Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kancing manset yang pecah


__ADS_3

"Jendela ditutup dan dipalang. Pembunuh keluar melalui pintu, mengunci pintu, dan membawa kunci itu. Pikirnya orang akan mengira bahwa Protheroe mengunci diri di kamar dan menembak dirinya sendiri, sedangkan kunci yang hilang ini tidak akan diperhatikan. Anda setuju, Komisaris Saga?"


"Saya memang setuju. Tapi, lebih sederhana dan lebih baik kalau pembunuh menyelipkan kunci kembali ke kamar, ke bawah pintu. Dengan demikian seakan-akan kunci itu jatuh dari tempatnya."


"Ah, Anda kan tidak mengharapkan setiap orang mempunyai pemikiran cemerlang seperti yang Anda miliki. Seandainya Anda jadi penjahat, pasti luar biasa. Ada komentar, Komisaris Saga?"


Bagiku, Komisaris Saga seperti kehilangan akal. Ia melihat sekeliling ruangan dan berkata dengan ringan serta dalam nada minta maaf,


"Ia banyak merokok, monsieur ini." Benar. Tempat pembakaran penuh puntung rokok. Begitu pula asbak yang terletak di atas meja kecil, di dekat kursi besar yang mempunyai pegangan tangan. "Dia pasti mengisap kira-kira dua puluh batang semalam," tukas Inspektur Alex.


Sambil membungkuk Inspektur Alex memeriksa isi tempat pembakaran dengan cermat, kemudian mengalihkan perhatian ke asbak.


"Rokok-rokok ini sama," lapornya, "dan diisap oleh laki-laki yang sama. Tidak ada apa-apanya, Komisaris Saga."


"Saya tidak mengatakan ada apa-apa," gumam sahabatku.


"Ha!" seru Inspektur Alex.


"Apa ini?" Dia menyambar sebuah benda berkilat yang tergeletak di lantai, di dekat almarhum.


"Kancing manset yang pecah. Saya heran, kepunyaan siapa ini. Dokter Giles, sudikah Anda turun dan memanggil pengurus rumah tangga itu kemari?"


"Bagaimana dengan suami-istri Parker" Parker ingin sekali meninggalkan rumah ini. Katanya ia punya urusan yang mendesak di London."


"Kasus ini akan terus ditangani tanpa dia. Melihat situasi, nampaknya akan ada urusan mendesak yang harus ia bereskan di sini! Panggillah pengurus rumah tangga itu dan jangan biarkan salah seorang Parker itu mengecoh Anda maupun Pollard. Apakah ada penghuni rumah yang masuk ke kamar ini pagi tadi?" Dokter Giles berpikir.


"Tidak. Sementara saya dan Pollard masuk mereka berdiri di luar, di koridor."


"Yakin begitu?"


"Seratus persen." Dokter Giles keluar untuk memenuhi permintaan Inspektur Alex.


"Baik sekali dokter itu," kata Inspektur Alex gembira.


"Dokter-dokter yang senang berolahraga biasanya hebat. Well, saya jadi bertanya-tanya sendiri siapa yang menembak laki-laki ini. Sepertinya salah seorang di antara ketiga penghuni rumah ini. Saya hampir tidak mencurigai pengurus rumah tangga itu. Kalau ingin menembak almarhum, ia punya waktu delapan tahun untuk melakukannya. Saya bertanya-tanya sendiri, siapa gerangan sebenarnya pasangan Parker ini"


Mereka nampaknya bukan pasangan yang baik." Pada detik itu Nona Clegg muncul. Ia seorang wanita yang kurus kering, berambut berubannya terpisah rapi di tengah, sangat pendiam serta serius, dan berpembawaan kalem.


Meskipun demikian, ada kesan efisiensi dalam dirinya yang menimbulkan rasa hormat. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan Inspektur Alex dengan menjelaskan bahwa ia telah empat belas tahun tinggal bersama almarhum.


Korban adalah majikan yang murah hati dan baik budi. Tuan dan Nyonya Parker belum pernah dilihatnya sampai tiga hari yang lalu, ketika tanpa disangka-sangka keduanya datang untuk menginap. Menurut dia, pasangan itu sendiri yang mengajukan permintaan untuk menginap.

__ADS_1


Jelas terlihat tuannya tidak menyukai kehadiran mereka. Kancing manset yang diperlihatkan Inspektur Alex kepadanya pasti bukan milik Protheroe - ia yakin akan hal ini. Ketika ditanya mengenai pistol, ia mengatakan bahwa tuannya memang mempunyai senjata jenis itu, yang disimpan dalam tempat terkunci.


Beberapa tahun yang lampau Nona Clegg melihat senjata seperti itu, namun ia tidak dapat memastikan apakah pistol ini yang ia lihat dulu. Semalam ia tidak mendengar suara tembakan. Akan tetapi, hal ini tidaklah mengherankan karena rumah itu besar dan tidak teratur.


Selain itu, kamarnya maupun kamar yang dipakai pasangan Parker terletak di ujung lainnya. Ia tidak tahu pukul berapa Protheroe pergi tidur - almarhum masih terjaga ketika ia masuk ke kamar pukul 21.30. Langsung pergi tidur bukanlah kebiasaan tuannya setelah masuk kamar.


Biasanya tuannya duduk-duduk, membaca, dan merokok sampai tengah malam. Almarhum memang perokok berat. Giliran Komisaris Saga mengajukan pertanyaan.


"Biasanya majikan Anda tidur dengan jendela terbuka atau tertutup?" Nona Clegg berpikir.


"Biasanya terbuka. Yang pasti jendela atas selalu terbuka."


"Tapi sekarang jendela itu tertutup. Dapatkah Anda menjelaskan mengapa?"


