Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Titik temu 3


__ADS_3

 "Di mana engkau menemukan pasangannya ini, Poirot?" "Sarung ini dilemparkan dengan tangkai kayu di meja aula di Bury Street. Benarbenar ceroboh Monsieur Parker ini. Kawan, kita harus mengadakan penyelidikan yang tuntas. Aku akan pergi ke Park Lane untuk memastikan." Tentu saja aku menemani sahabatku ini. Johnston tidak ada di tempat, tetapi kami bertemu dengan sekretaris pribadinya. Ternyata Johnston baru saja tiba dari Afrika Selatan dan belum pernah berkunjung ke Inggris sebelumnya.


"Majikan Anda tertarik akan batu-batu berharga, bukankah demikian?" Poirot mencoba menebak.


"Tambang emas lebih tepatnya," sahut sekretaris itu sambil tertawa. Poirot keluar dengan wajah serius. Betapa terkejutnya aku ketika malam itu kudapati Poirot tengah mempelajari tata bahasa Rusia dengan sungguh-sungguh.


"Masya Allah, Poirot!" seruku. "Engkau mempelajari bahasa Rusia untuk mengobrol dengan Countess Rossakoff dalam bahasa ibunya?"


"Dia tentu tidak akan mendengarkan bahasa Inggrisku, Sobat."


"Tapi, Poirot, semua orang Rusia yang terhormat pasti dapat berbahasa Prancis."

__ADS_1


"Engkau sumber informasi, Hastings! Aku tidak usah bingung lagi dengan selukbeluk aksara Rusia." Dilemparkannya buku itu dengan gerak yang dramatis. Aku sungguh-sungguh tidak puas. Matanya melemparkan kedipan yang amat kukenal. Itulah tanda yang tidak dapat ditawar lagi bahwa Hercule Poirot merasa puas. "Mungkin," kataku penuh pengertian, "engkau meragukan keberadaannya sebagai seorang Rusia. Engkau akan mengujinya?"


"Ah, tidak, tidak, dia benar-benar orang Rusia." "Lalu - "


"Kalau engkau sungguh-sungguh ingin menjadi terkenal karena perkara ini, Hastings, kuanjurkan buku First Steps in Russians ini sebagai alat bantu yang amat berharga." Poirot lalu tertawa tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku memungut buku itu dan membacanya dengan penuh rasa ingin tahu. Tapi, kata-kata Poirot tidak dapat kumengerti. Pada hari berikutnya kami tidak menerima berita apapun, tetapi tampaknya tidak mencemaskan sahabatku yang bertubuh kecil ini. Sewaktu sarapan Poirot menyampaikan keinginannya untuk menemui Hardman pagi-pagi itu juga. Kami menemui kupu-kupu masyarakat ini di rumahnya. Kelihatannya ia agak lebih tenang dibanding hari sebelumnya.


"Monsieur Poirot, ada kabar apa?" tanyanya penuh semangat. Poirot menyerahkan sehelai kertas. "Inilah orang yang mengambil permata-permata itu, Monsieur. Haruskah saya menyerahkannya ke tangan polisi" Atau, Anda lebih suka saya mengembalikan permata itu tanpa membawa-bawa polisi dalam persoalan ini?" Hardman menatap kertas di tangannya.


"Ah, Anda laki-laki bertubuh kecil yang pintar! Hebat! Dan luar biasa cepat pula."


"Di pihak lain saya berjanji kepada Hardman untuk mengembalikan permata-permata itu kepadanya hari ini."

