
"Rani! kemari dan sekalian bawa tas kamu!" perintah Guru itu.
"Iya Bu!" balas Rani yang segera berkemas-kemas peralatan sekolahnya.
"Bawa tas ya? apakah kak Radit yang menjemput aku?" tanya dalam hati Rani pada saat selesai berkemas-kemas dan melangkahkan kaki menuju ke pintu kelas dimana guru dan orang yang mencarinya itu berada.
Betapa terkejutnya Rani, karena yang menjemput Dia bukan kakaknya. Tapi orang yang seharusnya dia hindari.
"Sersan Saga...!" seru Rani yang membalikkan badannya berusaha kembali masuk ke kelas, tapi tangannya ada yang menarik dari belakang.
"Ikut atau aku memaksa kamu!" ancam Sersan Saga.
"Baik..baik aku ikut! puass!" seru Rani dengan nada tinggi.
Setelah Rani pamitan pada Guru, Rani bergegas mengikuti Sersan Saga. Mereka menuju dimana motor Sersan Saga terparkir, sampai dimana motor Sersan Saga terparkir, mereka bergegas naik motor dan meninggalkan sekolah.
Rani tak mengeluarkan sepatah kata apapun dari mulutnya. Suasana hatinya kacau. Rani membayangkan apa yang akan dilakukan Sersan Saga. Antara marah atau biasa saja, Sungguh susah untuk ditebak.
Ternyata Sersan membawa Rani ke pos polisi tempat biasanya.
Setelah turun dari motor Sersan, Rani bergegas mencari sepeda kayuhnya.Tapi sepeda kayuhnya tak ada ditempat seperti biasanya.
"Apa yang kamu cari?" tanya Sersan Saga.
"Sepedaku Sersan!" jawab Rani.
"Sudah dijual! lumayan kan buat nasi kotak beberapa bulan." kata Sersan Saga.
"Lantas kenapa aku dibawa disini kalau sepedanya nggak ada? mending aku pulang!" seru Rani sambil berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari pos polisi.
"Mau kemana! duduk...!" bentak Sersan Saga. Rani tak menggubrisnya,
"Aku bilang duduk!" Sersan Saga lagi-lagi membentak Rani. Dan kali ini dia meraih tangan Rani.
Tak biasanya Sersan Saga membentak Rani, gadis itu semakin tidak nyaman. Dia berusaha melepaskan gengam Sersan Saga.
Tapi Sersan Saga malah mendorong Rani untuk duduk di kursi. Sementara itu Sersan Saga duduk di bangku menghalangi jalan keluar Rani.
Sersan Saga memandang Rani tak berkedip, sedangkan Rani tertunduk, tak mampu menatap wajah Sersan Saga yang sedang marah.
"Apa kau merasa bisa mengelabuiku ya? Rani,Ran dan Rana! yang mana karakter aslimu hah!" seru Sersan Saga sambil menggebrak meja depan Rani.
"Brakk.....!"
Secara refleks bahu Rani terangkat, karena kaget. Dan gadis itu tetap diam saja.
__ADS_1
Kalau boleh milih dari pada di situasi menghadapi kemarahan Sersan Saga, Rani memilih menghadapi delapan orang pengikut geng Kobra.
"Tak mau jawab ya...!" seru Sersan Saga dan kemudian mengambil tas Rani dengan secara paksa.
"Apa yang anda lakukan!' seru Rani yang kesal.
Setelah mendapatkannya, Sersan Saga membukanya dan dia seperti mencari sesuatu. Pada akhirnya dia menemukan topeng yang biasa digunakan Rani menjadi Ran.
Setelah ketemu, Sersan Saga melepaskan kacamata Rani dan memasang topeng ke wajah Rani.
Gadis itu hanya diam saja, hanya melihat apa yang akan dilakukan polisi yang ada dihadapannya itu.
Kemudian Sersan Saga melepaskan topeng Rani dan turun dari tempatnya duduk menuju belakang Rani.vLalu Sersan Saga membuka kepangan rambut Rani.
"Sekarang jadi Rana, betul tidaak...!" bentak Sersan Saga.
Rani betul-betul tak ingin di situasi seperti ini.
"Wah! keren sekali anda mengungkap rahasia saya tak percuma anda menjadi seorang polisi berpangkat Sersan!" seru Rani dengan mengulas senyum tipisnya.
