
Setelah selesai dari kamar mandi secara bergantian, mereka pun bergegas meninggalkan apartemen tersebut.
Sersan Saga dan Rani keluarga dari apartemen Sersan Saga dengan masing-masing membawa tas ransel, setelah sebelumnya menutup dan mengunci pintu apartemen.
Keduanya kembali masuk ke dalam lift yang kali ini turun ke lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Sersan Saga dan Rani melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana sepeda motor Sersan Saga terparkir. Setelah menemukan dan menghampiri sepeda itu, mereka segera memakai helm masing-masing dan segera naik ke atasnya.
Kemudian Sersan Saga menyalakan dan kini sepeda motor itu melaju membawa sepasang kekasih itu menyusuri jalan raya yang menuju ke arah SPBU.
Sesampainya di SPBU yang dimaksudkan Raditya, Sersan Saga mengarahkan sepeda motornya untuk menuju antrian sepeda motor lainnya yang juga mau mengisi bahan bakar sepeda motornya.
"Kita mengisi bahan bakar dulu ya!" seru Sersan Saga.
"Iya kak " jawab Rani.
Selesai mengisi bahan bakar, mereka segera menuju ke pinggir jalan depan SPBU tadi.
"Rani sayang, kamu tunggu disini sebentar. Kakak mau beli makanan dan minuman buat perjalanan nanti." kata Sersan Saga yang turun dari motornya.
"Iya kak." jawab Rani yang kini berdiri disamping sepeda motor Sersan Saga.
Sementara itu Sersan Saga melangkahkan kakinya menuju kios mini market yang berada disamping SPBU.
Rani pun menunggu sambil bersandar di sepeda motor kekasihnya itu.
Beberapa menit kemudian, Sersan Saga datang membawa satu kantung plastik berisikan dua botol air mineral dan beberapa makanan ringan.
"Cepat sekali kak?" tanya Rani pada saat Sersan Saga menghampirinya.
"Iya, takut kekasihku diambil orang! He..he...he...!" jawab Sersan Saga sambil terkekeh.
"Apaan sih kak Saga ini!" seru Rani yang memerah wajahnya karena ucapan Sersan Saga yang nampak sekali bucin padanya.
Tak berapa lama, ada sebuah mobil mewah menghampiri dan berhenti disamping mereka.
"Rani, nak Saga...!" panggil seseorang wanita dari dalam mobil.
"Mama..papa..!" Sahut Rani yang mengetahui siapa saja yang berada didalam mobil itu.
"Tas ransel kalian taruh di bagasi saja, tapi ponsel dan dompet kalian bawa ya!" seru Nyonya Lani.
"Iya ma!" jawab Rani.
__ADS_1
"Sini biar aku yang meletakkannya!" seru Sersan Saga yang mengambil tas ransel Rani dan kemudian membawa tas ransel miliknya dan milik Rani itu ke bagasi mobil.
Setelah selesai, sersan Saga segera menghampiri Rani, dan mereka memakai kembali helm yang tadi sebelumnya mereka lepas.
Yang dibawa Rani sekarang adalah tas kecil berisikan ponsel dan dompetnya, serta kantong plastik yang berisikan air mineral dan makanan ringan yang baru saja dibeli oleh Sersan Saga.
"Ayo berangkat! Kalian hati-hati ya!" seru Nyonya Lani dan yang lainnya yang ada di dalam mobil itu.
"Iya!" jawab Rani dan Sersan Saga secara serempak.
Kemudian Mobil mewah dan Sepeda motor sport itu melaju menyusuri jalan raya yang menuju ke arah lereng gunung.
"Kak Saga kalau haus bilang ya!" seru Rani yang berada dibelakang Sersan Saga.
"Iya." jawab Sersan Saga dengan pandangan tetap ke arah depan.
Setelah berjalan beberapa kilometer, tiba-tiba mobil mewah yang ditumpangi tuan Wibowo, nyonya Lani, Raditya dan si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo itu berhenti mendadak. Dan demikian pula dengan sepeda motor Sersan Saga.
