Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Lavington


__ADS_3

Jaminan Komisaris Saga ini nampaknya manjur, pikirku, ketika dengan gagahnya Komisaris Saga mengantarkan kliennya yang cantik menuruni tangga. Tapi menurutku kami menghadapi masalah yang sulit dipecahkan. Kukatakan pendapatku ini kepada Komisaris Saga ketika ia masuk kembali. Dengan sedih Komisaris Saga mengiyakan.


"Betul. Penyelesaian masalah ini tidak akan datang begitu saja. Lavington berada dalam posisi yang menguntungkan. Saat ini Rani belum tahu bagaimana dapat mengecoh dia."


Siang itu Lavington mengunjungi kami. Lady Millicent tidak mengada-ada ketika menggambarkan laki-laki itu sebagai orang yang memuakkan. Ujung kakiku benarbenar terasa gatal. Begitu tajamnya rasa tidak senang ini sehingga Rani ingin menyepaknya ke luar.


 Lavington suka menggertak, sikapnya angkuh, dan menertawakan serta mencemooh saran-saran Komisaris Saga. Secara keseluruhan dia menunjukkan dirinya sebagai orang yang di atas angin dalam situasi ini. Rani merasa Komisaris Saga hampir-hampir tidak memperlihatkan penampilan terbaiknya. Ia kelihatan berkecil hati dan merasa kalah.


 "Nah, Tuan-tuan," kata Lavington seraya mengambil topinya,


"rasanya pembicaraan kita tidak mencapai kemajuan. Begini saja: akan saya turunkan permintaan saya karena wanita muda itu sangat mempesona."


 Dengan menjijikkan Lavington mengerling.


"Katakanlah, delapan belas ribu pound. Saya mau ke Paris hari ini ada urusan kecil yang harus saya tangani di sana. Hari Selasa saya kembali. Kalau uang itu belum diserahkan sampai Selasa malam, surat tersebut akan sampai kepada Duke. Jangan katakan bahwa Lady Millicent tidak bisa mengumpulkan uang sejumlah itu. Beberapa kawan laki-lakinya akan senang sekali membantu wanita secantik dia dengan meminjamkan uang - kalau saja ia menempuh cara yang benar."


Muka Rani memerah dan Rani maju selangkah, tapi Lavington sudah meninggalkan ruangan begitu ia selesai mengucapkan kalimatnya.


"Astaga!" seru Rani.


"Kita harus bertindak. Kelihatannya engkau pasrah saja menerima semua ini, Komisaris Sagaris Saga."


"Hatimu baik sekali, Sobat - tapi sel-sel abu-abumu menyedihkan. Rani sama sekali tidak ingin membuat Lavington terkesan dengan kecakapan-kecakapanku. Semakin ia menganggap Rani takut, semakin baik."


"Mengapa?"


"Rani ingin tahu," kata Komisaris Saga sambil menerawang,


 "mengapa Rani mengatakan keinginanku untuk berbuat melawan hukum tadi sebelum Lady Millicent tiba!"


 "Engkau akan membongkar rumahnya sementara ia ke Paris?" Rani ternganga.


"Rani, kadang-kadang proses mentalmu luar biasa cepatnya."

__ADS_1


"Kalau surat itu dibawanya?" Komisaris Saga menggeleng.


 "Sangat tidak mungkin. Jelas dia punya tempat persembunyian di rumahnya yang menurutnya kokoh sekali."


"Kapan kita - eh - melakukannya?"


 "Besok malam. Kita berangkat kira-kira pukul 23.00."


...***...


Rani siap berangkat pada waktu yang ditetapkan. Kukenakan setelan warna gelap dan topi berwarna gelap yang lembut. Komisaris Saga menyambutku dengan berseri-seri.


"Engkau berpakaian sesuai peranmu," ia mengamati.


 "Ayolah, kita lewat jalan bawah tanah ke Wimbledon."


"Apakah kita tidak perlu membawa alat-alat untuk membongkar pintu?"


"Rani sayang, Hercule Komisaris Sagaris Sagaris Saga tidak menempuh cara sekasar itu."


"Bagaimana kau tahu jendela ini tidak dikunci?" bisikku heran.


 "Karena Rani menggergaji kaitannya pagi tadi."


 "Apa?"


