Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Rani Dikeroyok Teman Seperguruannya


__ADS_3

"Yang aku dengar setiap benda pusaka itu ada penunggunya. Apakah mungkin penunggu kalung pusaka itu sedang menunjukan kebolehannya." jawab Raditya yang menduga-duga dan terus memperhatikan ke arah perkelahian antara Rani dan para murid perguruan Darma putih.


Semuanya hanya diam terpaku dan menantikan apa yang akan dilakukan Rani, untuk melawan teman-teman seperguruannya itu.


"Kembali ke semula...!" seru Rani. Dan tongkat kembali ke ukuran satu meter.


"Nah, ukuran segini saja ya!" bisik Rani yang segera pasang kuda-kuda bersiap melawan.


Sepuluh murid perguruan Darma putih maju dan bersiap menghadapi Rani, gadis itu dengan posisi siap menatap mereka yang hanya dengan tangan kosong.


Adu jurus yang tak seimbang itu terjadi, dan suara pukulan dan erangan pun mulai terdengar.


"Bagh....bugh....bagh....bugh....!"


"Aaaarghh...!"


Dua orang murid berjatuhan, dan tak selang berapa lama kembali tiga orang kembali terkapar tak sadarkan diri.


"Yang lainnya, cepat ambil senjata kalian....!" seru kakek Darma pada murid-muridnya yang tersisa, ketika melihat kemampuan Rani menggunakan tongkat.


"Baik guru besar!" seru beberapa murid yang kemudian bersiap menyerang ke arah Rani.


"Kalian jangan sungkan melawan Rani karena Rani cucuku, serang dia dengan kemampuan penuh kalian. Kalau bisa ciderai Rani....!" seru kakek Darma dengan lantang.


"Guru... ! apa guru serius?" tanya Sersan Saga yang khawatir akan keselamatan kekasihnya itu.


"Kalau terlalu kasihan dan memanjakan dia, maka kemampuannya akan menurun. Jadi aku serius untuk hukuman ini" jawab Kakek Darma yang terus memperhatikan setiap gerakan cucu perempuannya itu.


Rani sekarang menghadapi kurang lebih empat puluh teman seperguruannya yang masing-masing membawa senjata yang berbeda - beda.


Gadis itu kemudian menggabungkan jurus tongkatnya dengan jurus tarian Dewi Cinta.


Dengan luwesnya dia melenggak-lenggokan tubuh dan tongkatnya. Dan sepuluh orang terdorong jatuh.


"Bagh....bugh....bagh....bugh....!"


"Bagh....bugh....bagh....bugh....!"


Lalu dengan kecepatan penuh, Rani berputar dan melumpuhkan sisa lawannya dalam hitungan menit.


"Bagh....bugh....bagh....bugh....!"

__ADS_1


"Bagh....bugh....bagh....bugh....!"


"Aaargh....!"


Rani terduduk bersimpuh, nafasnya tak beraturan. Keringat sebesar jagung menetes dari dahinya. Gadis itu mulai mengatur pernapasannya.


Dalam mengatur pernapasan ini, udara yang masuk akan membuat bagian perut Rani terisi penuh sehingga mengembang, sedangkan dada tidak bergerak banyak, dan Rani melakukan latihan ini setidak lamanya lima menit


Gadis itu duduk bersila dan meletakkan satu tangan di perut dan satu lagi di dadanya, kemudian dia menarik napas melalui hidung selama dua detik, merasakan udara bergerak mengisi perut.


Rani merasakan perutnya semakin penuh bergerak membesar. Perut Rani bergerak lebih banyak dibandingkan dadanya.


Kemudian adik Raditya itu menghembuskan napas selama dua detik melalui bibir yang terbuka kecil sambil merasakan perut mengempis.


Dia mengulangi sebanyak aepuluh kali dan tetap lemaskan bahu Anda sepanjang pengulangan, dan jaga punggung tetap tegak selama berlatih pernapasan diafragma ini.


"Rani....!" teriak semua orang kecuali kakek Darma, nenek Lasmi dan Yuki.


Sersan Saga yang khawatir akan keadaan Rani, segera berlari menghampiri Rani.


