Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Malang Yuda


__ADS_3

Ya. Tidak lebih sepuluh orang." Singalangu mengulangi


"Jangan kakang pikirkan sekarang, akan lebih memberatkan."


"Kau benar Nyai." Jawab Singalangu dengan pandangan cemerlang.


Macan betina itu kemudian memandang kelain tempat dengan memegang bahu Ki Singalangu.


"Kemana kedua kelinci itu?"


"Aku tidak mengetahuinya kakang."


"Seharusnya kau mengetahui Nyai."


"Mengapa harus kakang?" Tanya macan betina itu ia diam sejenak melihat tanggapan Singalangu. Macan betina itu melanjutkan berkata,


"Kakang pergi ke belakang seorang diri."


"Aku khawatir kalau kedua kelinci itu kena bujuk."


"Simo Barung Muda dengan setan Kecil, Uling dan Welut Kuning, Banyaksanggar, semuanya masih di sini. Masakan mereka membujuk."


Singalangu tidak menjawab.


"Adakah kakang mengira mereka yang membujuk?" Singalangu masih juga belum menjawab.


"Atau bayangan yang menghantam kakang"


"Aku belum tahu Nyai."


Tiba-tiba bermunculanlah, Uling Bangah, Welut Kuning, Banyaksangar,


kemudian disusul Simo Barung Muda yang diikuti Wadas Lumut.


"Ah, mesra sekali, di pagi yang indah ini." Kata Welut Kuning yang mulutnya usilan.


"Aku lagi merasakan hidupku adik-adikku. Dan aku agak kurang enak badan."


Kata Singalangu dengan menarik napas panjang. Singalangu tidak mungkin memberitakan tentang lukanya. Memang pada malam itu Singalangu hanya seorang diri.


Dan ia siuman pada pagi hari saat embun menetesi tubuhnya. Bahkan kepada Luh Sari


yang setiap malam, ia mengatakan setelah beberapa hari berselang.


"Beristirahatlah kakang." Kata Banyaksangar.


"Kakang agak pucat tampaknya." Sambung Sirna Barung Muda yang berwajah tampan dan masih berdarah bangsawan itu. Ia tidak berani sembrana di hadapan


Singalangu, sebaliknya Singalangu selalu menghormati tamunya yang masih muda belia ini. Bukan ia takut, tetapi kepada orang tuanya Simo Barung Sepuh yang juga mendapat


penghargaan sebagai Naga Laut, ia mempunyai ikatan perasaan tersendiri.


Karena ucapan Simo Barung Muda diterimanya dengan menahan marah.


Di tempat lain mereka yang pulang ke rumah telah sampai pada jalan yang menuju ke Padepokannya. Kedua pemuda yang seorang berdada bidang dan yang lain bertubuh Perkasa dengan mengendarai kudanya memasuki telatah padepokan Pudak Kuning.


Waktu matahari sedang merangkak ke arah barat, suasana sudah tidak lagi panas, mereka memasuki gapura padepokan dan langsung membawa kudanya ke belakang.


"Ini rumahmu kakang?"


Pemuda berdada bidang itu mengangguk. Ia meloncat turun dari pelana kudanya dan menuntunnya kekandang.


Keduanya membasuh kaki, lalu menuju pendapa dan langsung masuk ke ruang tengah. Tampak Ki Pudak Kuning, Karang Seta yang duduk di dekat Pandansari, di


sebelahnya Dyah Tantri duduk dengan pandangan gelisah.


Di sebelah dalam tampak beberapa cantrik sedang menyelesaikan pekerjaannya, sedang beberapa murid-murid lainnya berlatih di halaman belakang.


Ki Pudak Kuning, setelah berakhir tugasnya sebagai perwira sandi dalam menyelesaikan Sadeng dan berandal Alas Purwa, karena usianya, ia mengundurkan diri


dari pekerjaannya. Dan setelah itu ia bermukim di sebuah padepokan yang diberinya nama sesuai dengan namanya. Padepokan Pudak Kuning.


Ia merasa bersyukur dapat mengambil mayat adiknya Wukirpati dan dikuburnya dengan baik-baik menurut tata cara yang sewajarnya dilakukan dalam kepercayaan yang


dianutnya. Ia. sendiri yang menangani keakhiran hidup adiknya atas pesan gurunya pada saat-saat akan mengakhiri hayatnya. Karena itu pulalah perasaannya berguncang.


Adakah dia dapat menyelesaikan pesan permintaan gurunya ini. Ia berusaha melakukannya.


Lebih-lebih adiknya menyebarkan ajaran sesat, ilmu yang dimilikinya untuk perbuatan kemaksiatan. Itulah yang memperingan perasaannya, dia tidak naenghancurkan adiknya,


betapa menghancurkan kesesatan.


Keadaan sangat hening. Mereka menuruti pikiran masing-masing.