__ADS_1


"Jadi?" "Karena itu, Madame, saya akan sangat berterima kasih apabila Anda bersedia meletakkan permata-permata itu di tangan saya tanpa membuang waktu lagi. Maaf, saya memburu-buru Anda; saya ditunggu taksi - kalau tidak berarti kami perlu menemui Scotland Yard; dan kami, orang Belgia, Madame, menganut pola hidup hemat." Countess sudah menyalakan sigaret. Dia duduk tak bergerak selama beberapa detik, mengembuskan lingkaran-lingkaran asap dan menatap pasti ke arah Poirot. Lalu tawanya meledak dan ia berdiri. Countess Rossakoff berjalan menuju lemari pakaian, membuka satu laci, dan mengeluarkan tas tangan sutra berwarna hitam. Dilemparkannya tas tangan itu dengan perlahan kepada Poirot. Ketika berbicara, nada suaranya benar-benar ringan dan tidak berubah. "Sebaliknya kami, orang-orang Rusia, boros," katanya.


"Sayangnya, untuk itu kami harus punya uang. Anda tidak perlu melihat isi tas tangan itu. Semua ada di dalamnya." Poirot berdiri. "Selamat, Madame. Untuk kemampuan berpikir Anda yang cepat dalam menangkap arti dan sikap Anda yang tidak menunda-nunda."


"Ah! Anda membiarkan taksi itu menunggu, jadi apa lagi yang dapat saya perbuat?" "Anda terlalu baik, Madame. Anda akan lama tinggal di London?" "Saya kira tidak - karena Anda." "Maafkan saya kalau begitu." "Kita akan bertemu di tempat lain - mungkin."


"Saya harap demikian." "Dan - saya tidak!" seru Countess sambil tertawa. "Saya sangat memuji Anda - sedikit sekali laki-laki di dunia ini yang saya segani. Selamat tinggal, Monsieur Poirot."


"Selamat tinggal, Madame la Comtesse. Ah, maaf, saya lupa! Izinkan saya mengembalikan kotak sigaret Anda." Sambil membungkuk Poirot menyerahkan kotak kecil moir? hitam yang dia temukan dalam lemari besi permata itu. Countess menerima benda itu tanpa perubahan ekspresi wajah - hanya alisnya yang terangkat dan ia bergumam, "Saya mengerti!" *** "Bukan main wanita itu!" seru Poirot penuh semangat pada waktu kami menuruni anak tangga. "Mon Dieu, quelle femme! Tidak membantah sedikit pun - juga tidak memprotes atau berpura-pura. Hanya sebuah kerlingan singkat; dan dia dapat mengira-ngira posisinya dengan tepat. Hastings, wanita yang dapat menerima kekalahan seperti itu - dengan tersenyum ringan - akan melangkah jauh! Dia bahagia karena bersaraf baja; dia - " Poirot jatuh tergelincir. "Kalau engkau dapat mengurangi panjang ayun langkahmu dan melihat arah, engkau tidak akan tergelincir," saranku. "Kapan engkau pertama kali mencurigai Countess?" "Sobat, sarung tangan dan kotak sigaret itulah penyebabnya - petunjuk ganda, bagaimana kalau kita sebut begitu" - itulah yang membuatku khawatir. Mungkin sekali Bernard Parker menjatuhkan salah satu benda itu - tapi hampir tidak mungkin kedua-duanya. Itu berarti terlalu ceroboh! Demikian juga kalau orang lain meletakkan kedua barang itu di sana untuk memberatkan Parker, toh satu saja sudah cukup - kotak sigaret atau sarung tangan - sekali lagi tidak keduanya. Oleh karena itu aku dipaksa untuk menyimpulkan salah satu benda itu bukan kepunyaan Parker. Mula-mula kukira kotak sigaret itu miliknya dan sarung tanganlah yang bukan. Tapi, begitu mengetahui bahwa sarung tangan itu kepunyaannya, aku menyadari yang benar adalah sebaliknya. Lalu, milik siapa kotak sigaret itu" Jelas, kotak itu tidak mungkin kepunyaan Lady Runcorn. Inisialnya tidak cocok. Johnston" Hanya kalau dia memakai nama samaran. Waktu aku mewawancarai sekretarisnya, segera kelihatan bahwa segala sesuatunya jelas dan jujur. Tidak ada sikap tutup mulut tentang masa lalunya. Kemudian Countess. Dia diharapkan sudah membawa serta permata-permata keluarganya dari Rusia. Dia cuma perlu mengambil batu-batu itu dari tempatnya - dan sangat diragukan apabila batu-batu itu dapat dikenali lagi sebagai milik Hardman. Apa yang lebih gampang daripada memungut salah satu sarung tangan Parker dari aula dan memasukkannya ke lemari besi" Tapi, bien s?r, dia tentunya tidak merencanakan untuk menjatuhkan kotak sigaretnya sendiri."


