
Tebakan Komisaris Saga memang benar. Simpson telah meninggalkan rumah itu dua hari yang lalu. Akan tetapi, dia tidak luput dari konsekuensi perbuatan kriminalnya.
Sebuah koper timah, yang dialamatkan kepada Tuan Henry Wintergreen, menarik perhatian para pejabat kereta api di Glasgow. Koper itu dibuka dan ditemukanlah jenasah Davis yang malang.
Dan akhirnya kasus juru masak ini bisa diselesaikan juga, dan Elly Dina tidak bersalah.
Rani kembali mendatangi kantor ruang kerja suaminya.
"Cek dari Nyonya Todd tidak pernah kak Saga uangkan. Sebaliknya malah kak Saga membingkai dan menggantungkannya di dinding ruang kantor? Apa maksud kak Saga?" tanya Rani yang penasaran.
"Hal ini untuk jadi peringatan, Ran. Jangan meremehkan hal-hal yang sepele, yang tidak penting. Di satu sisi pelayan rumah tangga yang menghilang, di sisi lain pembunuh berdarah dingin. Bagiku, perkara ini merupakan salah satu di antara kasus-kasusku yang paling menarik." ucap Komisaris Saga pada Istrinya.
"Iya, itu benar sekali kak!" jawab Rani.
Karena keberhasilan Komisaris Saga dan juga Rani dalam menyelesaikan bermacam kasus orang yang datang kepada komisaris Saga.
Tiba-tiba pandangan Ranibtertuju pada seorang perempuan yang berdiri persis di sebelah dalam pintu sambil meraba-raba kerah bajunya, yang terbuat dari bulu itu lain dari yang lain.
Orangnya biasa sekali seorang perempuan yang mulai memudar, kurus, berumur kira-kira lima puluh tahun, mengenakan mantel dan rok bawah yang berjalin pita, seuntai kalung emas berhias permata melilit di lehernya, dan rambutnya yang putih ditutupi dengan topi yang sangat tidak pantas.
Di kota-kota kecil setiap orang akan berpapasan dengan ratusan 'Nyonya Pengelley' setiap harinya.
Komisaris Saga melangkah maju dan mengucapkan salam dengan hangat, ikut merasakan rasa malu wanita itu yang kentara sekali.
"Madame! Silakan duduk. Perkenalkan rekan saya, Rani." ucap Komisaris Saga yang sengaja tak memperkenalkan Rani sebagai istrinya. Dan Rani maklum demi kelancaran tugas-tugas mereka.
Perempuan itu duduk seraya berguman dengan ragu-ragu.
"Apakah anda komisaris Saga?" tanya wanita itu.
"Iya, itu saya. Siap membantu Anda, Madame." jawab komisaris Saga dengan lantang.
Namun mulut tamu wanita itu masih terkunci. Dia menghela napas, menekuk jari jemarinya, dan wajahnya memerah.
"Apa yang dapat kami lakukan untuk Anda, Madame?" tanya Rani yang menghampiri wanita itu.
"Ada sesuatu yang sangat mengganggu saya. Meskipun begitu, saya tidak tahu apakah saya harus..." ucap wanita itu yang tiba-tiba ia berhenti.
__ADS_1
"Saya hanya ingin mengajukan penyelidikan yang semata-mata bersifat pribadi." kata wanita yang bergelar Nyonya Pengelley itu.
Rani menangkap maksud kata-kata itu dan dia sangat penasaran.
"Pribadi?" gumam Rani.
"Iya dan itulah yang saya inginkan. Saya tidak ingin ada desas-desus, percekcokan, atau pernyataan tertulis apa pun. Cara mereka menuliskan perkara-perkara itu keji sekali, sehingga sangat memalukan seluruh keluarga. Dan persoalan saya ini sepertinya juga masih saya ragukan karena hanya sebuah ide yang menakutkan yang muncul di benak saya dan tidak dapat saya hilangkan." jawab Nyonya Pengelley yang berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Mungkin saya selalu menyalahkan Edward yang malang. Setiap istri akan berpikiran demikian. Toh, akhir-akhir ini Anda banyak membaca kejadian-kejadian mengerikan seperti ini." sambung nyonya Pengelley.