"Tidak, kecuali mungkin Tuan merasakan embusan udara lalu menutup jendela." Inspektur Alex mengajukan beberapa pertanyaan lagi, kemudian menyuruh perempuan itu pergi.


Berikutnya Inspektur Alex mewawancarai suami-istri Parker secara terpisah. Nyonya Parker cenderung histeris dan berurai air mata. Sedangkan jawaban Tuan Parker penuh gertak sambal serta caci-maki. Ia mengingkari bahwa kancing manset itu miliknya, namun karena sebelumnya istrinya mengenali kancing manset itu sebagai kepunyaan suaminya, penyangkalannya sia-sia.


Selain itu, Parker menyangkal telah memasuki kamar Protheroe. Inspektur Alex berpendapat ia punya cukup bukti untuk mengajukan surat perintah penahanan. Dengan menyuruh Pollard menjaga, buru-buru Inspektur Alex kembali ke desa dan menelepon markas besar. Rani dan Komisaris Saga kembali ke penginapan.


"Tidak biasanya engkau diam saja," kata Rani.


"Sebaliknya. Menarik sekali bagiku. Tapi, membingungkan."


"Motifnya tidak jelas," katRani sungguh-sungguh.


"Tapi Rani yakin si Parker itu jahat. Kasus yang memberatkan dia jelas sekali, cuma motifnya yang belum terbongkar."


"Tidak adakah hal penting yang menarik perhatianmu, yang mungkin dilupakan Inspektur Alex?" Rani memandangnya, mencari informasi.


"Apa yang kaupikirkan, Komisaris Saga?"


"Ada apa di atas lengan almarhum?"


"Oh, saputangan itu!"


"Persis. Saputangan itu."


"Pelaut selalu membawa saputangan di lengannya," kata Rani serius.


"Pemikiran yang bagus sekali, Rani, biarpun bukan itu yang ada di benakku."

__ADS_1


"Ada yang lain lagi?"


"Ya. Berkali-kali Rani menghirup udara untuk membaui asap rokok."


"Rani sama sekali tidak mencium bau itu," seruku dengan nada bertanya-tanya.


"Rani juga tidak, Sobat."


Rani memandang Komisaris Saga tajam-tajam. Sulit sekali untuk mengetahui apakah Komisaris Saga sedang memperdaya Rani. Tapi kali ini ia kelihatan serius sekali dan mengerutkan dahi kepada dirinya sendiri.


Pemeriksaan jenazah diadakan dua hari kemudian. Sementara itu, bukti lain terungkap. Seorang gelandangan mengaku telah memanjat dinding untuk masuk ke kebun Leigh House, tempat ia sering kali tidur di gudang yang dibiarkan tidak terkunci.


Gelandangan itu mengaku mendengar dua orang laki-laki bertengkar sengit dalam kamar di lantai pertama, pada tengah malam. Yang satu meminta sejumlah uang; yang lain menolak dengan berang. Dengan bersembunyi di semaksemak, gelandangan itu bisa melihat kedua laki-laki yang bertengkar ketika keduanya berjalan mondar-mandir melewati jendela yang terang.


Yang seorang dia tahu pasti adalah Protheroe, si pemilik rumah, sedang satunya tegas-tegas ia identifikasikan sebagai Parker. Jelaslah sekarang bahwa suami-istri Parker datang ke Leigh House untuk memeras Protheroe. Kemudian, dengan terungkapnya bahwa nama almarhum yang sebenarnya adalah Wendover dan almarhum pernah menjadi letnan Angkatan Laut serta terlibat dalam kasus peledakan kapal pesiar kelas satu, Merrythought, pada tahun 1910, perkara ini nampaknya akan segera menjadi gamblang.


Diperkirakan Parker, yang mengetahui peran yang telah dimainkan oleh Wendover, menelusuri jejak Wendover untuk mendapatkan uang pengunci mulut - yang ditolak oleh almarhum. Di puncak pertengkaran Wendover mengeluarkan revolvernya, Parker merenggut senjata api itu lalu menembaknya. Kemudian Parker berusaha memberi kesan bahwa almarhum bunuh diri.


Parker diajukan ke pengadilan tanpa menggunakan hak pembelaan dirinya. Kami hadir dalam rapat-rapat pengadilan polisi itu. Pada waktu meninggalkan tempat itu Komisaris Saga mengangguk.


"Pasti begitu," bisiknya kepada diri sendiri.


"Ya, pasti begitu. Rani tidak akan menunda-nunda lagi."


Komisaris Saga pergi ke kantor pos dan menulis pesan yang disampaikan oleh utusan khusus. Rani tidak tahu kepada siapa pesan itu ditujukan. Setelah itu kami kembali ke penginapan, tempat kami tinggal selama akhir pekan yang pantas dikenang ini. Komisaris Saga gelisah, berjalan kian-kemari ke arah jendela.


"Rani menunggu tamu," jelasnya.


"Tidak mungkin - pasti tidak mungkin Rani keliru. Tidak. Ini dia orangnya." Rani heran sekali.


Menit berikutnya Nona Clegg melangkah masuk. Ia tidak setenang biasanya serta terengah-engah, seolah-olah ia baru saja berlari. Kulihat ketakutan di matanya manakala ia memandang Komisaris Saga.


"Silakan duduk, Mademoiselle," kata Komisaris Saga ramah.


"Tebakan saya tepat, iya kan?" Sebagai jawaban tangis perempuan itu meledak.


"Mengapa Anda melakukannya?" tanya Komisaris Saga lembut.


"Mengapa?"


"Saya sangat mencintainya," sahut Nona Clegg.

__ADS_1


__ADS_2