Waktu pemuda berdada bidang itu masih berdiri di luar ruangan ia melihat keheningan itu, sudah menduga pasti ada sesuatu yang terjadi. Dengan tumit di ataskan ia mendekati ruangan. Semenjak ia menjadi murid Ki Pudak Kuning, belum pernah ia melihat gurunya terharu seperti sekarang.


Biasanya gurunya selalu tenang dan tidak


pernah berkata dengan serak. Tetapi kali ini, demikian ia menginjakkan kakinya kembali ke padepokannya, ia melihat gurunya cemas. Tahulan ia bahwa gurunya hampir dapat


dipastikan kehilangan sesuatu yang menyengat lubuk hatinya.


Demikian pula pemuda perkasa yang berjalan di belakang pemuda berdada bidang itu, ia berjalan dengan pikirannya sendiri, sambil mengingat jalan-jalan yang dilaluinya tadi.


"Kakang pada tikungan sebelah sana tadi, seperti pernah kulalui, untuk suatu pekerjaan yang tidak pantas." Bisiknya sangat pelan.


"Pekerjaan apa itu?" Tanya pemuda berdada bidang. Belum lagi ia mendapat jawaban, tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya dari dalam,


"Masuklah."


Mereka mengetahui bahwa suara itu suara gurunya.


"Aku Danang Seta, guru." Jawab pemuda berdada bidang.


"Ada yang lain bersamamu?"


"Seorang temanku guru. Bersama-sama dari perjalanan."


"Hemm. Masuklah!!"


"Gurumu tidak senang atas kedatanganku?" Bisik pemuda perkasa.


"Guru tidak pernah membenci seorang tamu." Kedua pemuda itu melangkah masuk. Danang Seta cepat bersujud kepada gurunya. Kepada Karang Seta keduanya

__ADS_1


saling berpelukan. Lain pula halnya kepada Dyah Tantri hanya matanya yang berkata dengan Pandansari ia mengangguk tersenyum


"Selamat datang di rumahku anakku." Kata Ki Pudak Kuning.


Pemuda perkasa itu membungkuk hormat dengan berkata.


"Terasa aku mendapat kehormatan. Nama bapak telah lama kukagumi tetapi baru sekarang aku dapat berhadapan. Mati, relalah rasanya." Guru Danang Seta mempersilahkan tamunya duduk.


"Anakku! Tiada manusia yang terhindar dari mati. Tetapi mati yang baik adalah mati di tangan Yang Maha Kuasa. Jangan hanya sekedar bertemu seseorang kemudian


bersedia untuk mati."


"Hanya perumpamaan Bapak." Berkata dengan memilih tempat duduk.


"Syukurlah jika hanya perumpamaan."


Aku bersamanya hidup di Watu Gong."


"Hemm. Tak mengapa hidup di sanapun tiada bedanya dengan di sini. Hanya tempatnya yang berlainan."


"Bapak benarkah di sini rumah kakang ini. Eh Maksudmu kakang Danang Seta. Benar namamu Danang Seta kakang?"


Pemuda perkasa itu memandang yang ada di situ saling berganti.


"Kau belum mengenal namanya sejak bertemu dan hidup bersama itu?"


"Ia selalu menghindari bapak. Dan kebetulan kami hidup bermusuhan dalam hati." Pemuda perkasa itu berterus terang.


"Hemmm."


Guru itu seorang yang cukup berpengalaman. Ia telah dapat menduga sebagian, mengapa pemuda perkasa itu sampai mengikuti Danang Seta.


"Adakah kau berselisih dengan lurahmu?" Tanya guru itu. Pemuda perkasa itu memandang Danang Seta.


"Berceriteralah kepada guru."


Pemuda perkasa itu tampak masih ragu-ragu, matanya meminta pertimbangan


kepada Danang Seta. Danang Seta tersenyum.


"Adikku, berceriteralah. Guru akan senang."


"Benar. Dan demikian sebaiknya sehingga kita saling mengenal lebih banyak dan dekat."


"Bukankah bapak telah mengerti Singalangu?"


"Lurah anakku Danang Seta bukan?"


"Ya, tetapi aku mengikutinya sejak kecil." Demikianlah, pemuda perkasa itu lalu berceritera, mulai ia kecil mengikuti Singalangu, diangkat sebagai anak angkatnya.


Kemudian ia bertemu dengan Danang Seta yang sakit, ditolong berandal Singalangu kemudian menjadi anak buahnya.


Danang Seta sendiri lalu berceritera tentang pengalamannya selama hidup dalam lingkungan berandal gua Watu Gong, sampai mereka melarikan diri dan pulang ke


Padepokan Pudak Kuning.


"Hebat kepercayaan mereka."


"Mengerikan bapak."