"Edward? Siapakah dia?" tanya komisaris Saga yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Maaf, apakah Anda membicarakan suami Anda?" tanya Rani yang menebak.
"Ya, dia suami saya." jawab nyonya Pangelley.
"Dan Anda mencurigainya dalam hal apa, nyonya?" tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Sebenarnya saya tidak ingin mengatakannya, komisaris. Akan tetapi Anda pasti banyak membaca hal-hal seperti ini terjadi dan orang-orang yang malang tidak menaruh curiga." jawab wanita itu.
Rani mulai putus asa apakah wanita itu akan masuk ke dalam pokok persoalannya. Akan tetapi, kesabaran komisaris Saga dapat mengimbangi wanita itu.
"Benar, apa pun lebih baik daripada diliputi ketidakpastian seperti ini. Oh, komisaris Saga! saya sedang ketakutan setengah mati karena saya merasa sedang diracuni." celoteh nyonya Pargelley.
"Apa sebabnya Anda berpikir demikian?" tanya Rani yang terkejut.
Nyonya Pengelley pun mulai bercerita. Apa yang diutarakannya lebih tepat untuk petugas medisnya.
"Nyeri dan mual setelah makan, eh?" tanya komisaris Saga dengan hati-hati.
"Anda punya dokter pribadi, Madame? Apa katanya tentang gejala ini?" tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Menurut dia radang perut yang akut, komisaris." jawab wanita itu, tapi Rani melihat kalau wanita itu sedang bingung dan gelisah.
"Selain itu, dia selalu mengganti obat yang diberikannya, tetapi tidak satu pun dapat menyembuhkan penyakit saya." sambung wanita itu.
"Apakah anda sudah menceritakan - kekhawatiran Anda kepada suami anda?" tanya Rani yang menyimak dengan seksama.
__ADS_1
"Belum. Jika ini terjadi, maka berita ini dapat tersiar ke seluruh kota. Mungkin saja itu memang radang perut. Tetapi aneh sekali, setiap kali Edward pergi berakhir pekan saya benar-benar sehat kembali. Bahkan, Freda juga melihat kejanggalan ini - ia keponakan saya, komisaris." jawab nyonya Pargelley yang menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Lalu ada sebotol obat pembasmi rumput liar. Menurut tukang kebun, obat itu tidak pernah digunakan tapi kenapa isinya tinggal setengah botol." lanjut Nyonya Pengelley memandang komisaris Saga dengan tatapan minta tolong.
Yang dipandang tersenyum menenteramkan hati wanita itu, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pensil dan buku catatan.
"Mari kita bersikap praktis, Madame. Nah, Anda dan suami tinggal - di mana?" tanya komisaris Saga.
"Polgarwith, kota perdagangan kecil di Cornwall." jawab wanita itu.
"Apakah sudah lama Anda menetap di sana?" tanya Rani.
"Sudah empat belas tahun." jawab nyonya Pargelley.
"Dan rumah tangga Anda terdiri atas Anda dan suami Anda?" tanya komisaris Saga.
"Tidak." jawab wanita itu singkat.
"Ada keponakan perempuan seperti yang tadi Anda katakan?" tanya Rani.
"Ya, dia adalah Freda Stanton. Yang merupakan anak satu-satunya saudara perempuan suami saya. Ia tinggal bersama kami delapan tahun terakhir ini. Ya, persisnya sampai seminggu lalu." jawab nyonya Pargelley yang berusaha mengingat-ingatnya.
"Oho, apa yang terjadi seminggu yang lalu?" tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Kadang-kadang ada kejadian yang tidak terlalu menyenangkan buat kami. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri Freda. Dia kasar sekali dan kurang ajar, sifatnya kadang-kadang mengejutkan. Akhirnya suatu hari kemarahannya meledak dan dia meninggalkan rumah, menyewa kamar sendiri di kota. Sejak saat itu, saya belum bertemu dengan dia. Lebih baik biarkan dia sadar kembali, begitu kata Radnor." jawab wanita itu.
"Siapa Radnor itu?" tanya Rani dan hal itu membuat sebagian rasa malu Nyonya Pengelley muncul kembali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...