
"Baik ma!" jawab Raditya yang bergegas melangkahkan kakinya ke tempat latihan dan diikuti oleh Bima.
Sementara itu sebelumnya Sersan Saga dan Rani melangkahkan kaki menghampiri Arya di ruang latihan.
"Apakah sudah selesai urusan kalian?" tanya Arya yang sebetulnya kurang nyaman dengan kehadiran Sersan Saga.
"Sudah, ayo kita latihan bersama-sama!" ajak Rani.
"Kalian berdua saja, aku masih mau istirahat sebentar." jawab Arya yang melangkahkan kakinya untuk menepi dari arena latihan.
"Baiklah kalau begitu, Ayo Rani!" timpal Sersan Saga yang menatap ke arah Rani.
"Iya kak" balas Rani dan mereka berdua bersiap untuk berlatih bersama.
"Iya kak" balas Rani dan mereka berdua pun berlatih bersama.
"Hop hiaaat....!"
"Bagh...bugh....bagh......bugh....!"
"Bagh...bugh....bagh......bugh....!"
Jurus demi jurus telah mereka tunjukkan, dan hasilnya masih berimbang. Belum terlihat siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Sementara itu, Raditya dan Bima telah sampai ditempat latihan dan mereka melihat Kakek Darma, Paman Sidiq, dan Tuan Wibowo, Arya sedang memperhatikan Rani dan Sersan Saga berlatih.
"Semuanya...! ada kabar buruk..!" seru Raditya saat berlari menghampiri Kakek Darma dan yang lainnya.
Mendengar teriakan Raditya, Rani dan yang lainnya berhenti berlatih. Mereka bergegas menghampiri Raditya yang sudah ada diantara Kakek Darma, Paman Sidiq, dan tuan Wibowo.
"Ada apa...? kenapa tiba-tiba bilang kabar buruk?" tanya Kakek Darma.
"Iya Dit, memangnya ada apa?" tanya Paman Sidik yang penasaran.
"Geng Kobra kek....! geng Kobra ada di kota ini...!" jawab Raditya dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Apaaa...!" seru mereka serempak dan semua pasang raut muka cemas.
"Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu lihat itu?" tanya Paman Sidiq yang penasaran.
__ADS_1
"Iya, saya yakin akan hal itu! Mereka rata-rata laki-laki muda dengan memakai jaket yang dibagian punggungnya bergambar kepala ular kobra. Perlu kalian semua ketahui kalau jumlah mereka tidak sedikit, satu lapangan penuh..!" jelas Raditya dengan suara bergetar dan tak terasa tubuhnya ikut gemetar.
"Satu lapangan..? kurang lebih dua ratus sampai empat ratusan orang..! mau apa mereka..!!" seru Paman Sidiq.
"Jangan-jangan mereka mengincar Turnamen besok...! secara mereka sedang gencar-gencarnya merekrut anggota..!" prediksi Sersan Saga.
"Benar...! Besok kita datang tanpa pendukung, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi. Harus ada yang menjaga perguruan." kata Kakek Darma.
"Iya guru!" jawab semua murid perguruan Darma Putih itu dengan serempak.
"Sebaiknya kita kumpulkan semuanya Yah! karena hari sudah menjelang sore, ada yang istirahat dan berjaga." kata Paman Sidiq yang ikut mengatur strategi pengamanan perguruan.
"Kau benar!" jawab kakek Darma.
"Arya cepat suruh para murid berkumpul!" lanjut perintah kakek Darma.
"Baik guru!" jawab Arya yang bergegas mengumpulkan teman-temannya sesuai perintah Kakek Darma.
"Dan kau Rani beri tahu semua yang ada di rumah untuk tidak ikut ke Turnamen. Dan tunjukan tempat sembunyi untuk mereka. Karena kita tidak bisa menyelamatkan mereka bila ada serangan dari geng Kobra...!" perintah Kakek Darma pada cucu perempuannya.
"Baik kakek..!" jawab Rani yang juga bergegas berlari menuju rumah menghampiri nyonya Lani dan bibi Dewi.
