Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mulai Penyelidikan


__ADS_3

Sementara itu Komisaris Saga dan juga Rani kembali ke kantor kepolisian.


"Ran, kamu ikut aku!" seru Komisaris Saga yang menarik Rani menuju ke tempat parkir sepeda motornya.


"Ke mana kita akan pergi, kak Saga?" tanya Rani dengan rasa ingin tahu yang berkobar.


"Ke rumah keluarga Davidson." jawab komisaris Saga yang memberikan sebuah helm pada Rani,pada saat sudah sampai disamping sepeda motornya.


"Bagaimana pendapatmu tentang Lord Cronshaw yang baru itu?" tanya Rani seraya memakai helmnya.


"Apa pendapat kamu si Viscount itu?" ucap Komisaris Saga yang balik bertanya seraya naik ke sepeda motornya setelah memakai helmnya.


"Iya." Jawab Rani yang kemudian naik dibelakang suaminya.


"Aku langsung tidak percaya padanya. Apa kau pikir dia adalah 'paman licik' seperti dalam buku-buku cerita, eh?" tanya komisaris Saga yang sedikit menggoda istrinya.


"Tidakkah kak Saga berpendapat begitu?" kata Rani yang balik bertanya.


"Kak Saga kira dia ramah sekali kepada kita," jawab komisaris Saga tanpa menyatakan pendapatnya, dan mulai dia melajukan sepeda motornya menuju ke jalan raya.


"Apa mungkin karena dia mempunyai alasan-alasan pribadi?" tanya Rani pada saat sepeda motor itu melaju menyusuri jalan raya.


"Entahlah!" jawab komisaris Saga yang pandangannya tetap ke depan.


Tak berapa lama mereka telah sampai di tempat tujuan. Mereka mendatangi aparteman suami istri Davidson yang tinggal di lantai ketiga blok apartemen 'yang besar'.


Davidson sedang keluar dari apartemen ketika Rani dan Komisaris Saga datang, tetapi istrinya ada di rumah. Rani dan Komisaris Saga diantar oleh salah seorang tetangga Davidson, masuk ke sebuah ruangan panjang beratap rendah dengan hiasan gantung Oriental yang berkilat-kilat.


Udara dalam ruangan terasa pengap dan menyesakkan. Bau dupa wangi menyengat hidung. Nyonya Davidson langsung menemui Rani dan Komisaris Saga. Ia bertubuh kecil, berkulit terang, yang kerapuhannya begitu mengibakan dan menarik perhatian.


Untung saja kedua matanya yang biru pucat itu memancarkan kecerdasan dan sikap penuh perhitungan.


Komisaris Saga menjelaskan sangkut-paut mereka dengan kasus pembunuhan itu, dan wanita itu menggeleng sedih.


"Kasihan Cronch dan Coco juga! Kami berdua amat menyukai Coco. Kematiannya membawa kesedihan yang mendalam kepada kami. Apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya? Haruskah saya mengulangi kejadian pada malam yang mengerikan itu?" kata sekaligus tanya nyonya Davidson.


"Ah, Madame, percayalah, saya tidak akan mengusik perasaan Anda dengan tidak semestinya. Inspektur Alex sudah menceritakan semua yang perlu kepada saya. Saya hanya ingin melihat kostum yang Anda kenakan pada malam pesta dansa itu." kata komisaris Saga, yang bagaimanapun juga, Nyonya Davidson kelihatan terkejut.


"Apakah Anda mengerti, Madame, saya bekerja menurut cara di negara saya. Di sana kami selalu 'merekonstruksi' tindak kriminal. Mungkin saja saya harus mendapatkan gambaran yang sesungguhnya. Dengan demikian, Anda mengerti, kostum-kostum sangat penting." lanjut kata komisaris Saga dan Nyonya Davidson masih kelihatan agak ragu-ragu.

__ADS_1


"Tentu saja saya pernah mendengar tentang rekonstruksi perbuatan kriminal," kata nyonya Davidson.


"Akan tetapi, saya tidak tahu kalau Anda begitu teliti mengenal secara detil. Meskipun begitu, akan saya ambil pakaian itu sekarang juga." kata wanita itu yang kemudian meninggalkan ruangan dan segera kembali membawa sebuah pakaian dari kain satin hijau dan putih yang indah.


Kemudian komisaris Saga mengambilnya, meneliti, dan menyerahkannya kembali sambil membungkukkan badan.


