
Akan tetapi, bunga mawar putih juga kerap dihubungkan dengan perlambang kehormatan terakhir untuk sosok terkasih yang sudah tiada.
Namun sejalan dengan perkembangan zaman, bunga mawar putih kini banyak ditanam sebagai tanaman hias yang mempercantik halaman rumah.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bunga mawar juga digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan parfum yang memang menjadi aroma favorit, khususnya bagi kaum hawa.
Lalu, apa saja arti dari bunga mawar putih itu sendiri? Simak penuturannya ini.
Bunga mawar putih adalah bunga klasik yang paling banyak kita jumpai di pesta pernikahan yang sering disebut oleh banyak orang sebagai mawar pengantin.
Ini tidak terlepas dari bunga mawar putih yang mempunyai makna sebagai lambang kesucian dan kesetiaan cinta.
Maka untuk merayakan hari dan momen paling berharga tersebut, bunga mawar putih pun dipilih sebagai bunga yang melambangkan kesetiaan.
"Terima...terima...terima....!" seru murid-murid yang ternyata sedari tadi melihat aksi arya dan tak ketinggalan juga Bima yang memegang ponselnya merekam setiap kejadian sore itu
"Terima..terima...terima.." sorak teman-teman seperguruan Rani dan Arya terus bergema.
Rani hanya diam dan memandang Arya, dalam hati gadis itu bingung akan memberikan jawaban yang tidak akan mengecewakan temannya itu.
"A...Arya aku terima bunga ini, ta...pi kalau hati kamu aku belum bisa menerimanya. Kakek belum membolehkan ku untuk pacaran. Jadi maaf ya! permisi..!" kata Rani yang kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
Arya dan lainnya yang masih terpaku dengan apa yang terjadi.
Rani berjalan kembali menuju rumah, teman-teman Rani pun sebagian berjalan menuju tempat latihan.
Sedangkan Arya dan Bima masih di tempat, saat ini matahari sudah benar-benar terbenam dan langit pun mulai gelap.
...***...
Sementar itu di rumah kakek Darma, Kakek Darma kedatangan tamu dari perguruan Anggrek putih yang tak lain perguruan yang dipimpin oleh Nenek Lasmi adik seperguruan kakek Darma.
Nenek Lasmi datang bersama dengan Yuki, Yuda dan Nando. Mereka membawa banyak sekali makanan.
"Maksud kedatanganku kemari ingin menanyakan, apakah Kak Darma sudah tahu jadwal Turnamen bela diri setiap sepuluh tahun sekali?" tanya nenek Lasmi.
"Aku sudah tahu, memangnya kenapa?'' kata kakek Darma yang balik bertanya pada nenek Lasmi, sambil meneguk gelas berisikan teh khas lereng gunung.
__ADS_1
"Kira-kira siapa murid yang kak Darma jagokan untuk mewakili perguruan Darma putih?" tanya nenek Lasmi yang penasaran.
Kakek Darma menoleh ke arah Paman Sidiq, seolah meminta pendapat pada putranya itu.
"Sidiq kira-kira kamu ada pandangan tidak? untuk murid yang mewakili perguruan kita?" tanya Kakek Darma yang meminta pendapat pada anak bungsunya.
"Karena Rani hari ini pulang, kemungkinan Rani dan Arya lah yang kami jagokan ke turnamen kali ini." jawab Paman Sidiq.
"Andai ilmu bela diriku sehebat Rani, Aku pasti ikut kek!" seru Raditya yang ikut dalam pembicaraan itu.
"Sudah tidak apa-apa, lagi pula kamu kan habis terluka. Kita pikirkan murid-murid perguruan Darma putih yang lainnya!" kata kakek Darma yang tak ingin membuat cucu laki-lakinya itu terluka kembali.
"Kalau boleh kasih saran, sebaiknya Saga saja kak Darma. Dia kan murid kakak, selain itu dia dulu pernah menang dalam turnamen. Dia aku harapkan nanti bisa melawan Yuki kembali. He....he.....he...! cucu ku ini masih penasaran ingin menang dari Saga." kata nenek Lasmi.
