
Sore-sore ia masuk ke kamar dan Rani mengikutinya. Sewaktu menaiki tangga, ia memegang lenganku dan menyampaikan perintah-perintahnya.
"Jangan ganti pakaian dulu. Matikan lampu dan susullah Rani di sini." Rani menurut. Kudapatkan dia tengah menungguku. Dengan gerak isyarat komisaris Saga memintRani diam. Kami merangkak tanpa bersuara sepanjang sayap kamar anak-anak. Ronald menempati kamarnya sendiri yang kecil. Kami masuk lalu mengambil posisi di sudut yang paling gelap. Napas Ronald terdengar berat. Ia tidak terganggu oleh kehadiran kami. "Dia tidur nyenyak sekali, kan?" bisik Rani dan komisaris Saga mengangguk.
"Dibius," bisiknya.
"Mengapa?" tanya Rani yang heran.
"Supaya dia tidak berteriak kalau - "
"Kalau apa?" Rani menuntut jawaban melihat komisaris Saga menghentikan perkataannya.
"Kalau nanti disuntik, Sobat! Diam. Kita jangan bicara lagi - kuharap sesuatu terjadi beberapa saat lagi."
***
Kali ini komisaris Saga keliru. Hampir sepuluh menit berlalu, barulah pintu dibuka pelan-pelan dan seseorang masuk. Kudengar dengus napas memburu dan langkahlangkah menuju tempat tidur. Tiba-tiba terdengar bunyi
"klik".
Sinar lentera elektris kecil menyoroti anak itu - pemegangnya masih tidak terlihat dalam bayang kegelapan.
Sosok itu meletakkan lentera. Dengan tangan kanannya ia mengeluarkan alat suntik; tangan kirinya menyentuh leher Ronald Berbarengan Rani dan komisaris Saga melompat. Lentera kecil itu terguling di lantai dan kami bergumul dalam kegelapan. Kekuatannya benar-benar luar biasa. Akhirnya kami berhasil mengalahkannya juga.
"Lampu. Rani harus melihat wajahnya - biarpun Rani yakin wajahnya kukenal baik." kata komisaris Saga.
"Begitu juga denganku," pikir Rani sambil meraba-raba, mencari lentera itu.
Sejenak Rani sempat mencurigai sekretaris Hugo, terpengaruh rasa tidak senangku kepadanya. Tapi sekarang Rani yakin bahwa pria yang ingin mendapatkan keuntungan dari kematian dua sepupunya yang masih kecil adalah orang tidak waras yang sedang kami ikuti jejaknya. Kaki Rani menendang lentera.
Rani memungut benda itu dan kunyalakan. Benda itu bersinar penuh pada wajah - Hugo Lemesurier, ayah si bocah!
"Tidak mungkin!" bisik Rani parau.
"Tidak mungkin!"
***
Lemesurier tidak sadarkan diri. Kami memondongnya ke kamarnya lalu membaringkannya di tempat tidurnya. komisaris Saga membungkuk. Dengan hati-hati dilepaskannya sesuatu dari tangan kanan Hugo. Diperlihatkannya benda itu kepadRani. Jarum suntik. Rani merasa ngeri.
__ADS_1
"Apa isinya" Racun?"
"Asam semut, kukira."
"Asam semut?"
"Ya. Mungkin didapat dengan cara menyaring semut. Dia ahli kimia, engkau ingat" Kematian akan dihubungkan dengan sengatan lebah."
"Ya, Tuhan," Rani berkomat-kamit.
"Anaknya sendiri! Dan engkau sudah menduganya?" komisaris Saga mengangguk sedih.
"Ya. Tentu saja dia gila. Kukira sejarah keluarga itu sudah membuatnya tidak waras. Keinginannya yang kuat untuk mewarisi tanah keluarga mendorongnya melRanikan serangkaian perbuatan kriminal
Mungkin saja pikiran ini muncul pertama kali dalam benaknya ketika ia melakukan perjalanan ke utara bersama Vincent. Dia tidak dapat menerima kalau kutukan itu nantinya tidak terbukti. Anak Ronald sudah tiada dan Ronald sendiri tengah menyongsong maut - orang-orang yang bernasib jelek.
Diaturnya kematian dengan senapan - yang tidak kucurigai sampai sekarang - direncanakannya kematian saudaranya, John, dengan cara yang sama dengan menyuntikkan asam semut ke dalam urat leher. Dengan demikian ambisinya menjadi kenyataan dan dia menjadi tuan dari berhektar-hektar tanah keluarga.
