Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Keakraban di ruang keluarga


__ADS_3

"Kakek, baik-baik saja. Ya namanya sudah tua, jadi sering sakit-sakitan." jawab Paman Sidiq yang mengulas senyumnya.


"Oh, begitu ya! Kalau begitu ayo lekas makan, keburu dingin makanannya lho!" seru nyonya Lani dengan ramah.


"Eh, iya Ma!" balas Rani yang kemudian makan makananya dan diikuti dengan yang lainnya.


Sambil makan mereka saling tanya kabar masing-masing dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka.


Tak berapa lama, mereka telah selesai makan malam bersama.


"Sudah biarkan saja Ran! Biar bibi yang membereskan semuanya, sebaiknya kita pindah ke ruang keluarga sekarang juga. Biar lebih nyaman berbincang-bincangnya!" tegur nyonya Lani dengan mengulas senyumnya.


"Ba...baik ma!' ucap Rani yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke ruang keluarga.


Rani mensejajarkan langkahnya pada sang kakak, dan Raditya yang menyadari kehadiran adiknya disampingnya langsung saja dia rangkul dan keduanya saling tatap dan balas senyuman.


"Kakak beradik yang saling melepas rindu! Ha...ha...ha...!" seru paman Sidiq yang menggoda Rani dan Raditya.


"Wah, jelas dong paman! Hanya Rani-lah rasa kangen aku pada mama terobati. Wajah Rani sama persis dengan wajah mama sebelum beliau meninggalkan kita!" balas seru Raditya yang mereka kemudian duduk di sofa saat sudah sampai di ruang keluarga.


Paman Sidiq menganggukkan kepalanya dan mengulas senyumnya.


Kemudian Rani dan paman Sidiq menceritakan keinginan Rani tinggal di kota.Sekolah dan mencari Baskoro.


"Nyonya Lani, saya disini mewakili ayah yang merupakan kakek sekaligus guru Rani, mohon ijin agar Rani bisa tinggal disini bersama kakaknya Raditya. Biarkan dia melanjutkan sekolahnya dan sekalian dia akan mencari keberadaan Baskoro, laki-laki yang telah menabrak kedua orang tuanya itu." kata Paman Sidiq yang menjelaskan.


"Sungguh berat tugas yang kamu tanggung Ran. Raditya, mama harap kamu selalu bantu adikmu. Mama tahu siapa Baskoro,orang yang tak punya rasa belas kasihan. Toko Papamu pernah dibakar olehnya, saat Papamu menolak kerjasama" cerita mama Lani seraya menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya.


"Ja..jadi mama Lani mengijinkan Rani tinggal disini?" tanya Rani yang memastikan pendengarannya.


"Iya!' jawab nyonya Lani dengan menganggukkan kepala dan juga mengulas senyumnya.


"Terima kasih nyonya Lani, dengan demikian saya sudah menyelesaikan tugas dari ayah saya." ucap paman Sidiq yang mengulas senyumnya.


"Saya juga sangat senang sekali, Rani bisa disini. Mama jadi nggak kesepian lagi!" seru Raditya dan nyonya Lani menganggukkan kepalanya dan mengulas senyumnya.


"Tapi dari cerita mama tadi, mama tahu banyak tentang geng Kobra, termasuk Baskoro. Mama kenal mereka?" tanya Rani yang penasaran.


"Siapa sih yang tak kenal Baskoro?Dialah si penghancur bisnis orang, termasuk bisnis papa!" jawab nyonya Lani dengan geram.


"Pada hal waktu itu Papamu baru merintis usahanya, jadi kalau kalian mau saling bekerja sama untuk menggulingkan rezim geng kobra. Mama setuju saja, tapi kalian harus -lah berhati-hati. Dia bukan orang sembarangan!" lanjut mama Lani yang mengingatkan dan masih saja geram jika mengingat hal itu.Yang lain pun ikut geram.


"Siap ma! Radit akan selalu ada disamping Rani!" seru Radit sambil mencium kening adiknya yang bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Eh..! Kalau tidak tahu kalian ini kakak beradik,orang pasti mengira kalian ini sedang pacaran!" seru paman Sidiq yang memperhatikan kedua keponakannya dengan mengulas senyumnya.


