Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Antara Rani, Sersan Saga dan Yuki


__ADS_3

"Wah, nampaknya seru sekali perbincangan kalian!" seru Yuki yang meletakkan satu-persatu pesanan mereka.


"Rani kenapa?" tanya nenek Lasmi.


"Dia yang selalu menantang bahaya Bi." jawab Sersan Saga yang menatap Rani dan menyunggingkan senyumannya.


"Oya?" tanya nenek Lasmi yang serasa tak percaya.


"Lha, kalau ada kejahatan ya harus dibereskan! Ranibsejak dulu tidak suka kalau kejahatan semakin meraja Lela!" seru Rani yang pasang mimik muka di tekuk dan bibir sedikit maju, membuat Sersan Saga semakin gemas.


"Iya-iya pendekar cengeng! He...he...he...!' seru Sersan Saga yang menggoda Rani.


"Kak Saga!" bentak Rani yang menatap Sersan Saga dengan tajam.


"Ha...ha....ha....!" suara tawa Sersan Saga yang nampak senang sekali.


Yuki memandang keceriaan Sersan Saga dan Rani, ada rasa ketidak sukaan dia dengan apa yang ada dihadapannya. Sementara itu Nenek Lasmi memandang Cucunya Yuki, Sersan Saga dan juga Rani secara bergantian.


"Oiya, Kak Yuki tadi bilang mau membalaskan kekalahan, memangnya kak Yuki kalah sama siapa?" tanya Rani pada Yuki untuk mengalihkan topik pembicaraan Sersan Saga.


" Ya dengan kakak seperguruanmu itu, saya yang jadi juara keduanya. Padahal tinggal selangkah lagi!" jawab Yuki yang terus menatap Sersan saga.


Rani mulai merasakan bergejolak di dadanya. Mana kala dia melihat tatapan Yuki pada kekasihnya. Gadis yang diberi julukan pendekar cengeng oleh Sersan Saga itu mulai gelisah, dia memainkan garpu yang ada di tangan sebelah kirinya.


"Kurang ajar! berani- beraninya menatap kekasihku seperti itu! kalau tidak ada nenek Lasmi, aku akan cincang-cincang dan aku buang ke bak sampah biar di makan kecoa! gerutu Rani dalam hati.


Andai saja kata dalam hati Rani itu terdengar oleh Raditya maupun sersan Saga, mereka pasti tak akan percaya. Secara Rani itu pendekar yang tak berani melukai maupun membunuh lawannya, sepanjang yang mereka tahu.


Sersan Saga menyadari perubahan sikap Rani. Dia pun bermaksud mengakhiri pertemuan ini, agar tak timbul masalah di antara mereka.


"Maaf bibi dan Yuki, kali ini biar saya yang traktir. Anggap saja balasan dari saya, karena dulu Yuki sering mengirimi aku makanan. Saya permisi ke kasir sebentar!" seru Sersan Saga yang kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke kasir restoran.


Yuki terus memandang Sersan saga yang terus berlalu, Rani semakin gerah di buatnya.


Tanpa mereka sadari, nenek Lasmi memperhatikan mimik muka Rani dan Yuki.


"Apa hubungan Rani dan Saga hanya sekedar saudara seperguruan? dari tingkah Rani, sepertinya mereka punya hubungan special. Mengingatkanku pada cintaku pada kakak Darma waktu dulu!" gumam nenek Lasmi dalam hati.


Kemudian nenek Lasmi menceritakan perihal kunjungannya ke restoran tempat Yuki bekerja.

__ADS_1


"Tiga hari lagi ada turnamen antar perguruan yang selalu di adakan sepuluh tahun sekali. Nenek ingin Yuki yang satu-satu wanita yang mewakili untuk perguruan nenek di antara dua laki-laki yang nenek kirim ke Turnamen." jelas nenek Lasmi.


"Yang dua orang siapa nek?" tanya Rani yang penasaran.


"Kalau nenek sebutkan, kamu pasti ikut dalam turnamen ini. ha..ha..!" jawab nenek Lasmi yang yakin akan tebakannya.


"Apa Yuda dan Nando ikut nek?" tanya Rani setengah berbisik.


"Seratus! Jadi kamu ikut ya?" pinta nenek Lasmi pada Rani.


