
"Terima kasih untuk kebaikan Anda, Dokter," kata Komisaris Saga. "Ayolah, Hastings, kita ikuti jejak Mademoiselle."
Komisaris Saga menuruni jalan yang melintasi kebun, keluar melalui pintu gerbang besi, melewati sebidang tanah berpohon, dan masuk melalui pintu gerbang kebun Daisymead, rumah sederhana di atas tanah seluas kira-kira setengah hektar. Ada jejak langkah orang berlari ke arah pintu yang merangkap jendela. Komisaris Saga mengangguk-anggukkan kepala sambil mengikuti jejak-jejak itu. "Itulah jalan yang dilalui Mademoiselle Saintclair. Kita yang tidak tergesa-gesa untuk mencari pertolongan lebih baik mengambil jalan putar, menuju pintu depan."
Seorang pelayan wanita menerima dan membawa kami ke ruang duduk. Kemudian, dia masuk mencari Nyonya Oglander. Jelas ruangan ini belum disentuh sejak tadi malam. Abu masih berada di perapian. Meja bridge masih terletak di tengahtengah, serta terlihat ada sebuah patung yang tangan-tangannya terlempar ke bawah. Tempat itu agak sesak dengan barang-barang yang tidak berharga. Sejumlah potret keluarga yang luar biasa jeleknya menghiasi dinding. Komisaris Saga menatap foto-foto itu dengan sikap lebih toleran daripada aku. Ditegakkannya beberapa potret yang tergantung miring.
"La famille. Ikatan keluarga yang kuat, bukankah begitu, Hastings. Perasaan, lebih penting dari keindahan." Rani yang setuju.
Bola mataku terpaku pada keluarga yang terdiri atas seorang lakilaki berewok, seorang wanita dengan rambut depan menjulang tinggi, seorang anak laki-laki pendiam yang mengenakan setelan tebal, dan dua anak perempuan yang rambutnya diikat dengan banyak pita.
Ranimenyimpulkan foto ini adalah wajah keluarga Oglander pada masa lalu dan mempelajarinya dengan penuh minat. Pintu terbuka dan seorang wanita muda masuk. Rambutnya yang gelap ditata rapi. Dia mengenakan mantel olahraga berwarna abu-abu kemerahan dan rok bawah dari bahan wol. Ditatapnya kami dengan penuh selidik. Komisaris Saga melangkah maju. "Nona Oglander" Maafkan kami karena mengganggu Anda - terutama setelah peristiwa yang Anda alami ini. Kejadian semalam pasti amat mengganggu."
"Kejadian itu agak membingungkan kami," perempuan muda itu mengaku dengan hatihati. Ranimulai berpikir bahwa drama ini tidak berarti apa-apa bagi Nona Oglander, bahwa daya imajinasinya yang lemah mengalahkan tragedi apa pun juga. Keyakinanku diperkuat karena ia berkata,
"Maaf, ruangan ini masih kacau Bodoh benar para pelayan; mereka terbenam dalam peristiwa semalam."
"Semalam Anda duduk di sini, n'est-ce pas?"
__ADS_1
"Betul Kami tengah bermain bridge sesudah makan malam ketika - "
"Maaf, berapa lama kalian sudah bermain waktu itu?"
"Well - " Nona Oglander berpikir-pikir.
"Saya sungguh-sungguh tidak dapat memastikannya. Saya kira waktu itu sekitar pukul 22.00. Kami sudah menjalani beberapa ronde."
"Anda sendiri duduk - di mana?"
"Menghadap jendela. Saya berpasangan dengan Ibu dan sudah menjalankan satu kartu, bukan kartu truf. Mendadak, tanpa tanda-tanda apa pun, jendela terbuka dan Nona Saintclair terhuyung-huyung masuk."
"Samar-samar saya ingat, wajahnya tidak asing lagi."
"Dia masih di sini, kan?"
"Ya. Tapi dia tidak mau bertemu siapa pun. Ia masih sangat terguncang."
__ADS_1
"Saya kira Nona Saintclair akan bersedia menemui kami. Maukah Anda memberitahu dia bahwa kami datang atas permintaan Pangeran Paul dari Maurania?" Kulihat nama pangeran itu agak mengguncangkan ketenangan Nona Oglander. Namun, dia memenuhi permintaan Komisaris Saga tanpa berkata-kata lagi, dan segera kembali untuk memberitahu bahwa Mademoiselle Saintclair akan menerima kami di kamarnya. Kami ikuti Nona Oglander menaiki tangga, menuju kamar tidur berukuran sedang yang terang. Di dipan di dekat jendela terbaring seorang wanita yang menoleh pada waktu kami masuk. Perbedaan mencolok kedua perempuan itu segera menarik perhatianku; semakin mencolok karena wajah dan warna kulit keduanya sebenarnya sama - tapi, mereka amat berbeda! Semua pandangan atau gerak Valerie Saintclair menampakkan keguncangan batinnya. Kelihatannya ia tengah melamun. Gaun rumah berwarna merah tua dari bahan flanel menutupi kakinya - benar-benar gaun rumah. Akan tetapi, pesona pribadinya memberikan sentuhan eksotik pada pakaian yang dikenakannya, sehingga nampak seperti jubah Timur dengan warna berkilauan. Bola matanya yang gelap terpaku pada Komisaris Saga.