"Benar juga Radit! Nanti jika Sania lihat kalian berdua seperti ini bisa perang dunia ketiga! Ha...ha...ha...!" seru nyonya Lani sambil tersenyum.


"Eh kak Radit sudah punya pacar ya? Kenalin dong?" tanya Rani yang penasaran.


"Ah..Kapan-kapan saja!" jawab Raditya yang kemudian memposisikan duduknya secara biasa.


"Yah kapan-kapan!" seru Rani sambil memonyongkan mulutnya.


"Sudah larut malam, Rani lekas tidur. Besok kamu kan mau daftar sekolah. Paman juga besok pagi mau balik, menjemput istri dan anak-anak Paman." perintah paman Sidiq.


"Iya paman" jawab Rani.


"O iya ma, Papa mana Ma? Rani kan belum ketemu?" tanya Rani seraya menatap Nyonya Lani.


"Oh Papa baru keluar kota, ada pekan olah raga disana. Dan semua peralatannya minta langsung dari toko kita" jawab Radit.


"Oh, jadi begitu ya." kata Rani seraya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Setelah mencium tangan nyonya Lani dan paman Sidiq, Rani bergegas menuju ke kamarnya dengan melewati anak tangga dan diikuti Raditya.


Demikian pula dengan Paman Sidiq yang melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu.


"Ah nggak juga" jawab Rani sambil tersenyum.


"Besok kakak berkeinginan mencoba kemampuan silat kamu!" seru Raditya sembari mengulas senyumnya.


"Coba kejar Rani dulu, kak!" seru Rani sambil menaiki tangga melampaui Raditya.


Pemuda itu melihat adiknya yang begitu ringannya melangkah di tiap anak tangga.


"Hati-hati Ran!" seru Radit dan segera mengejar Rani.


"Kakak kalah! kak Radit kalah wekk" ejek Rani sambil menjulurkan lidah.


Radit pun tersenyum, teringat kembali kenangan masa kecil saat bermain dengan adiknya. Tiba-tiba berlinang lah air matanya,


"Kak Radit nangis? ah kakakku cengeng sekarang!" goda Rani.


"Kakak hanya ingat masa lalu saat kita masih kecil, main bareng saling bertengkar dan ibu yang sering meleraikan. Kakak kangen ibu sama Ayah" Isak Radit.


"Kak Radit jangan bilang seperti itu, Rani juga kangen" kata Rani sambil memeluk kakaknya.

__ADS_1


"Kak Radit masih mending selalu dekat Mama Lani dan Papa Wibowo yang menyayangi kakak. Sedangkan Rani hanya dengan Kakek tempat Rani bermanja dan bercerita" kata Rani yang juga menangis.


Radit pun mencium kening dan mengusap air mata adiknya.


Ada perasaan bersalah karena tidak ada disamping adiknya selama beberapa tahun.


Radit mengantar adiknya sampai depan pintu kamar


."Cepat tidur ya Ran, besok kita berangkat jam tujuh pagi" kata Raditya dengan lembut.


"Kakak juga,selamat tidur semoga mimpi indah." balas Rani.


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, Rani melangkahkan kaki menuju ke tempat tidurnya dan kemudian membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur yang sangat empuk, dan berbeda jauh dengan keadaannya sewaktu di lereng gunung.


Ditatapnyalah langit-langit kamar berharap bisa lekas tidur, karena ingin menghempaskan beban berat ditubuh dan pikirannya.


Selang beberapa menit, akhirnya Rani tertidur dengan pulasnya.


...***...


Keesokan harinya..


Alarm ponsel Rani menunjukkan jam lima pagi.


Rani pun bergegas membersihkan diri, walau terasa berat karena masih ingin menikmati tempat tidur yang empuk dan selimut yang lembut.


Tapi waktu dia ingat mau daftar sekolah, dia berusaha untuk bangun. Rani menyempatkan untuk olah raga kecil di dalam kamar, agar dapat menghalau rasa dingin dan kantuknya.


Setelah dirasa cukup, Rani bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Beberapa menit kemudian, Rani selesai mandi dan mulai berhias seperlunya saja.


"Tokk....tokk....tokk....!"


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2