Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Insiden Berdarah di Hotel


__ADS_3

"Sa..saya..." Lilian menatap kearah Papanya, Sania dan Dio seolah meminta bantuan untuk memberikan jawaban.


"Maaf Walikota, kali ini saya menentang perintah anda. Saya tidak mau bertunangan dengan putri anda!" seru Sersan Saga.


"Beraninya kau! Berarti kau menghina putriku!" bentak Walikota.


"Bukan maksud saya merendahkan putri anda Walikota!" seru Sersan Saga yang membela diri.


"Bohong! Kau harus terima konsekuensinya, karena menolak perintahku!" seru Walikota dengan geram.


Sersan Saga dan Raditya hanya bisa diam saja.


"Lilian! jangan rendahkan dirimu, dengan mencintai orang yang tak mencintaimu." kata Walikota pada putrinya.


"Ta...tapi ayah! Lilian menyukai Sersan Saga sejak lama!" rengek Lilian dengan manja, dan bulir-bulir kristal air mata jatuh di kedua pipi mulusnya.


Walikota tak bisa melihat air mata putrinya yang berjatuhan, maka dia mengubah rencananya.


"Rencana C!" perintah Walikota, dan tiba-tiba saja dua pengawal Walikota tiba-tiba menahan Raditya.


"Hei kenapa Radit yang ditangkap? ini bukan dari rencana kita kan Dio?" bisik Sania pada adik tirinya.


"Iya Kak! apa sebetulnya tujuan dari Walikota sesungguhnya?" balas tanya Dio yang penuh keheranan.


"A..apaan ini? kenapa aku ditangkap?" tanya Raditya.


"Maaf kamu! aku buat pancingan." Walikota hanya tersenyum sinis.


"Apa kalian pikir aku tak tahu siapa gadis bertopeng yang menggagalkan geng Kobra di pemancingan milik Jordy!" seru Walikota sambil menatap Raditya dan Sersan Saga.


"Aku sudah tahu kedatangannya sejak dia melempar kerikil di leherku. Jadi benar isu yang ku dapat, bahwa gadis bertopeng itu berhubungan dengan kelurga Wibowo dan Jordy." kata Walikota.


"Jadi, apa salahnya salah satu anak Wibowo ini aku sandera. Pasti gadis itu akan menolongnya. Ha...ha....!" lanjut Walikota dengan tawanya.


"Terus apa hubungannya dengan Lilian?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Kalau Gadis bertopeng itu bisa aku lenyapkan, berarti aku juga bisa melenyapkan keluarga Wibowo. Dan aku akan melenyapkan semua yang menjadi penghalang ku!" seru Walikota dengan senyum sinis.


"Masalah kamu adalah dengan aku, aku yang tak mau bertunangan dengan putri kamu. Kenapa keluarga Wibowo yang jadi sasarannya, dan lagi kenapa pula bawa-bawa gadis bertopeng!" seru Sersan Saga dengan menatap tajam Walikota dan para pengawalnya. Ok


"Ada yang mencari ku?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis memakai topeng yang sebelumnya telah melumpuhkan sepuluh pengawal Walikota dengan kerikil-kerikilnya.


"Sersan aku perintahkan kau tangkap gadis itu. Maka tidak ada pertunangan dan kepindahanmu!" perintah Walikota.


Sersan Saga hanya diam, menangkap gadis bertopeng berarti menangkap Rani. Itu akan membahayakan Kekasihnya. Sersan Saga saat ini dalam posisi dilema.


"Takk..takk..!"


Dua buah kerikil mengenai leher pengawal yang menahan Raditya. Merasa ada kesempatan untuk bebas, Raditya memukul kedua pengawal yang terkena kerikil Rani tadi dipukulnya dengan kedua sikunya.


"Bugh....bugh...bugh...bugh....!"


"Aghh...!"

__ADS_1


Kedua pengawal itu mengerang kesakitan manakala siku Raditya, beberapa kali mendarat di perut mereka.


Rani dan Raditya sekarang dalam posisi di tengah kepungan sisa pengawal Walikota. Sementara itu


Lilian, Sania dan Dio menepi ke sudut ruangan.


"Kepung dan siagakan tempat ini!"


Tiba-tiba muncul segerombolan orang memakai jaket bergambar ulat Kobra dengan dua orang didepannya. Yang tak lain Roy dan Anton.


"Terima kasih Walikota, kerjamu bagus. Sekarang giliran kami!" seru Roy yang sudah mengatur anak buahnya kurang lebih berjumlah lima puluh orang itu.


Sementara itu Sersan Saga masih diam di samping Walikota, penasaran dengan kehadiran Roy dan juga Anton. Mereka adalah tangan kanan Baskoro, ketua geng Kobra.