"Seorang yang ternama masa hidupnya, pendekar yang berilmu tinggi selalu dicarinya pada saat matinya. Kubur pendekar itu dibongkarnya, mayatnya diambil


kemudian diawetkan, kalau mereka menemukan baru saja penguburannya. Kalau berita


kematian itu lama sampai padanya, biasanya mayat itu dibongkar, kemudian dikuliti,


kerangkanya ditaruh pada sebuah peti."


Pemuda itu berhenti berceritera tampak ia mengingat-ingat sesuatu, kemudian melanjutkan katanya,


"Makan kerangka itu adalah darah."


Mendengar kata-kata pemuda perkasa Ki Pudak Kuning terhenyak dengan menarik napas panjang. Pemuda perkasa itupun mengerti apa yang sedang dirasakan oleh


Ki Pudak Kuning karena itu ia cepat berkata,


"Maafkan aku bapak, jika ceriteraku ini tidak berkenan di hati bapak."


"Oh tidak anakku. Sama Sekali tidak. Aku senang mendengarnya." Jawab Ki Pudak Kuning dengan senyum.


Memang dalam Padepokan Ki Pudak Kuning masa itu sebenarnya sedang mengalami penderitaan yang luar biasa, selama hidupnya belum pernah ia mengalami


malapetaka seberat itu, keji dan merendahkan martabat hidup manusia. Tetapi di hadapan


tamunya apalagi tamu itu seorang anak angkat Singalangu seorang penganut ajaran kepercayaan sesat. Tentu saja belum sepenuhnya secara terbuka membicarakan persoalan Padepokannya di depan orang yang baru saja dikenal.


"Bapak, jika bapak memperkenankan aku akan turut bapak selama hidupku." Kata pemuda perkasa.


"Mengapa demikian Danang Seta sendiri akan kembali kepada Lurahnya Singalangu."


"Jika kakang Danang Seta kembali, biarlah."


"Dan kau?"


"Jika bapak menaruh keberatan, aku akan hidup mengembara asalkan tidak kembali ke tlatah gua Watu Gong itu."


"Kau telah bertekad demikian?"


"Benar bapak."


"Menyingkir dari kesesatan adalah baik. Tetapi akan lebih baik jika kita sanggup memberantas kemaksiatan itu."


"Mengapa tidak bapak." Pemuda perkasa diam sejenak, kemudian seperti berkata sendiri,


"Dalam pengembaraanku yang terakhir, aku ingin berjalan pada tonggak yang lurus."


Ki Pudak Kuning terharu atas ucapan anak muda itu. Ia memandang Danang Seta.


Muridnya memberi isyarat bahwa ucapan pemuda itu benar.


Malam telah tiba, pendapa padepokan telah terpasang obor-obor yang menerangi


halaman. Langit sangat bersih, sehingga sangat terasa dingin angin pegunungan menusuk di badan.

__ADS_1


"Danang, ajaklah temanmu makan." Kata Ki Pudak Kuning.


Danang Seta mengajaknya. Iapun agak kaku karena tidak mengerti namanya, panggilan adikku dapat mengakibatkan beberapa orang menoleh kepadanya.


Pemuda perkasa itupun dapat menangkap perasaan yang tersimpan dalam hati penghuni padepokan Pudak Kuning. Sejenak ia diam lalu berkata,


"Bapak, namaku Malangyuda kalau bapak sudi memanggilnya."


"Nama itu bagus dan perkasa."


"Terima kasih bapak." Jawab Malangyuda berdiri lalu mengikuti Danang Seta.


"Beristirahatlah, barangkali kau lelah setelah beberapa hari dalam perjalanan."


"Terima kasih bapak." Mereka menjawab berbareng kemudian pergi ke bagian belakang Padepokan. Mereka pergi ke sumur untuk sekedar membersihkan badan.


Tetapi baru saja menginjakkan kaki pada mulut sumur, tidak setahunya seseorang menyerangnya dari arah punggung. Untunglah pemuda perkasa itu mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa dan mengantongi sedikit pengetahuan ilmu silat, terjadilah pertarungan.


Malang yuda menyangka bahwa hal itu seperti kebiasaan di gua Watu Gong, sebagai ucapan terima kasih dan selamat datang. Mula-mula ia melayani dengan seenaknya Tetapi tiba-tiba saja lawannya mencabut pedang, terhunus dan mengarah dada.


"Tolong........." Teriak Malangyuda.


Mereka yang berada dalam ruangan yang sejak tadi telah merasakan sesuatu yang tidak beres, segera berloncatan keluar dengan bersiaga. Danang Seta segera masuk gelanggang menimpuk pedang lawannya dengan sebuah penggada.


Demikian kuat timpukan itu, sehingga pedang yang berukuran besar itu terlontar ke belakang.


Lawannya terhentak, meloncat mundur kemudian menghilang di balik semak.


Cepat mereka menolong Malangyuda yang tersandar pada bibir sumur.


