
"Tuan! ada lima orang masuk secara paksa. Satu orang mengaku teman Non Rani. Mereka mengobrak-abrik kamar pembantu." kata Si bibi.
"Lantas dua Satpam kemana bi?" tanya Sersan Saga yang penasaran kenapa Satpam tak menghalangi mereka.
"Mereka pingsan tuan." jawab si bibi dengan penuh kecemasan.
"Berarti mereka masih disini ya Bi?" tanya Sersan Saga Saga.
"Masih tuan, di ruang tamu!" jawab si bibi pembantu.
"Baik bi, saya akan hadapi mereka! saya ingin tahu siapa mereka, berani kurang ajar di rumah ini!" seru Sersan Saga yang menatap asisten rumah tangga keluarga Wibowo yang tampak ketakutan itu.
"Sebaiknya Rani biarlah tidur disini, sepertinya lebih aman di mobil" pikir Sersan Saga dalam hati, yang kemudian dia pun melangkah masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo, di belakang Sersan Saga.
Setelah membuka pintu, benar saja Sersan Saga ada empat orang berbadan kekar dan satu orang berbadan agak kurus.
"Geng Kobra...! Dito? apa tujuan mereka?" gerutu Sersan Saga yang penuh tanda tanya dalam hati.
"Hai Saga..! kenapa kamu datang sini?" tanya Dito yang sangat kaget.
"Aku yang seharusnya tanya, kenapa kalian disini!" bentak Sersan Saga yang menatap Dito dengan tajam.
"Aku kesini mau mencari Rani, mau mengabarkan kalau kamu selingkuh dengan anak majikannya!" seru Dito sambil menunjukan foto kemesraan Sersan Saga dengan Rani yang pada saat tadi sedang menjadi Rana.
Sersan Saga ingin rasanya tertawa pada saat tapi dia tahan.
"Hei! apa untungnya kamu beritahu Rani tentang hal itu? apa kamu nggak sadar, kalau Rani tahu malah akan membuat dia sakit hati?" tanya Sersan Saga yang penasaran.
"Karena itulah! jika Rani patah hati, maka aku akan menerimanya dengan senang hati." kata Dito percaya diri seraya mengulas senyumnya.
"Oh, jadi begitu ya?" gumam Sersan Saga seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya, itu mau aku!" seru Dito.
"Lantas kenapa kamu dapat fasilitas super begini? pakai pengawal segala? apa kamu sekongkol ya sama Dio?" tanya Sersan Saga Saga sambil menunjuk satu persatu pengawal Dito.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Dito penasaran.
__ADS_1
"Dasar bocah! aku kan Sersan Saga , apa yang tidak aku tahu? cepat pulang, kamu besok masih sekolah. Malam-malam keluyuran di rumah yang di tinggal pemiliknya. Mau aku buat tanda di pipimu!" hardik Sersan Saga dengan tatapan yang tajam.
"Ti..dak..tidak.. ya aku mau pulang sekarang...!" kata Dito ketakutan.
Tapi empat anggota geng Kobra yang jadi pengawal Dito, mencoba melawan Sersan Saga. Namun dihalangi oleh Dito. Mereka pun segera keluar rumah tanpa perlawanan.
Sersan Saga mendekati si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo.
"Bi..! selain kedua Satpam, apa ada yang lain terluka?" tanya Sersan Saga yang menatap wanita setengah baya itu.
"Tidak tuan, hanya kami kaget karena tiba-tiba mereka menggeledah tiap kamar pembantu." jawab Si bibi dengan suara yang masih terdengar gemetaran..
"Baiklah, tolong urus kedua satpam yang pingsan. Saya mau menutup pintu gerbang." kata Sersan Saga.
"Baik tuan!" jawab Asisten rumah tangga tuan Wibowo yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana kedua satpam itu yang sedang tak sadarkan diri.
Sementara itu Srsan Saga segera berjalan menuju pintu gerbang kediaman Tuan Wibowo, dan menguncinya setelah dirasa aman.