"Anda datang atas permintaan Paul?" suaranya serasi dengan penampilannya - penuh dan tidak bersemangat.
"Benar, Mademoiselle. Saya berada di sini untuk membantu dia - dan Anda."
"Apa yang ingin Anda ketahui?" "Segala sesuatu yang terjadi semalam. Segala sesuatu!" Valerie melemparkan senyuman yang agak letih. "Anda kira saya akan berbohong" Saya tidak bodoh. Saya tahu tidak ada tempat untuk bersembunyi. Laki-laki yang sudah mati itu mengetahui rahasia saya. Diancamnya saya. Demi Paul, saya berusaha keras untuk mengadakan persetujuan dengannya. Saya tidak dapat mengambil risiko kehilangan Paul. Sekarang dia sudah mati dan saya selamat. Tetapi, saya tidak membunuh dia karena hal itu." Komisaris Saga menggeleng seraya tersenyum. "Itu tidak perlu Anda katakan kepada saya, Mademoiselle. Ceritakanlah apa yang terjadi semalam." "Saya tawarkan sejumlah uang kepadanya. Kelihatannya dia bersedia membicarakannya. Dia menetapkan waktu tadi malam, pukul 21.00. Saya harus pergi ke Mon Desir. Tempat itu tidak asing buat saya karena saya pernah ke sana. Saya dipesannya untuk masuk ke perpustakaan lewat pintu samping supaya para pelayan tidak melihat kedatangan saya." "Maaf, Mademoiselle. Apakah Anda tidak takut seorang diri ke sana?" Bayanganku sajakah atau benar-benar ada sela sejenak sebelum Nona Saintclair menjawab"
"Mungkin saya memang takut. Tapi, Anda tahu, tidak ada yang dapat menemani saya. Dan saya dalam keadaan putus asa. Reedburn mempersilakan saya masuk ke perpustakaan. Oh, laki-laki itu! Saya senang dia sudah mati! Dia mempermainkan saya, seperti kucing mempermainkan tikus. Diejeknya saya, padahal saya begitu memohon kepadanya. Saya tawarkan semua permata yang saya punyai. Sia-sia saja. Kemudian, dia menyebut syarat-syarat yang ditetapkannya sendiri. Mungkin Anda dapat menebak syarat-syarat itu. Tentu saja saya menolak. Saya mengutarakan pendapat saya tentang dirinya. Saya maki-maki dia. Dia tetap saja tersenyum tenang. Lalu, pada waktu saya berhenti mencercanya, terdengar suara - dari balik tirai jendela.... Dia mendengar juga. Dia menuju tirai dan dibukanya lebarlebar. Seorang laki-laki bersembunyi di sana - wajahnya menakutkan, seperti gelandangan. Orang itu memukul Reedburn - sekali lagi, dan Reedburn jatuh. Gelandangan itu mencengkeram saya dengan tangannya yang ternoda darah. Saya berhasil melepaskan diri, menyelinap lewat jendela, dan lari menyelamatkan diri. Lalu, saya melihat sinar dari dalam rumah ini dan lari kemari. Tirai tergulung ke atas. Saya lihat beberapa orang tengah bermain bridge. Hampir saja saya jatuh ketika masuk ruangan itu. Saya hanya dapat menggumamkan 'Pembunuhan'. Lalu semuanya gelap - "
"Terima kasih, Mademoiselle. Kejadian itu pasti mengguncangkan Anda. Dapatkah Anda menggambarkan gelandangan itu" Anda ingat pakaian yang dikenakannya waktu itu?"
"Tidak. Kejadiannya begitu cepat. Tetapi, saya pasti mengenali orang itu kalau bertemu. Wajahnya sudah tertanam di benak saya." "Satu pertanyaan lagi saja, Mademoiselle. Tirai jendela yang lain, jendela yang menghadap jalan, tertutup atau terbuka?" Untuk pertama kalinya kebingungan merayapi wajah penari itu. Kelihatannya ia berusaha untuk mengingat-ingat. "Bagaimana, Mademoiselle?" "Saya kira, hampir pasti - ya, saya yakin! Tirai itu tidak tertutup." "Ini mencurigakan karena tirai yang lain tertutup. Tidak mengapa. Tidak terlalu penting. Anda akan lama tinggal di sini, Mademoiselle?" "Menurut dokter saya sudah cukup sehat untuk pulang besok." Nona Saintclair menatap sekeliling kamar. Nona Oglander sudah keluar.
"Keluarga ini, mereka baik sekali - tetapi mereka lain dari dunia saya. Saya membuat mereka terguncang. Dan bagi saya - well, saya tidak suka orang-orang borjuis." Samar-samar nada kepahitan mendasari ucapannya. Komisaris Saga mengangguk.
"Saya mengerti. Semoga pertanyaan-pertanyaan ini tidak terlalu melelahkan Anda." "Sama sekali tidak, Monsieur. Saya cuma sangat mengharapkan Paul mengetahui semua ini secepatnya."
__ADS_1
"Kalau begitu, selamat siang, Mademoiselle." Pada waktu akan meninggalkan kamar, Komisaris Saga berhenti sejenak dan memungut sepasang selop yang terbuat dari kulit.
"Selop Anda, Mademoiselle?"