
Rani berhenti secara mendadak dan kedua matanya menatap ke arah Yuki dan kakeknya dengan tajam dan penasaran.
"Untuk apa gadis itu kemari? Dan kenapa kakek kelihatan senang sekali? padahal kakek tahu aku dan kak Saga saling mencintai" gumam Rani dalam hati.
"Mau apa sih Yuki kemari?" tanya Sersan saga yang baru saja sampai.
"Mana aku tahu bocah tengil! kita kan selalu bersama sejak dari tad!" jawab Rani.
"Ah, sudahlah! Sebaiknya kita jalan saja, kita akan tahu nanti maksud kedatangannya." kata Sersan Saga. Rani hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan kemudian mereka melangkahkan kaki menghampiri kakek Darma dan juga Yuki.
"Oh, hai Saga dan Rani, akhirnya kalian pulang juga. Dari mana saja kalian?" tanya Kakek Darma sambil tersenyum
"Kakek bisa tersenyum, setelah tadi malam apa yang kakek lakukan pada kak Saga?" tanya Rani dengan nada yang sedikit tinggi.
"Dan kau! untuk apa dayang ke sini? bukannya latihan buat turnamen besok, eh...! malah main kemari? kemauan kamu sendiri apa kemauan nenek peyot ha...!" seru Rani dengan ketus sambil menujuk ke arah Yuki.
"Rani jaga sikap kamu! kakek tak pernah mengajarimu berkata kasar!" bentak kakek Darma.
"Rani begini karena ulah kakek semalam! yang membuat kak Saga sakit parah!" seru Rani yang berkaca-kaca teringat kejadian semalam.
"Sakit parah? kakek lihat Saga segar bugar?" tanya Kakek Darma yang sebetulnya penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Sersan Saga.
"Itu kalau bukan karena pil, eh permen pelega tenggorokan, mana mungkin kak Saga sampai disini saat ini!" jawab Rani yang hampir keceplosan.
"Eh benar juga, setelah makan permen pelega tenggorokan semalam? Mungkin badanku masih di atas batu, di goa belakang air terjun." gumam Sersan Saga dalam hati.
"Permen pelega tenggorokan? Permen macam apa itu?" tanya Yuki yang penasaran.
"Apa boleh kakek melihatnya?" tanya Kakek Darma yang juga penasaran.
"Maaf kek sudah habis!" kata Rani yang tak sebenarnya.
Kakek Darma menatap Rani dalam-dalam, dan dari kedua mata Rani-lah dia sepertinya tahu kalau cucunya itu sedang berbohong.
"Masuk ke rumah! kakek ada urusan dengan kamu!" seru kakek Darma sambil menarik lengan kiri Rani.
"Tapi kakek...!" seru Rani yang tak ingin membiarkan Yuki berduaan dengan Sersan Saga, karena itulah dia melihat ke arah Sersan Saga.
"Ayo masuk!" seru Kakek Darma.
"Guru, jangan sakiti Rani lagi!" seru Sersan Saga yang tak tega melihat Rani yang ditarik oleh gurunya.
"Saga temani Yuki sebentar, karena semuanya sedang ada di perkebunan. Sidiq dan Dewi sedang ke pasar!" perintah kakek Darma yang kemudian masuk ke rumah bersama Rani.
__ADS_1
"Trus Desi di ajak ke pasar kek?" tanya Rani yang menyakan putri paman Sidiq.
"Sedang bersama Bima melihat Arya yang sedang berlatih!" jawab Kakek Darma.
"Oh begitu ya!" seru Rani.
"Ayo! ada yang ingin kakek tanyakan sama kamu!" seru kakek Darma sambil memberi isyarat pada Rani untuk duduk saat sampai di ruang tamu.
Pandangan Rani tak lepas ke teras rumah dimana Sersan Saga dan Yuki yang sedang duduk saling berhadapan.
Sementara itu Yuki menggunakan kesempatan yang di berikan Kakek Saga untuk merayu Sersan Saga.
"Ini kesempatanku, jadi tak akan aku sia-siakan!" kata dalam hati Yuki.
