Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Bertemu dengan Kucing Langit


__ADS_3

Perlahan dan dengan hati-hati Rani melangkahkan kaki mendekati air terjun itu dan dengan penerangan yang hanya cahaya dari sinar rembulan.


"Aaagh....!" teriak Rani berusaha membuat suara kembali.


"Aaaauw....!" dan suara itu kembali terdengar semakin dekat.


Rani yang penasaran itu menebarkan pandangannya kesekitarnya dan gadis itu mempertajam pendengarannya.


Tiba-tiba terlihat cahaya terang dan menyilaukan dibalik air terjun, yang ternyata terdapat sebuah goa.


"Ada cahaya!" gumam dalam hati Rani yang diliputi oleh rasa penasarannya.


"Sebaiknya aku lihat cahaya apa itu, semoga bukan sesuatu yang mengerikan!" gumam Ran yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati cahaya itu.


Dengan tertatih Rani sampai juga di mulut goa. Dan secara mengejutkan, terdengar suara seseorang yang berseru.


"Akhirnya datang juga orang pembawa kalung pusaka!" seru sumber suara.


"Dari mana kamu tahu kalau aku membawa kalung pusaka?" tanya Rani yang terus mencari sumber suara, tapi tak ada seorang pun di hadapannya.


Yang Rani lihat, seberkas cahaya terang itu ternyata dari dahi seekor kucing putih berbulu lebat.


"Puss? apa kamu yang tadi berbicara?" tanya Rani yang sedikit ragu-ragu.


"Iya siapa lagi!" jawab kucing itu dengan mengulas senyumnya


"Ka...kamu kucing Siluman atau setan?" tanya Rani sedikit gugup dan dia mundur beberapa langkah.


"Aku tahu kamu pasti penasaran dengan aku, siapa aku kucing yang bisa bicara. Ketahuilah aku ini kucing langit dan karena mustika ini akan bercahaya bila di dekati pusaka langit." jelas si kucing.


"Kucing Langit?" tanya Rani yang penasaran.


"Iya, tolong arahkan ujung Liontin bambu kamu ke dahiku ini, nanti akan aku jelaskan semuanya!" pinta si kucing.


"Untuk apa?" kata Rani yang belum paham dan masih penasaran tentang apa yang terjadi.


"Tolong lakukan saja nona..aku sudah menahan sakit ini berpuluhan tahun!" seru si kucing sambil mengerang kesakitan.


"Aarghhh...!"


"Ba...baiklah." kata Rani dan dia dengan segera menurutinya. Di arahkannya ujung Liontin bambu ke dahi si kucing.


Sungguh ajaib! mustika yang sebelumnya tertanam dalam dahi si kucing seperti tersedot masuk ke dalam kalung pusaka Rani.


"Arghh...! Akhirnya terbebas juga!" seru si kucing sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena telahi terbebas dari beban beratnya.


"Katakan siapa kamu sebenarnya!" seru Rani yang masih memegang liontin kalung pusakanya yang menyala karena mustika dari dari si kucing.

__ADS_1


"Panggil saja aku Kity. Aku dulunya adalah kucing dari istana langit." kata si kucing yang ternyata namanya Kity itu sambil membenarkan posisi duduk dengan santainya.


"Istana langit? bukankan itu cuma dongeng? terus kenapa kamu ada di bumi?" pertanyaan dari Rani yang bertubi-tubi.


"Ha....ha...ha....! kamu itu sama dengan majikanku dulu! bawel dan suka penasaran..!" seru si Kity.


"Sudahlah, cepat lanjutkan cerita kamu itu!" seru Rani yang semakin penasaran.


"Aku di hukum ke bumi karena aku dituduh yang menyebabkan majikanku meninggal dunia. Yang katanya akulah penyebar virus mematikan sampai katanya akulah yang meracuni majikanku itu.. Kemudian aku di hukum atas kesalahan yang yak aku buat ke bumi menjadi penjaga kalung pusaka, kalung kamu itu yang merupakan salah satu pusaka langit." kata Kity sambil mengibas-ibaskan ekornya.


"Tapi mengapa kamu ada di sini? bukanya di dalam liontin ini?" tanya Rani yang menatap Kity dengan tajam.


