
"Rani, kak Saga, kalian harus lawan mereka dengan jurus Pedang sepasang kalian..!" kata dalam hati Arya yang penuh harap.
Sementara itu Baskoro juga telah sampai di Arena Turnamen. Dia melihat Istri keduanya dan Jarot sedang bertempur, dan pandangannya pun mengarah pada rombongan nenek Lasmi dan yang lainnya.
"Mau kabur ya rupanya kalian! Ha...ha...ha....!" seru Baskoro dengan tawanya yang menggelegar.
"Kau lagi....!" seru Arya yang kemudian bersiap dengan kuda-kudanya.
"Ada apa Arya?" tanya Yuki yang penasaran dan menghentikan langkahnya, untuk menengok apa yang terjadi dengan Arya.
"Orang tadi menyusul kita!" balas Arya.
"Gawat...!" seru Yuki yang membuat Nenek Lasmi dan Paman Sidiq menjadi penasaran, keduanya saling pandang dan bersamaan menengok ke arah belakang.
"A...apa!" seru nenek Lasmi dan Paman Sidiq yang bersamaan pada saat Arya yang mati-matian menyerang Baskoro.
Baskoro bersiap memutar cincinnya dan mengarah ke Raditya dan Yuki.
"Yuki awaaaass...!" seru Arya memperingati gadis di belakangnya yang sedang memapah Raditya.
Yuki menoleh dan gadis itu tahu Baskoro mengarahkan cincinnya pada dirinya dan Raditya.
Gadis itu menjatuhkan Raditya, dan sinar dari cincin itu mengenai Yuki. Raditya yang merupakan kakaknya Rani itu sangat terkejut melihat kejadian yang super cepat sekali itu.
"Kak Radit....! selamat tinggal, Yuki sayang kak Radit...!" kata-kata Yuki sebelum akhirnya gadis itu menghilang.
"Yukiiiiiii.......!" teriak Raditya yang membuat semua orang menoleh dan menghentikan aksi mereka.
"Apa yang kau lakukan pada cucuku...!" seru nenek Lasmi yang semula menghalau puluhan anak buah Baskoro yang mendekati rombongan mereka, kini berbalik menyerang Baskoro.
Paman sidiq dan Arya bergantian melawan anak buah Baskoro yang mendekat.
Sersan Saga berhasil melumpuhkan Jarot dengan beberapa luka sayatan pedangnya, kemudian tunangan Rani itu pun berlari membantu nenek Lasmi menghadapi Baskoro.
"Bibi guru..! bawa kakak muda keluar dari sini..!" seru Sersan Saga pada nenek Laami yang begitu cemas melihat keadaan itu.
Tanpa banyak bicara lagi, nenek Lasmi menuruti apa kata Sersan Saga, Di papahnya Raditya dan Paman Sidiq membuka jalan untuknya.
Sementara itu si Kity yang menyaksikan perlawanan Rani pada istri kedua Baskoro itu, lama-kelamaan merasa jenuh pada Rani.
"Nona....! cepat kau buat mampus itu wanita, kalau tidak aku saja yang buat dia mampus....!'' seru Kity yang kemudian merasuki Rani.
"Tongkat...!" seru Rani yang dirasuki oleh si kucing langit.
Rani pun memutar tongkatnya dengan cepat saat Annet kembali menyerangnya dengan jarum-jarum beracun.
__ADS_1
"Weeet....! Weeeet....!"
Jarum-jarum itu pun berbalik ke arah Annet, dan senjata makan tuan.
Annet terkena jarum beracunnya sendiri,
"Seet.....! Seet....!"
"Aughh....! ku...rang a...jaaaaar....! Kau...!" seru Annet yang seketika itu juga dia mengerang kesakitan, akibat reaksi dari racun yang ada dalam jarum-jarum tersebut.
Dengan cepat Rani mengarahkan ujung tongkatnya ke ulu hati Annet.
"Bugh....bugh...bugh......!"
"Hei....! ucapkan selamat tinggal pada suamimu..!" ucap Rani yang masih dirasuki si Kity.
"Cihh...! apa kau yakin mau membunuhku dengan tongkat kecil itu, hah....!''seru Annet dengan tersengal-sengal dan tawanya yang sinis.
"O..belum tahu ya? atau kepingin tahu dan merasakannya? baik akan aku layani biar kau tak mati penasaran!" balas Rani yang kemudian bersiap merubah tongkatnya.