Tapi, sorak kemenangannya tidak berumur panjang karena didapatinya dirinya mengidap penyakit yang tidak dapat diobati. Dan timbullah gagasan gila - putra sulung Lemesurier tidak akan menjadi ahli waris.
Aku kira kecelakaan sewaktu mandi di laut itu disengajanya - dia mendorong Ronald berenang terlalu ke tengah. Gagal. Lalu dia memotong tanaman menjalar.
"Kejam!" bisik Rani sambil menggigil ngeri.
"Dan direncanakan dengan begitu rapi!"
"Betul, Sobat. Tidak ada yang lebih mengherankan dari gagasan orang gila! Atau, sikap eksentrik orang waras yang luar biasa! Kukira akhir-akhir ini dia bertindak kelewat batas. Ada penyebab kegilaannya."
"Aku ingat aku mencurigai Roger - pemuda yang baik itu."
"Itu wajar, Sobat. Kita tahu, ia juga bersama Vincent dalam perjalanan malam itu. Kita tahu pula, dialah ahli waris setelah Hugo serta kedua anaknya. Tapi, kenyataan tidak mendukung dugaan kita. Tanaman menjalar itu dipotong pada waktu hanya Ronald yang berada di rumah - padahal Roger pasti menghendaki kematian kedua anak itu. Begitu pula, hanya makanan Ronald yang diracuni. Dan ketika itu, aku tahu hanya ayah Ronald yang mengatakan anaknya disengat lebah. Aku pernah melihat orang lain mati karena sengatan lebah - itulah sebabnya aku jadi mengerti semua ini."
***
Beberapa bulan kemudian Hugo Lemesurier meninggal di rumah sakit jiwa swasta, tempat ia tinggal setelah peristiwa malam itu. Tahun berikutnya, jandanya menikah kembali dengan John Gardiner, sekretaris yang berambut merah itu. Ronald mewarisi tanah ayahnya yang luas dan terus mengembangkannya.
"Well, well," kata Rani kepada komisaris Saga.
"Hilang lagi satu pandangan yang menyesatkan. Engkau berhasil mengalahkan kutukan keluarga Lemesurier dengan gemilang."
__ADS_1
"Aku jadi bertanya-tanya sendiri," ujar komisaris Saga serius.
"Sungguh, aku jadi bertanya-tanya sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Sobat, kujawab pertanyaanmu dengan satu kata kunci - 'merah'!"
"Darah?" aku sangsi, sehingga suaraku hanya terdengar sebagai bisikan.
"Imajinasimu selalu saja bernada sensasional, Rani! Yang kumaksudkan adalah sesuatu yang tidak begitu mengerikan - warna rambut si kecil Ronald Lemesurier!" sambil menghela napas, Rani meletakkan buku tabungannya.
"Aneh," kata Rani
"saldo rekeningku di bank tak pernah bertambah sedikit pun."
"Itu membuatmu gelisah! Astaga, Rani! Kalau aku yang mengalaminya, aku tidak akan bisa tidur sepanjang malam."
"Neraca keuanganmu cukup seimbang, ya," komentar Rani pedas.
"Empat ratus empat puluh empat pound, empat puluh empat penny," lapor komisaris Saga dengan nada puas terhadap dirinya sendiri.
"Angka yang rapi, bukan?"
"Pasti itu kebijaksanaan manajer bankmu. Dia tentunya tahu akan kesenanganmu pada detil-detil yang simetris. Bagaimana kalau kita menanamkan, katakanlah, tiga ratus dolar untuk ladang minyak Procupine" Iklan berbagai surat kabar hari ini mengatakan mereka akan membayar keuntungan saham seratus persen tahun depan."
"Tidak kalau aku," sahut komisaris Saga sambil menggeleng.
"Aku tidak suka segala sesuatu yang sensasional. Buatku tabungan sama dengan penanaman dengan cermat les rentes - simpanan untuk hari tua - apa istilahmu" - konversi."
"Engkau pernah melakukan investasi yang spekulatif?"
"Tidak, Sobatku," jawabnya enggan.
"Tidak akan pernah. Satu-satunya saham yang kupunyai, itu pun tanpa risiko apa pun, besarnya empat belas ribu pound di Burma Mines Ltd." komisaris Saga menghentikan perkataannya sebentar, dengan nada menunggu aku meminta ia melanjutkan kisahnya.
"Ya?" aku mendesak.
"Dan saham itu kudapat tanpa membayar sepeser pun - saham itu imbalan kerja otakku. Mau mendengar kisahnya Ya?"
__ADS_1
"Tentu saja mau."