Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Titik Terang


__ADS_3

"Silakan duduk, Mademoiselle."


Diambilnya kursi dan disibakkannya cadar yang menutupi wajahnya. Wajahnya mempesona, meskipun penuh air mata, dan seolah-olah dihantui kecemasan yang luar biasa. "Monsieur," katanya.


"Saya tahu Anda sekarang sedang berlibur. Karena itu Anda bebas untuk menangani kasus pribadi. Anda mengerti, saya tidak ingin memanggil polisi." Rani menggeleng.


"Saya khawatir permintaan Anda ini tidak mungkin saya penuhi, Mademoiselle. Meskipun sedang berlibur, saya tetap bagian dari kesatuan polisi." Dicondongkannya badannya ke depan.


"Ecoutez, Monsieur. Saya hanya menginginkan Anda menyelidiki. Mengenai hasil penyelidikan itu, Anda bebas sepenuhnya untuk melaporkannya kepada polisi. Kalau yang saya yakini ini memang benar, kita akan memerlukan semua aparat hukum." Penjelasan ini mempengaruhiku dan Rani memenuhi permintaannya tanpa ribut lagi. Wajahnya jadi agak ceria. "Terima kasih, Monsieur. Kematian M. Paul D?roulard itulah yang saya minta Anda selidiki."


"Comment?" seru Rani yang terkejut.


"Monsieur, saya tidak tahu apa-apa - kecuali naluri kewanitaan saya, tapi saya percaya dan yakin - bahwa M. D?roulard mati secara tidak wajar!"


"Tapi, tentunya dokter-dokter - "


"Dokter bisa saja salah. Ia begitu sehat, begitu kuat. Ah, Monsieur komisaris Saga saya mohon Anda menolong saya - " Gadis yang malang itu hampir saja menjadi tak terkendali. Hampir saja dia berlutut di depan Rani.


Kemudian Rani menenangkan dia sedapat mungkin.


"Saya akan menolong Anda, Mademoiselle. Saya agak merasa yakin bahwa kekhawatiran Anda tidak beralasan, tapi akan kita lihat. Pertama-tama saya minta Anda menggambarkan penghuni rumah."


"Ada pelayan-pelayan, tentu saja. Jeannette, F?licie, dan Denise si juru masak. Denise sudah bekerja bertahun-tahun; yang lain cuma gadis-gadis desa yang sederhana. Ada juga Fran?ois, tapi dia sudah terlalu tua sebagai pelayan. Lalu ibu Monsieur D?roulard dan saya sendiri. Nama saya Virginie Mesnard. Saya sepupu almarhumah Madame D?roulard yang miskin; dan sudah tiga tahun lebih saya ikut mereka. Ada juga dua tamu yang menginap di sana."


"Siapa mereka?"

__ADS_1


"M. de Saint Alard, tetangga M. D?roulard di Prancis dan seorang kawan berkebangsaan Inggris, John Wilson."


"Mereka masih di sana sekarang?"


"Wilson, ya, tapi M. de Saint Alard pulang kemarin."


"Lalu apa rencana Anda, Mademoiselle?"


"Kalau Anda bersedia datang ke rumah dalam setengah jam lagi, saya akan membuat alasan untuk menjelaskan kedatangan Anda. Sebaiknya saya perkenalkan Anda sebagai wartawan. Akan saya katakan bahwa Anda datang dari Paris dan membawa kartu pengenal dari M. de Saint Alard. Kesehatan Madame D?roulard lemah sekali dan ia tidak akan memperhatikan hal-hal kecil." Dengan cara demikianlah Raniditerima di rumah itu. Setelah wawancara singkat dengan ibu kepala polisi yang sudah meninggal itu - seorang wanita dengan postur bangsawan dan luar biasa mengesankan, meskipun kesehatannya sudah rapuh - Ranibebas. Ranibertanya-tanya sendiri, Sobat (lanjut komisaris Saga), apakah engkau dapat membayangkan sulitnya tugasku ini" Ada laki-laki yang meninggal tiga hari yang lalu. Seandainya ada permainan kotor pada waktu itu, satu kemungkinan saja yang dapat diterima - keracunan! Padahal Ranitidak mempunyai kesempatan untuk melihat jenazahnya. Tidak mungkin memeriksa atau menganalisa sarana apa pun yang mungkin dipergunakan. Tidak ada petunjuk apa pun yang dapat dijadikan bahan pertimbangan. Apakah almarhum diracuni"


"Apakah ia mati secara wajar" Aku, Hercule komisaris Saga, harus menyimpulkannya tanpa bantuan apa pun. Mula-mula kuwawancarai para pelayan. Dengan bantuan mereka Ranimeringkas kejadian malam itu. Sup diambil sendiri oleh M. D?roulard dari mangkuk besar. Menu berikutnya adalah lauk sayatan daging dan ayam. Akhirnya kolak buah. Semua disiapkan di meja dan Monsieur D?roulard mengambilnya sendiri. Kopi ada dalam teko besar.