"Karena sebelumnya aku harus menerima hukuman fisikku. Dahiku di tanam mustika, bila matahari terbit sampai matahari terbenam aku akan menjadi patung. Dan waktu hari gelap, aku menjadi kucing dengan merasakan sakit di kepala yang luar biasa. Hingga aku pun mengerang sekuatku agar dapat mengurangi rasa sakit ini." cerita Kity si kucing putih itu.vsaaaa


"Oh jadi suara tiap malam yang menyeramkan itu suara kamu?" tanya Rani.


"Ha.....ha...ha....! suaraku apa terdengar menakutkan ya?" tanya Kity.


"Ya jelas saja menakutkan, kalau pada malam hari? coba kalau siang mungkin kamu diburu teman-temanku?" seru Rani.


"Meow.....meow.....!" si Kity mengeluarkan suara aslinya.


"Hei bisa mengeong juga ternyata!!" seru Rani.


"Ha....ha...ha...! aku itu seekor kucing Nona!" sahut si Kity yang berdiri dengan posisi menghadap ke arah Rani.


"Iya ada apa?" tanya Rani yang mendengar si Kity memanggilnya


"Coba kamu teriak Belati dan tongkat!" seru si Kity.


"Belati!" seru Rani yang menurutinya


Dan aneh, liontin bambu itu menjadi belati tanpa harus memutarnya.


"Tongkat...!" lanjut seru Rani. Belati itu pun menjadi tongkat.


"Wauw.! tanpa harus memutarnya..!" seru Rani yang nampak sangat girang.


"Kamu pun bisa merubah lontin kalung pusaka itu menjadi pedang dan tombak dan juga kalungnya bisa berubah jadi cambuk!" jelas si Kity.


"Ha.....! seperti dongeng fantasi saja!" kata Rani yang masih belum percaya tentang apa yang terjadi pada kalung pusakanya.


Kemudian Rani mengucapkan senjata yang disebutkan oleh si kucing istana langit itu.


"Pedang...!" teriak Rani dan jadilah sebuah pedang dengan berkilau yang menunjukan ketajamannya.


"Tombaaak...!" seru Rani dan jadilah tombak seperti yang di inginkan Rani dengan ujung mata tombaknya berkilau yang juga menunjukkan ketajamannya.

__ADS_1


"Cambuk....!" teriak Rani dan berubahlah kalung pusaka itu menjadi sebuah cambuk yang panjangnya kurang lebih dua meter.


Rani pun tak bisa menutupi rasa takjubnya.


"Hebaaat....!" pujinya pada benda pusaka di tangannya


"Ucapkan kembali dan juga padam!" seru si Kity.


Lalu Rani mengucapkan apa yang di katakan si Kity.


"Kembali....!" seru Rani, dan senjata uang ditangan Rani berubah kembali kewujud semula, kalung dan liontin bambu.


"Padaaam.,..!" seru Rani yang kemudian ruangan goa menjadi gelap gulita.


"Wah hebat...!" kata Rani yang penuh kegirangan.


"Sekarang gendong aku, dan kita keluar dari goa yang pengap ini!" pinta si Kity.


"Baiklah, ayo sini!" kata Rani sambil berjongkok dan siap menggendong si Kity.


Kity si kucing langit itu pun berlari kecil dan melompat ke tangan Rani, dan Rani pun memposisikan si Kity ke posisi yang nyaman sambil membelai lembut bulu putih si Kity.


"Kalung pusaka itu akan menurut pada pemiliknya, maka pergunakanlah untuk kebaikan." kata si Kity.


"Iya Rani janji. Rani akan menggunakannya untuk kebaikan, menolong banyak orang," janji Rani pada Si Kity dan dirinya sendiri.


"Jadi nama kamu Rani? nama yang cantik seperti pemiliknya. Ha....ha....ha....!" kata si Kity saat mereka melangkah ke luar goa yang hanya diterangi sinar bulan.


"Ah, biasa saja kok. Aku nggak cantik-cantik amat!" kata Rani yang merendah.


"Tetaplah seperti itu nona majikanku si putri anak langit,. makanya aku betah bersamamu!" seru si Kity yang terus melangkahkan kakinya.


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai ditujuan mereka.


"Akhirnya sampai juga kita di depan air terjun."


kata Rani saat sampai di depan air terjun.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2