudak Kuning melenting tinggi. Di atas kepala ia berjumpalitan kemudian menghantam kepala. Singalangu yang masih luka parah mana mungkin melawan dengan mengejar, yang seorang seperti burung sikatan sedang yang lain seperti burung rajawali yang


tangguh, namun akhirnya tampak Singalangu batuk-batuk dan makin terdorong ke sudut.


Macan betina mengkhawatirkan keadaan suaminya, cepat ia meloncat dengan membabatkan pedangnya. Ki Pudak Kuning yang mempunyai ketajaman indera, cepat


membungkukkan tubuhnya. Sebaliknya Singalangu menyangka akan mendapat serangan


bawah dari Ki Pudak Kuning segera meloncat tinggi.


Gerakan ini dilakukan hampir


bersamaan, waktunya pedang macan betina membabat perut Singalangu. Darah menyembur disertai jerit yang mengerikan.


"Mengapa kau tidak memberitahukan Nyai?"


"Oh. Kau kakang. Aku tidak sengaja." Singalangu dengan pandang tajam sambil menelan ludahnya, ia sempoyongan mencari pegangan, kemudian jatuh tersungkur tidak


bernyawa lagi. Macan betina itu melayangkan pandang. Ki Pudak Kuning masih berdiri dengan siaga.


"Kau yang menyebabkan. Aku minta gantinya." Bentak macan betina dengan langsung menyerang.


"Karang Seta layani dia!" Panggil Ki Pudak Kuning. Perkelahian itu tidak


memakan waktu lama, sebab sewaktu macan betina itu jatuh tertiarap di atas mayat Singalangu, terdengar jerit panjang. Rupa-rupanya waktu Singalangu hampir menghembuskan napasnya yang terakhir masih sempat menancapkan belati panjangnya dengan mata ke atas.


Sebab sewaktu diteliti ternyata tubuh macan betina itu terpasak belati tembus sampai ke punggung.


Terdengar sorak sorai kemenangan. Tetapi juga terdengar rintih yang terluka, mengharukan. Itulah jamak yang terjadi di dalam pertarungan. Ada yang melukai dan dilukai untuk saling bertahan.


Di mulut gua, Uling Bangah tersandar dengan tidak bernyawa, sedang Welut Kuning tertiarap dengan berlumuran darah.


Malangyuda membalikkan tubuh Welut Kuning.


"Gila." Suaranya pelan.


"Siapa yang gila?"


"Kakang Banyaksangar. Ia menusuk dari belakang."


"Hem."


"Awas adikku!" Teriak Danang Seta. Malangyuda cepat meloncat ke samping.


Meluncur sebuah tombak yang seharusnya mengarah punggung Malangyuda mengenai perut Welut Kuning. Terdengar jerit mengerikan.


Waktu Malangyuda menoleh, ia melihat seseorang dengan tangan di pinggang meloncat dari batu satu ke batu yang lain. Tetapi ia terperosok, batu yang diinjaknya pecah.


Demikian ia masih dapat mencapai batu yang lain di mulut gua. Malang baginya rupa-rupanya ia kehilangan keseimbangan dan tergelincir masuk ke dalam api, dibarengi


suara jerit panjang.


Api semakin menjilat memenuhi seluruh jalan-jalan gua. Ki Pudak Kuning, Karang Seta, Danang Seta dan Malangyuda melihat nyala api


yang masih berkobar-kobar.


"Beberapa orang dapat melarikan diri."


"Siapa?"


"Simo Barung Muda, Wadas Lumut dan beberapa anak buah Singalangu." Kata Danang Seta.


"Mereka ke selatan. Ke laut." Keadaan menjadi hening. Mereka semua bersyukur atas kemenangan dipihak kebenaran.


"Hancurnya pemujaan sesat." Kata Ki Pudak Kuning hampir berbisik. Api terus menjilat. Membakar semangat. Malangyuda makin mengerti hakekat hidup yang


sebenarnya.


Kokok ayam, makin ramai. Siang akan tiba.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2