
Rani terkejut saat melihat Inspektur Saga yang masih terbaring tak berdaya.
"Kak Saga...!!" panggil Rani yang kemudian memeluk Inspektur saga dengan erat.
Air matanya pun berlinang membasahi pipinya yang halus.
Isakan dan racauan terdengar dari mulut Rani.
"Kak Saga .! jangan tinggalkan Rani, kak Saga sudah ninggali Rani saat tugas. Sekarang Rani nggak mau di tinggal sama kakak selamanya...! Kak Saga banguuuuun..!! hiks...!!" racau Rani yang terus memeluk Inspektur Saga dengan eratnya.
Tak berapa lama Rani merasakan ada yang menciumi leher jenjangnya.
"A..apa ini..?" batin Rani yang kemudian melihat Inspektur saga yang sudah dalam keadaan duduk di hadapannya, dan memandanginya dengan mata binar.
"Kak Saga..!! panggil Rani sambil memegang kedua pipi Inspektur saga dengan kedua telapak tangannya.
"Iya ini kak saga, calon suamimu..!!" ucap Inspektur Saga yang membuat Rona wajah Rani gembira.
Dan dia segera mencium kening dan pipi inspektur saga dengan gembiranya,
"Sudah...sudah yang kiss-kissannya..!! ada anak kecil, nyadar nggak sih..!!" seru Raditya yang.sebelumnya sudah mengalahkan dua orang penjaga.
Dan kini datang dengan membopong Yuki bak bridal style.
"Kak Radit, kak Yuki...!! he..he..maaf kelepasan..! Ups...!" panggil Rani yang kemudian berdiri dan menghampiri Yuki yang sudah turun dari gendongan Raditya dan memeluknya.
"Yuki...!!" panggil Rani pada Yuki.
"Rani...!!'" balas Yuki dengan nada yang lemah.
"Benar..! Sekarang yang kalian jaga sikapnya...! ada Januar di antar kita...!" pesan Emi dan dibalas anggukan oleh semuanya.
"Kita sebaiknya cepat pergi dari sini. Akan aku hancurkan semua yang ada di sini..!" ucap Raditya dan semuanya pun setuju.
Raditya di bantu Jonathan dan Inspektur Saga yang berangsur-angsur pulih itu, membakar habis semua tanpa tersisa sampai dengan mayat-mayat yang ada.
Rani, Yuki, Emi, Januar dan Jarwo berjalan menepi menjauhi beberapa tempat kebakaran itu.
Sebagian warga yang masih hidup, pergi meninggalkan lokasi itu.
"Semoga tak akan ada lagi Kobra-kobra yang lainnya..!!" kata Rani saat menyaksikan kobaran api di bangunan yang dimana tadi mereka bertaruh nyawa.
Setelah mereka yakin semuanya terbakar, mereka perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Mereka berencana kembali ke kota "J"
***
Sementara itu Rumah sakit di kota "J" dimana Tuan Wibowo, Arya, Nara dan Nindy dirawat.
Ke empat orang tersebut memang di tempatkan di tempat yang sama, dalam satu ruangan atas permintaan Mama Lani.
Dengan tujuan bisa mengawasi semuanya.
Sore itu, rombongan Om Jordy, Paman Sidiq dan Bi Inah terlah sampai di rumah sakit tersebut.
Om Jordy menunggui Nara putrinya, Bi Inah menunggui Nindy. Paman Sidiq menunggui Arya dan mama Lani menunggui Tuan Wibowo.
Mereka saling bercerita hingga tak kenal waktu, karena saatnya makan siang.
__ADS_1
Tak berapa lama ada dua orang perempuan yang memakai seragam putih-putih dan memakai masker rumah sakit, sedang membawa tholer ke tiap lorong-lorong Rumah sakit.
Tibalah mereka di sebuah ruangan dimana papanya Rani dirawat.
Sania menaburkan bubuk racun pada makanan yang dibawanya.
Dan pun masuk ke ruangan itu dan di letakannya makanan itu pada orang yang dia kenal , Yaitu tuan Wibowo,
Setelah itu, dia membagikannya pada yang lain.
"Ha..ha..ha..! kita tunggu saja reaksinya queen..!" seru Sania yang melepas maskernya sambil tertawa kemenangan, saat mereka berada di luar ruangan.
Tanpa mereka sadari, ada tiga orang yang menghadang mereka.