"Kebetulan kami pada saat ini sedang perjalanan pulang ke Lereng Gunung nek." kata Rani.


"Wah kebetulan sekali, jadi ikut saja ya! aku dengar kamu jadi murid kesayangan kakekmu. Bukan karena kamu cucu asli, tapi karena prestasimu dalam ikut lomba-lomba kecil antar perguruan. Dan kamu selalu bersaing sama Yuda dan Nando." kata Nenek Lasmi.


"Apa kak Saga boleh ikut Nek?" tanya Rani sambil menatap Sersan Saga.


Sersan Saga membalas tatapan Rani dan berkata "Saya sudah lama tidak berguru pada Kakek, apa mungkin masih dianggap murid. Lagi pula, masih ada murid-murid lain yang lebih berbakat.."


"Bukankah kamu dulu yang memboyong piala turnamen kategori remaja?" kata nenek Lasmi mencoba mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Benarkah..?! Kak Saga ikut ya.. temani Rani" kata Rani dengan sikap memohon.


Yuki datang bersama temannya yang membawa pesanan mereka.


"Wah nampaknya seru sekali.." kata Yuki saat menyajikan pesanan di atas meja.


"Iya, Saga mau kembali mewakili perguruan Darma putih. Apakah kamu tertarik untuk ikut turnamen?" tanya nenek Lasmi yang menatap Yuki dengan penuh harap.


"Baiklah nek, Yuki mau ikut. Yuki mau membalas kekalahan Yuki sepuluh tahun yang lalu" kata Yuki semangat.


"Nah begitu dong!" seru nenek Lasmi yang berubah menjadi senang.


"Katanya ngotot nggak mau ikut, eh tahu kak Saga ikut kenapa jadi ikut?" kata Rani dalam hati.


Rani yang sedang mengaduk minumannya itu melirik ke arah Yuki yang memandang Sersan Saga dengan tatapan yang penuh dengan perasaan.


Sedangkan Sersan Saga menikmati makanan yang ada di depannya, tanpa memperhatikan dia gadis dan seorang nenek yang mengawasinya dengan perasaan yang masing-masing.


"Rani, nampaknya kamu sedang terluka ya?" tanya nenek Lasmi yang sudah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Iya nek, hambatan kecil dalam perjalanan tadi pagi." jawab Rani.


"Jarang sekali kamu terluka, apakah lawan kamu sangat berbahaya?' tanya Nenek Lasmi yang penasaran.


"Yang bahaya itu malah Rani-nya Bibi guru" kata Sersan Saga.


"Kak Saga!" kata Rani memohon agar Sersan Saga tidak bicara tentang dirinya.


"Rani kenapa?" tanya nenek Lasmi.


"He...he...he...! Dia yang selalu menantang bahaya Bibi guru." jawab Sersan Saga yang menatap Rani dan menyunggingkan senyumannya.


"Oya?" tanya nenek Lasmi serasa tak percaya.


Rani pun pasang mimik muka di tekuk dan bibir sedikit maju, membuat Sersan Saga semakin gemas.


"Kak Yuki tadi bilang mau membalaskan kekalahan, memangnya kak Yuki kalah sama siapa?" tanya Rani pada Yuki untuk mengalihkan topik pembicaraan Sersan Saga.


" Ya dengan kakak seperguruanmu itu, saya yang jadi juara keduanya. Padahal tinggal selangkah lagi..!" jawab Yuki yang terus menatap Sersan saga.


Rani mulai merasakan bergejolak di dadanya. Mana kala dia melihat tatapan Yuki pada Kekasihnya.


Rani mulai gelisah, dia memainkan garpu di tangannya.


"Kurang ajar! berani- beraninya menatap kekasihku seperti itu! kalau tidak ada nenek Lasmi, aku cincang-cincang dan aku buang ke bak sampah biar di makan kecoa!" gerutu Rani dalam hati.


Andai saja kata dalam hati Rani ini dapat didengar oleh Sersan Saga dan keluarganya,tentu mereka tak akan percaya dengan apa yang dikatakan dalam hati Rani itu.


Secara Rani itu memang seorang pendekar, yang mana dia tak tega melukai lawannya apalagi membunuh mereka. Karena itulah, sampai-sampai Sersan Saga menjulukinya sebagai pendekar cengeng.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2