"Terima kasih, Nyonya! Saya tahu, Anda dulu mendapat kesulitan karena kehilangan salah satu rumbai kostum ini yang terbuat dari sutra hijau, yang di bahu sini." kata komisaris Saga dan Rani ikut menyimaknya.


"O, ya, rumbai tersebut jatuh di pesta dansa itu. Saya pungut dan berikan kepada Lord Cronshaw supaya ia menyimpankannya." kata nyonya Davidson.


"Itu terjadi sesudah makan malam?" tanya Rani yang penuh selidik.


"Ya. Tidak lama sebelum tragedi itu, mungkin?" lanjut tanya Rani.


Samar-samar rasa takut nampak di kedua mata Nyonya Davidson yang pucat.


"Oh, tidak lama sebelum itu. Sebenarnya, langsung setelah makan malam." kata nyonya Davidson dengan gugup.


"Saya mengerti. Cukup sampai di sini. Saya tidak akan mengganggu Anda lebih jauh lagi. Selamat siang, Madame." kata pamit komisaris Saga.


Iya, kalau perlu sesuatu, kalian bisa datang lagi kemari!" seru nyonya Davidson.


"Nah! Percakapan tadi telah menyingkapkan misteri rumbai sutra hijau. Aku jadi bertanya-tanya sendiri!" seru Rani ketika mereka keluar dari bangunan apartemen itu.


"Apa maksudmu?" tanya komisaris Saga yang menoleh ke arah istrinya.


"Kak Saga tadi memeriksa pakaian itu?" tanya Rabibyang mencoba mengingatkan.


"Ya?" jawab komisaris Saga yang penasaran.


"Nah, rumbai yang hilang itu tidak lepas dari tempatnya seperti pengakuan Nyonya Davidson. Sebaliknya, rumbai dipotong dari kostum itu. Dengan gunting. Potongan benangnya jelas-jelas rata." kelas Rani.


"Astaga!" seru Komisaris Saga yang sangat terkejut dengan perkiraan istrinya.


"Perkara ini menjadi semakin rumit." gumam Rani.


"Tidak! Tapi sebaliknya. Justru menjadi semakin sederhana." kata komisaris Saga dengan tenang.


"Kak Saga!" seru Rani pada saat mereka sampai di tempat parkir dan saat ini mereka berada disamping sepeda motor komisaris Saga.

__ADS_1


"Suatu hari aku akan membuat perhitungan dengan inspektur Alex, dimana kebiasaannya memberikan segala sesuatu dengan sangat sederhana benar-benar sangat menjengkelkan!" gerutu komisaris Saga.


"Tetapi, ketika aku menjelaskannya, Sobat, bukankah semua itu memang betul-betul sederhana!" kata Rani.


"Memang. Itulah yang menjengkelkan! Dan aku merasa aku sendiri sebetulnya dapat melakukannya!" seru Komisaris Saga.


"Tentu saja kau dapat menyelesaikannya kak Saga, karena kak Saga memang mampu. Kalau saja kak Saga mau menempuh kesulitan dengan menyusun gagasan-gagasan kak Saga...." kata Rani.


"Ya, ya," kata Komisaris Saga yang dengan cepat memotong perkataan Rani, karena dia tahu pasti kepandaian bicara Rani pada waktu ia berbicara tentang topik kesayangannya.


"Katakanlah, apa yang akan kita lakukan setelah ini? apakah kak Saga benar-benar akan merekonstruksi pembunuhan itu?" tanya Rani.


"Hampir pasti tidak. Bagaimana kalau kita katakan bahwa drama itu sudah berlalu, tetapi aku mengusulkan pantomim tambahan dengan Harlequin sebagai pemeran utama?" pendapat komisaris Saga yang membuat Rani terbelalak karena sangat terkejut.


"Kak Saga apakah kamu serius?" tanya Rani yang tak percaya dengan pendapat suaminya itu.


"Hm....!"


Komisaris Saga berdehem seraya mengulas senyumnya.


"Ayo cepat pakai helmnya, supaya lebih cepat berangkatnya!" bisik komisaris Saga.


"Eh, iya!" balas Rani yang kemudian memakai helmnya dan demikian pula dengan komisaris Saga.


Suami Rani itu segera menyalakan sepeda motornya dan kemudian melaju ke jalan raya, menuju ke tempat tujuan mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...¹...


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2