"Saga...? memang apa boleh Yah?" tanya Paman Sidiq pada Kakek Darma.
Kakek Darma memandang Sersan saga yang sedari tadi tidak memperhatikan arah pembicaraan.
Dia sibuk mengotak-atik ponselnya, karena dalam pikirannya pada saat ini adalah mencari keberadaan Rani. Yang mana gadis itu belum kembali sejak tadi.
"Eh, iya guru." jawab Sersan Saga yang sedikit kaget.
"Nah begitu kan, jadi nanti Yuki dan Saga bisa bertanding lagi kali ini untuk kategori dewasa." kata Nenek Lasmi yang mengulas senyumnya.
"Jadi kita sama masing-masing mengirim tiga orang murid" kata kakek Darma.
"Darma putih Saga, Arya dan Rani, sementara Anggrek putih Yuki, Yuda dan Nando." lanjut kata Kakek Saga yang memperjelas perkataannya.
Sersann Saga semakin gelisah, wajahnya menjadi pucat mana kala melihat jam dinding yang arahnya sudah menunjukkan hari menjelang malam.
"Maaf guru dan yang lainnya, saya ijin keluar sebentar. Mau mencari udara segar sebwntar." pamit Sersan Saga sambil berdiri.
"Baiklah, jangan lama-lama. Kita masih harus bicara penting" kata Kakek Darma yang mengijinkan muridnya itu.
Sersan Saga memberi kode pada Raditya untuk keluar, dan keduanya pun segera keluar rumah.
Sersan Saga melangkahkan kaki menuju ke pintu utama rumah itu dan diikuti oleh Raditya.
__ADS_1
Kedua pemuda itu saat ini berada di halaman perguruan dengan di sinari cahaya bulan purnama.
"Ada apa adik tua?" tanya Raditya setengah becanda.
"Apakah kakak muda tidak memperhatikan adiknya lagi? sekarang dimana adikmu hah....!" seru Sersan Saga yang balik bertanya karena panik.
"Oh iya..ya..! Rani kemana ya?' kata Raditya yang balik bertanya dan sambil menoleh ke sekitarnya mencari keberadaan adiknya itu.
"Kamu cari sekitar rumah, dan aku di tempat latihan!" seru Sersan Saga yang membagi tugas.
"Baiiklah, aku setuju." jawab Raditya yang bergegas mencari Rani di sekitaran rumah dan Sersan Saga ke tempat latihan.
Sementara itu di dalam rumah, Tuan Wibowo ijin untuk istirahat karena kecapekan dalam perjalanan tadi. Sementara itu nyonya Lani dan bibi pembantu keluarga tuan Wibowo sedang sibuk di dapur karena bibi Dewi sedang merawat Desy putrinya yang masih balita.
"Nenek...Kakek, sedari tadi Yuda tak melihat Rani? Rani kemana ya?" tanya Yuda yang memang sedari tadi diam menyimak mereka.
"Oiya, kemana gadis itu ya?" tanya Yuki yang kemudian melihat ke sekelilingnya.
"Yuki coba kamu cari di dapur mungkin ada didapur, kamu Yuda dan Nando carilah ke tempat latihan. Kemungkinan Rani ada di sana." kata Paman Sidiq.
"Lasmi, kamu harap maklum saja sama cucu perempuanku itu. Kalau tidak buat bingung, bukan Rani namanya. Ha.....ha....ha...!" seru kakek Darma seraya tertawa, seperti menutupi rasa kekhawatirannya.
"Ha...ha...ha..! Kau benar kak! Lasmi sampai lupa dengan tabiat cucu perempuan kamu itu! He..he...he...!" seru Nenek Lasmi seraya terkekeh.
Kemudian perbincangan bereka berlanjut pada hal-hal yang ringan saja.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1