"Untuk semua murid-muridku, ada kabar buruk untuk kita. Geng Kobra telah sampai di kota ini. Maka dari itu, kalian besok tidak saya perkenankan ikut untuk menjadi pendukung. Kalian semua tetap berada di perguruan. Tugas yang penting buat kalian, menjaga perguruan dari serangan musuh. Lindungi kaum perempuan dan balita di sekitar kita. Besok tidak ada acara panen, tapi buatlah jebakan-jebakan untuk membentengi diri kalian..! Mengerti..!" perintah kakek Darma.
"Mengerti Guru...!" jawab semua murid dengan kompak.
"Sebaiknya mulai malam ini kita persiapkan segala sesuatunya..!" seru Paman Sidiq.
"Baik guru muda...!" jawab semua murid kompak.
Setelah acara di bubarkan, murid - murid pun mencari sesuatu untuk membuat jebakan.
Ada yang mencari bambu, dan ada yang mencari kayu. Ada yang membuat lubang-lubang di halaman perguruan dan penutupnya, dan ada yang mengambil batu dan kerikil. Semua bekerja keras, karena tak tahu berapa banyak dan sedikitnya saat geng Kobra nanti menyerang.
Setelah pembuatan jebakan-jebakan selesai, mereka bergantian membersihkan diri.bSelesai mandi dan makan, mereka membuat jadwal jaga dan istirahat yang bergantian.
Sementara itubRani berjalan ke tengah halaman, dia melihat bintang-bintang di langit.
"Nampaknya yang kalian khawatirkan benar akan terjadi. Aku mencium aura membunuh yang pekat datang dari arah sana...!"
__ADS_1
Suara dari kucing langit saat keluar dari liontin kalung pusaka berupa asap yang kemudian berubah menjadi seekor kucing putih berbulu lebat dan lembut.
"Benarkah..? kita harus persiapkan diri." kata Rani.
"Nona, apakah kau sudah makan pil langit hari ini?" tanya si Kity yang menatap ke arah Rani.
"Eh, iya! belum....!" jawab Rani!yang terkejut dan mengingat sesuatu.
"Cepatlah makan dan duduk bersila, aku akan menyalurkan hawa murniku untuk memperkuat tenaga dalam anda nona!" seru si Kity,dan gadis itu menganggukkan kepalanya.
Dengan segera Rani makan pil langit dan segera duduk bersila. Dan si kity kembali berubah menjadi asap dan masuk ke ubun-ubun Rani.
Sekilas tubuh Rani memancarkan cahaya kuning keemasan, dan hal itu terlihat oleh Raditya.
"Apa yang dilakukan Rani?" tanya Raditya saat keluar dari rumah dan semua yang mendengar pertanyaan Raditya itu pun ikut keluar.
"I...itu penyatuan hawa murni dan tenaga dalam tingkat tinggi....! dari mana dia mendapatkan ilmu itu...!" seru kakek Darma yang kaget, karena selama ini kakek Darma tidak mengajarkan ilmu tenaga dalam apalagi yang tingkat tinggi.
"Dia berguru dengan siapa?" tanya Paman Sidiq yang ikut penasaran pada saat melihat tubuh Rani yang keemasan itu.
"Kakek! Bagaimana cara menghimpun kekuatann tenaga dalam pada diri manusia?" tanya Raditya yang penasaran.
"Semua orang dilahirkan ke dunia ini dengan penuh kesempurnaan, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun perlu kita sadari bahwa setiap orang memiliki energi yang dapat bermanfaat untuk diri kita sendiri dan bermanfaat untuk orang lain." jelas kakek Darma.
"Lantas apa sebenarnya Energi Murni itu?" tanya Raditya lagi yang penasaran.
"Energi Murni adalah energi yang tersimpan di dalam tubuh kita, namun tidak semua orang menyadari akan keberadaannya. Energi murini atau bisa disebut Hawa murni merupakan energi yang tersimpan jauh di bawah alam bawah sadar kita, namun kita dapat memanggilnya jika kita mau." jawab kakek Darma yang menjelaskan.
"Lalu bagaimana cara kita untuk bisa memanggil energi murni itu, kek?" tanya Raditya lagi, dan semuanya pun menyimak akan penjelasan dari kakek Darma seraya memperhatikan keadaan Rani di tengah halaman perguruan Darma putih.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...