Kemudian Sersan Saga melangkahkan kaki menuju ke mobil dimana dia tadi mengendarainya, lantas Sersan Saga membopong Rani seperti bridal Style yang masih tertidur pulas masuk ke dalam rumah.
"Bi, tolong kunci mobil dan pintu rumah!" perintah Sersan Saga, setelah meletakkan kunci mobil di meja tamu. Kemudian dia melanjutkan langkah kakinya menuju ke anak tangga yang menuju ke kamar Rani.
"Bi..! maaf ganggu sebentar!" kata Sersan Saga saat menuruni tangga.
"Ada apa tuan?' tanya si bibi yang hendak mematikan lampu ruang tamu.
"Tolong gantikan baju Nona pakai pakaian tidur atau pakaian santai. Biar nyaman tidurnya." pinta Sersan Saga.
"Kalau ada apa-apa, saya ada di kamar Radit ya Bi!" lanjut seru Sersan Saga.
"Oh.. baik Tuan, Tapi kemana Tuan muda Radit tuan? kenapa tidak pulang bersama Nona Rani?" tanya si bibi yang penasaran, pada saat berjalan menuju ke tangga rumah.
"Oya saya belum kasih tahu ya? maaf, Radit ada di rumah sakit. Dia tadi kena tembak. Jangan khawatir, tidak parah kok." jawab Sersan Saga agar pembantu itu tidak mengkhawatirkan anak majikannya.
"Syukurlah kalau tidak parah, tapi kenapa tidak diajak pulang saja, Sersan? Saya sanggup merawat tuan Raditya!" seru si bibi yang sangat mengkhawatirkan melanjutkan langkahnya.
"Bibi jangan khawatir, sudah ada pakar perawatnya!" bisik Sersan Saga sembari mengulas senyumnya dan kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke kamar Raditya.
__ADS_1
Sersan Saga segera membersihkan dirinya dan kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian santai milik Raditya.
Sementara itu Bibi si asisten rumah tangga keluarga tuan Wibowo, melangkahkan kakinya menuju ke kamar Rani. Wanita itu sibuk mengganti pakaian Rani yang masih tidur dengan pulasnya.
Beberapa menit kemudian, dia telah selesai dan kemudian keluar dari kamar Rani, tak lupa menutup pintu kamar Rani tersebut.
Malam semakin larut, dengan menyebarkan bintang-bintang diangkasa. Dengan perlahan-lahan sang bulan bergulir, seolah tahu kalau kini waktunya sang matahari untuk bekerja.
Tak berapa lama Matahari telah memancarkan bias indahnya di ufuk timur, memberi cahaya sampai menembus sela-sela dedaunan dan terpancar sinar kemilau kristal-kristal embun yang berada di ujung dedaunan.
"Hoahaheeem...!'' terdengar suara seorang gadis yang sedang menguap.
"Jam berapa ini? gawat bisa terlambay! tunggu dulu, tadi malam kan dari pesta ulang tahun? kenapa bisa sampai kamar? baju, siapa yang ganti bajuku? jangan-jangan...? oh tidaaaakkk....!" pertanyaan dalam hari Rani pada saat bangun tidur, dan melihat pada jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi hari.
Kemudian Rani bangkit dari posisinya diatas tempat tidur, dan bergegas melangkahkan kaki ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Rani bergegas merias dirinya dan mengemasi buku-buku pelajarannya. Selesai dengan semua itu, Rani segera melangkahkan kaki untuk turun ke ruang makan.
Rani menjumpai Bibi si asisten rumah tangga Tuan Wibowo yang sedang mengatur piring untuk sarapan mereka.
"Bibi...!" panggil Rani dan si Bibi menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, non Rani sudah bangun?" tanya Bibi itu sembari mengulas senyumnya.
"Iya bi, Rani mau tanya pada bibi! Siapa yang semalam yang membawa saya ke kamar siapa bi?" tanya Rani yang penasaran.
"Tuan Sersan Saga, Nona!" jawab si bibi sambil mengisi gelas dengan susu putih.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...