"Walikota kenapa ada geng Kobra disini?" tanya Sersan Saga yang mengrenyitkan kedua alisnya pada Walikota.


"Jawabannya nanti saja, sekarang amankan Lilian. Jangan sampai geng Kobra mendekatinya." bisik Walikota terbata-bata karena tenggorokannya masih sakit.


"Nampaknya anda sakit, jadi maaf anda juga harus diamankan" kata Sersan Saga sambil menuntun Walikota menuju sudut ruangan bersama Lilian, Sania dan Dio.


Sersan Saga memerintahkan pengawal Walikota dan pasukannya menjaga Walikota dan lainnya, kemudian Sersan Saga bergegas membantu gadis bertopeng dan Raditya dalam menghadapi geng Kobra.


Perkelahian sengit itu tak terelakan.


"Sial...! kerikil ku tinggal sedikit" gerutu gadis bertopeng, yang kemudian menoleh ke arah Raditya.


"Kak...!" bisik Rani pada Raditya.


"Ada apa?" tanya Raditya seraya menyerang beberapa anak buat geng kobra.


"Apa boleh buat, pakai tongkatmu. Kita sama- sama terjepit sekarang. Tak ada celah untuk mencari kerikil." balas Raditya.


Rani mengerti maksud dari kakaknya, dia kemudian melemparkan kerikil yang tersisa.


"Takk...takk...takk..takk...!"


Empat anggota Geng Kobra sudah dia dilumpuhkan.


Rani pun segera mengambil Liontin kalungnya, dengan cepat merubahnya menjadi senjata yang dia inginkan.


"Tongkat....!" seru Rani, dan liontin itu berubah menjadi sebuah tongkat bambu kecil.


"Takk...tokk....takk...tokk....!"


Rani berusaha menghalau beberapa anak anggota geng kobra dengan tongkatnya, dan dengan dibantu Sersan Saga saat ini hampir separo anggota geng Kobra tak berkutik lagi.


Mengetahui hal itu, Roy dan Anton menjadi geram.


"Walikota dan putrinya dimana?" tanya Roy seraya menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di hotel itu.


"Lihat mereka dijaga anak buah Saga!" seru Anton.


"Anton kau hadapi mereka, aku akan jemput permaisuri ku!" seru Roy pada Anton. Dan Anton pun tersenyum sinis.


"Dasar mabuk cinta..!" desis Anton.

__ADS_1


"Hei..! Teman kamu itu ternyata pengecut ya! takut ya menghadapi aku! He....he....he...!" ejek Rani.


"Cihh...! gadis sombong, mati kau...!" balas Anton geram dan segera menyerang Rani dengan jurus-jurus andalannya.


Kondisi pada saat ini, terkadang Rani tersudut tapi dalam beberapa detik Rani bisa membalikkan keadaan.


Raditya juga masih melawan sisa anak buah geng Kobra dengan dibantu Sersan Saga.


Sedangkan anak buah Sersan Saga dan pengawal Walikota, tak kalah sibuknya dalam melawan Roy.


Karena merasa tak bisa mengimbangi Gadis bertopeng, Anton mengeluarkan pistolnya. Dan diarahkan pada Rani, yang sedang membantu Raditya melawan anak buah Anton.


Mengetahui Anton melepaskan tembakan mengarah ke arah adiknya, Raditya berlari dan mendorong gadis bertopeng. Dan terdengar bunyi nyaring dari senjata besok itu.


"Dorr....!"


 Dan sebuah peluru, bersarang pada lengan Raditya, darah segar keluar dari lubang dimana timah kecil itu bersarang.


"Aghh...!"


Raditya mengerang kesakitan.Darah segar mengalir di lengan Raditya.


Sontak saja semua dibuat kaget setelah mendengar suara tembakan dan erangan kesakitan. Dan semua mencari tahu apa yang terjadi.


"Kak Radit....!"


Jerit Rani setelah sadar apa yang terjadi dan memeluk kakaknya.


Merasa ada kesempatan, Anton mengarahkan senjata besinya, pada posisi menembak Gadis bertopeng.


Tahu kekasihnya dalam bahaya, Sersan Saga melepaskan dua tembakan ke tangan Anton yang memegang pistol dan paha kanan Anton.


"Dor....dorr....!'


Secara reflek pistol Anton terjatuh dan darah mengucur di telapak tangan dan paha Anton.


"Aghh...!"


Anton pun mengerang kesakitan.


"Kurang ajar kau Sersan!" umpat Anton di sela-sel dirinya mengerang kesakitan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2