"Kak Saga, coba deh rasakan menu baru yang aku buat. Enak lho!" kata Yuki yang berusaha untuk menyuapi Sersan Saga.
"Maaf aku sudah kenyang!" sahut Sersan Saga dengan tatapan datar.
"Cobalah sekali saja...!" bujuk Yuki yang terus memajukan sendoknya ke arah mulut Sersan Saga.
"Sudah ku bilang sudah kenyang ya sudah kenyang!" bentak Sersan Saga yang reflek menepis sendok yang disodorkan oleh Yuki.
"Plakkk...!"
"Eh! maaf-maafkan saya! biar saya bersihkan, sekali lagi saya minta maaf!" pinta Yuki yang segera mengambil tisu yang ada di meja dan membersihkan noda makanan itu.
"Ah sudahlah! aku juga mau mandi!" seru Sersan Saga mencoba menghalau tangan Yuki yang sedang membersihkan noda makanan di celananya.
Hal itu tanpa sengaja membuat tangannya memegang tangan Yuki, yang secara langsung membuat mereka saling berpandangan.
Sersan Saga segera melepaskan tangan Yuki, dia pun berdiri dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah.
"Maaf permisi!" pamit Sersan Saga pada Yuki dengan ketus.
"Oh iya.." jawab Yuki sambil tersenyum sambil melihat ke arah Rani, yang ternyata gadis itu mengawasi mereka sedari tadi dari ruang tamu.
Yuki melihat raut wajah Rani yang memerah dan telapak tangannya mengepal, pertanda kalau Rani sedang kesal.
Di kembangkannya senyuman sinis ke arah Rani, kedua perempuan itu pada saat ini sedang mengadakan perang dingin.
Dada Rani terasa sesak dan perasaanya pun menjadi resah dan gelisah.
"Awas kamu! takkan ku biarkan kau menggoda calon suamiku." kata Rani dalam hati. Yang tentu saja tak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh kakeknya.
__ADS_1
Rani sedikit lega mana kala Sersan Saga masuk ke rumah, dan tak menghiraukan gadis yang mengulas senyum sinis pada Rani itu.
"Cucuku Rani.....!" panggil kakek Saga,tapi Rani belum menyadarinya dia masih menatap ke arah Yuki.
"Rani...! mengerti tidak apa yang kakek bicarakan!" seru Kakek Darma yang menatap Rani dengan tajam,dan tahu sejak tadi Rani tak memperhatikannya.
"Eh, ada apa ya kek?" tanya Rani dengan terkejut.
"Kau ini! apa karena Bocah tengil itu kamu sekarang berani membantah dan tak patuh sama Kakek!" seru kakek Darma dengan nada tinggi.
"Ma'af kakek!" jawab Rani, gadis itu menyadari kalau dia bersalah pada saat ini.
"Apa kamu tahu apa yang kakek tanyakan padamu tadi!" seru Kakek Darma yang nampaknya sedang menguji Rani.
"A..apa? Memangnya kakek bilang apa ya?" tanya dalam hati Rani yang saat ini sedang gelisah.
"Kakek kamu tadi menanyakan apa yang terjadi padamu, kenapa kamu berubah. Dan tanya tentang bambu panjang tadi dan ilmu menghilang!" kata Si Kity yang hanya bisa didengar oleh Rani.
"Jadi begitu ya?" gumam Rani.
"Kamu bicara sama siapa?" tanya Kakek Saga merasa penasaran.
"Ah, tidak bicara sama siapa-siapa kek!" jawab Rani yang sedikit gugup.
"Kakek belum tuli Rani!" gerutu kakek Darma.
"Rani akan menjawab semua pertanyaan kakek, asal kakek merestui hubungan Rani sama kak Saga!" jawab Rani yang tentu saja membuat Kakek Darma terperanjat.
"A...apa-apaan kau ini!" seru Kakek Darma yang mengrenyitkan kedua alisnya.
"Maaf kakek, Rani mau mandi. Rani sedang gerah!" seru Rani yang kemudian berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1