"Maaf Tuan Sersan yang terhormat, saya harus pulang. Permisi..!" seru Rani sambil berdiri dan mencoba menerobos pertahanan Sersan Saga.
"Sudah ku bilang, tidak boleh pulang dulu sebelum kamu jawab pertanyaanku! Karakter aslimu yang mana?" tanya Sersan Saga yang nampak penasaran sekali.
"Kalau laki-laki, pasti aku tampar saat ini juga!" kata Sersan Saga geram.
"Sersan aku bukan kriminal!" gerutu Rani. Lantas diraihlah tangan Sersan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Sersan Saga yang mengerutkan kedua alisnya.
"Maaf jika Rani buat Sersan marah, tapi misi saya belum selesai. Harap anda bisa memaklumi" kata Rani yang menatap laki-laki tampan dihadapannya itu.
Rani melihat Sersan Saga dan dia melihat ada tatapan aneh, bergegas dia menurunkan tangannya dan kemudian dia menundukkan kepalanya.
Entah kenapa gadis itu sekarang takut dengan tatapan laki-laki yang umurnya diatas kakaknya itu.
"Kenapa dengan perasaan ku ini, rasanya hancur bila aku memarahi anak ini. Apa karena dia mirip Sari, a..tau yang lain? ah..tidak. Dia kan masih kecil, biarkan mengejar cita-citanya dulu. Tapi aku ingin dan menciumnya, saat dia menggemaskan seperti ini...oh Tuhan apa yang terjadi pada hamba-Mu ini." kata Sersan Saga dalam hatinya yang sangat gundah
"Boleh aku tahu siapakah kamu sebenarnya. Dan apa kamu kenal dengan Kakek Darma?" tanya Sersan Saga.
"A...Anda kenal kakek Darma?" jawab Rani kaget dan dengan segera menatap Sersan dengan perasaan ingin tahu lebih jauh,
"Kakek? kamu kenal Kakek Darma Guru bela diri di lereng gunung?" tanya Sersan Saga semakin penasaran dengan Rani.
Rani tidak menjawab tapi dia menatap Sersan Saga, berharap Sersan itu memberitahu siapa dia yang sebenarnya. Kenapa dia kenal dengan Kakeknya.
__ADS_1
"Jurus-jurus yang kamu gunakan, mengingatkanku pada Kakek Darma. Sepuluh tahun sudah sejak kejadian tragis itu terjadi aku tidak bertemu dengan Beliau" cerita Sersan Saga.
"A...anda murid kakek Darma?" tanya Rani yang mengulas senyumnya.
"Iya, kenapa?" jawab Sersan Saga. Tiba-tiba Rani memeluk Sersan Saga.
"Kakak seperguruan, maafkan bila adikmu bandel!" seru Rani pelan, dan air matanya menetes bahagia dan terharu. Bisa bertemu murid Kakeknya yang telah menjadi Sersan kepolisian.
Sersan Saga tersentak kaget, secara tiba-tiba Rani memeluknya dan mengatakan kakak seperguruan.
"A...apa maksud kamu? Kakak seperguruan?" tanya Sersan Saga yang penasaran.
Rani melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Saya cucu sekaligus murid kakek Darma." Jawab Rani saat menatap wajah Sersan Saga.
"Cucu kakek Darma?" Sersan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, saya cucu perempuan kakek Darma." jawab Rani seraya menganggukkan kepalanya serta mengulas senyumnya.
"Bagaimana keadaan Kakek sekarang?" tanya Sersan Saga yang peduli.
"Waktu saya tinggal kemarin, kakek sering sakit-sakitan." jawab Rani.
"Kenapa malah kamu tinggal? siapa yang akan mengurus beliau disana?" tanya Sersan Saga yang mengrenyitkan kedua alisnya.
"Saya sampai disini atas perintah kakek. Anda sudah tahu bukan? bahwa saya mau menagih janji orang yang membunuh kedua orang tua saya. Lagi pula, kakek sudah dijaga Paman Sidiq sekeluarga disana." jelas Rani.
"Jadi benar orang tua kamu meninggal?" tanya Sersan Saga yang memastikan.
"Iya lebih tepatnya ditabrak, Baskoro saat mendapat undangan Walikota." jawab Rani.
"Baskoro? ketua geng Kobra?" tanya Sersan Saga yang mencoba mengingat dan menebaknya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1