"Aih, kebiasaan....!" seru Rani sambil memegang hidungnya yang sakit karena terbentur punggung Sersan Saga saat mengerem mendadak tadi.
"Lihatlah di depan, ada tawuran antar geng...!" seru Sersan Saga.
"Aneh, biasanya kesenangan mereka ini dilakukan malam hari. Ini kok siang hari ya?" tanya Rani yang melihat situasi tawuran dengan menegakkan tubuhnya dan tangannya di pundak Sersan saga, yang seolah tubuh tegap Sersan itu menghalangi pandangannya.
Sersan Saga pun tersenyum melihat Rani turun dari boncengannya setelah memberikan tas plastik yang berisikan belanjaannya waktu di mini market SPBU tadi.
Rani melangkahkan kaki mencari lebih banyak kerikil di sekitar tempat mereka berhenti.
"Aku butuh banyak kerikil karena mereka juga banyak anggotanya." batin Rani saat memungut kerikil dengan kantung plastik hitam tanpa melepas helmnya.
Setelah dirasa cukup, Rani bergegas berlari dan melompat diatas mobil keluarganya. Dan kemudian melompat kembali dengan lebih tinggi ke udara dan melemparkan kerikil-kerikilnya ke arah gengster-gengster yang sedang tawuran itu.
"Takk..takk...takk..takk...!"
"Takk..takk...takk..takk...!"
"Takk..takk...takk..takk...!"
Ada lima, sepuluh, lima belas orang tidak sadarkan diri.
Gadis yang masih memakai helmnya itu turun di tengah-tengah arena tawuran. Dan Rani mengulanginya beberapa kali untuk dua geng yang sedang tawuran itu.
Melihat anak gadisnya ditengah arena perkelahian, nyonya Lani cemas.
__ADS_1
"Pa bantuin Rani Pa...!" pinta nyonya Lani yang saat ini keluar keringat dingin karena terlalu mengkhawatirkan putrinya yang ada ditengah-tengah lawannya yang jumlahnya tidak sedikit itu.
"Mama jangan khawatir, walaupun Radit nggak bisa bantu. Tuh.. dibelakang ada seorang Sersan Saga yang tak akan rela kekasihnya terluka." sahut Raditya.
Nyonya Lani sedikit menghela nafas lega, setelah memikirkan apa yang dikatakan oleh Raditya. Karena kemungkinan ada yang bisa membantu putrinya bila Rani sedang terdesak.
Kembali pada Rani, gadis itu telah melumpuhkan tiga puluh orang diantara seratus gengster yang sedang tawuran itu dengan kerikil-kerikil yang menotok lawan-lawannya.
"Kurang ajaaaar....! apa kau gadis bertopeng yang banyak dibicarakan semua orang?" seru salah satu diantara para gengster itu.
"Hei..! apakah aku seterkenal itu!" seru Rani yang merasa heran.
"Kau yang selalu menggagalkan rencana kami, kebetulan kau ada disini, ayo tangkap dia!" seru orang yang ada dihadapan Rani yang sepertinya dia ketua dari misi mereka.
"Geng Kobra?" batin Rani saat melihat beberapa jaket bergambar ular kobra diantara mereka. Kemudian kembali Rani menyerang mereka dengan kerikil-kerikilnya.
"Takk...takk..takk.,takk,...!"
Dan sekali lagi dia melemparkan kerikilnya.
"Takk ..takk..takk...takk...!"
Suara kerikil itu mengenai sasarannya. Delapan orang sudah terkapar tak sadarkan diri.
"Kurang ajar...!'' gertak salah satu orang dari gengster berjaket dan bergambar kepala ular kobra saat melawan lawannya, dan sekarang mereka mengepung gadis yang memakai helm yang kacanya tertutup itu dengan geram dan kesal.
Sementara itu yang sebenarnya terjadi pada Rani adalah dia saat ini merasa risau, karena kesulitan dalam mendengar dan melihat pergerakan lawannya.
"Sial...! susah juga aku mendengarkan pergerakan mereka karena helm ini." gerutu Rani dalam hati, namun tetap berusaha untuk selalu waspada.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
.
__ADS_1