 "Sungguh. Gampang sekali, kok. Rani menelepon, memberikan kartu nama palsu, dan kartu resmi Inspektur Japp. Kukatakan Rani dikirim, atas saran Scotland Yard, untuk menangani beberapa kunci anti-maling yang ingin diperbaiki Lavington selama ia pergi. Pengurus rumah tangga menyambut kedatanganku dengan senang hati. Kelihatannya sudah dua kali orang mencoba membongkar rumah tersebut belum lama ini - jelas ide kita juga telah dicoba oleh klien-klien Lavington yang lain tanpa ada barang berharga yang diambil. Rani memeriksa semua jendela, melakukan persiapan kecilku, dan melarang semua pelayan menyentuh jendela sampai besok karena semua jendela dihubungkan secara elektris, lalu minta diri dengan sopan."


 "komisaris Saga, engkau benar-benar luar biasa."


"Sobat, ini sangat sederhana. Sekarang mulai bekerja! Para pelayan tidur di bagian atas rumah ini, jadi sedikit sekali kemungkinan kita mengganggu mereka."


 "Kukira lemari besi itu dibuat di dalam tembok."

__ADS_1


"Lemari besi" Omong kosong! Tidak ada lemari besi. Lavington cerdas. Engkau akan melihat ia sudah membuat tempat persembunyian yang jauh lebih cerdik daripada lemari besi. Lemari besi adalah barang pertama yang dicari semua orang."


Setelah itu kami mulai melakukan pencarian secara sistematis di semua tempat. Tapi sesudah beberapa jam menggeledah rumah, usaha kami sia-sia. Kulihat wajah komisaris Saga mulai menunjukkan kemarahan.


"Ah, sapristi, apakah Hercule komisaris Saga harus menyerah kalah"


 Tidak, tak akan pernah! Marilah kita tenang dulu. Kita merenung. Berpikir. Kita - enfin! - gunakan sel-sel abu-abu kita." komisaris Saga berdiam untuk beberapa saat, menekuk alisnya sebagai tanda tengah memusatkan perhatiannya, kemudian cahaya hijau yang sangat kukenal muncul di matanya. "Rani tolol sekali. Dapur!"


"Dapur?" seruku.


 "Tidak mungkin! Pelayan-pelayan!"


"Persis. Persis yang akan dikatakan sembilan puluh sembilan dari seratus orang! Dan persis untuk alasan itulah dapur merupakan pilihan ideal. Tempat itu penuh dengan barang-barang keperluan rumah. En avant, ke dapur!"


Rani mengikuti komisaris Saga dengan sikap skeptis. Rani mengawasi ia ketika ia masuk ke tempat penyimpanan gandum, mengetuk-ngetuk panci, dan memasukkan kepalanya ke dalam oven gas. Akhirnya Rani berbalik ke kamar kerja karena lelah mengawasi komisaris Saga. Rani yakin di tempat ini - dan hanya di tempat inilah kami akan menemukan cache itu. Rani terus mencari dengan cermat. Kulihat jam sudah menunjukkan angka 04.15. Mengingat hari akan segera terang, Rani kembali ke dapur. Betapa takjubnya Rani melihat komisaris Saga tengah berdiri persis di tempat penyimpanan batu bara, dengan pakaiannya yang tadinya rapi kini awut-awutan. komisaris Saga menyeringai.


"Memang, Sobat, sama sekali berlawanan dengan naluriku untuk merusak penampilanku, tapi bagaimana lagi?"


 "Lavington tidak mungkin menguburnya di bawah batu bara."


 "Kalau saja matamu berfungsi, engkau akan melihat bukan batu bara yang sedang kuperiksa."


Rani melihat pada rak di belakang tempat itu ditumpuk beberapa balok kayu. Dengan tangkas Poirot menurunkan balok itu satu per satu. Mendadak Poirot berseru dengan lembut.


"Pisaumu, Hastings." Kuberikan benda itu kepadanya. Ia memasukkan pisau ke dalam balok dan tiba-tiba balok itu terbelah dua. Balok itu telah digergaji dengan rapi dan ada sebuah rongga menganga di tengah-tengah. Dari rongga ini Poirot mengeluarkan kotak kayu kecil buatan Cina.


"Berhasil!" seruku tak tertahankan.


"Pelan-pelan, Rani! Jangan berisik. Ayo, kita pergi sebelum hari terang." Sambil menyelipkan kotak kecil itu ke dalam sakunya Poirot melompat keluar dari gudang batu bara dengan ringannya, mengibaskan bajunya sedapat mungkin, lalu meninggalkan rumah melalui jalan yang kami tempuh untuk masuk. Kami berjalan cepat ke arah London.


"Tempat yang luar biasa," komentar Rani.


"Siapa saja mungkin memakai balok itu." "Dalam bulan Juli, Rani"

__ADS_1


Dan kotak ini terletak di tumpukan paling bawah. Tempat persembunyian yang amat cermat. Nah, ini dia taksi! Sekarang pulang, mencuci badan, dan tidur nyenyak


__ADS_2