"Kalau kotak sigaret itu kepunyaannya, mengapa inisialnya B.P." Seharusnya inisial Countess adalah V.R." Poirot tersenyum lembut. "Persis, Sobat. Tapi, dalam aksara Rusia B adalah V dan P sama dengan R."

__ADS_1


"Well, tentu saja engkau tidak dapat mengharapku menebak begitu. Aku kan tidak paham bahasa Rusia." "Aku juga tidak, Hastings. Itulah sebabnya kubeli buku kecil itu - dan kuanjurkan engkau untuk memperhatikannya." Poirot menghela napas. "Wanita yang luar biasa. Sobat, aku merasa - sangat yakin - akan bertemu lagi dengannya. Hanya saja di mana, ya?" VI RAJA KLAVER "KEBENARAN," kataku seraya meletakkan Daily Newsmonger ke samping, "lebih sukar dimengerti daripada fiksi!" Kata-kata ini mungkin tidak untuk pertama kalinya diperdengarkan. Dan kelihatannya ucapanku membuat sahabatku marah. Sambil memiringkan kepalanya yang bulat telur itu, dengan hati-hati jari-jari Poirot menjentikkan debu-debu khayalan dari celana panjangnya yang disetrika rapi dan cermat, lalu ia menimpali, "Bukan main dalamnya arti kata-kata itu! Benar-benar pemikir yang hebat sahabatku Hastings ini!" Tanpa memperlihatkan rasa jengkel akan cemoohnya yang tidak diminta ini, aku menepuk-nepuk surat kabar yang tadi kusingkirkan itu. "Engkau sudah membaca koran pagi ini?" "Sudah. Selesai membaca, aku melipatnya lagi secara simetris. Tidak melemparkannya ke lantai seperti yang engkau lakukan, sikapmu yang menyedihkan tanpa aturan dan metode." (Itulah sisi terburuk Poirot Baginya aturan dan metode adalah dewa. Seakan-akan kedua hal itulah yang menyebabkan keberhasilannya.) "Kalau begitu engkau membaca laporan pembunuhan Henry Reedburn, si impresario itu" Itulah yang mendorongku mengucapkan kata-kata tadi. Kebenaran tidak cuma lebih sukar dimengerti daripada fiksi - juga lebih dramatis. Bayangkan, keluarga kelas menengah Inggris yang mapan, keluarga Oglander. Ayah, ibu, putra, dan putri; ciri khas ribuan keluarga di negeri ini. Yang laki-laki pergi ke kota setiap harinya, wanitanya mengurus rumah tangga. Kehidupan mereka benar-benar tenteram dan monoton. Semalam mereka duduk-duduk di ruang duduk mereka yang rapi di pinggiran kota di Daisymead, Streatham, sambil bermain bridge. Tiba-tiba tanpa suara apa pun sebelumnya, pintu merangkap jendela yang menghadap taman terbuka dan seorang perempuan terhuyung-huyung masuk. Ada noda berwarna merah tua di pakaian satin abu-abu perempuan itu. Dia mengucapkan sepatah kata, 'Pembunuhan!', sebelum jatuh tidak sadarkan diri Dari foto-foto perempuan itu, mereka mengenalinya sebagai Valerie Saintclair, penari termasyhur yang baru-baru ini mengguncangkan London!"


__ADS_2