Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Berkenalan Dengan Seorang Polisi


__ADS_3

"Saudara? Kembaran?" ucap Rani yang mengerutkan kedua alisnya.


"Iya, bisa jadi kan!" seru Raditya.


"Iya sih? tapi kok tidak mirip ya?" tanya Rani yang penasaran.


"Dio badannya atletis, ganteng dan banyak disukai para gadis. Sedangkan Dito si kutu buku, badannya kerempeng pakai kacamata dan rambutnya juga lepek" lanjut kata Rani yang membandingkan.


"Kalau masalah badan, mungkin faktor gisi yang dikonsumsinya. Tapi kalau penampilan, coba kamu bandingkan Rani dan Rana" jelas Raditya.


"Jadi apa yang harus Rani lakukan kak?" tanya Rani yang menoleh ke arah kakaknya.


"Katanya kamu pingin kerja plus biasa latihan, yang kita hadapi jauh lebih kuat dari kita. Kita perlu strategi agar tidak kecolongan. Jadi kita tetap sesuai yang kita rencanakan kemarin." Jelas Raditya yang sudah masuk ke Gym Wibowo Radit gemes.


Rani termangu, sementara itu Raditya menemui satpam yang menjaga Gym -nya.


"Pak Jarwo, tolong periksa dan tutup semua ruangan ya!" perintah Raditya pada Satpam Gym Wibowo yang ternyata bernama Jarwo.


"Baik, tuan Raditya!" jawab pak Jarwo dengan tegas.


Raditya menunjukkan dua ibu jarinya dan mengulas senyumya.


"Kalau sudah beres semuanya, kami pamit pulang!" seru Raditya yang berpamitan.


"Ya tuan Raditya, hati-hati dijalan ya!" balas Pak Jarwo dan Raditya menganggukkan kepalanya.


"Ayo Ran!" ajak Raditya dan Rani mengikuti kakaknya dari belakang.


Rani melangkahkan kakinya mensejajarkan diri pada kakak kandungnya sampai di tempat dimana mobil milik Raditya terparkir.


Keduanya bergegas masuk mobil dengan posisi, Rani duduk disamping kakaknya yang mengemudi dan melajukan mobil perlahan-lahan keluar dari Gym Wibowo itu.


Dengan kecepatan yang sedang, Raditya membawa mobil menyusuri jalan raya. Pada saat melaju di jalan raya itu yang mana baru beberapa menit saja, tiba-tiba ada tiga sepeda motor saling kejar-kejaran.Yang di kejar cuma satu orang dan yang dua motor saling berboncengan.


"Kak depan kita ada sepeda motor dikejar dua sepeda motor yang saling berboncengan. Sepeda motor yang mengejar kelihatannya bawa senjata!" seru Rani yang terus memperhatikan peristiwa itu.


"Itu begal Ran! dia akan membuat korbannya terjatuh lebih dulu!" balas Raditya yang ikut memperhatikan apa yang terjadi di depannya.


"Kita bantu dia kak!" seru Rani yang bersemangat.


"Iya, akan ku kecohkan para begal itu, kamu siap...si.. "Radit menengok ke arah Rani ternyata Rani sudah siap dengan topeng pemberian Paman Sidiq.


Raditya mengulas senyumnya dan dia juga ikut memakai topengnya. Kemudian Radit mempercepat laju mobil dan membunyikan klakson secara asal, Hal itu membuat si para begal itu berang.


Kakak kandung Rani itu kemudian memberhentikan mobilnya tepat di depan ketiga sepeda motor itu.


Empat orang pengejar segera berhenti dan kemudian turun dari sepeda motor masing-masing.

__ADS_1


Terlihat dua menghajar seseorang yang tadi mereka kejar dan dua orang menghampiri Raditya dan Rani yang sudah keluar dari mobil, dengan memakai topeng masing-masing.


"Kalian siapa? Ikut campur urusan kita!" seru salah satu dari dua orang itu yang menghampiri Rani dan Raditya.


"Kami hanya manusia biasa yang tak suka akan sikap kalian!" balas Rani yang berseru lantang menatap kedua laki-laki itu.


"Kurang ajar! Tak seharusnya kalian ikut campur!" seru laki-laki yang satunya.