"Adakah kau terluka?" Tanya Danang Seta.


Tidak kakang, hanya dadaku terasa sesak." Malang yuda akan berjalan, ia sempoyongan hanya beberapa langkah, kemudian berjongkok dan melontakkan darah yang segar.


Ki Pudak Kuning terhenjak melihat kejadian itu. Pemukulnya pastilah seorang yang cukup berilmu, sehingga seorang yang bertubuh perkasa sudah menghindari


pukulan, masih pula luka parah bagian dalam Karang Seta diperintahkan untuk segera masuk mengambil ramuan obat sebagai


penawarnya.


Untunglah setelah diperiksa pukulan itu tidak mengandung racun. Segera obat diberikan dan ramuan itu ditelannya. Wajah Malangyuda berangsur tampak cerah. Ia menarik napas panjang.


"Bagaimana?" Tanya Ki Pudak Kunmg.


"Terima kasih bapak. Sudah terasa lega." Malang yuda mencoba mengingat-ingat siapa yang menyerangnya dengan tiba-tiba itu dan siapa pula yang mengetahui bahwa ia berada di tempat itu.


"Adakah kau merasa bermusuhan kepada seseorang?"


"Aku hanya melarikan diri. Hanya itu bapak."


"Selain itu?"


Malang yuda mencoba mengingat-ingat, lalu menggelengkan kepala.


"Adakah ia dari Watu Gong?" Tanya Danang Seta.


"Aku kurang pasti kakang. Gelap, sehingga aku tak dapat melihat wajahnya." Jawab Malangyuda.


"Sudahlah, mari masuk. Esok, kita mempunyai pekerjaan lain yang barangkali


lebih penting daripada sekarang." Kata gurunya kemudian meieka masuk rumah.


Beberapa orang muridnya diperintahkan untuk berjaga-jaga.


"Makanlah sekarang."


Danang Seta bersama Malangyuda pergi ke dapur lalu makan dengan lahapnya.


Ikan lele dibakar dengan sambal, nasinya masih mengepul panas.


"Kakang. Betapa nikmatnya makan malam ini."


"Ah. Beginilah makan kami. Seadanya hasil panen sendiri dan tambak ikan yang kami buat."


"Betapa berbahagianna kakang."


"Kurnia itu harus diterima adikku." Malangyuda menghela napas panjang.


Mereka selesai makan. Sebagaimana biasa Danang Seia mengucap syukur ke hadapan Yang Maha Kuasa, barulah meninggalkan tempat itu. Malangyuda yang baru


kali itu melakukan demikian merasa kaku. Tetapi dalam hatinya terpercik, bahwa di alam luas ini ada kekuasaan diluar kemampuan manusia.


"Tiga kali nyawaku akan dihabisi." Pikir Malangyuda. Terpecik sesuatu yang selama hidupnya belum dikenalnya.


Ia merasakan sesuatu kenikmatan dalam hidup ini, setelah mencoba mendekatkan bermusuhan, pertarungan dan mempertahankan nyawa. Tetapi kali ini ia merasakan


mendapat kedamaian setelah beberapa saat bergaul di padepokan Pudak Kuning.


Ia tidak dapat mengutarakan isi hatinya, tetapi dirasakannya dengan kelembutan. Tiada terasa matanya berlinang. Malangyuda menarik napas panjang.


"Terima kasih, terima kasih kakang." Ia berkata sendiri.


Sebaliknya Danang Seta sebentar heran. Tetapi setelah memandang mata


Malangyuda yang berlinang, ia dapat menebak isi hati pemuda perkasa itu. Dibiarkannya Malangyuda memuaskan perasaan yang bergumul dalam dirinya, Danang Seta merasa terharu.


"Adikku, marilah kita keluar sebentar." Ajak Danang Seta.


Kedua pemuda itu melangkahkan kakinya, melewati jalan tengah menuju pendapa, kemudian menuruni undak-undakan. Dan duduklah kedua pemuda itu pada


sebuah kolam yang tidak berapa jauh dari halaman padepokan. Tidak sepatah katapun terlintas dari mulutnya tetapi keduanya memperhatikan gunung berapi yang tinggi menjulang, melihat bintang-bintang yang berserakan di langit yang bersih dan kemudian


melihat bumi kenyataan dimana ia berpijak.


"Aku tidak mengerti kakang,"


"Apa yang tidak kau mengerti adikku?"


"Hidup ini."


"Kau lihat, gunung itu megah dan kokoh. Bintang yang berkelipan. Semua sudah sedemikian sejak lama, sejak beribu ribu abad. Itulah kekuasaan Yang Menciptanya."


"Ya, seperti juga aku." Kata Malangyuda.

__ADS_1


"Ada yang memberi hidup dan menghidupi." Malangyuda mengangguk


__ADS_2