
Beberapa saat kemudian, Sersan Saga melepaskan pelukan mereka dan mengajak Rani untuk kembali masuk ke rumah.
Sementara itu Kity yang berada didalam kamar Raditya, dia melompat diatas meja yang berada di samping tempat tidur dimana Raditya sedang terbaring lemah.
Si kucing putih itu menatap tubuh Radityaa dengan tajam, dan tak berapa lama kedua matanya memancarkan cahaya kebiruan dan cara si Kity mengobati Raditya yaitu dengan memancarkan cahaya kebiruan itu keseluruh bagian tubuh Raditya.
Beberapa menit kemudian, tubuh Raditya menggigil dan mengeluarkan keringat dingin.
"Hukk....hukk....hukkk.....!"
Raditya terbatuk-batuk dan pada akhirnya dia muntah-muntah dengan mengeluarkan darah merah yang kehitam-hitaman disamping tempat tidurnya.
"Terus muntahkan sampai habis tuan muda!" seru Si Kity yang tentu saja tak dapat didengar oleh Raditya.
Kakak Rani itu terus memuntahkan darah yang berwarna kehitam-hitaman itu, dan tak berapa lama dia menjatuhkan diri dalam posisi berbaring, dan pelan-pelan kedua matanya tertutup.
Raditya tak sadarkan diri, karena kelelahan dan racun yang ada dalam tubuhnya telah dia keluarkan.
Tiba-tiba sinar biru dari kedua mata Si Kity berubah menjadi putih, si kucing putih itu memberi hawa murni kepada Raditya, untuk memulihkan energi pemuda itu.
Sementara itu Rani dan Sersan Saga sudah masuk ke rumah dan kembali berkumpul dengan yang lainnya.
Tiba-tiba asap putih masuk kedalam liontin bambu kalung pusaka yang dikenakan oleh Rani.
"Nona, saya sudah selesai mengobati tuan Raditya. Biarkan dia beristirahat dan bersihkan darah bercampur racun yang ada di bawah tempat tidur kakak nona!" seru Si Kity dan Rani mengerti akan maksud si kucing langit itu.
"Oh, jadi sudah selesai?" tanya Rani dalam hati, tapi bisa didengarkan oleh si Kity.
"Iya." jawab si Kity.
Rani kemudian berdiri dan menatap ke arah Sersan Saga dan yang lainnya secara bergantian.
"Semuanya, Si Kity telah selesai mengobati kak Raditya!" seru Rani.
"Syukurlah, terus bagaimana keadaan Raditya?" tanya kakek Darma yang mewakili semuanya.
"Saat ini kak Raditya sedang tak sadarkan diri.Biarkan dia istirahat terlebih dahulu, aku mau memberikan kamar kak Raditya sekarang juga." jelas Rani.
"Oh, baiklah!" jawab semuanya seraya menganggukkan kepala mereka masing-masing.
__ADS_1
Gadis itu bergegas ke dapur untuk mengambil peralatan yang akan dia gunakan untuk membersihkan darah bercampur racun itu.
Setelah mendapatkannya, Rani bergegas melangkahkan kakinya masuk ke kamar Raditya, dan benar saja dia mendapati darah yang berwarna merah kehitaman, yang berada dibawah tempat tidur Raditya.
"Kak Radit!" panggil Rani secara lirih pada saat melihat tubuh kakaknya yang terbaring lemah diatas tempat tidur.
Gadis itu menghela napasnya dan kemudian mulai membersihkan darah yang tadi sudah dimuntahkan oleh Raditya.
Tak berapa lama dia telah selesai dan membuang darah bercampur racun itu ke selokan.
Kemudian semuanya beristirahat dikamar masing-masing, karena rasa lelah seharian ini.
Pada keesokan harinya...
Embun pagi turun bersamaan dengan sejuknya semilir udara pagi hari yang membawa kesejukan untuk semua makhluk hidup.
Matahari pagi menunjukan bias indah di ufuk timur, dan burung-burung bernyanyi dengan riangnya.
Suasana yang damai dan asri di lereng gunung yang tak mungkin di dapat di kota yang mungkin akan sangat dirindukan oleh Rani dan yang lainnya.