Perkelahian pun tak terhindari lagi, dan keduanya menyerang Rani dan Raditya satu persatu.


"Hop hiaaat...!"


Suara Rani yang sudah bersiap melawan salah satu dari laki-laki itu.


"Bagh....bugh....bagh..…Bugh....!"


Pukulan tangan kosong itu berlangsung secara bertubi-tubi.


"Bagh....bugh....bagh..…Bugh....!"


"Bagh....bugh....bagh..…Bugh....!"


"Aaghh......!"


Kedua laki-laki itu mengerang kesakitan karena terkena pukulan Rani dan juga Raditya.


"Oh,,,!"


Rani mulai dengan sikap waspada, dan dia terus mengelak pada saat lawannya menyerang dengan mengarahkan belati ke arah gadis itu. hingga pada akhirnya Rani dapat membekukan lawannya.


Dengan mematahkan pergelang tangan lawannya seperti pada waktu dia mengambil dompet lawannya, kemudian memasukkannya ke dalam sakunya.


Rani menoleh ke arah kakaknya dan ternyata kakaknya juga sudah membekukan lawannya, demikian pula orang yang mereka kejar itu juga dapat membekukan dua orang lawannya..


Tiba-tiba orang yang dikejar itu mengeluarkan empat buah borgol dari dalam jok sepeda motornya.


Rani dan Radit saling berpandangan.


"Polisi...!" kata mereka bersamaan, mereka terkejut, karena yang mereka bantu itu adalah seorang polisi.


Kemudian dia memborgol keempat lawan yang sudah dia bekukkan itu.


Setelah selesai, polisi itu melepas helmnya dan dia mengambil ponselnya.


"Kirim mobil patroli dengan enam anggota sekarang!" perintah polisi tersebut pada saat menelepon salah satu anggota kesatuannya.


Selesai menelepon, polisi itu melangkahkan kaki menghampiri Rani dan juga Raditya.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan kalian, tapi hal ini sangat membahayakan diri kalian." kata polisi yang menatap pada Raditya dan Rani.


"Tidak apa-apa, kami sudah biasa menghadapinya." kata Raditya.


Polisi itu menoleh ke arah Rani, dan terpancar aura ganteng, gagah dan kharismanya. Rani yang melihatnya, seakan tak mau mengedipkan kedua matanya.


"Oya saya Sersan Saga." kata Polisi itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Disambut oleh Radit


"Raditya dan..." kata Radit sambil menoleh kenarah adiknya yang masih terpaku akan ketampanan sang polisi.


Raditya menyudutkan lengan kanannya ke perut Rani, gadis itu terkejut dan dia kemudian mengulurkan tangannya.


"Eh, Sa...saya! Panggil saja Ran." kata Rani sambil mengulas senyum dan kini wajahnya memerah, tapi untunglah dia memakai topeng, jadi tidak terlihat oleh yang lainnya.


"Kenapa kalian pakai topeng, saya kira tadi kalian ini komplotan mereka?" tanya Sersan Saga.


"Kami hanya tidak ingin dikenali lawan kami, Karena tujuan kami belum berhasil." kata Raditya yang tak bisa menjaga omongannya.


"Ih, kak Radit! ini kan rahasia!" gerutu dalam hati Rani.


"Apa tujuan kalian, mungkin saya bisa bantu?" tanya Sersan Saga dengan ramah.


"Kami hanya mau menagih janji pada orang yang menabrak orang tua kami sepuluh tahun yang lalu." jelas Raditya.


"Menabrak? Kenapa tak lapor Polisi saja?" tanya Sersan Saga yang mengerutkan kedua alisnya.


"Iya kami tak tahu, kakek kami mengadakan perjanjian sama dia." imbuh Raditya.


"Ok, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya." kata Sersan Saga sambil mengulurkan kartu namanya.


Dengan sigap kartu nama itu di ambil oleh Rani, dan sempat dibaca oleh gadis itu.


"Baik Sersan." kata Rani yang masih memandang Sersan Saga.


Kalau begitu, kami undur diri Sersan. Senang bertemu dan berkenalan dengan anda!" ser Raditya yang kembali mengulurkan tangannya.


"Sama-sama!" jawab Sersan Saga yang menatap Raditya dan mengulas senyumnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2