"Rani....Rani, kamu tidak apa-apa kan? apa yang bisa kakak bantu?' tanya Sersan Saga yang langsung bersimpuh menghadapan Rani.


"Rani haus kak...! Rani ingin minum," jawab Rani yang nafasnya mulai sedikit teratur.


"Rani haus Tante, bisa ambilkan minum buat Rani?' pinta Sersan Saga


"I..iya.." jawab mama Lani ,tapi ketika hendak melangkahkan kakinya menuju dapur, Kakek Darma melarangnya.


"Rani tidak boleh minum dan biarkan dia sini sampai pagi. Kalau ada yang memberinya minum, maka dia harus bertarung dengan Rani, sampai ada yang kalah...!" perintah kakek Darma.


"Guru...! kenapa kamu kejam pada cucumu!" seru Sersan Saga yang tak tega melihat keadaan Rani.


"Biar aku yang memberinya minum!" seru Arya yang keluar dari kerumunan teman-teman seperguruannya yang sedang mengobati sakitnya, dengan membawa sebuah kendi di tangannya.


Kendi yaitu wadah air minum yang terbuat dari tanah liat yang berbentuk seperti teko pada umumnya.


"Arya...!" seru semua orang.


"Aku ingin melawan Rani, jika aku kalah aku bersedia hanya menjadi sahabat Rani. Tapi bila aku yang menang, aku ingin Rani jadi pacarku...!" pinta Arya yang memandang Rani dengan tajam.


"Baik aku setuju!" seru kakek Darma yang menatap Arya dan Rani secara bergantian.

__ADS_1


"Kamu sepertinya menantikan momen ini ya Arya...!" seru Sersan Saga yang menatap Arya dengan tajam dan Arya membalas dengan senyuman.


"Kak Saga, jangan khawatirkan Rani. Aku akan berusaha sekuat tenaga, entah apa hasilnya nanti." kata Rani pada Sersan Saga yang terlihat mencemaskan Rani.


"Rani aku akan mengalahkanmu...!" seru Arya yang kemudian memberikan kendi yang berisi air minum kepada Rani. Gadis itu segera meminumnya.


"Baiklah Rani, kakak percaya pada kemampuan kamu. Usahakan yang terbaik!" pinta Sersan Saga yang kemudian berjalan kembali ke arah dimana Raditya dan keluarganya berada saat ini, sambil membawa kendi yang telah kosong.


Kemudian yang lainnya melangkahkan kaki untuk menepi dan memberi kesempatan pada Rani dan juga Arya untuk bertarung, menjajal kemampuan mereka.


"Arya maafkan aku bila kemarin aku menolakmu, aku sudah punya pacar. Dan sekarang ini kami berusaha untuk mendapat restu dari kakek." kata Rani lirih.


"Apa boleh aku tebak siapa pria yang beruntung mendapat cintamu itu? apakah kakak seperguruan?" Arya yang mencoba menebak.


"Itu sudah bukan jadi urusan kamu, Arya." kata Rani yang tak ingin Arya mengetahui lebih jauh kehidupannnya.


Arya hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara pelan-pelan.


Tiba-tiba terdengar suara yang akhir-akhir ini selalu terdengar di telinga Rani.


"Nona, ambilah pil langit dari liontin kalung pusaka. Pil itu akan memulihkan stamina dan menambah daya tahan tubuhmu" suara yang berbisik di telinga Rani yang tak lain Kity si kucing langit.


"Kity kau kah itu?" tanya Rani hampir saja melupakan keberadaan si Kity yang berada dalam liontin kalung pusaka miliknya.


'Iya nona, jangan khawatir mereka tidak akan mendengar suaraku, karena suaraku hanya bisa di dengar oleh majikanku." lanjut kata si kity.


Rani pun bergegas mengambil dan memakan pil langit yang di peroleh dari pohon bercahaya di pinggir air terjun.


"Apa itu yang kamu makan, Rani?" tanya Arya yang penasaran karena melihat Rani yang memakan sesuatu dari liontin kalungnya.


"Oh hanya permen pelega tenggorokan saja kok!" jawab Rani yang tak mengatakan hal yang sebenarnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2