Raditya sudah bangun dari tidurnya dan dia menemui para laki-laki yang lainnya, yang mana pada saat ini berada di teras rumah sedang berboncang-bincang seraya minum kopi.
"Nenek, apakah nenek mau pulang hari ini?" tanya Rani yang sedang mengiris wortel untuk bahan sayur sop.
"Iya nanti setelah kalian berangkat, nenek minta diantar Sidiq. Nenek juga harus memikirkan murid-murid yang lain" jawab nenek Lasmi yang tak bisa menyembunyikan rasa kesedihannya.
"Baguslah kalau begitu!" kata Rani dengan lirih.
"Jadi nenek genit ini nggak akan gangguin kakek terus!" kata dalam hati Rani.
"Apa maksud kamu dengan baguslah kalau begitu!" seru Nenek Lasmi yang penasaran.
"O..ini baguslah nenek tidak akan larut dalam kesedihan nenek, yang kehilangan cucu-cucu nenek,dan nenek bisa membangun kembali perguruan anggrek putih!" jawab Rani yang sedikit gugup.
"Iya, nenek bertekad akan melatih murid lainnya agar berkemampuan lebih dari Nando dan Yuda. Mereka nanti aku tugaskan mencari murid yang hilang!" kata nenek Lasmi yang kemudian menghela napasnya..
"Nanti di kota Rani juga akan mencari mereka. Karena Rani satu kelas dengan anaknya Baskoro!" kata Rani yang menawarkan diri.
"Betulkah kamu satu kelas dengan anak Baskoro?" tanya Nenek Lasmi yang sedikit terkejut.
__ADS_1
"Iya nek, bahkan anak tirinya juga pacar kak Radit!" seru Rani yang mengulas senyumnya,agar nenek Lasmi yakin dengan apa yang dikatakan oleh Rani yang apa adanya itu.
"Baguslah, nenek sangat amat mengandalkanmu!" seru nenek Lasmi seraya menepuk pundak Rani dan keduanya saling balas senyuman.
"Aku juga minta kamu cari adik sepupumu ya, bibi sangat mengkhawatirkannya dan sangat merindukannya juga!" pinta bibi Dewi yang penuh harap.
"Iya bibi, Rani akan cari semuanya!" jawab Rani yang menatap wajah istri paman Sidiq itu.
Sementara itu di teras rumah, Kakek Darma, Paman sidiq, Arya, Raditya dan Sersan Saga sedang duduk-duduk sambil minum kopi dan menyantap pisang goreng buatan Rani.
"Apa yang selanjutnya Guru rencanakan untuk kedepannya?" tanya Sersan Saga setelah meletakkan cangkir kopi yang baru saja dia sruput itu.
"Memulangkan murid yang tersisa lebih dulu. Kita akan memperbaiki bangunan-bangunan yang rusak karena perkelahian kemarin." jawab Kakek Darma yang menghela napasnya.
"Ayah! nanti aku mau mengantar bibi Lasmi pulang ke perguruan Anggrek putih." kata paman Sidiq yang sekaligus meminta ijin
"Baguslah biar dia tidak larut dalam kesedihan. Aku merasa kasihan dengan dia. Sejak dulu dia mendambakan cinta ku, apalah daya cinta ku padanya hanya sebatas kakak pada adiknya." kata kakek Darma yang mengusap wajahnya dan sedikit sedih.
"Sudahlah guru, yang terpenting jangan putus persaudaraan saja." kata Sersan Saga.
"Kau benar!" kata Kakek Darma.
"Bagaimana keadaan kak Raditya?" tanya Arya yang sedari tadi diam dan mendengarkan saja.
"Iya keadaanmu bagaimana setelah di obati roh kalung pusaka langit semalam, Dit?" tanya Paman Sidiq yang juga penasaran.
"Sudah agak mendingan sih!" jawab Raditya sembari mengulas senyumnya.
"Sepertinya aku belum tega membiarkanmu mengemudi nanti. Lebih baik aku yang mengemudi nanti!" pinta Sersan Saga yang sedikit cemas.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...