"Tombaaaaakk...!'
Seketika tongkat yang mengarah ke ulu hati Annet berubah menjadi tombak, yang mata tombaknya menembus ke ulu hati Annet sampai tembus ke belakang.
"Aaaaargh....!"
"Ka..au....!" ucap Annet lirih dan lemah.
"Heh....! sudah ku bilang ucapkan selamat tinggal atau aku saja yang mengucapkannya untukmu! Selamat tinggal setan Planeeeeet...!" seru Rani yang kemudian merubah Tombak menjadi Pedang.
"Pedang ..!"
Berubahlah tombak itu menjadi sebuah pedang, dan dengan gerakan memutar yang mengarah ke lawannya.
"Sreet....sreeet....!"
Seketika itu juga kepala Annet terlepas dari tubuhnya.
"Baskorooo.....! selamat kau kehilangan istri lagi...! hrrrr....!" suara Rani yang dirasuki Kity itu menatap ke arah Baskoro dan kemudian ubun-ubun Rani keluar asap putih, dan Rani pun terduduk bersimpuh karena tubuhnya terasa lemas. Kekuatan besar telah keluar dari dalam tubuhnya.
"Aanneeeett....!" seru Baskoro yang menatap tubuh tak berdaya Istrinya dan kemudian dia berlari menjauh.
"Tunggu pembalasanku...!" seru Baskoro lagi dan kemudian menghilang setelah masuk ke dalam kepulan asap merah.
Semua orang yang melihat kejadian itu kaget dan saling pandang. Baru kali ini melihat Rani membunuh, itupun dengan sadisnya.
__ADS_1
"Itu adikku atau bukan ya?" gumam Raditya yang menatap Rani dengan pelan.
"Semua tetap ke tujuan semula, aku akan menolong Rani...!" seru Sersan Saga pada saat tahu, kalau Rani sedang terduduk lemas itu jadi sasaran anak buah Baskoro yang masih tersisa kurang lebihnya dua ratus orang itu.
"Sayangku Rani! tetaplah waspada!" seru Sersan Saga pada saat menghalau anak buah Baskoro yang hendak menyerang Rani,
Para anggota geng kobra yang tersisa dan telah ditinggalkan ketuanya itu, melakukan perlawanan dengan membabi buta karena tahu istri ketuanya telah dibunuh oleh gadis bertopeng.
Rani mendongak ke arah Sersan saga yang melawan anak buah Baskoro, Rani pun tersadar jika dia masih di arena pertempuran. Kemudian Gadis itu mencoba berdiri walaupun tubuhnya masih gemetar.
"Kita pakai jurus pedang sepasang!" seru Sersan Saga, pada saat Rani sudah dalam kondisi berdiri dan siap untuk kembali melakukan perlawanan.
"Baik kak!" balas Rani dengan mantap.
Keduanya pun segera membuat kuda-kuda jurus pedang sepasang, dan kemudian menyerang lawan yang jumlahnya tinggal kurang lebih puluhan orang itu, dan mereka dengan semangatnya menggunakan jurus pedang sepasang untuk menyelesaikan pertempuran itu
"Hop hiaaaat.....!"
"Weeet.....weeeet....weeeet....!"
"Darrr......darrr......darrr....!"
Efek dari jurus pedang sepasang dengan munculnya ledakan-ledakan yang dahsyat itu, membuat pasukan sebagian kewalahan dan terkepar tak sadarkan diri dengan luka-luka yang parah.
Geng Kobra yang tanpa pemimpinnya itu, terpukul mundur. Karena sisa dari anggota yang terkapar itu, kocar-kacir melarikan diri.
Kesempatan itu digunakan Rani dan Sersan Saga untuk menyusul Nenek Lasmi dan lainnya, yang sudah sampai di tempat dimana mereka memarkirkan kendaraan mereka.
Paman Sidiq pegang kemudi, Arya duduk didepan samping paman sidiq. Sedangkan Nenek Lasmi duduk menemani Raditya yang masih pucat.
"Rani mereka sudah naik mobil, ayo lekas kita menyusul mereka...!" seru Sersan Saga saat keluar dari gedung arena Turnamen Bela diri dan melihat mobil yang ditumpangi keluarga mereka, bergerak perlahan-lahan keluar dari area parkir.
"Iya, kita langsung ke tempat sepeda motor!" seru Rani dan keduanya bergegas menuju ke tempat dimana sepeda motor mereka terparkir.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1