Yaitu Komisaris Anggara, Inspektur Alex dan Lilian.
"Apa maksudmu tunggu reaksinya ..?!" seru Lilian yang sangat mengenali Sania.
"Li..Lian...!!" seri Sania yang kaget karena dia lupa kalau sahabatnya ada di pihak lawannya.
"Jangan-jangan kalian menaruh sesuatu di makanan mereka.!" tebak Lilian.
"Lihat saja nanti...!" kata Sanca dengan wajah tanpa dosanya.
"Inspektur Alex dan Lilian, cepat beritahu yang ada di dalam. Akan aku hadapi kedua wanita ini...!!" seru Komisaris Anggara yang sudah bersiap dengan senjatanya menodong kedua wanita itu.
Inspektur Alex dan Lilian berlari menuju ke ruangan dimana Orang tua angkat Rani, adik Inspektur Alex dan para sahabatnya dirawat.
Lilian melihat Papa angkat Rani yang terbaring tak berdaya saat setelah mengkonsumsi makanan yang di berikan oleh Sania.
Sedangkan yang lainnya belum sempat di makan, karena mereka sedang tidur sebelumnya
"Aku panggil dokter dulu...!!" pamit Inspektur Alex yang bergegas ke luar ruangan.
"Iya kak..!" balas lilian.pada suaminya.
"Ada apa Lilian..?" tanya Om Jordy yang penasaran.
"Llilian kenapa dengan suami saya..?" tanya mama Lani dengan penuh kecemasan.
"Ma...,papa Wibowo kena racun yang di bawa perawat wanita tadi. Dia Sania..!!" jelas Lilian.
"Sania...!!" seru semuanya tidak tidur dan membuat yang masih tidur terbangun.
"Ra..racun..! jadi papa keracunan..?" tanya mama Lani.
"Iya..!" jawab Inspektur Alex yang datang membawa dua orang dokter sekaligus.
Kedua dokter itu langsung memeriksa para pasien dan makanan yang belum sempat di makan yang lainnya.
"Dorr...!!"
"Weeett...! weeett...! weeett...!"
"Aaagh...!!"
"Aaaghh...!!"
__ADS_1
Sementara di luar terdengar pertempuran yang tak berimbang.
"Kau di sini ya sayang, aku akan bantu komisaris Anggara..!" ucap Inspektur Alex yang melangkahkan kakinya.
"Aku ikut..!" seru paman Sidiq yang kemudian melangkah mengikuti langkah Inspektur Alex.
"Hati-hati dengan jarum beracunnya..!" pesan Inaspektur Alex
Mereka melihat Komisaris yang di kepung Sania, Sanca dan beberapa orang penjaga di taman rumah sakit.
Ayah Inspektur Saga itu terkena serangan jarum beracun, dia terduduk lemas.
"Komisaris..!!" panggil Inspektur Alex yang cemas dengan keadaan komisaris Anggara.
Paman Sidiq segera menyerang Sania dan Sanca dengan pedangnya dan Inspektur Alex menyerang para penjaga dengan senjata apinya.
Sanca melawan paman Sidiq dengan Trisulanya yang sudah di lumuri racun.
Dan Sania dengan jarum beracunnya.
"Traang..!"
"Traang...!!"
Bunyi trisula beradu dengan pedang, dan sesekali paman Sidiq menghindari serangan jarum beracun Sania.
Saat Trisula beradu, dan Sania menyerang dengan Jarum beracunnya, Paman Sidiq menjadikan Sanca sebagai tameng
Jadi jarum beracun itu bersarang di punggung Sanca.
"Aargh..!!"
"Kurang Ajaar..!!" umpat Sania kesal.
"Sania..kau..!!" seru lirih Sanca yang akhirnya terjatuh tak sadarkan diri.
"Brukk..!!"
"Kini giliranmu nona manis..!!" ucap paman Sidiq yang sudah kembali bersiap dengan pedangnya.
"Weeet...! weett..! weeeet...!!"
Sania melempar Jarum beracunnya dengan emosi dan akhirnya jarum di tangannya pun habis.
Gadis itu membuat ancang-ancang melarikan diri, namun paman Sidiq terlanjur mengetahuinya.
Dan di lemparnya pedang mengarah ke punggung Sania. Dan..
...~¥~...
...Terima kasih untuk para semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel GADIS TIGA KARAKTER ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
"