"Tidak ada apa-apa, Sobat - kalau memang mau meracuni seseorang pasti meracuni yang lain juga!" Sesudah makan malam, Madame D?roulard masuk ke apartemennya ditemani Mademoiselle Virginie. Ketiga laki-laki itu pindah ke kamar kerja M. D?roulard. Di sana mereka mengobrol beberapa saat ketika tiba-tiba, tanpa tanda-tanda apa pun, kepala polisi itu jatuh ke lantai. M. de Saint Alard bergegas ke luar dan menyuruh Fran?ois menjemput dokter. Menurutnya, itu pasti serangan ayan. Tapi, waktu dokter datang, pasiennya sudah tidak tertolong lagi. John Wilson, yang kukenal lewat Mademoiselle Virginie, berumur setengah baya, badannya besar dan tegap. Ceritanya - yang dituturkan dalam bahasa Prancis dengan aksen Inggris yang kuat - kurang lebih sama dengan cerita para pelayan. "Wajah M. D?roulard berubah merah sekali, lalu ia jatuh."


Tidak ada yang dapat ditemukan lagi di sana. Kemudian Rani masuk ke tempat tragedi itu terjadi, yaitu kamar kerja korban, dan minta ditinggal sendirian di sana. Sejauh ini tidak ada yang mendukung teori Mademoiselle Mesnard. Mau tak mau Rani menyimpulkan bahwa teorinya itu hanya khayalan belaka. Jelas gadis itu mencintai almarhum sehingga ia tidak bisa menerima peristiwa ini secara wajar.


Tapi tidak kutemukan tanda apa pun yang mendukung teori ini. Dengan putus asa kuempaskan tubuhku ke kursi.


"Enfin, kutinggalkan perkara ini!" seru Rani keras-keras.


"Tidak ada tanda di mana pun! Semuanya wajar sekali." Pada waktu mengucapkan kata-kata ini pandanganku tertuju pada sekotak besar permen coklat yang terletak di atas meja di dekat Rani.


Hati Rani melonjak kegirangan. Kotak itu mungkin tidak menunjukkan tanda apa-apa sehubungan dengan kematian M. D?roulard, tapi paling tidak hal ini tidak wajar. Rani mengangkat tutup kotak itu. Isinya penuh, belum disentuh; belum ada satu pun coklat yang hilang - tapi keadaan ini justru membuat keanehan yang lebih menarik perhatianku. Kotak itu sendiri berwarna merah muda, tapi tutupnya biru.


Sering kali orang melihat pita biru pada kotak merah jambu atau sebaliknya, tapi kotak dengan tutup berwarna lain tidak. Pasti - ?a ne se voit jamais! Ranibelum melihat bahwa penemuan sepele ini akan berguna untukku. Biarpun begitu, kuputuskan untuk menyelidiki karena keganjilannya.

__ADS_1


Rani membunyikan bel memanggil Fran?ois, dan menanyainya kalau-kalau almarhum tuannya gemar makan permen. Senyum melankolis yang samar-samar terbentuk di bibirnya.


"Senang sekali, Monsieur. Tuan selalu menyediakan sekotak coklat di rumah ini. Tuan tidak minum anggur sama sekali."


"Tapi, coklat di kotak ini belum disentuh?" Rani mengangkat tutup kotak untuk menunjukkan isinya yang penuh.


"Maaf, Monsieur. Ini kotak coklat yang baru yang dibeli pada hari Tuan meninggal. Yang lama sudah hampir habis."


"Coklat sebelumnya habis pada hari kematiannya," kata Rani pelan.


"Benar, Monsieur. Pagi harinya kotak itu saya dapatkan kosong dan saya buang." "Apakah M. D?roulard makan coklat sepanjang hari?"


"Biasanya sesudah makan malam." Rani mulai melihat titik terang.


"Fran?ois," kataku, "dapatkah kau menyimpan rahasia?"


"Kalau perlu, Monsieur."


"Bon! Kalau begitu, ketahuilah saya dari dinas polisi. Anda bisa mencari kotak coklat sebelumnya?" Dia pergi dan beberapa menit kemudian kembali membawa sebuah benda yang tertutup debu. Mirip kotak coklat yang kupegang, kecuali bahwa warna kotak itu biru dan tutupnya merah jambu. Kuucapkan terima kasih kepada Fran?ois. Sekali lagi kusarankan agar ia berhati-hati, lalu kutinggalkan rumah di Avenue Louise itu secepatnya. Ranisinggah ke rumah dokter yang merawat M. D?roulard.


Berhadapan dengannya merupakan tugas yang berat bagiku. Ia menyembunyikan dirinya di balik susunan kata-kata ilmiah yang sulit dimengerti, tapi kukira ia tidak sungguh-sungguh memahami kasus itu. "Peristiwa seperti itu sudah sering terjadi," katanya ketika Raniagak berhasil memperdayanya.


"Kemarahan yang tiba-tiba menyerang, emosi yang meluap - setelah terlampau banyak makan, c'est entendu - lalu dengan meluapnya rasa marah, darah mengalir ke kepala dan pst! - begitulah!"


"Tapi, M. D?roulard tidak sedang marah."

__ADS_1


"Tidak" Saya yakin ia sudah berdebat sengit dengan M. de Saint Alard."


"Mengapa?"


__ADS_2